
Jelita menatap Ibu yang sudah tertidur lelap, dia mengecup kening sang ibu, lalu diselimutilah tubuh lemah yang sedang terbaring itu agar tetap hangat di dalam dinginnya ruangan ber AC.
"Ibu, selamat tidur ..." ucap Jelita lalu menatap jam dinding yang berdetak. "Masih jam 8 malam, mana bisa aku tidur jam segini," ucapnya pada diri sendiri lalu menatap pintu keluar.
Jelita pun bermaksud ingin keluar kamar untuk sekedar menghabiskan waktu. "Mungkin aku bisa duduk di sana sebentar," pikir Jelita saat mengingat ada sebuah bangku di sebuah taman dekat kolam.
Jelita lalu mengambil sehelai kain panjang untuk menutupi tubuhnya agar tidak diterpa angin malam. Dipakai kacamata buruknya itu dan membiarkan rambut sebahunya terurai bebas.
Dia melangkah keluar dengan pasti, lalu duduk di sebuah bangku taman dekat dengan kamarnya yang sekarang ini.
Jelita menatap gerakan sekumpulan ikan yang berenang kesana kemari dengan seksama dan seketika itu pula tersirat dalam pikiran tentang masa depannya nanti. Jelita merenung sambil memikirkan kembali, tentang cita-citanya.
Dengan terus menatap pantulan wajahnya pada permukaan air, Jelita mulai bertanya pada diri sendiri. "Apa aku bisa meraih cita-citaku, apa aku bisa berhasil? Apa aku bisa tidak mengecewakan Nyonya besar?" Jelita menghela nafas.
"Kau pasti bisa!" seru Michael, membuat Jelita langsung terperangah saat memandangi satu wajah yang baru saja muncul di permukaan air.
Dia lalu menoleh kepada seorang pria yang telah duduk disampingnya.
"Kau pasti bisa," serunya sekali lagi.
"T-tuan Michael, k-kau sedang apa disini?" tanyanya terbata-bata, merasa syok saat dirinya didatangi oleh anak sang pemilik rumah. Tampan pula.
Michael mengulum senyum. "Aku sedang mencari udara segar, kebetulan bertemu denganmu disini," jawabnya lalu bersandar pada kepala kursi dan merentangkan kedua kakinya mencari posisi nyaman.
"Sudah malam, kau sedang apa disini? bagaimana dengan kondisi ibu mu?" tanya Michael dengan tatapan lurus ke depan.
"Aku sedang duduk menunggu jam tidur. Ibuku ... dia ada sedikit kemajuan, mungkin karena pikirannya yang telah tenang sekarang," balas Jelita merangkul erat kain penyelimut dirinya.
"Syukurlah, lalu mengapa kau masih terlihat cemas?" tanya Michael kembali.
Jelita menggeleng samar dan menghembus nafasnya kasar. "Aku hanya tidak tahu apa aku bisa berhasil nanti. Apa aku bisa menggapai cita-citaku? aku hanya takut Nyonya besar akan kecewa denganku jika aku tidak berhasil nanti." Jelita menatap wajahnya kembali dipermukaan air kolam.
Michael tersenyum. "Kau pasti berhasil ... anak asuh pribadi Mamy ku selalu berhasil."
Jelita menoleh kembali. "Bagaimana kau bisa seyakin itu dengan diriku? Aku tidak pintar dalam pelajaran."
Michael mendesaah kecil. "Apa kau kenal Jason?" tanya Michael dan Jelita mengangguk pelan. "Kenal."
"Sebelumnya, dia juga berpikir seperti itu. Tidak bisa apa-apa dan takut akan mengecewakan Mamyku nantinya."
__ADS_1
"Begitu? lalu ..." Jelita mulai menyampingkan tubuhnya, ingin mendengar lebih banyak cerita dari Michael.
"Dia juga selalu pesimis, takut dirinya akan gagal. Tapi Mamyku selalu meyakinkannya, selalu memberikan semangat. Menumbuhkan kepercayaan diri, hingga pada akhirnya Kak Jason mampu meraih cita-citanya menjadi seorang arsitek yang sukses," balas Michael.
"Benarkah seperti itu?" tanya Jelita dan Michael menangguk mantap. "Benar! bukan hanya dia saja, banyak juga anak asuh di yayasan Mamy yang sudah sukses dan telah berjalan dijalannya sendiri."
"Jadi kau berpikir aku juga bisa sukses seperti mereka?" tanya Jelita dan Michael langsung menjawab, "Kau pasti bisa, kau harus yakin pada dirimu sendiri."
"Kau benar Tuan ... Terima kasih," balas Jelita.
"Jangan panggil aku Tuan, panggil saja aku Michael atau Mike."
"Baiklah ... Michael. Ah rasanya aneh sekali," ucap Jelita merasa tidak terbiasa.
Michael mengulum senyum. "Ya mulai sekarang kau harus membiasakannya. Oke."
"Oke ..." Mereka berdua terdiam, lalu Jelita mulai bertanya kepada Michael, "Hm ... Bagaimana suasana di kampus, setelah diriku berhenti bekerja?"
Michael menghela nafas, "Biasa saja, tidak ada yang berbeda," jawabnya lalu memandang Jelita yang menunduk. "Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Tidak apa-apa, aku hanya bertanya saja. Apa mereka yang tidak menyukai ku merasa bahagia setelah aku pergi?"
Jelita menoleh ke arah Michael. "Apa ... Apa kau juga merasa senang, setelah mendengar aku berhenti bekerja dari sana?" tanya Jelita, membuat Michael seketika menoleh. Hingga pada akhirnya kedua netra mereka pun saling bertemu.
Terpaan angin malam yang berhembus, menyibak beberapa helaian rambut Jelita hingga bersih dari wajahnya. Diringi dengan pantulan seberkas cahaya rembulan dan juga dibawah lampu taman yang temaran, membuat wajah mereka sama-sama terlihat jelas. Mereka terdiam sejenak saling memandang dari dekat.
"Apa maksudmu? ... Siapa? aku ... aku sama sekali tidak merasa seperti itu. Maksudku ... ya mau kau bekerja disana atau tidak, itu tidak ada bedanya bagiku." Michael segera mengedarkan pandangannya ke arah lain.
Jelita tersenyum kecil. "Begitu ya."
"Ya begitulah," balas Michael hanya melirik Jelita dengan ekor matanya.
Jelita mendengus, "Ku pikir kau sama saja seperti mereka, sangat membenciku setengah mati. Tidak ingin berbicara atau dekat denganku yang berstatus rendah, tapi ternyata aku salah. Terima kasih ... setidaknya kau masih menganggapku sebagai manusia."
"Kau ini bicara apa, aku hanya tidak tega saja. Apalagi setelah tahu kau bekerja untuk biaya berobat Ibumu," balas Michael.
"Jadi, jika aku mencari uang bukan untuk berobat ibuku. Kau masih akan terus mengerjaiku hingga aku dipecat dan susah?" tanya Jelita dan Michael seketika mendelik.
"Sudah lah jangan dibahas lagi, itu kan sudah berlalu. Kau juga sudah mendapatkan jalanmu sendiri dan yang harus kau pikirkan sekarang adalah memikirkan masa depanmu saja," ucap Michael kemudian berdiri.
__ADS_1
Jelita mengangguk samar, "Kau benar ... Aku harus memikirkan masa depanku dan berusaha melupakan semuanya."
Michael mengulum senyum dan menatap Jelita yang masih terduduk melihat ikan di kolam. "Sudah malam, aku harus kembali. Jika tidak, Mamy akan memarahiku. Kau juga sebaiknya masuklah ke dalam kamar, disini banyak nyamuk dan angin malam tidak baik untuk kesehatan." Michael kemudian hendak berbalik.
"Michael ...."
"Hem ..."
"Tolong jangan beritahu teman kampusmu, jika aku sedang tinggal di rumahmu."
"Kenapa?" tanya Michael.
"Aku hanya tidak ingin mereka berpikir buruk tentangku, dan aku juga ingin bisa tenang dalam belajar tanpa ada gangguan, jadi bisakah kau merahasiakan ini dari mereka. Khususnya pacarmu itu," balas Jelita.
"Pacar? apa yang kau maksud Floren?" tanya Michael dan dia berdecih. "Cih dia bukan pacarku, ataupun teman."
"Dia sepertinya sangat menyukaimu," ucap Jelita.
Michael menggeleng. "Bukan hanya dia saja, tetapi semua gadis disana menyukaiku. Bahkan tanpa tahu malu saling merebutkanku," balas Michael lalu mendengus kesal.
"Itu bagus, setidaknya kau punya teman," ucap Jelita.
Michael berbalik dan berjalan dia tersenyum datar dan berkata, "Aku tidak punya teman disana dan tidak mau berteman juga, bahkan aku tidak mengobrol akrab dengan siapapun disana."
"Kau tidak ingin berteman dengan mereka? Kenapa? ... " tanya Jelita dan Michael hanya diam tak menjawab.
Michael terus berjalan dan Jelita segera berdiri. Dia menatap punggung Michael yang berjalan menjauh. Jelita menarik nafas dalam-dalam dan memberanikan diri untuk berbicara.
"Michael ... jika begitu, apa kau mau berteman denganku?" tanya Jelita dan seketika itu pula Michael menghentikan langkahnya.
Dia menoleh kebelakang dimana Jelita berada, Michael lalu tersenyum. "Orang yang sudah bisa membuatku mau mengobrol, dia adalah temanku," ucap Michael lalu masuk ke dalam.
Jelita terdiam. "Apa maksudnya? apa itu berarti dia sudah menganggapku sebagai temannya." Jelita tersenyum, dirasa sudah cukup menghabiskan malam, dia pun masuk ke dalam untuk beristirahat.
.
.
Bersambung.
__ADS_1