Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 91. Pamit


__ADS_3

"Tunangan ... Bagaimana bisa?" gumam Nyonya Caca.


Seketika dadanya terasa sesak dan sakit, bagaikan tertusuk oleh ribuan pedang yang menghujam hatinya. Nyonya Caca menangis mendengar hal tersebut.


Dirinya tidak menyangka jika Jelita begitu tega mengkhianati keluarganya, terlebih pada Michael putranya yang begitu mencintai Jelita.


Nyonya Caca menarik lengan Jelita untuk berdiri dan menatap gadis itu tidak kalah tajam dari sebelumnya. "Apa benar, pria ini adalah tunanganmu?" tanyanya sedikit bergetar.


Jelita menelan ludahnya susah payah, dia begitu bingung dan tidak tahu harus bagaimana menjelaskan hal tersebut.


"I-ibu ... D-dia dan aku ...."


"Dia tunanganku," serobot Wiliam lalu berdiri disamping Jelita yang menangis.


"Oh jadi itu benar ... Teganya kau mengkhianati keluargaku, kau bertunangan dibelakangku, menjalin hubungan serius dengan pria lain!" bentak Nyonya Caca.


Jelita menggeleng dan meraih tangan Nyonya Caca. "I-ibu ... bukan seperti itu. Kau telah salah paham, percayalah padaku."


"Kau bilang aku salah paham, bagaimana kau menjelaskan tentang hubunganmu dengan pria ini. Bagaimana!" bentak Nyonya Caca, dengan kasar dia menghentak tangannya agar terlepas dari genggaman Jelita.


"Ibu ... Hiks, tolong percayalah padaku ... Aku tidak mengkhianatimu, aku hanya tidak berdaya. Aku akui aku salah, seharusnya aku tidak menerimanya. Hiks ... Ibu percayalah padaku, aku tidak ingin bersama dia. Aku hanya ingin bersamamu," isak Jelita, dia kembali menangis pilu.


Michael menenangkan Jelita dan menatap Ibunya. "Mommy ... Jelita terpaksa menerima hubungannya dengan pria itu dan untuk itulah kami datang kesini. Menjelaskan dan juga meminta kepada dia untuk melepaskan Jelita, karena dia tidak mau hidup bersamanya ... Mommy percaya lah, ini bukan keinginan Jelita. Ini semua kesalahan pria itu. Dia yang telah memaksa Jelita untuk menerima hubungan tersebut."


Nyonya Caca membulatkan kedua matanya lalu menatap Wiliam. "Dia bilang kalau kau yang memaksanya untuk menerima hubungan pertunangan itu, lalu apa kau mau melepaskan Jelita?" tanyanya.


Wiliam menggeleng. "Tidak akan, aku tidak akan melepaskan Jelita dan aku tidak akan pernah menarik perkataanku!" jawabnya tegas.


Nyonya Caca pun berdecih dan melihat Jelita. "Kau dengar itu, dia serius denganmu dan dia tidak ingin melepaskanmu. Jadi Jelita, mulai sekarang menjauhlah dari keluargaku dan aku ucapkan selamat untuk pertunangan mu."


Rasa kecewa yang sudah mendalam, membuat Nyonya Caca melupakan kebaikkannya. Bahkan dia tega mendorong Jelita agar menjauh darinya, lalu pergi dan membawa Michael meninggalkan Jelita yang masih menangis terisak.


Jelita menggeleng. "Ibu ... Jangan ... Jangan tinggalkan aku, aku tidak ingin bersamanya. Aku hanya ingin bersamamu, beri aku kesempatan sekali lagi. Ibu aku mohon," ucapnya memelas sambil mengikuti langkah kaki Nyonya Caca yang terus saja menjauhinya.


"Mommy ... Maafkan lah Jelita, dia tidak salah Mom, dia hanya tidak berdaya. Mamy, aku tidak ingin meninggalkannya," pinta Michael sambil terus memberontak untuk dibawa pergi.


"Lepaskan aku!" bentak Michael, namun usahanya sia-sia. Dia berhasil dibawa masuk ke dalam mobil oleh kedua ajudan berbadan tegap Nyonya Caca.


"Jalan!" titah Nyonya Caca, tanpa menoleh sedikitpun kearah Jelita.


"Ibu! Jangan tinggalkan aku! Maafkanlah aku," dia terus mengetuk-ngetuk kaca mobil agar Nyonya Caca sudi menatapnya.


"Ibu!" pekik Jelita, dia terus berlari mengejar mobil yang melaju.


Michael pun ikut sedih dan menangis. "Mommy, Jelita mengikuti kita Mom, hentikan mobilnya sekarang juga, aku mohon Mamy."

__ADS_1


"Ibu ... Michael jangan tinggalkan aku!" Teriak Jelita begitu histeris dan itu menambah rasa sakit dihati Michael sendiri.


"Mommy please ... Jangan jahat padanya, aku yang bersalah. Aku yang selalu membuatnya terkena masalah, aku yang bersalah pada mu dan juga padanya." Michael merangkapkan kedua tangannya agar sang Ibu turut membawa Jelita kembali.


Namun aksinya sia-sia karena Nyonya Caca tidak mengubris permintaan Michael. Rasa kecewanya kepada Jelita sudah begitu mendalam, hingga sulit baginya untuk memaafkan setiap kesalahan Jelita begitu saja.


Tapi yang lebih tidak bisa dimaafkan adalah gadis itu, telah menyakiti hati putranya.


"Tidak akan ku biarkan dia mendekatimu lagi," tekad Nyonya Caca dalam hati.


...***...


"Ibu!" pekik Jelita, nafasnya tersengal karena sudah lelah berlari mengejar laju mobil di sepanjang jalan.


Wiliam mencekal pergelangan tangan Jelita. "Sudah jangan dikejar lagi," pintanya.


"Lepaskan aku, ini semua gara-gara keegoisanmu! Kau memaksaku untuk menerima hubungan kita dan sekarang akulah yang harus menanggung semuanya!" bentak Jelita lalu menghentak tangannya agar terlepas dari cekalan Wiliam.


Jelita kembali berlari, namun dengan segera Wiliam menangkapnya dan tidak membiarkan gadis itu lepas dari pelukannya. "Patuhlah!" tegasnya.


"Lepaskan aku! Kau orang jahat, aku ingin pulang!" pekik Jelita sambil terus memukuli Wiliam.


Jelita menangis tersedu-sedu sambil terus menatap mobil Nyonya Caca dari kejauhan, hingga menghilang dari pandangannya begitu saja di kegelapan malam.


Dia menatap Wiliam yang masih terus saja mendekapnya. "Lepaskan aku," ucapnya serak.


"Jangan menangis," pintanya sekali lagi.


...----------------...


Mansion Chandra Putra.


"Mommy ... Aku tidak menyangka kau begitu jahat, kau tega meninggalkan seorang gadis di tengah jalan sendirian," ucap Michael, dia mengeluarkan rasa kesal dan kecewa kepada Nyonya Caca.


"Diam!" bentak Nyonya Caca. "Bukalah matamu Miki, dia bukan gadis yang harus kau perjuangkan. Kau bilang aku tega meninggalkannya sendirian, lalu siapa pria yang ikut berlari mengejarnya tadi hah!"


"Mommy ... Jelita butuh bantuan kita, dia sedang kesulitan dan dia pasti sekarang sedang bersedih. Aku harus kembali menyusulnya dan kau jangan melarangku," ucap Michael kemudian pergi dari rumahnya.


"Miki!" pekik Nyonya Caca, dia segera memanggil ajudannya untuk menahan Michael pergi.


"Mommy ... Aku benar-benar marah kepadamu, aku tidak menginginkan ini darimu!" bentak Michael, dia terlihat frustasi ketika mengingat Jelita yang mengejarnya dikegelapan malam sambil terus menangis dan memanggil namanya.


"Kau benar-benar telah membuangnya dan aku benar-benar kecewa kepadamu!" bentak Michael sebelum sang ajudan membawanya ke dalam kamar.


Nyonya Caca menangis dan tidak menyangka akan terjadi seperti ini.

__ADS_1


"Kau telah mengecewakanku, bahkan telah menyakiti hatiku," ucapnya begitu sesak.


Mengingat dia menaruh harapan yang begitu besar kepada Jelita, agar anak asuhnya itu bisa menjadi kebanggaan keluarga maupun Yayasannya.


Dan dengan begitu dia bisa mengangkat derajat anak asuhnya agar dapat bersanding dengan putranya kelak, tanpa protes dari berbagai macam pihak.


Namun takdir berkata lain, dia harus merelakan kepergian Jelita dan membantu Michael agar bisa melupakan cintanya itu.


...***...


Mendengar anaknya telah mengecewakan Nyonya Caca, Ibu Maria merasa sedih dan ikut kecewa kepada putrinya itu. Dia begitu syok mendengar kabar pertunangan Jelita dengan pria lain tanpa persetujuan dirinya.


Ibu Maria memaksakan diri untuk bertemu dengan Nyonya Caca, untuk meminta maaf secara langsung kepada ibu asuh putrinya.


Dia menghampiri Nyonya Caca yang sedang menangis dan duduk di sampingnya.


"Maafkan putriku, aku tahu dia mengecewakanmu dan juga mengkhianati keluargamu," ucap Ibu Maria.


Nyonya Caca menoleh dan dia terkejut dengan sesosok Ibu Maria yang sudah bisa berbicara dan berjalan. "Kau sudah sembuh?" tanyanya masih tidak menyangka.


"Aku sudah sembuh dan memang harus sembuh, ketika melihat putriku begitu semangat saat menjadi anak asuhmu dan aku sadar tidak boleh menyusahkan dirinya. Aku selalu berusaha berlatih agar bisa berjalan dan menjadi penyemangat dalam hidupnya."


"Tetapi hari ini, bukan hanya kau saja yang kecewa tetapi diriku juga merasakannya. Aku tidak dapat berbuat banyak, hanya bisa meminta maaf atas kesalahan yang telah dia perbuat."


"Tapi Nyonya Besar, ketahuilah ini. Aku tetap percaya kepada putriku, dia tidak pernah bermaksud mengecewakanmu. Saat dia melihatku sudah baikkan, dia telah bertekad akan membalas budimu dengan berbakti kepada mu dan juga keluarga ini."


"Sekarang aku sudah tidak punya muka lagi, aku harus pergi dari sini. Dan aku akan membawa putriku pergi bersamaku jauh dari keluargamu. Ku harap maafkan lah dia sebelum kami pergi dan aku mengucapkan terima kasih banyak atas bantuanmu selama ini. Aku tidak akan melupakan jasamu," tutur Ibu Maria.


Dia menyerahkan surat-surat beserta sertipikat rumahnya kepada Nyonya Caca.


"Rumah peninggalan suamiku telah hancur dan kau yang memperbaikinya. Ku rasa ini lah yang harus ku lakukan sejak lama, memberikannya kepadamu sebagai tanda terima kasihku. Terimalah surat-surat ini, karena mulai sekarang rumah ini akan menjadi milikmu dan aku tidak berhak memilikinya."


Nyonya Caca menolak. "Tidak perlu Ibu Maria, aku merenovasi rumahmu secara ikhlas. Jadi peganglah kembali, itu untuk keluargamu dan tempatmu tinggal."


"Tidak, aku tidak bisa menerimanya. Ku mohon jangan menolak. Aku lebih nyaman tinggal di rumah sewaan tapi tidak jadi pergunjingan orang, daripada tinggal di rumah itu, tapi akan menjadi cibiran semua orang."


Nyonya Caca dengan berat hati menerima surat tersebut dan Ibu Maria pun pamit kepadanya. Mereka sama-sama bersedih. Dan bertekad akan mendidik anak mereka masing-masing.


"Aku pamit ... Terima kasih," ucap Ibu Maria lalu pergi dari ruangan Nyonya Caca.


"Dia anak asuh pertamaku yang memiliki hati baik, dia juga anak asuh pertamaku yang paling berbakti. Tetapi dia juga anak asuh yang berhasil mengecewakanku seperti ini," gumam Nyonya Caca dalam hati.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2