
Pada malam harinya.
Nyonya Caca menerima panggilan dari Nyonya Berta.
"Hallo ... Iya Nyonya Berta, selamat malam. Bagaimana dengan kabarmu? Apa Floren sudah pulang, bagaimana dengan kabarnya sekarang?" tanya Nyonya Caca.
"Tidak usah kau berpura-pura baik kepada keluarga ku Nyonya Besar. Aku meneleponmu bukan untuk mendengar ucapan sok baik mu itu!" balas Nyonya Berta.
"Maaf Nyonya Berta, tapi ada apa dengan mu? Mengapa kau berkata seperti itu?" tanya Nyonya Caca merasa syok saat dirinya dibentak oleh Nyonya Berta melalui telepon.
"Hei Nyonya Besar, jangan berpura-pura baik terus seperti itu. Apa maksudmu bersikap baik pada putriku tapi nyatanya kau telah menyakiti hatinya," ucap Nyonya Berta.
Nyonya Caca mengerjapkan kelopak matanya berkali-kali, merasa bingung dengan ucapan Nyonya Berta.
"Apa maksudmu Nyonya Berta? Aku sama sekali tidak mengerti," tanya Nyonya Caca.
"Alah! pura-pura tidak tahu, sebenarnya putramu itu sudah punya pacar dan kau juga pasti sudah mengetahui wanita itu bukan? Kau membawa seorang gadis untuk putramu, tanpa memperdulikan perasaan putriku. Kau begitu tega melupakan hubungan putramu dengan putriku begitu saja. Ingatlah ini Nyonya Besar, aku tidak akan pernah memaafkan sikap buruk putramu itu karena telah membuat putriku menangis dan melukai hatinya!" Ucap Nyonya Berta merasa kesal.
"Maaf Nyonya Berta ---" ucap Nyonya Caca terputus ketika Nyonya Berta menutup panggilan secara sepihak.
Nyonya Caca lalu terdiam merasa tidak mengerti dengan perkataan Nyonya Berta. Dia meletakkan gagang telepon itu di atas meja dengan hati bertanya-tanya.
"Apa maksud perkataan Nyonya Berta? Siapa wanita yang dimaksud oleh Nyonya Berta sebagai pacarnya Miki?"
………………………………………………………………………………
Keesokkan harinya.
Senin pagi yang cerah, secerah hati Michael saat melihat Jelita mengenakan seragam putih abu-abu baru saja keluar dari pintu pagar besi minimalis, dimana tempat Jelita tinggal sekarang. Gadis manis itu melangkahkan kaki dengan cepat, hendak berangkat menuju sekolah.
Jelita tengah berpacu dengan waktu, demi mencari kendaraan umum agar dirinya tidak telat sampai ke sekolah. Namun langkah kakinya terhenti, saat sebuah mobil mewah melaju perlahan mulai mendekati dirinya.
Kaca mobil bagian belakang perlahan turun, hingga nampak lah sesosok pria tampan yang tidak lain dan tidak bukan ialah Michael.
Entah terkena angin apa Michael telah bangun sepagi ini dan yang lebih mengejutkannya lagi ialah pria sejuta pesona itu telah menunggu Jelita di dalam mobil sejak dari tadi.
Gayanya yang keren habis dengan wajah yang rupawan, sukses membuat Jelita terperangah dan menatap kagum pria tersebut.
"Pagi ..." sapa Michael.
"P-pagi," balas Jelita.
"Cepat naik, biar ku antar kau sampai ke sekolah," ajak Michael.
__ADS_1
"T-tidak, aku ingin naik angkot saja," balas Jelita menolak secara halus permintaan Michael.
Jelita kembali berjalan melewati mobil Michael dan lebih memilih menunggu kendaraan umum di depan mansion itu dengan sabar.
Namun Michael sepertinya tidak suka dengan penolakan Jelita. Dia menghela nafas panjang, lalu bergegas turun dari mobilnya.
Kemudian tanpa banyak kata, Michael langsung menarik lengan Jelita untuk ikut bersamanya masuk ke dalam mobil, sebelum gadis itu menaiki kendaraan umum yang menuju ke sekolahnya.
"Michael, hei! Kamu mau apa? Ah lihat itu angkotnya sudah datang!" Jelita menghentak tangan Michael agar terlepas, lalu bergegas menghentikan kendaraan umum tersebut.
Michael yang kala itu masih berdiri dtempat, langsung menghadang Jelita yang ingin masuk ke dalam angkot.
"Tunggu Jelita, jangan naik!" pinta Michael sambil menghadang Jelita dengan satu lengannya di depan pintu.
"Michael kau mau apa? jangan menghalangiku. Kau bisa membuatku terlambat ke sekolah." Jelita berusaha melepas tangan Michael yang masih saja menghadangnya.
"Tidak Jelita, sebaiknya kamu ikut denganku saja. Aku akan meminta supir ku untuk mengantarmu ke sekolah terlebih dahulu, baru mengantarku ke kampus setelah itu," ucap Michael lalu menarik kembali lengan Jelita, saat dirinya melihat terlalu banyak penumpang laki-laki di dalam sana.
"Hei Neng, jadi naik enggak?" tanya supir angkot itu setengah berteriak dan masih menunggu Jelita dengan sabar.
Jelita yang merasa tidak enak hati kepada sang supir angkot lalu menahan lengan Michael yang menarik dirinya agar berhenti. "Tunggu Michael. Bagaimana dengan angkotnya, supir angkotnya masih menungguku."
Michael berhenti sejenak lalu menoleh ke supir kendaraan umum yang masih menunggu Jelita. "Pak, dia tidak jadi naik!" ucap Michael kepada si supir angkot, lalu berjalan kembali sambil menarik lengan Jelita.
Supir angkot itu terlihat sedikit kecewa lalu menyindir Michael dengan sedikit berteriak. "Takut ceweknya di godain sama cowok lain ya! Makanya kalau punya pacar itu jangan cakep-cakep, kalau takut digodain lebih baik kekepin aja di kamar!"
Penumpang dan supir di dalam angkot itu terlihat tertawa sambil menatap sinis ke arah Michael. Namun Michael tak mengubris perkataan dan juga sindiran dari penumpang maupun supir kendaraan umum tersebut.
Michael lalu masuk ke dalam mobil dengan santai, setidaknya dia merasa lega karena Jelita tidak jadi naik kendaraan umum tersebut yang berisi banyak para lelaki dewasa dengan tampang mencurigakan.
"Michael ada apa denganmu? ...." tanya Jelita merasa bingung dengan tingkah laku Michael hari ini. Namun pria itu tidak menjawab pertanyaan Jelita sama sekali.
Michael kemudian meminta sang supir untuk mengantar Jelita ke sekolah. "Pak, kita antar Jelita dulu ke sekolah, baru mengantarku ke kampus."
"Baik, Tuan Muda," patuh supir pribadinya Michael.
Jelita berbalik melihat Michael di kursi belakang, ingin menanyakan mengapa pria itu melarangnya naik kendaraan umum. Tapi niatnya itu terurung saat melihat Michael sedang serius memainkan laptopnya.
Dia hanya mengusap pergelangan tangannya yang sedikit kemerahan karena cengkraman tangan Michael yang begitu kuat.
Michael tak sengaja melihat tanda kemerahan itu, pada pergelangan tangan Jelita. Dia lalu menghela nafas dan merasa tidak enak hati kepada Jelita, karena menarik lengan wanita itu secara paksa.
"Maaf, aku tadi kasar padamu. Apa itu sakit?" tanya Michael.
__ADS_1
"Tentu saja sakit, jika tidak mana mungkin bisa sampai semerah ini," balas Jelita sambil terus mengusap pergelangan tangannya.
"Maaf, aku melarangmu bukan tanpa alasan. Aku hanya tidak ingin kau pergi naik kendaraan umum itu tadi, karena kurasa akan ada banyak sekali bahaya di dalam sana," ucap Michael dengan pandangan masih lurus ke layar laptop nya.
Jelita terdiam dan berpikir, ternyata Michael begitu peduli kepadanya. Dia tersenyum dan menoleh kebelakang. "Oh begitu ... Maaf Michael, aku tidak berpikir sampai sejauh itu."
"Tidak apa, sini mana tanganmu biar ku lihat," ucap Michael.
"Tidak perlu, sudah baikkan kok," balas Jelita sambil menunjukkan pergelangan tangannya.
"Oh ya sudah," balas Michael.
Mereka kemudian terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Lalu Michael menutup laptopnya, dia melihat Jelita yang sedang fokus melihat jalanan.
"Jelita ...."
"Heh ...."
"Apa kau tidak keberatan, jika mulai sekarang dan seterusnya aku yang akan mengantarmu sampai ke sekolah," ucap Michael sambil melihat kaca spion dalam mobil dan menatap Jelita yang juga menatap dirinya.
Jelita memandang sejenak wajah tampan itu dan menemukan keseriusan pada sorot matanya. Dia lalu tersenyum dan menoleh ke belakang.
"Baiklah Michael, terserah kau saja. Sebenarnya aku tidak keberatan, karena jika kau mengantarku ke sekolah, selain aku merasa aman, itu bisa mengurangi biaya transport ku." Jelita terkekeh dan Michael hanya tersenyum mendengarnya.
Jelita lalu kembali duduk seperti semula dan menatap jalanan lurus di depannya. Dia melirik pria di belakangnya dari kaca spion dalam mobil.
"Michael ...."
"Hem ...."
"Terima kasih ... Terima kasih banyak ya," ucap Jelita.
"Ck! Untuk apa berterima kasih?" tanya Michael.
"Ya terima kasih karena telah peduli kepadaku," balas Jelita.
Michael mengulum senyum. "Sama-sama."
.
.
Bersambung.
__ADS_1