Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 72. Kegaduhan saat rapat besar


__ADS_3

"Kit!!"


Mobil yang membawa William dan Jelita berhenti mendadak, saat sebuah mobil tidak kalah mewah menghadang laju kendaraannya.


Kejadian di luar dugaan tersebut, membuat Jelita tidak sempat berpegangan pada apapun. Dirinya pun terpental ke depan. Namun nasib baik nampaknya masih berpihak kepada Jelita, saat insting William tidak kalah cepatnya dengan kejadian tersebut dan pria itu dengan mudahnya berhasil menyelamatkan Jelita dalam situasi sulit sekalipun.


Wiliam secara sukarela turun bersimpu dan berbalik badan, menangkap tubuh Jelita yang terjatuh. Menahan bobot tubuh wanita cantik yang kini telah berada diatasnya, dengan satu tangan merangkul pinggang ramping dan satu tangan berada diatas melindungi kepala Jelita agar tidak terbentur benda keras.


"Kau tidak apa-apa?" tanya William.


"A-aku baik-baik saja, terima kasih," balas Jelita merasa gugup dan kaget bercampur menjadi satu. Jantung nya berdebar tidak karuan saat William tersenyum menatap dirinya.


"Posisi seperti ini ternyata menyenangkan juga, kau di atas dan aku dibawah," ucap Wiliam enggan melepaskan pelukkannya.


Tangannya begitu aktif menjamah bagian tubuh belakang Jelita tanpa permisi. Dengan cepat menyingkap sedikit kemeja seragam sekolahnya, lalu mengelus dan sedikit meremas punggung mulus itu secara sengaja.


Hingga Jelita pun tersentak kaget karena ulah nakal Wiliam.


"Ah tidak! jangan lakukan itu. Jangan sentuh aku!" bentak Jelita saat menerima perlakuan tidak pantas dari Wiliam.


Sedangkan Pria itu hanya tertawa kecil ketika memandangi wajah Jelita dari atas dirinya yang sudah memerah karena malu. "Wajahmu lucu sekali," ucap Wiliam, senyumnya terus saja merekah menertawai Jelita.


"Cepat singkirkan tangan kotormu itu dari pinggangku, dasar pria mesum!" ucap Jelita, sambil terus memukuli apa saja yang bisa dia jangkau pada tubuh Wiliam. Merasa tidak nyaman dengan posisi seperti itu.


"Ck!" Wiliam berdecak kesal saat dirinya tidak bisa menjangkau lebih jauh pada belakang tubuh mulus itu, karena mendapat perlawanan kasar dari Jelita yang terus menerus memukulinya secara membabi buta.


Dia menghela nafas panjang, merasa sayang sekali melewatkan kesempatan emas yang terjadi di depan mata. Wiliam berpikir, jika saja dirinya sedang berdua seperti ini, bersama-sama berada diatas peraduan. Sudah pasti, dia akan menerkam Jelita dan tidak akan membiarkan gadis itu lepas dari sergapannya dengan mudah.


Dengan berat hati Wiliam melepaskan cengkraman tangannya pada pinggang Jelita dan membiarkan wanita itu lolos dari pangkuannya. Kemudian duduk kembali ke posisi semula dan menanyakan kepada sang supir dengan apa yang sedang terjadi.


"Kenapa berhenti mendadak seperti itu?" tanya Wiliam sambil membetulkan kembali kemejanya yang tersingkap.


"Maaf Bos, ada mobil yang menghadang di depan kita," balas supir pribadinya Wiliam.


"Cih! cari mati," gumam Wiliam. "Tabrak saja!" titah nya, merasa penghuni mobil didepannya itu adalah orang yang sudah bosan hidup.


"Baik Bos!" patuh sang supir lalu menginjak pedal gas, namun aksinya terhalang saat Jelita berteriak hingga memekakkan telinga.


"Jangan!" pekik Jelita saat mengenali si pemilik mobil tersebut. "Jangan tabrak mobil itu," pintanya.


Supir itu pun segera mengurungkan niat, lalu menoleh ke belakang, ke arah Wiliam. Menunggu reaksi dari sang majikan.


Wiliam mengangguk samar dan memberi kode kepada supir pribadinya, untuk menghentikan aksi demi keinginan Jelita. Si gadis kasar dan sulit di taklukkan, menurut Wiliam.


...***...


Sementara itu Michael keluar dari mobilnya dan bergegas menghampiri mobil yang membawa pergi Jelita.

__ADS_1


Dia memukul sekuat tenaga, sesekali menendang bagian depan mobil tersebut hingga cekung ke dalam.


"Buka!" titah Michael saat melihat Jelita sedang menangis di dalam mobil dan meronta ingin dilepaskan.


Dia mencari sesuatu untuk memecahkan kaca mobil, namun sepertinya mobil itu begitu kokoh dan sulit dihancurkan.


"Michael!" panggil Jelita dari dalam mobil. Lalu mengebrak pintu itu sekuat tenaga.


"Wiliam, tolong buka kuncinya. Biarkan aku pergi," ucap Jelita sambil merangkapkan kedua tangannya.


Sedangkan Wiliam hanya duduk diam, melipat satu kaki bertumpu pada satu kaki lainnya, Pria itu begitu santai menanggapi aksi keduanya dengan ditemani sepuntung candu.


"Tidak ... Sebelum kau memenuhi semua permintaanku tadi," balas Wiliam lalu menghembuskan asap candunya pada wajah Jelita.


"Uhuk! Uhuk! ... Baik, aku akan menuruti permintaanmu. Uhuk! ... Sekarang lepaskan lah aku dan biarkan aku pergi," pinta Jelita.


Wiliam tersenyum smirk dan menjepit dagu Jelita dengan kedua jari. Dia kemudian menatap Michael yang sedang memanas.


"Baiklah sayang, aku pegang kata-katamu, jika kau mengingkarinya atau mengecewakanku sedikit saja, maka bersiap-siaplah, kau akan kehilangan sesuatu yang berharga pada tubuhnu itu dan jangan salahkan aku mengambil paksa semuanya darimu," ucap Wiliam lembut namun mematikan.


Jelita menelan ludahnya kasar lalu mengangguk mengerti.


"Bagus ... Buka kuncinya," ucapnya angkuh. Dan tak berapa lama kemudian mobil pun berhasil dibuka.


Michael segera membuka pintu, dan menarik lengan Jelita segera agar masuk kedalam pelukannya.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Michael. Dia menatapi seluruh tubuh Jelita takut ada yang terluka.


"Syukurlah," Michael menghela nafas lalu menatap Wiliam.


"Siapa kau, kalau berani keluarlah hadapi aku!" gertak Michael.


Wiliam hanya tersenyum menanggapi kemarahan Michael, lalu mematikan batang candunya. "Kau bukan lawanku pria pemberani," ucapnya.


Michael yang kesal masuk ke dalam mobil Wiliam dan ingin menyeret pria itu untuk keluar, namun aksinya di cegah oleh Jelita sebelum terlambat.


"Jangan Michael ... Jangan," pinta Jelita menahan Michael agar tidak berkelahi, mengingat Michael bukanlah lawan yang sebanding dengan Wiliam.


"Tapi Jelita dia sudah menculikmu, aku harus memberinya pelajaran." Michael menepis lengan Jelita.


"Jangan Michael!" Jelita pun terpaksa memeluk Michael dari belakang untuk berhenti. "Jangan berkelahi, aku mohon jangan kotori tanganmu," ucapnya lagi.


Michael pun menghentikan aksinya, dia menghela nafas dan memejamkan kedua mata. Kemudian berbalik badan untuk memeluk Jelita.


"Baiklah, kau benar aku tidak akan mengotori tanganku. Yang terpenting bagiku adalah kau sudah selamat dari pria berandal itu," ucap Michael menatap tajam Wiliam.


Wiliam pun tersenyum smirk, kemudian meminta supirnya untuk pergi dari tempat tersebut dan menyempatkan diri berbicara kepada Jelita.

__ADS_1


"Sayang ... Jangan lupa dengan kata-katamu yang tadi ya, aku akan menjemputmu nanti malam. Berdandan lah yang cantik," ucap Wiliam lalu pergi bersama kencang nya laju mobil.


Meninggalkan Jelita dan Michael berdua dengan wajah saling bertatapan.


"Kau menjanjikan apa pada pria itu?" tanya Michael.


"D-dia hanya ingin makan malam denganku," jawab Jelita.


"Tidak! Aku tidak akan membiarkan dia membawamu pergi lagi," ucap Michael.


"Tapi Michael, aku sudah berjanji padanya," balas Jelita.


"Tidak Jelita, kau tidak boleh pergi bersamanya. Dari penampilan nya saja dia pasti bukan pria baik-baik. Begini saja, jangan tanggapi permintaan konyolnya itu. Kau cukup dirumah saja dan kau jangan takut, aku akan menghajarnya jika dia sampai memaksamu untuk pergi," ucap Michael.


"Michael ..."


"Sudah lah jangan dipikirkan, dia hanya mengertakmu saja. Ucapan pria itu pasti tidak serius. Sekarang lebih baik aku mengantarmu sekolah." Michael membukakan pintu untuk Jelita.


"Terima kasih," balas Jelita, kemudian mereka pun pergi dari tempat tersebut.


Ada kekhawatiran di dalam hati Jelita, mengingat perkataan Wiliam kepadanya. Tentang ancaman kepadanya jika berani menolak keinginan pria tersebut.


...----------------...


Yayasan Djuanda Foundation.


Sebuah rapat besar tengah digelar, dalam ruangan megah dan luas tersebut dihadiri oleh beberapa dewan penting dan juga orang-orang berpengaruh di yayasan, termasuk Nyonya Caca sebagai pemimpin disana.


Kondisi di dalam ruangan itu semakin memanas saat seseorang tidak dikenal mengirimkan sebuah foto tentang bukti kedekatan Michael dan juga Jelita tersebar luas di yayasan tersebut.


Semua mata memandang tidak suka saat melihat dua orang berbeda jenis tengah bermesraan. Foto Michael dan Jelita yang sedang berciuman. Hal tersebut sontak saja mendapat kecaman dari berbagai pihak.


"Apa ini alasan mu ingin merubah peraturan itu Nyonya Besar?" tanya salah satu anggota dewan.


"Maaf Nyonya semuanya, tapi kurasa peraturan ini memberatkan anak-anak kita. Karena bisa jadi anak kita mempunyai perasaan khusus terhadap anak asuh yang lainnya. Bukankah itu sama saja membuat mereka menderita, memendam cinta yang tidak bisa di ungkapkan karena terhalang oleh peraturan," ucap Nyonya Caca.


"Nyonya ... Perilaku tidak pantas ini, apakah masih disebut dengan wajar. Jika anak asuh pribadimu tidak bisa menjaga sikapnya, maka berhentikan saja dia dari yayasan ini."


"Benar, jika kau keberatan menghadapi peraturan tersebut. Buang saja anak asuh mu yang memalukan itu. Kami tidak bisa menerimanya."


Mereka semua menyalahkan Nyonya Caca karena gagal mendidik anak asuh pribadinya dan juga Michael putra kandungnya.


Nyonya Caca merasa malu dengan hal tersebut dan meminta maaf kepada semuanya, entah siapa yang telah mengirim foto tersebut kepada semua orang yang berada disini.


Hingga timbul kegaduhan disana sini, jika begitu bagaimana bisa dirinya merevisi peraturan dengan mudah, sedangkan dirinya sudah melanggar peraturan dengan tindakan anak dan anak asuhnya yang dinilai fatal.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2