Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 66. I love you.


__ADS_3

Setibanya di lapangan basket, Michael melepaskan lengan Jelita. Dia menyalakan lampu tembak terlebih dahulu, untuk menerangi kegelapan malam pada halaman depan tersebut.


Setelah dirasa cukup penerangan pada tempat itu, Michael kemudian berjalan mengambil bola di dalam keranjang dan menghampiri Jelita dengan tangan terus mendrible bola.


Dug! dug! dug!


Bunyi pantulan bola itu menggema, memecah kesunyian di malam hari. Seirama dengan denyut jantung Jelita yang semakin lama semakin cepat.


Michael terus tersenyum menatap Jelita, hingga gadis itu pun menjadi salah tingkah. Ditambah lagi senyuman menawan pria itu yang sulit diartikan, menambah kegugupan pada diri Jelita sendiri.


Jelita menelan ludahnya kasar, alih-alih mencari alasan untuk menghindar dari Michael, kini dirinya malah terjebak di tempat yang sunyi dan sepi bersama pria tampan itu.


Michael berhenti mendrible bola, kemudian memutar cepat bola itu di atas ujung jari dan melakukan gaya keren lainnya. Hingga kedua netra Jelita tidak berkedip, karena dibuat takjub oleh aksi luar biasa Michael.


Dia keren sekali.


Beberapa saat kemudian, Michael berhenti memamerkan keahliannya. Kini dia mulai memberikan bola itu kepada Jelita.


"Kau bisa main basket?" tanya Michael.


Jelita menggeleng pelan. "Aku tidak bisa."


"Sama sekali tidak bisa?" tanya Michael dan Jelita mengangguk. "Iya."


"Sini mari ku ajarkan," ucap Michael.


"B-baik," jawab Jelita gugup.


Michael menunjukkan Jelita dan mengajari cara melempar bola yang benar.


"Oke ... Pegang bola ini dengan kedua tangan, dan posisi kan bola ini sejajar dengan dada. Kemudian lempar seperti ini kepada orang di depanmu." Michael melempar bola kepada Jelita dan Jelita menangkapnya.


Hap


"Bagus! Itu namanya passing ... Sekarang lempar bolanya seperti yang tadi aku ajarkan kepadamu," ucap Michael, lalu Jelita mengangguk patuh.


Jelita melempar bola tersebut dan Michael menangkapnya.


"Kuat sedikit, memang nya kau tidak makan hah!" ucap Michael.


Jelita mencebik. "Aku sedang sakit, mana ada cukup tenaga untuk main bola keras ini. Lagipula harusnya aku istirahat kan," balas Jelita lalu melempar bola itu sekuat tenaganya.


"Tadi kau bilang sudah baikkan, kau juga tidak bisa tidur. Dan apa yang ku dengar sekarang ini, kau malah mengeluh padaku sedang sakit dan ingin istirahat," balas Michael lalu menghentikan permainan bolanya.

__ADS_1


Jelita mendelik, seketika dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Gadis itu hanya tersenyum bingung harus menjawab apa kepada pria tampan dihadapannya itu.


"Hehe ... Baiklah, kalau begitu ajarkan aku melempar bola itu ke dalam keranjang ya." Jelita memeragakan gerakan melempar bola basket ke dalam ring dengan gayanya yang kocak.


Michael terkekeh melihat Jelita melompat-lompat layaknya kelinci, dengan kedua tangan terangkat dan mengais-ngais seperti kucing.


"Bukan seperti itu, sayang ...." ucap Michael sambil terkekeh.


Jelita lantas terdiam, saat mendengar ucapan Michael yang menggelitik indera pendengarannya.


"Apa ... Sayang??"


Namun nampaknya Michael tidak menyadari jika dia menyebutkan kata "sayang" kepada Jelita. Buktinya sampai sekarang pria itu masih saja terkekeh dan bertingkah seperti tidak terjadi sesuatu.


"Mungkin dia salah ucap," gumam Jelita dalam hati dan dia tersenyum.


"Mari sini ku ajari." Michael menarik lengan Jelita untuk mengikutinya mendekati ring basket dan dirasa sudah cukup pas posisi dan juga jarak nya, Michael mulai mengajari Jelita.


"Oke, sekarang pegang bolanya seperti ini dengan kedua tangan dan angkat sedikit tinggi di atas kepalamu, lalu condongkan ke depan mengarah pada ring diatas itu. Seperti ini," tutur Michael dan Jelita memperhatikannya.


Gadis itu sepertinya tidak tertarik dengan basket, yang dia lakukan hanya mengangguk-anggukkan kepala saja saat Michael menjelaskan kepadanya. Entah penuturan pria itu bisa tersangkut pada otak Jelita atau tidak, yang pasti gadis itu sangat sabar mendengarkan penjelasan dari Michael.


Jelita menonton dan menikmati setiap permainan basket yang dilakukan oleh Michael, yang ditujukan untuk dirinya. Tentang teknik dan juga cara memasukkan bola ke dalam ring basket yang baik dan benar.


Begitu tampan dan mempesona.


Kedua netranya selalu mengikuti kemana pergerakan Michael pergi dan bergerak. Dirinya seperti terhipnotis, Jelita terpaku menatap Michael yang sedikit berkeringat. Entah mengapa dia merasa ingin terus memandangi pria itu.


"Oke apa kamu sudah mengerti?" tanya Michael dan Jelita menggeleng cepat, menyadarkan diri dari lamunannya.


"Oh Tidak, apa yang sedang aku pikirkan. Aku tidak boleh memikirkan pria manapun, termasuk Michael!"


Jelita bergumam seperti memberi peringatan pada dirinya sendiri.


"Ada apa denganmu, apa kau baik-baik saja?" tanya Michael merasa bingung melihat tingkah aneh Jelita saat gadis itu menepuk pelan kepalanya sendiri.


"Tidak apa-apa ..." balas Jelita.


"Ya sudah, apa kau masih mau melanjutkan mainnya?" tanya Michael dan Jelita tersenyum. "Hem ... Ku rasa mencoba satu kali mencetak angka tidak ada salahnya."


Michael tersenyum. "Baiklah kalau begitu, mari ku bantu."


Pria itu berdiri dibelakang Jelita dan membimbingnya sambil memberikan arahan, dengan mengatur posisi kedua lengan Jelita yang sedang memegang bola.

__ADS_1


Kini raga mereka begitu dekat dan saling bersentuhan. Michael memandu gadis dalam dekapannya itu untuk memasukkan sebuah bola pada ring diatas mereka demi mencetak sebuah angka.


Mereka mengambil ancang-ancang sebelum menembak, kemudian melemparkan bola secara bersamaan. Hingga bola itu pun melayang di udara, sambil terus bergulir menuju ring pada tiang penyangga.


Mereka dengan sabar menunggu hasil dan pada akhirnya ....


Duash!


Bola itu pun berhasil masuk dalam sekali lemparan, dan hal itu membuat keduanya terlihat senang.


"Akh bola itu masuk! Benar masuk?" Jelita berseru histeris, menunjukkan ekpresi senang luar biasa sambil terus menutupi mulutnya yang mengangga lebar.


Sementara itu, Michael hanya terkekeh sambil terus berdiri di belakang Jelita, masih betah menempel pada tubuh gadis itu yang sedang terdiam bengong dan tidak menyangka.


"Iya, masuk!" balas Michael, berbisik lembut dibelakang telinga Jelita.


Jelita pun melompat kegirangan dan memutar balik tubuhnya menghadap Michael. Kedua lengannya refleks melingkar erat pada tubuh pria dihadapannya itu, lalu menggoyangkan tubuh Michael kekanan dan juga kekiri secara bergantian.


Seperti anak kecil yang sedang memeluk gemas boneka kesayangannya, begitu pula dengan Jelita. Dia menguncang-guncangkan tubuhnya sambil terus mengoceh dan melompat-lompat tidak karuan.


"Akhirnya dia memelukku!"


Michael bergumam dalam hati dan membiarkan gadis itu memeluknya untuk beberapa saat.


Jelita tertawa begitu senang dan puas hanya karena berhasil memasukan sebuah bola. Masih belum menyadari jika dirinya sedang memeluk Michael begitu erat.


Sementara itu Michael hanya tersenyum sambil terus memandangi wajah Jelita tanpa henti. Senyuman, suara tawa, raut wajah bahagia itu, Michael menikmatinya selagi bisa, dari jarak yang begitu dekat.


Tak terasa dia turut bersuka ketika melihat gadis yang dicintainya itu bahagia. Michael menaikkan kedua lengannya dan melingkar erat pada tubuh sang gadis, membalas pelukkan hangat itu dan keduanya kini berpelukkan satu sama lain.


Mereka larut dalam kebahagian, hingga mata keduanya terpejam sambil terus mengukir senyuman bahagia. Mereka saling merapatkan pelukan dan saling merasakan kehangatan tubuh satu sama lain.


Keduanya sama-sama merasakan bahagia, kebahagiaan kecil namun berdampak besar bagi keduanya, terlebih bagi Michael. Dia sangat bahagia karena bisa merasakan pelukkan dari gadis yang dia cintai.


Tak terasa bibir Michael mengucapkan sesuatu yang tidak seharusnya dia katakan.


"I love you ... Aku suka padamu ... Aku mencintaimu Jelita," ucapnya begitu lembut di telinga Jelita.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2