
Mansion Chandra Putra.
Sudah seminggu lebih lamanya, Michael mengurung diri di dalam kamar. Kejadian menyedihkan yang menimpah dirinya dan juga Jelita pada minggu lalu, membuat ia selalu menyendiri dan tidak ingin bertemu dengan siapapun.
Tidak ada keinginan melakukan sesuatu seperti pergi ke kampus atau tempat-tempat menyenangkan bagi anak muda lainnya menghabiskan waktu.
Dia selalu murung, dan tidak bisa tidur dengan nyenyak. Bahkan Michael sering mengingau, menyebut nama Jelita disetiap mimpi-mimpinya.
Kondisi memprihatinkan terlihat nyata pada fisik Michael, dia begitu kurus, akibat kehilangan nafsu makan.
Bahkan tubuhnya itu pun tidak terawat, penampilannya juga begitu berantakan. Rambut tampak tidak beraturan dan wajahnya tidak bercahaya sama sekali.
Tidak ada lagi senyuman diwajah tampannya, maupun canda tawa pada diri Michael sendiri.
Hal tersebut membuat hati setiap orang di sana merasa hancur, terlebih bagi Nyonya Caca. Dia begitu sedih, saat melihat putra kesayangannya mengalami depresi dan patah semangat yang akut.
Seperti saat sekarang ini, ketika Nyonya Caca membawa makanan untuk putranya.
"Miki, makanlah sayang. Sedikit saja," ucap Nyonya Caca. Namun Michael hanya diam dan menggeleng saja.
"Miki, jangan siksa dirimu seperti ini. Nanti kau bisa sakit," ucap Nyonya Caca, dia masih berusaha membujuk Michael untuk makan.
Michael menoleh. "Mom, aku sudah sakit dan obatku hanya satu, yaitu Jelita. Aku ingin sekali bertemu dengannya, aku merindukannya," ucapnya sambil menitikkan air mata.
Nyonya Caca memahami rasa sakit dan kerinduan pada putranya akan Jelita, namun dirinya tidak mampu jika harus membawa Jelita kembali. Karena dia telah mengusir gadis itu dan telah berjanji, akan menjauhkan Jelita sejauh mungkin dari kehidupan Michael.
"Sayang ... Mengertilah, wanita bukan hanya Jelita saja. Lupakan lah dia, Jelita sudah milik pria lain," ucap Nyonya Caca.
Michael menggeleng dan menolak kenyataan yang ada. "Tidak Momy, Jelita belum milik siapapun, dia hanya milikku. Dia terpaksa menerima hubungan itu karena tidak berdaya, dan aku yakin Jelitaku pasti akan kembali kepadaku lagi. Semua ini gara-gara pria itu, pria yang bernama Wiliam itu, dialah penyebab Jelita pergi dari kehidupanku."
Michael menatap foto Jelita. "Dia milikku, aku sangat mencintainya dan dia juga mencintaiku. Bagaimana aku bisa hidup jika dia telah pergi dan dibawa oleh pria lain," ucapnya sedih lalu memeluk foto Jelita.
"Miki ... Miki sadarlah," lirih Nyonya Caca.
"Pergilah Mom, aku ingin sendiri," balas Michael.
Nyonya Caca keluar dari kamar Michael dengan deraian air mata, dia menghubungi seseorang untuk membantu Michael keluar dari masalahnya.
Dan siapa lagi kalau bukan Jason anak asuh kebanggaannya.
...***...
"Ibu maaf aku baru sempat mengunjungimu, banyak pengusaha yang membutuhkan jasaku," ucap Jason menjelaskan.
Akhir-akhir ini, pria tampan itu disibukkan dengan pekerjaannya mendesain sebuah rumah maupun perusahaan besar. Hingga dia tidak punya waktu cukup untuk menemui atau menemani siapapun.
"Tidak apa Jason, mumpung kau ada waktu, Ibu minta tolong kepadamu. Ajak Michael jalan-jalan kemana saja, agar dia bisa melupakan kesedihannya. Ibu tidak tega melihatnya seperti itu," balas Nyonya Caca sambil melihat putranya di depan pintu kamar Michael.
"Baiklah Ibu," balas Jason.
__ADS_1
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Nyonya Caca meninggalkan Jason untuk berdua dengan Michael, berharap sesosok kakak seperti Jason bisa meringankan kesedihan Michael putranya.
Sedangkan Jason begitu terkejut ketika melihat perubahan drastis pada diri Michael, dia juga begitu sedih ketika mendengar Jelita telah bertunangan dengan Wiliam.
Pria dewasa itu duduk disebelah Michael. "Mike ... Mana ketampananmu itu," senggol Jason.
Michael menoleh. "Jason ..." ucapnya lirih lalu memeluk anak asuh serasa kakak kandung bagi Michael sendiri.
"Jelita ... Dia di bawa pergi oleh Wiliam," isak Michael.
Jason mengusap punggung Michael. "Jangan bersedih," ucapnya.
"Bagaimana aku tidak bersedih, ketika cintaku diambil oleh pria lain. Entah bagaimana keadaannya sekarang, pasti dia sedang ketakutan bersama pria itu. Pria itu pasti memaksanya melakukan sesuatu dan Jelita ku dia pasti sedang bersedih sekarang ini," sedih Michael.
Jason menghela nafas, betapa sedih dirinya ketika melihat Michael sulit untuk melupakan cinta pertamanya.
...***...
Hampir setengah jam mereka berdua terdiam dan Jason memiliki ide untuk membujuk Michael agar mau pergi bersamanya. Walau dia tahu akan resiko akibat perbuatannya itu.
Namun melihat Michael yang begitu sengsara, mau tidak mau, Jason melanggar perintah dari Nyonya Caca.
Mendengar hal tersebut, Michael seperti mendpaat angin segar. Dia tersenyum dan berterima kasih kepada Jason.
"Terima kasih Jason," ucap Michael.
"Sudah cepat mandi sana! Kau bau asem sekali," sindir Jason.
"Baiklah," balas Michael kemudian bangkit dari tempat tidurnya.
...----------------...
Mansion Wiliam.
Tidak hanya Michael, Jelita juga sedang mengurung diri di dalam kamarnya. Tidak mau keluar apalagi jika sedang ada Wiliam di dalam rumah.
Seperti sekarang ini, tepatnya dihari minggu, dimana kantor sedang libur dan Wiliam tidak pergi ke perusahaan. Jelita sesumbar tidak akan menginjakkan kakinya keluar dari kamar, walau ada gempa bumi sekalipun.
Hal tersebut membuat Wiliam sibuk mengurus Ibu Maria sendirian, walau dia punya pembantu seabrek-abrek di dalam Mansionnya sendiri.
Namun Wiliam nampaknya tidak keberatan akan hal tersebut, karena dirinya sadar, itu sudah menjadi tanggung jawabnya dan dia telah berjanji akan menerima apapun kerepotan yang ditimbulkan oleh Jelita.
...***...
"Ibu, mari ku bantu berjemur ke taman." Wiliam menuntun Ibu Maria berjalan menuju sebuah taman untuk berjemur diri di bawah sinar mentari pagi.
__ADS_1
Ibu Maria tersenyum. "Terima kasih," balasnya sambil mendongak dan menatap jendela kamar, dimana Jelita berada.
"Tenang Ibu, dia sudah sarapan pagi," ucap Wiliam seperti mengerti kecemasan Ibu Maria.
"Maaf Wiliam, jika Ibu sering merepotkanmu, kadang Ibu menjadi tidak enak hati padamu," ucap Ibu Maria setelah Wiliam mendudukannya di kursi taman.
"Jangan sungkan, aku sudah menganggap mu sebagai ibu ku sendiri," balas Wiliam.
Ibu Maria menatap Wiliam, dan mengamati tingkah laku pria itu selama seminggu lebih. Bagaimana bisa Wiliam begitu sabar menghadapi Jelita yang cueknya minta ampun.
Terkadang dia tidak habis pikir, mengapa pria itu bisa di cap buruk oleh masyarakat, padahal Wiliam begitu baik hati. Label pemain wanita tidak pernah terbukti, peminum dan pemakai obat tidak pernah terdengar.
Tetapi mengapa, selalu saja orang menganggapnya sebagai pria buruk.
"Wil ... Apa Ibu boleh bertanya kepadamu?" tanya Ibu Maria.
"Tanyakan saja," balasnya.
"Kau tinggal sendiri disini, dimana orang tuamu?" tanya Ibu Maria.
Wiliam tersenyum dan menatap langit. "Mereka sudah ada di surga sejak aku masih kecil," jawabnya sambil menunjuk ke atas langit nan jauh disana.
"Maaf ... Ibu salah menanyakan hal tersebut kepadamu," ucap Ibu Maria tidak enak hati.
"Jangan merasa tidak enak kepadaku, kau tidak salah bertanya hal itu, karena kau memang tidak tahu. Aku tidak akan marah, malah sebaliknya aku merasa senang, karena ada orang yang sudah bertanya dan mau berbincang denganku," balas Wiliam.
"Wiliam ... Kau anak baik, apa kau tidak punya pacar sebelumnya?" tanya Ibu Maria.
Wiliam tersenyum. "Bagaimana aku bisa punya pacar, jika wanita yang aku temui selalu saja menilaiku sebagai seorang pria jahat. Mereka semua menjauhi ku karena latar belakangku yang gelap."
Ibu Maria menghela nafasnya. "Wiliam, maaf jika Ibu bertanya satu hal lagi kepadamu."
"Silahkan Ibu, tanyakan saja," balas Wiliam.
"Apa kau serius dengan putriku Jelita?" tanya Ibu Maria.
Wiliam meraih tangan Ibu Maria dan turun untuk berjongkok. "Aku serius pada putrimu, dan untuk itulah aku sabar menunggunya."
"Ibu, sekarang giliran aku yang bertanya kepadamu. Apa kau mengijinkan aku menikahi putrimu Jelita dan merestui hubunganku dengannya?" tanya Wiliam serius.
Ibu Maria tersenyum dan membelai wajah Wiliam. "Aku merestui hubungan kalian berdua," ucapnya penuh yakin jika Wiliamlah yang akan membahagiakan putrinya Jelita.
"Terima kasih, aku berjanji akan membahagiakan putrimu itu," balas Wiliam seraya mencium tangan Ibu Maria.
.
.
Bersambung.
__ADS_1