
"Ini surat peringatan untukmu," ucap Nyonya Caca sambil menyerahkan selembar surat kepada Jelita.
"Jika sudah dibaca, silahkan tanda tangani di kolom ini," ucapnya menimpali.
"Baik Ibu ...." tanpa banyak kata, Jelita membaca surat tersebut, lalu menandatanganinya dan menyerahkan kembali salinan asli kepada Nyonya Caca.
"Ibu tahu ini bukan sepenuhnya kesalahanmu, tapi kita tidak bisa mengelak dari kesalahan karena adanya bukti yang kuat. Hasil rapat tadi, Anggota yayasan ingin Ibu mengeluarkan mu menjadi anak asuh, akan tetapi mengingat janji dan juga tanggung jawab Ibu untuk membantumu meraih cita-cita, Ibu tidak bisa menyetujui hal tersebut."
"Karena itu, Ibu hanya bisa membantumu meringankan menghukum dengan mengeluarkan surat peringatan pertama. Jelita ... Jadikan ini sebuah pelajaran berharga untukmu, karena jika satu kesalahan lagi terjadi, maka Ibu tidak bisa membantumu dikemudian hari," ucap Nyonya Caca.
Jelita mengangguk mengerti. "Baik Ibu ... Maaf jika aku mengecewakanmu."
"Maafkan Ibu juga karena ulah Miki kau jadi terkena imbasnya. Mulai sekarang jauhi dia dan ingatlah peraturan dan juga tanggung jawabmu sebagai seorang anak asuh. Jangan sia-siakan perjuangan Ibu membelamu agar tidak dikeluarkan, selalu gunakan kesempatan dengan sebaik-baiknya," ucap Nyonya Caca.
"Baik Ibu, aku tidak akan mengulanginya lagi, aku akan ingat akan tanggung jawab dan juga kewajibanku. Terima kasih karena masih peduli denganku," balas Jelita.
"Sama-sama ... Bagus! Beberapa hari ke depan Ibu akan pergi mengurusi semua kekacauan di luar sana dan meluruskan semua kesalah pahaman dan juga membersihkan nama baik keluarga serta yayasan. Ibu juga harus membantu suami Ibu untuk meyakinkan investor yang menarik diri dan meminta maaf kepada mereka semua atas kasus ini. Jadi Jelita, maaf Ibu tidak bisa menemanimu pindah rumah hari minggu nanti," tutur Nyonya Caca.
"Tidak apa Ibu, aku mengerti. Semoga Ibu bisa memulihkan semua keadaan menjadi baik kembali," ucap Jelita.
Nyonya Caca menghela nafas. "Semoga saja semuanya bisa kembali membaik. Terima kasih ... Sekarang kau bisa kembali ke tempatmu."
Jelita mengangguk. "Baik Ibu," ucapnya lalu keluar dari ruangan Nyonya Caca.
Nyonya Caca kemudian menghubungi seseorang untuk menghentikan pencarian pengirim foto tersebut.
"Pak Darma, tarik orang-orang kita dan hentikan pencarian, karena aku sudah menemukan pelakunya," ucap Nyonya Caca.
"Baik," balas Pak Darma melalu ponselnya.
__ADS_1
"Sekarang panggil minta seorang ahli untuk menghapus semua berita buruk mengenai kekuargaki dan juga foto-foto tidak pantas Michael yang sudah tersebar luas. Blokir semua situs online maupun website agar tifak bisa mengakses berita itu lagi," titah Nyonya Caca.
"Baik Nyonya Besar," balas Pak Darma.
Panggilan pun dimatikan, kemudian Nyonya Caca bergerak cepat dalam menyiapkan diri membersihkan nama baik keluarganya di mata umum maupun di masyarakat luas.
Sementara itu Michael menjambak rambutnya, merasa frustasi dengan semua kejadian yang terjadi. Dia menyesali perbuatannya dan mengutuki kebodohan dan juga memarahi dirinya sendiri.
Sedangkan Jelita, menatapi surat peringatan dari ibu asuhnya. Dia meringkuk dan menitikkan air mata. Jelita berusaha memantapkan diri, meneguhkan pendiriannya untuk terus menjalani kesehariannya tanpa memikirkan Michael atau pria manapun juga.
Mereka sama-sama menyendiri, merenungi dan menyesali sebuah kejadian tidak terduga yang terjadi pada hari ini.
...----------------...
Mansion Wijaksana.
"Tidak ku sangka ... Akhirnya kegaduhan itu terjadi juga, tanpa perlu repot-repot mengeluarkan tenaga dan juga mengotori tanganku ini. Heh! Wajah nyonya besar itu pasti sedang menangis ketakutan dan kurasa meratapi nasib buruknya."
Nyonya Berta tertawa kencang, menikmati kegaduhan dan juga kesusahan yang menimpah keluarga Chandra putra terutama nyonya Caca.
Sedangkan Floren dia membelalakan matanya begitu bulat dan gemas saat melihat berita viral yang terjadi pada hari ini. Dia tidak menyangka dengan apa yang dia pada layar smartphonenya.
Sebuah gambar Michael mencium mesra Jelita yang sedang viral di dunia jagad maya.
Jarinya kadang menggeser dan kadang memperbesar ukuran gambar pada layar ponselnya dan menatapi tidak berkedip.
"Beraninya si jelek itu mencuri ciuman Mike dari ku dan Mike ... kau sepertinya begitu menghayati dan menikmati sekali melakukan ciuman itu. Ciuman mu juga terlihat begitu dalam."
"Oh Mike ... Harusnya aku yang merasakan ciuman mu, bukannya si gembel itu. Kapan kau akan mengerti Mike, bahwa aku sangat mencintaimu."
__ADS_1
"Dan si gembel itu, sama sekali tidak tahu diri. Orang susah tidak tahu malu, lihat saja jika aku bertemu dengannya, akan ku hajar dia sampai puas."
Floren berteriak dan membanting ponsel itu ke lantai. Dia meluapkan semua kekesalan dan juga amarah pada apapun disekelilingnya sambil terus Menggerutu dan juga memaki Jelita dengan ucapannya yang kasar.
...----------------...
Mansion Wiliam.
Beda halnya dengan Wiliam di dalam kediamanannya. Pria itu tengah sibuk melatih bela diri, mengasah keterampilannya memainkan sebuah pedang katana layaknya seorang samurai.
Wiliam menghentikan sejenak kegiatan itu saat seseorang tiba-tiba masuk ke dalam ruang latihan dan meminta dirinya untuk mengecek berita terbaru hari ini.
Pria itu menurunkan pedang dan menyambar sebuah handuk kecil dengan satu tangan untuk menghapus keringat, lalu meraih sebuah ponsel miliknya dari tangan si pembawa pesan.
Wiliam berdecih lalu tersenyum, pandangannya itu dia lemparkan pada sebuah jam dinding besar nan mewah di dalam ruang latihan tersebut.
"Hem ... Sudah waktunya aku menjemput dia," gumam Wiliam lalu menghentikan latihannya dan menitahkan kepada asisten pribadinya itu untuk membereskan semua peralatan bela diri.
Wiliam berjalan menuju kamar dengan percaya diri, membersihkan diri untuk bersiap menjemput seorang gadis.
Reader setia pasti tahu karakter yang cocok untuk karyaku ini. Jika tidak cocok maaf ya.. 😁😁😁
.
.
Bersambung.
__ADS_1