Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 63. Sakit.


__ADS_3

Keesokan harinya.


Jelita terbangun dengan kedua mata sedikit membengkak, sebab dirinya tidak bisa tidur akibat menangis semalaman. Belum lagi hembusan angin kencang kemarin malam, membuat sekujur tubuhnya terasa dingin. Alhasil gadis itu pun terkena sakit flu dan meriang.


"Hatchiuu!"


"Errrhh ... Ini pasti gara-gara semalam pakai baju kurang bahan itu, aku jadi terkena flu .. Haa .. Hachiu!!"


Kini Jelita hanya bisa terbaring di atas kasur, wajahnya memerah akibat demam. Dia pun memutuskan hari ini, untuk tidak masuk sekolah.


Suster Desi yang kala itu baru masuk ke dalam untuk memeriksa kondisi Ibu Maria, begitu terkejut melihat Jelita terbaring lemah.


Dia pun segera menghampiri Jelita dan duduk di tepi ranjang. "Jelita, kamu kenapa?" Suster Desi menempelkan punggung telapak tangannya pada kening Jelita. "Ah ternyata kamu kena Flu dan badanmu juga panas sekali."


"Iya ..." ucap Jelita lirih.


Suster Desi berdiri dan bergegas mengambil sesuatu untuk memeriksa kesehatan Jelita.


"Tunggu sebentar ya, nanti Mba balik lagi kesini," ucap Suster Desi dan Jelita mengangguk. "Iya Mba."


Tak butuh waktu lama Suster Desi telah kembali ke kamar Jelita, dengan menenteng sebuah tas berisi peralatan kesehatan. Dia kemudian membuka tas itu dan melakukan sterilisasi terlebih dahulu sebelum memakai peralatan tersebut.


Suster Desi mengulurkan sebuah termometer kepada Jelita. "Buka mulutmu dan tahan sampai alat ini berbunyi."


Jelita pun menurut, dia segera membuka mulut dan menahan termometer itu beberapa saat.


"Kau terkena demam, suhu mu 39.7 ° C," ucap Suster Desi ketika mendengar termometer itu berbunyi cepat.


"Kau harus banyak istirahat, Mba mau hubungi dokter Hasan dulu buat resepkan obat untukmu."


Suster Desi kemudian keluar dari kamar Jelita dan menghubungi Dokter Hasan untuk meresepkan beberapa obat.


Setelah itu dia menuju dapur untuk meminta beberapa sarapan kepada Bi Sari dan tidak lupa Suster Desi mengambil air hangat untuk mengompres dahi Jelita.


***


Sementara itu keluarga Michael sedang menikmati sarapan pagi bersama di ruang makan. Michael yang kala itu sedang mencuci tangan di dapur setelah sarapan, memperhatikan gerak gerik Suster Desi yang di nilai terburu-buru.


Rasa penasarannya bertambah ketika melihat air hangat di dalam baskom beserta handuk kecil bersih di dalamnya.


"Sus, siapa yang mau di kompres, apa ibu Maria demam?" tanya Michael sambil mengeringkan kedua tangannya.

__ADS_1


Suster Desi menggeleng. "Ini bukan untuk ibu Maria, ini untuk Jelita. Dia sedang demam."


"Byurrr!"


Michael menyemburkan air minum dari mulutnya, dia pun jadi panik bukan kepalang. Memikirkan Jelita yang tiba-tiba sakit, apa semua itu akibat ulahnya semalam.


"Oh tidak! Sakit apa dia, kenapa dia bisa demam. Apa parah sakitnya, sudah panggil dokter belum?" tanya Michael bertubi-tubi hingga Suster Desi tidak punya kesempatan untuk menjawab setiap pertanyaan tersebut.


Suster Desi tersenyum. "Dia hanya terkena Flu," balas nya, lalu membawa baskom berisi air hangat itu ke kamar Jelita.


Sedangkan Michael, dia menjambak rambutnya sendiri dan bergegas mengekor pada Suster Desi untuk menengok Jelita. Menyempatkan diri menjenguk Jelita sebelum dirinya pergi ke kampus.


***


Sesampainya disana, Jelita masih terbaring lemah di atas kasur dengan ditemani oleh sang Ibu. Suster Desi menaruh baskom di atas nakas dan mulai mengompres dahi Jelita.


Sementara itu Michael menyelinap masuk ke dalam dan mengendap-endap untuk melihat keadaan Jelita.


Beberapa saat kemudian, Suster Desi mengambil sarapan di dapur dan meninggalkan Jelita sejenak.


Jelita memalingkan wajah saat melihat Michael berdiri dihadapannya. Dia diam seribu bahasa dengan wajah yang memerah. Mengingat kejadian semalam, ketika Michael mencuri ciuman pertama miliknya.


"Mau apa kesini?" tanya Jelita dengan ketusnya.


"Kau sedang sakit, mana bisa aku tidak menengokmu kesini. Kau kan temanku," ucap Michael lemah lembut.


"Pergilah, aku tidak apa-apa" balas Jelita.


"Oh benarkah kamu baik-baik saja, coba ku periksa." Michael meraih salah tangan Jelita dan beberapa bagian tubuh lainnya. "Panas begini, telapak tangan dan badanmu juga panas sekali. Lihat matamu saja sampai berair dan pipimu memerah seperti itu,"


Jelita menepis tangan Michael. "Jangan sentuh aku, sudah ku bilang aku baik-baik saja. Aku bahkan bisa bangun dan pergi ke sekolah sekarang juga."


Jelita pun bangkit dari tempat tidurnya dan menurunkan kaki hendak berdiri. Namun akibat dirinya memaksakan diri untuk bangun di saat kondisi sakit, diapun terhuyung dan jatuh.


Michael dengan segera menangkap tubuh Jelita dan memarahinya. "Kau ini keras kepala sekali, sudah tahu sedang sakit. Kau malah memaksakan diri untuk bangun, sudah cukup aku tidak ingin mendengar penolakanmu lagi. Sekarang berbaringlah!"


Jelita pun terdiam mendengar Michael memarahinya, diapun hanya menurut saat pria itu membaringkan tubuhnya diatas kasur.


Michael kemudian menyambar mangkuk berisi bubur panas dari tangan Suster Desi dan mulai menyuapi Jelita. Dia dengan sabar meniup bubur itu agar dingin pada sendok di tangan dan segera memberikannya kepada Jelita


"Buka mulutmu dan cepat makanlah!" perintah Michael dengan pemaksaan seperti biasanya.

__ADS_1


Jelita pun mencebik. "Tidak perlu, aku bisa makan sendiri," balasnya tidak kalah sengit dari Michael hingga pria itu pun semakin gemas.


Michael mendekatkan wajahnya pada Jelita. "Cepat makan! jika kau menolak, aku akan menyuapimu langsung dari mulutku," ancam Michael sambil tersenyum smirk menatap Jelita.


Jelita yang ditatap seperti itu pun gelagapan, mau tidak mau akhirnya dia menuruti permintaan Michael.


"B-baiklah ..." ucap Jelita patuh lalu membuka mulut untuk disuapi.


"Bagus." Michael tersenyum dan menarik diri, kemudian menyuapi Jelita dengan sabar hingga bubur itu habis, lalu memberi Jelita segelas air minum dan juga obat.


"Cepat minum obatnya, setelah itu tidur dan istirahatlah," titah Michael kembali sambil menatap Jelita dengan serius, memastikan jika obat itu benar-benar sudah diminum dengan baik.


"Sudah ku minum, apa kau sudah puas." Jelita cembetut, merasa tidak suka dipaksa seperti anak kecil.


Michael menghela nafas. "Kau selalu saja dipaksa terlebih dahulu baru menurut, apa itu memang sudah jadi kebiasaanmu. Ingin dipaksa terus olehku," ucap Michael tanpa dosa.


Jelita memicingkan matanya dan menatap Michael dengan gusar. "Kau bilang apa, aku suka dipaksa olehmu? Apa kau tidak sadar, jika kau lah yang selalu memaksaku, untuk mengikuti semua keinginanmu. Kau seenaknya memutuskan sesuatu tanpa bertanya dulu padaku, aku ini mau atau tidak."


Michael mendesah kecil dan tersenyum menatap Jelita, senang sekali rasanya dia bisa melihat Jelita marah-marah seperti itu. "Ya sudah aku minta maaf," ucap Michael.


Jelita berusaha menurunkan amarahnya dan menghela nafas begitu panjang. "Ya sudah aku maafkan, tapi jika kau sampai mengulanginya lagi. Maka aku tidak akan mau bertemu denganmu lagi."


"Terima kasih, aku janji tidak akan memaksamu lagi." Michael kemudian berdiri dan meninggalkan Jelita agar gadis itu bisa beristirahat.


Dia pergi ke kampus untuk belajar dan akan kembali menengok Jelita setelah dirinya pulang kuliah.


………………………………………………………………………………


Di tempat Wiliam.


Sementara itu di suatu kediaman dimana Wiliam berada, pria berwajah tampan dan bertubuh kekar dengan sejumlah tato pada bagian tubuhnya itu sedang memandangi foto Jelita.


Wiliam menyugar rambut gondrong nya kebelakang dan tersenyum, dia mengusap wajah Jelita di dalam foto dengan jari jemarinya berkali-kali.


"Jadi namanya Jelita ya ... Dia cantik sekali ... Hei, bilang pada Flo, kalau aku menyukai gadis ini," ucap Wiliam pada si pengirim foto, orang suruhannya Floren.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2