Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 146. Keributan besar.


__ADS_3

Perusahaan Wijaya Group.


Bangkrutnya perusahaan Wijaksana, membuat kericuhan di dalam tubuh perusahaan Wijaya Group sendiri. Bagaimana tidak, kehancuran itu membuat nasib karyawan Wijaksana menjadi tidak menentu.


Mereka berani menuntut uang pesangon ke perusahaan pusat dan meminta keadilan, selain kericuhan tersebut, beberapa rekan bisnis bahkan memutuskan hubungan kerjasamanya dengan perusahaan Wijaya Group.


Kejadian luar biasa yang menimpah perusahaannya itu, membuat Opa Wijaya turun tangan dan memantau serta menegur Wiliam secara langsung.


Mereka mengadakan rapat besar para anggota direksi dan juga staft penting lainnya.


Tapi sebelum mereka memulai rapat tersebut, Opa berbincang secara pribadi kepada Wiliam di dalam ruangannya terlebih dahulu.


"Wili! Apa kau sadar dengan apa yang telah kau lakukan hah? Berapa banyak kerugian perusahaan kita hanya karena ulah tidak masuk akalmu!" sentak Opa Wijaya.


Wiliam terdiam dan membiarkan Opa Wijaya memarahinya habis-habisan, dia juga mengakui kesalahannya itu di depan semua orang.


"Semua yang kau lakukan memang lah hebat Wiliam, kau telah berhasil membalaskan dendam akan kematian kedua orang tuamu itu. Akan tetapi Wiliam, kita juga tidak boleh mengorbankan semua orang hanya karena masalah pribadi dan mengapa kau tidak mengerti akan hal ini," sesal Opa Wijaya.


"Opa tenanglah, aku yang akan bertanggung jawab akan semua itu." Wiliam mencoba menenangkan Opa Wijaya agar tidak jatuh sakit.


"Bagaimana kau akan bertanggung jawab dengab semua ini Wiliam? Apa kau tahu, perusahaan kita telah mengalami kerugian besar dan berkat dirimu itu, perusahaan kita sekarang mengalami krisis dan juga kemunduran serta guncangan hebat."


"Bahkan posisi perusahaan kita ini telah merosot ke posisi terendah dalam dunia bisnis," balas Opa Wijaya.


Dia juga memarahi Riko habis-habisan, karena telah membantu memuluskan rencana sang cucu hingga berhasil.


"Kau juga samanya, jika bukan karena kau pernah berjasa menjaga Wili ku sewaktu ia sendirian dulu. Mungkin, aku sudah pasti tidak akan menerima mu dan memecatmu dari sini sekarang juga!" bentak Opa Wijaya.


Riko hanya bisa terdiam dan mendengarkan semua amarah Opa Wijaya dengan menundukkan kepalanya tanpa bisa membela diri. Dia sebenarnya telah menjelaskan kepada Wiliam tentang resiko dari rencana gilanya itu.


Namun Wiliam tidak mendengarkan nasehatnya, oleh karena itu ia hanya bisa mengikuti dan mendukung kemauan sang bos, hingga berhasil merugi sekarang ini.


Wiliam menghela nafas. "Opa jangan memarahi Riko, dia hanya menuruti semua perintahku. Dia selalu mengingatkan ku akan akibat dari tindakan beraniku ini. Namun aku yang terus mendesaknya agar tetap melaksanakan tugas," balasnya membela.


"Opa, aku tidak bisa diam saja jika ingin merebut kembali anak perusahaan kita dari tangan seorang penjahat seperti Wijaksana," sambungnya.


"Wili, Opa telah memberi perusahaan itu untuk Wijaksana karena Opa telah berjanji kepada ibunya Wijaksana sebelumnya dan kau sekarang malah menghancurkan perusahaan itu. Bagaimana Opa bisa menghadapi ibunya di akhirat nanti?" Opa Wijaya menunduk lesu.


"Opa, jika aku tidak membalaskan semua perbuatan jahat Wijaksana. Bagaimana aku bisa menghadapi semua sumpahku kepada Papa dan Mama," balas Wiliam.

__ADS_1


"Opa senang kau mau membalas semua kejahatan Wijaksana tapi Wiliam, bagaimana kita memulihkan perusahaan kita ini?" tanya sang Opa sembari berpikir.


"Tenanglah Opa, aku hanya mendatangani surat perjanjian dengan pemerintah pusat itu hanya selama satu bulan."


"Apa maksudmu? Bukankah kau menyumbangkan tanah itu untuk pembuangan sampah warga sekitar hah?" tanya Opa Wijaya.


Wiliam tersenyum. "Aku tidak benar-benar memberikannya kepada pemerintah pusat, aku hanya meminjamkan mereka tanah tersebut untuk membuang sampah disana selama satu bulan. Sebelum tempat pembuangan sampah mereka yang asli telah rampung."


"Jadi?" tanya Opa seraya menaitkan kedua alisnya.


"Setelah satu bulan, sampah di tanah itu akan mereka angkut kembali dan di pindahkan ke TPA asli daerah mereka. Jadi Opa, setelah itu kita bisa memulai bisnis kembali. Melanjutkan apa yang sudah tertunda," balas Wiliam.


Opa Wijaya seperti mendapat pencerahan. "Benarkah itu, lalu bagaimana dengan semua investor kita yang sudah lari?" tanyanya.


"Mereka memang sudah pergi, namun aku akan mencoba membujuknya untuk kembali dan meyakinkan hal tersebut hanyalah sementara waktu," balas Wiliam.


"Apa kau yakin akan berhasil?" tanya Opa Wijaya ragu.


"Opa percayalah padaku, bukan kah kau akan mendukung setiap langkah maupun keputusanku hem?" ujar Wiliam.


Opa Wijaya menghela nafas. "Baiklah, kali ini Opa percaya padamu." Lalu tersenyum.


Pria pemberani itu pergi menghadapi semua kekacauan di luar perusahan, dengan di temani Riko sang asisten pribadi yang setia.


Mereka bersama-sama menjawab semua kejadian luar biasa yang menimpah perusahaan Wijaksana maupun perusahaan Wijaya Group sendiri.


...----------------...


Perusahaan Chandra Putra.


Kejadian luar biasa yang menimpah perusahaan Wijaksana, terdengar juga di telinga Tuan Nael.


Pria paruh baya itu tidak mengerti, untuk apa Wiliam melakukan hal nekad seperti itu hingga perusahaan Wijaya Group sendiri mengalami kerugian yang cukup besar.


Namun yang lebih mengejutkan lagi adalah perusahaan Wijaksana benar-benar jatuh sekarang.


"Kenapa Wiliam berani melakukan hal itu, apa dia tidak sadar jika tindakannya telah menyebabkan krisis serius di tubuh perusahaannya sendiri?" tanya Tuan Nael tidak habis pikir.


"Sepertinya Wiliam sengaja ingin menghancurkan perusahaan Wijaksana karena ingin merebut anak perusahaan itu kembali," balas asisten pribadi tuan Nael.

__ADS_1


"Tapi apa penyebabnya dan bagaimana dia akan menyelesaikan masalah rumit seperti itu?" tanya Tuan Nael kembali.


"Sepertinya masalah internal Tuan, dari info yang saya dapat Wiliam sendiri sedang mengurusi keributan disana," balas sang asisten.


Tuan Nael menghela nafas dan berharap agar krisis di perusahaan Wijaya Group segera berakhir. "Kabari aku jika mereka membutuhkan bantuan kita," ucapnya.


"Baik Tuan Nael," patuh sang asisten.


...----------------...


Mansion Wijaksana.


Tuan Wijaksana mengacak-acak seluruh kamarnya, dia begitu gusar ketika mengetahui jika rumahnya juga akan disita oleh bank.


Hal itu membuat Nyonya Berta menangis, memikirkan nasib keluarganya. "Kalau rumah ini sampai disita, terus kita harus tinggal dimana sayang. Bagaimana nasib Florenku kalau begini," ucapnya terisak.


Tuan Wijaksana berkacak pinggang dan memikirkan satu cara, mau tidak mau dia harus segera menikahkan Floren dengan Mark agar bisa bertahan hidup.


"Floren harus segera menikah secepatnya agar dia tidak ikut mengalami kesulitan keuangan," balas Tuan Wijaksana.


Nyonya Berta mengangguk, sudah saatnya mereka menikahkan Floren dengan pengusaha muda bernama Mark. Walau tidak sekaya keluarga Wijaksana, paling tidak dia masih bisa bernafas lega karena hidup putrinya akan terjamin.


Tuan Wijaksana menghubungi Mark dan meminta pria itu untuk segera menikahkan Floren walau dia tahu putrinya sendiri masih tidak mau dinikahkan dengan pria lain.


Namun karena Mark mengetahui jika perusahaan Wijaksana telah bangkrut, pria itu menolak mentah-mentah lamaran Tuan Wijaksana dan berkata tidak sudi menikahi putrinya.


Hal itu membuat Tuan Wijaksana terkena serangan jantung saat itu juga dan Nyonya Berta seketika panik bukan main. Dia segera membawa suaminya kerumah sakit dan meminta Floren untuk pulang kuliah sekarang juga.


Keluarga itu mengalami guncangan hebat, segala masalah datang bertubi-tubi dalam satu hari dan itu terjadi akibat ulah satu orang.


Wiliam!


Nyonya Berta bersumpah akan membalas dendam kepada Wiliam, mengikuti emosinya yang sudah memuncak di atas kepala dan Dia akan membalaskan itu semua kepada satu orang, seseorang yang paling beharga di dalam keluarganya itu.


Sang bayi ... Baby Michael.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2