
Michael terkejut dan menatap Floren dengan serius, "Untuk apa dan kau mau apa?"
"Kenapa kamu jadi kaget begitu Mike? Aku hanya ingin berkunjung. Bukan kah Mamy mu itu pernah bilang, kalau aku boleh main ke rumahmu kapanpun bila aku punya waktu," balas Floren sehingga Michael pun berdecak kesal.
Michael lalu teringat akan janjinya kepada Jelita untuk tidak membiarkan Floren sampai mengetahui keberadaan Jelita dan ibunya yang sedang tinggal disana.
Michael lalu menghela nafas panjang dan berusaha untuk tetap tenang.
"Jika kau mau datang, ya datang saja. Tapi yang jelas aku tidak ingin bertemu denganmu, karena kau juga bukan orang penting bagiku," balas Michael.
Floren tersenyum smirk. "Jangan begitu Mike sayang, kita belum memulai hubungan apapun. Aku yakin setelah kita memulainya, kau pasti tidak ingin melepasku."
"Aku tidak ingin memulai hubungan apapun denganmu, dan tidak pernah berpikir juga untuk memulainya. Jadi aku sarankan lebih baik kau tidak usah datang ke rumahku. Usahamu itu pasti akan sia-sia karena walau bagaimana pun aku tetap tidak akan mengubah pendirianku. Aku tidak akan menerimamu sebagai wanita spesial dihatiku," balas Michael lalu melemparkan pandangannya keluar jendela.
Floren terkekeh dan semakin gemas kepada Michael yang selalu saja menolaknya. Dia menghembus nafasnya begitu kasar. "Ya itu terserah kamu, mau bertemu denganku atau tidak. Lagipula niatku kesana hanya ingin bertemu dengan keluargamu. Atau lebih tepatnya bertemu dengan calon mertuaku."
"Ck!" Michael berdecak kesal lalu menatap Floren dan tersenyum dingin. "Aku tidak habis pikir dengan isi kepalamu itu Flo. Entah ada kerusakan dibagian mana dengan kepalamu itu, hingga kau begitu percaya diri sekali bisa berpikir seperti itu."
Floren mendesah kecil, wanita itu kemudian mendekati Michael lalu tanpa malu dia menempelkan sebelah dadanya pada lengan Michael.
Hal tersebut membuat Michael merasa risih, dia lalu berdiri dan segera menjauh dari Floren. Namun wanita tidak tahu diri ini malah mendesak Michael hingga merapat ke dinding seperti cicak.
Membuat semua pasang mata langsung menatap tajam ke arah mereka, namun pertengkaran para gadis sebelumnya yang telah dimenangkan oleh Floren, membuat semuanya hanya bisa mengerutu dalam hati.
"Kau mau kemana Mike?" tanya Floren lalu mengunci tubuh Michael dengan melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Michael. Hingga kini raga pria tampan itu tidak dapat lolos dari dorongan kedua bukit kembar milik Floren.
"Siall! lepas Flo!" gerutu Michael dan menggeliat melepaskan diri, namun anehnya Floren malah memejamkan kedua mata seperti merasakan hal lain. Dia menyukai pergerakan Michael, karena daerah sensitifnya sedikit tersentuh.
Tertekan dan tergesek.
Floren tersenyum. "Jangan pergi Mike, bergeraklah terus, aku suka kamu bergerak-gerak seperti ini," ucapnya tanpa dosa membuat Michael terdiam dan menaikkan satu alisnya merasa bingung.
Nafas Floren terdengar menggebu dan menegok ke atas sana hingga terlihat wajah tampan dari Michael. Namun Michael dengan segera melemparkan pandangannya ke atas, saat wajah Floren menatapnya begitu mesra.
Dia merasa geram, sumpah demi apapun rasanya ingin sekali dia menggotong wanita cantik yang sedang berdiri di hadapannya itu.
Lalu menghempaskan sekuat tenaga tubuh murahan namun menggoda itu keluar jendela, dan berharap terlempar sejauh mungkin dari tempatnya berada.
__ADS_1
Namun karena otaknya yang masih waras, jadi Michael mengurungkan niat jahatnya itu. Dia hanya bisa menarik nafas dalam-dalam, sambil terus menahan tubuh Floren yang terus saja mendesaknya.
Floren tak mau melepaskan kunciannya dia malah menghimpit dan menekan tubuh Michael memakai tubuh seksinya itu dengan sangat kuat.
Berharap pria dihadapannya itu akan tergoda oleh tubuh mulusnya, namun sayang kesabaran Michael telah habis saat satu tangan Floren ingin menyentuh daerah sensitifnya.
Michael secepat kilat mencengkram tangan nakal itu, lalu dia hentakkan dengan kasar. Michael dengan segera mendorong Floren, hingga wanita itu pun terhuyung kebelakang.
"Apa kau sudah gila Flo! Kau pikir dengan merayuku dengan cara tadi, maka aku akan tergoda dan aku akan membalas perlakuan menjijikkanmu itu, hah? Kau salah besar Flo, kau adalah seorang mahasiswa tapi kelakuanmu itu, cih! tidak ada bedanya dengan seorang wanita malam!" bentak Michael.
Dia lantas pergi meninggalkan kelas sebelum dosen cantik memulai pelajaran.
Namun, perlakuan kasar dari Michael tidak membuat Floren merasa jera, dia hanya tersenyum melihat Michael dari kejauhan dan akan mengoda pria itu lagi dan lagi, sampai Michael benar-benar terpancing oleh permainan dewasanya.
"Kelemahan lelaki adalah visualnya wanita. Heh! aku ingin tahu seberapa besar kamu bisa menahan godaanku Mike. " Floren tertawa dan semua murid hanya bisa berdecak kesal menatap Floren.
Mereka hanya bisa menggerutu, namun berucap pelan agar tidak terdengar.
"Tidak tahu malu!" celetuk Sandra.
"Wanita rendah!" celetuk Mika.
***
Michael duduk di kursi taman sambil meneguk minuman bersoda hingga tidak bersisa. Dia berubah geram saat mengingat perlakuan Floren terhadap dirinya. Michael lalu meremas kaleng ditangannya itu hingga tidak berupa.
"Wanita itu benar-benar sudah gila!" Michael lalu melempar kaleng itu ke sembarang arah dengan keras, namun sungguh ajaib, sampah remuk itu tepat masuk ke dalam tong sampah. Menambah kesan kekerenan yang hakiki.
Michael mengusak rambutnya hingga berantakan dan bersandar pada badan kursi dan memejamkan mata.
"Jika begini terus, aku bisa gila!" gumam Michael.
"Siapa yang gila?" tanya Bu Riana mendekati Michael yang terlihat frustasi.
Michael membuka mata lalu duduk diposisi semula, dia menghela nafas kasar. Hingga guru besar itu segera bertanya. "Kamu kenapa Michael, apa kamu sedang ada masalah?"
"Bu Riana, jika ada seorang gadis cantik lalu menggoda ku dengan tubuh indahnya. Bagaimana caraku agar tidak tergoda, saat dia terus menempelkan tubuhnya kepadaku?" tanya Michael to the point.
__ADS_1
Bu Riana mengerjapkan kelopak matanya berkali-kali, merasa bingung dengan pertanyaan Michael yang menjurus ke arah dewasa.
"Siapa gadis itu Michael, apa dia pacarmu?" tanya Bu Riana berusaha menelaah terlebih dahulu.
Michael menggeleng. "Bukan, namun wanita itu terus saja mendesakku dan mencoba melakukan hal kotor."
Bu Riana menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan berusaha menjawab sesederhana mungkin agar Michael mengerti. "Ya jangan di lihat, pikirkan hal yang lain saja."
"Jika dia mulai meracuni pikiranku, dan aku mulai tergoda?" tanya Michael kembali.
"Ingatlah akan dosa," balas Bu Riana terkekeh.
"Justru itu Bu, aku tidak ingin terjerat dosa. Walau aku berusaha sekuat mungkin, tapi aku juga hanya pria normal. Mana mungkin tidak tergoda dengan hal seperti itu, apalagi diusiaku yang sekarang ini. Aku sudah cukup bisa membuat seorang wanita menjadi hamil." Michael menghela nafas nya pasrah.
Bu Riana meneguk ludahnya kasar, lalu menepuk pundak Michael. "Michael, ingatlah pesan ibu. Jika kamu tidak ingin tergoda dengan wanita itu, maka pikirkanlah hal yang lain. Seperti ingat seseorang yang berharga untukmu."
"Seseorang yang berharga?" tanya Michael menatap Bu Riana.
"Ya seperti orang tuamu, atau teman yang selalu ada disampingmu. Dan saat pikiranmu akan teracuni, maka ingatlah mereka, ingat akan kecewanya mereka jika hal itu sampai terjadi," balas Bu Riana lalu segera berdiri dan menyudahi percakapan tiada arti tersebut. "Sudahlah Michael, lebih baik kau kembali ke dalam kelas."
Michael menangguk. "Baik Bu ...."
Bu Riana kemudian kembali ke kantornya dan membiarkan Michael menenangkan diri sejenak.
"Mommy .... Dia wanita berharga di hatiku."
"Teman? aku punya teman banyak saat SMA, tapi yang berharga di hati, siapa? ...."
Michael menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan, dia kembali memejamkan mata dan bertanya pada hatinya.
Siapa sosok teman yang berharga di hatinya, lalu terlintas dalam pikirannya satu nama.
"Jelita ...."
.
.
__ADS_1
Bersambung.