
Rumah sakit.
Nyonya Caca sedang dirawat intensif oleh para dokter dan juga para tenaga medis di dalam sebuah ruangan gawat darurat, dengan keadaan tidak sadarkan diri.
Beliau mengalami cedera dikepala dan juga patah tulang iga akibat terbentur benda keras saat terjatuh dari tangga, ketika dirinya terhempas oleh hentakan tangan Michael.
Hal tersebut membuat semua orang bersedih terlebih lagi Tuan Nael, dia begitu khawatir ketika melihat cintanya sedang berjuang melawan rasa sakit.
"Bertahanlah sayang." Doa Tuan Nael kepada sang istri selalu menyertai disetiap nafasnya.
Semua orang yang menunggu disana pun, memberi kekuatan kepada Tuan Nael, agar selalu sabar dan tabah dalam menghadapi cobaan yang sedang terjadi kepada istrinya.
"Nyonya besar akan segera sembuh Tuan, karena nyonya sedang ditangangi oleh dokter terbaik di rumah sakit ini," semangat dari Bi Sari dan juga yang lainnya kepada tuan Nael.
"Kau benar ... Terima kasih semuanya," balas Tuan Nael berusaha untuk tetap tegar.
Sedangkan Michael sedang duduk jauh di ujung sana. Dia tidak berani mendekat, karena dilarang menengok ibunya sendiri oleh Tuan Nael.
"Pergilah dari sini dan menjauhlah dari istriku!"
"Jika terjadi sesuatu kepada istriku, aku tidak akan memaafkanmu Mike!"
Amarah sang Daddy selalu terngiang di telinga Michael, begitu kecewanya beliau terhadap putranya sendiri yang telah membangkang akan nasihat orang tua. Hingga tidak mau menatap dirinya walau hanya sesaat.
Dan kini, yang bisa dilakukan oleh Michael sekarang ialah menyesali perbuatannya dan berharap akan kesembuhan sang Mamy. "Maaf Mom, aku menyesal. Cepatlah sadar, aku berjanji akan menuruti semua keinginanmu dan tidak akan membuatmu sedih lagi," ucapnya dalam doa.
...----------------...
Mansion Wiliam.
Setibanya di dalam kamar Wiliam melepaskan gandengan tangan dan membiarkan Jelita meluapkan amarah kepada dirinya.
"Kau begitu jahat padaku, kau selalu saja memanfaatkan kelemahanku, yang selalu tidak tega menyakiti hati orang tua. Kau juga sudah membuatku malu di depan banyak orang, karena ulah nakalmu padaku, hingga aku ditertawakan seperti tadi. Kau juga telah membuatku semakin terikat denganmu, dengan meminta Opa untuk segera menikahiku!"
"Bahkan kau juga berpura-pura romantis kepadaku di depan semua orang, agar mereka percaya bahwa hubungan kita semakin lama semakin dekat dan dengan begitu mereka akan menyetujui hubungan kita!"
__ADS_1
"Kau selalu menempatkanku ke dalam situasi yang sulit, dimana aku selalu tidak bisa menolak atau memilih keinginan apa pun yang ada di dalam hatiku, karena kau selalu saja akan menghukum atau mengancamku jika aku tidak patuh kepadamu!"
"Kau selalu saja mengancam akan menyentuhku dan juga memaksaku untuk memenuhi semua keinginanmu seperti tadi maupun sebelumnya. Bahkan kau tega menghukumku dengan sikapmu yang keterlaluan dan tidak tahu malu seperti ini!"
"Kau selalu saja membuatku ketakutan setiap hari, disetiap tidurku. Entah itu pagi, siang atau malam hari, karena kau suka sekali menyelinap ke dalam kamarku secara diam-diam dan kau selalu berhasil membuatku terkejut."
"Kau sama seperti hantu yang selalu muncul begitu saja, entah sudah berapa kali kau datang ke kamarku. Aku pun sampai tidak tahu akan hal itu, kau tidak pernah memberikan ku privasi akan kamarku sendiri, bahkan kau tidak mengijinkan aku untuk pergi dari sini!" bentak Jelita dengan amarahnya yang sudah memuncak di atas kepala.
Kedua matanya terlihat memerah dan mulai basah tergenang air mata, dadanya naik turun merasakan penuh sesak dengan perasaan kesalnya kepada Wiliam.
"Aku membencimu Wiliam, aku membencimu!" bentak Jelita bersamaan dengan deraian air matanya. "Aku membencimu," ucapnya sekali lagi.
Sementara itu Wiliam merasa senang dengan keterbukaan hati serta pengakuan Jelita dan juga amarah gadis itu yang telah tersampaikan kepadanya.
"Maaf ... Jika aku selalu membuatmu ketakutan, maaf jika aku suka sekali mengancam atau memaksamu untuk melakukan sesuatu. Maaf juga jika aku selalu menghukum atau membuatmu berada di dalam situasi yang sulit."
"Tapi ada satu hal yang pasti dan harus kau ketahui, kalau aku senang sekali dengan semua curahan isi hatimu itu. Dengan begitu aku bisa memperbaiki diri dan juga lebih memperhatikan perasaanmu."
"Jelita ... Aku serius denganmu, aku sudah menjatuhkan pilihan hanya akan bersama denganmu."
"Aku selalu menunggumu dengan sabar, dengan satu keyakinan penuh. Dimana suatu saat nanti, aku bisa merebut hatimu dari Michael."
"Selama ini aku selalu membiarkanmu melakukan hal yang kau mau, bahkan semua orang disini tahu kau telah berbohong pada mereka semua. Tentang kencan rahasiamu bersama dengan pria itu, tapi aku mengatakan kepada semua orang untuk tidak benci atau marah kepadamu."
"Dan apa kau tahu Jelita, kau mendapat ijin dari mereka semua padahal itu karena perintah dariku. Membiarkan kau berjalan berdua dengan Michael, melakukan apa yang tidak bisa aku lakukan terhadapmu sampai sekarang."
"Jujur sekali aku begitu kesal, ketika melihat pesanmu dengan pria itu yang berisi kata-kata cinta. Namun aku menyadari jika hatimu masih belum tega melepasnya, maka dari itu aku tidak pernah mengungkit atau berlaku kasar padamu."
"Jelita, apa yang sudah ku beritahu sebelumnya padamu. Bahwa aku akan selalu menunggumu itu adalah benar adanya. Aku selalu menunggumu bukan hanya jika kau sudah siap usia saja, akan tetapi aku juga selalu menunggu kau siap melepas kekasihmu itu dan beralih padaku."
Wiliam tersenyum dan menatap Jelita yang masih berlinang air mata. Dia menangkup sisi wajah Jelita dengan kedua tangannya dan berkata sekali lagi.
"Aku mencintaimu, walau aku tahu kau tidak mencintaiku bahkan membenciku setengah mati. Tetapi aku tidak akan pernah menyerah, aku akan terus berjuang mendapatkanmu walau pun itu menyakitkan untukku."
Jelita terisak kembali dan menangis semakin menjadi-jadi, saat mendengar perkataan Wiliam yang menyentuh hati.
__ADS_1
"Maafkan aku yang selalu membuatmu menangis, aku merasa gagal membahagiakan dirimu. Tapi aku sudah berjanji sebelumnya kepadamu dan juga kepada Ibu Maria akan selalu membuatmu bahagia."
"Jelita setidaknya berikanlah aku satu kali kesempatan untuk masuk ke dalam hidupmu, membiarkan aku menyayangi bahkan mencintaimu setulus hatiku."
"Dengan begitu mungkin kau bisa melupakan Michael secara perlahan."
Jelita menghapus air matanya dan bergantian menatap Wiliam. "Wiliam, terima kasih karena kau telah mencintaiku. Telah menjaga dan juga menjaga Ibuku, tapi Wiliam, aku belum bisa menerimamu. Aku tidak bisa melupakan orang aku cintai dan aku tidak bisa melupakan Michael begitu saja."
"Aku tidak memintamu melupakan dia sekarang, aku akan menunggumu melupakan dia secara perlahan," balas Wiliam.
"Aku tidak tahu itu bisa atau tidak, tapi Michael adalah cinta pertamaku dan cinta pertama sulit sekali untuk dilupakan," isak Jelita kembali.
"Jelita ... Kalau Michael adalah cinta pertamamu, maka aku akan menjadi cinta terakhirmu," tegas Wiliam dengan tatapan seriusnya.
...***...
Disaat Wiliam dan Jelita tengah mencurahkan isi hati masing-masing, Bi Nina datang menghampiri mereka dengan langkah terburu-buru.
"Nona ... Tuan, ada kabar dari rumah keluarga Chandra putra. Jika nyonya besar mereka masuk rumah sakit dan sekarang sedang dirawat karena masih tidak sadarkan diri," ucap Bi Nina memberi kabar.
"Apa! Ibu asuh masuk rumah sakit!" Jelita terlihat cemas ketika mengetahui jika mantan ibu asuhnya tidak sadarkan diri.
"Wiliam tolong antarkan aku kesana ya, aku mohon. Aku ingin sekali melihat kondisi ibu asuhku sekarang," pinta Jelita.
Wiliam mengangguk. "Baiklah, aku antar kau kesana ya. Jangan menangis lagi," balasnya lalu bersiap mengambil mobil diparkiran.
Sepanjang jalan menuju rumah sakit, Jelita diliputi kecemasan, entah bagaimana ibu asuhnya itu bisa masuk rumah sakit.
Dia pun mencoba menghubungi Michael, namun Michael tidak pernah menjawab panggilannya.
"Pasti dia sedang sedih dan sedang sibuk menemani Ibu asuh disana," gumam Jelita saat dia berpikir kenapa Michael tidak mengangkat teleponnya.
.
.
__ADS_1
Bersambung.