Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 82. Berpapasan.


__ADS_3

"Ayo kita pergi," ajak Wiliam menatap Jelita.


Pria itu menekuk lengan kirinya, sebagai tanda bahwa ia telah siap untuk menggandeng seorang gadis cantik disebelahnya.


Jelita tersenyum dan memandangi lengan besar nan berotot milik Wiliam. Walau sedikit ragu, ia memberanikan diri melingkarkan lengannya pada lengan Wiliam.


Mereka saling memandang, lalu berjalan menuruni anak tangga, tidak seperti sebelum awal pertemuan, yang satu selalu menolak dan yang satunya lagi memaksa.


Kini mereka terlihat berbeda, begitu serasi dan seirama.


Semua mata teruju pada mereka berdua yang sedang menuruni anak tangga dengan begitu anggunnya. Mereka semua terkesima dengan penampilan menakjubkan keduanya.


Ada kegembiraan di setiap hati para pekerja disana, terlebih Bi Nina. Saat melihat Tuan Mudanya serius dengan seorang wanita.


"Jika Tuan dan Nyonya masih hidup, mungkin mereka akan bahagia melihat ini," gumam Bi Nina dalam hati.


Wanita paruh baya itu berharap, Nona muda Jelita bisa membawa kebahagiaan di hati Tuan Mudanya dan membuang jauh-jauh kebiasaan buruk Wiliam. Mengingat anak muda itu selalu menyendiri sendiri, menghabiskan waktu dengan minuman haraam dan juga menghisap candu.


Merelakan dirinya menerima hujatan dan juga pandangan negatif dari masyarakat sekitar, hingga melabel gelar sang casanova pada pria itu, padahal yang sebenarnya adalah Wiliam tidaklah seperti itu.


Pria tampan itu sering menghabiskan sisa waktunya, di club malam hanya demi satu hal. Mencari informasi tentang siapa yang telah menghancurkan keluarganya, dan itu terjadi saat dirinya sedang mendekam di dalam penjara.


Wiliam terus mencari saksi-saksi maupun bukti selama bertahun-tahun, mencari dalang dibalik semua kejadian menyedihkan dalam hidupnya.


Dan dalam setahun belakangan ini, usaha kerasnya itu mulai membuahkan hasil, dan pria itu telah menemukan titik terangnya.


Dia berpura-pura memainkan wanita, padahal wanita yang sering dia bawa adalah mata-mata kepercayaannya sendiri. Membayarnya dengan sejumlah uang, untuk menceritakan mengenai informasi apa saja yang di dapat oleh wanita-wanita pilihannya itu.


Bisa dikatakan kalau Wiliam itu masih seratus persen perjaka ting-ting, dan Bi Nina dapat menjamin hal tersebut dengan keyakinan penuh.


"Aku yang tahu sejarah Wiliamku, Tuan Mudaku," gumam Bi Nina, pelayan setia keluarga Wiliam, dari pria itu masih dalam kandungan, hingga dia tumbuh dewasa seperti sekarang ini.


Dia yang telah berdiri dihadapannya, dengan menggandeng seorang gadis dan tersenyum menatap dirinya. Bi Nina menitikkan air mata, mengingat betapa beratnya hidup sang Tuan Muda. Dia hanya bisa berharap tidak akan ada lagi kesedihan yang selalu menyelimuti diri anak itu.


"Bibi kami berangkat," ucap Wiliam.


Bibi menyeka air mata dan tersenyum memandangi keduanya. "Baik Tuan, hati-hati."


"Bibi Aku berangkat," pamit Jelita.


Bi Nina mengangguk dan tersenyum. "Hati-hati Nona Jelita, jaga Tuan muda kami."

__ADS_1


"Baik Bibi," balas Jelita.


Jelita tersenyum dan melirik Wiliam. "Apa Bi Nina tidak salah bicara, Pria sebesar dan sekuat ini harus ku jaga. Apa tidak terbalik?" gumamnya dalam hati dan dia tertawa kecil.


"Jangan mencoba menghina atau menertawaiku," ucap Wiliam, pria itu seperti punya kemampuan membaca pikiran saja, sekali mikir langsung terbaca.


"Maaf ..." Jelita merapatkan mulutnya, sadar jika Wiliam bukan pria sembarangan.


Wiliam melepaskan gandengan tangannya, lalu berganti melingkarkan kedua lengannya dipinggang Jelita. Menarik pinggang gadis itu agar sedikit mendekat kepadanya, mengikis jarak hingga mereka berhimpitan.


"A-apa yang kau lakukan, lepaskan aku. Tolong jangan seperti ini, banyak orang yang melihat kita," ucap Jelita, dia melihat para pekerja di sekitar dirinya sambil mendorong dada Wiliam agar tidak mendekat kepadanya.


"Aku hanya ingin menciummu," balas Wiliam tanpa malu, lalu mendaratkan sebuah kecupan di pipi kanan Jelita.


Gadis itu pun membeku dan terbelalak. Betapa terkejut dirinya ketika mendapatkan serangan tiba-tiba dari Wiliam yang tidak tahu malu.


Menciumnya di depan banyak orang.


Sedangkan semua pekerja yang melihat kejadian itu hanya tersenyum dan menunduk malu, mencoba berpura-pura tidak terjadi sesuatu di depan mata mereka.


Jelita menatap tajam. "Tidak tahu malu ... Lepaskan aku sekarang juga," pintanya lalu mencubit lengan Wiliam yang kurang ajar.


Wiliam terkekeh dan itu mengejutkan semua orang disana.


Dan tak lama setelah itu, mereka menaiki sebuah mobil yang sudah disiapkan sebelumnya. Membawa keduanya pergi menuju tempat tujuan.


...----------------...


Perusahaan Wijaya Group.


Wiliam dan Jelita telah sampai di perusahaan besar Wijaya Group, begitu pula dengan Michael dan juga Jason.


Mereka saling berpapasan di loby perusahaan, dalam kondisi yang terlihat begitu mencekam.


Michael terlihat panas, saat Wiliam terus saja merangkul pinggang Jelita dan tidak mau melepaskan gadis itu walau sudah mendapat tatapan tajam.


Sedangkan Wiliam menanggapi santai ancaman tersebut, malah merangkul lebih erat gadis disebelahnya.


"Singkirkan lengan kotormu dari temanku!" titah Michael melihat Jelita seperti kurang nyaman dalam dekapan Wiliam.


"Ku pikir kau adalah pacarnya, ternyata hanya seorang teman. Itu berarti aku punya kesempatan lebih dan kau tidak berhak melarangku," balas Wiliam.

__ADS_1


Michael mengepal erat tangannya dan meraih lengan Jelita, sekuat tenaga menariknya agar terlepas dari Wiliam.


"Michael sakit!" pekik Jelita saat Michael menarik paksa dirinya.


"Jangan dekat-dekat dengan pria itu, apa kau tidak tahu dia itu siapa?" Michael mengajak Jelita agar menjauh dari dari Wiliam untuk berbincang sebentar.


"Aku tidak tahu siapa dia, tapi aku telah berjanji kepadanya," ucap Jelita.


Michael menggenggam kedua bahu Jelita. "Janji apa? Apa dia mengancammu, apa dia akan melukaimu jika tidak menuruti permintaannya. Katakan padaku Jelita, jangan takut ada aku disini."


"Michael ... Dia tidak melukaiku sama sekali, dia hanya meminta tolong kepadaku agar menemaninya makan malam bersama dengan kakeknya saja. Kau tidak perlu khawatir, karena setelah ini selesai, dia akan melepasku," balas Jelita.


"Menemaninya makan malam bersama kakek, Heh! Kenapa harus dirimu yang diajak oleh pria mesum itu ke sini dan bukan nya wanita lain?" tanya Michael.


Jelita menggeleng dan menaikkan kedua bahu. "Mana ku tahu," balasnya.


"Itulah, dia pasti punya niat buruk kepadamu. Katakan kepadaku, apa yang pria itu lakukan kepadamu, apa dia berusaha menodai mu atau memaksamu melakukan hal yang menjijikkan?" tanya Michael begitu cemas.


"T-tidak Michael, dia tidak melakukan hal itu. Percayalah," balas Jelita walaupun sebenarnya Wiliam sempat ingin menodainya tadi siang.


"Apa kau serius dan tidak berbohong kepadaku, atau dia sedang mengancammu untuk tidak mengatakan hal yang sebenarnya?" tanya Michael masih penasaran.


Jelita menghela nafas dan menurunkan kedua lengan Michael pada bahunya. "Percayalah Michael, pria itu tidak melakukan hal buruk kepadaku." Jelita meyakinkan Michael agar tidak perlu mengkhawatirkannya.


"Apa sudah selesai berbincangnya?" tanya Wiliam tau-tau sudah berdiri di disamping Michael dan Jelita.


"Kau mau apa? Jangan bawa dia," cegah Michael.


"Ck! Aku hanya ingin makan malam, jika tidak percaya kalian bisa ikut denganku," balas Wiliam lalu mendekati Jelita.


Wiliam kembali mengulurkan tangannya kepada Jelita, sambil terus menatap tajam gadis itu dan berkata. "Ku harap kau ingat akan janjimu," ucapnya serius.


Jelita menelan ludahnya susah payah, dia menoleh ke arah Michael dan Michael menggeleng cepat. "Jangan ikut dengannya," ucapnya kepada Jelita.


Jelita kemudian berganti menatap Wiliam dan teringat akan ucapan pria tersebut. Dia melihat uluran tangan pria itu dan memantapkan diri untuk menyambut uluran tangan Wiliam.


Wiliam pun tersenyum dan menarik Jelita untuk mendekat kepadanya, lalu tanpa basa basi melingkarkan salah satu lengannya pada pinggang ramping Jelita dan mengajaknya pergi untuk menemui sang kakek.


Meninggalkan Michael yang terlihat putus asa.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2