
Di Rumah Jelita.
Jelita sedang berkemas, dia memasukan semua barang ke dalam wadah seadanya, wadah berupa kardus persegi bermerek mie instan dan juga air mineral. Lalu di tutup rapat atas kardus itu dan di ikat menggunakan tali plastik hingga kencang.
Jelita memandangi harta berharga milik keluarganya yaitu sebuah foto keluarga nya yang lengkap, dimana ada sosok ayah kandung Jelita di dalamnya. Di umur Jelita yang masih berusia 6 tahun dia telah kehilangan sang ayah.
Dia mengusap wajah ayahnya itu, yang telah lama tiada akibat kecelakan saat menjadi supir kendaraan umum. Kelalaian seorang pemuda dibawah umur, berusia 13 tahun mengemudi mobil secara ugal-ugalan.
Dalam kondisinya yang masih di bawah umur, dia mengemudi tak terkendali hingga membuat sang ayah terkena imbasnya dan sejak saat itu, Ibu selalu berduka.
Walaupun anak dibawah umur itu telah mendapatkan hukumannya, namun sang ayah tetap tak akan bisa kembali ke dunia.
Jelita kemudian memandang wajah ibu yang tersenyum didalam foto tersebut, dimana sang ibu sekarang tidak dapat melakukannya lagi karena sakit yang dideritanya.
"Senyum ini, kapan bisa kembali lagi kepadamu Ibu. Aku sangat merindukan senyumanmu yang begitu indah, hangat dan tulus seperti ini."
……………………………………………………………………………
Mansion Chandra Putra.
Sementara itu, di dalam ruang kerja Nyonya Caca, wanita itu sedang sibuk melihat riwayat pendidikan terakhir Jelita. Dia membolak balik sebuah buku berisi laporan selama Jelita mengenyam pendidikan di sekolah itu.
"Dia belum tamat SMA, padahal tinggal satu tahun lagi. Jurusan IPS, nilai lumayan baik."
Nyonya Caca kemudian menghubungi sekolah milik Yayasannya itu, yang tidak terlalu jauh dari rumahnya untuk mengatur janji bertemu dengan kepala sekolah pada esok hari.
"Tolong atur jadwal untuk ku, karena aku ingin bertemu dengan kepala sekolah kalian besok."
"Baik Ibu Caca."
"Terima kasih."
Nyonya Caca kemudian menghubungi kantor panti jompo miliknya agar mengirim seorang suster berpengalaman untuk membantu Jelita dalam mengurus ibu Maria selama Jelita belajar di sekolah.
"Winda ... Tolong kirimkan suster berpengalaman ke rumahku besok, yang memiliki keterampilan merawat pasien dengan baik."
"Baik Nyonya."
Nyonya Caca juga menghubungi seorang dokter untuk memeriksa kesehatan ibu Jelita.
__ADS_1
"Dokter Hasan ... Aku minta kamu datang ke rumahku besok, ada seorang pasien yang harus kamu periksa."
"Baik Nyonya Besar."
Tak lupa Nyonya Caca juga menghubungi seorang arsitek dan seorang tukang bangunan untuk mendiskusikan mengenai rencana merenovasi rumah Jelita.
"Jason ... periksa emailmu sekarang juga. Ibu ada kirim foto rumah untuk kamu lihat, Ibu minta kamu dan Pak Selamet membuat perkiraan biaya dan juga berapa lama waktu pengerjaan merenovasi rumah itu. Tolong kirimkan perincian nya secepat mungkin untuk di acc, oke."
"Baik Ibu."
"Terima kasih."
Nyonya itu bekerja, berupaya menjalankan kewajiban dan tanggung jawab semaksimal mungkin, untuk anak asuh barunya. Memberikan perhatian sebagaimana layaknya orang tua kepada anaknya sendiri.
Dia memberi perintah untuk menyiapkan sebuah kamar untuk Jelita dan ibunya tempati kepada kepala asisten rumah tangga rumah keluarga itu.
"Bibi, tolong siapkan satu kamar yang besar untuk anak asuh ku, karena besok dia dan ibunya akan tinggal disini untuk sementara waktu, pastikan segala fasilitasnya lengkap dan berfungsi dengan baik. Ya Bi."
"Baik Nyonya Besar!"
Kepala asisten rumah tangga itu segera menjalankan perintah sang majikan, bersama dengan asisten rumah tangga lainnya mereka melakukan pekerjaan yang telah disuruh untuk menyiapkan segala keperluan demi kenyamanan anak asuh dan juga ibu Maria.
***
"Masuk!" sahut Nyonya Caca dari dalam.
"Mommy ..." Michael pun masuk sambil menatapi meja kerja Maminya yang berantakan.
"Ada apa Miki, apa kamu butuh sesuatu?" tanya Nyonya Caca dengan pandangan yang masih tertuju ke sebuah berkas.
"Tidak ada, hanya ingin melihatmu bekerja," jawab Michael lalu berdiri di samping kursi dimana ibunya sedang duduk membaca sesuatu.
"Kalau begitu mumpung kamu ada di dekat Mamy, tolong pijat bahu Mamy sebentar, Mamy agak lelah." Pinta Nyonya Caca sambil menepuk pelan sisi bahunya.
Michael menurut dia memijat kedua Mamy nya dengan perlahan.
"Mom ...."
"Hem ... Ada apa sayang?" tanya Nyonya Caca.
__ADS_1
"Tadi Mamy ke kampus, ada keperluan apa dan kenapa tidak beri tahu terlebih dahulu ingin ke kampus, setidaknya kan bisa beritahu Mike," ucap Michael.
"Mamy bertemu dengan Jelita dan menawarinya jadi anak asuh Mamy. Ya biar Mamy bisa bergerak leluasa saja. Karena memang begitulah cara kerja Mamy, jika ingin mensurvey orang ke lapangan. Tidak mau bilang ke siapapun yang tidak berkepentingan dan berkunjungnya pun selalu dadakan," jawab Nyonya Caca.
Michael membulatkan mulutnya dan mengangguk samar. "Ooh jadi itu alasannya ... Terus Mamy, apa dia mau jadi anak asuh?" tanya Michael.
"Mau ... ini Mamy sedang urus berkasnya. Dia akan bersekolah secepatnya di sekolah kita," balas Nyonya Caca.
"Bagus lah kalau seperti itu," ucap Michael.
"Iya," balas Nyonya Caca.
Michael berhenti memijat bahu Nyonya Caca lalu berganti posisi untuk duduk. Dia melihat berkas yang berisi data Jelita di atas meja.
Michael mengulum senyum dia menatap foto seorang gadis kecil. "Apa ini foto dia sewaktu masih sekolah dasar?" tanya Michael merasa lucu melihat foto Jelita di buku raport.
Nyonya Caca menangguk dan menatap anaknya yang terkekeh, "Iya kamu pikir itu foto siapa? kan bisa baca disitu tertulis nama siapa."
Michael terdiam, eh iya benar juga pikirnya. Merasa bodoh sekali dengan pertanyaan nya itu.
"Maaf Mi ... Mike hanya terkejut saja pas lihat foto anak asuh barunya Mamy, ternyata waktu kecil dia sangat imut dan manis. Berbeda dengan wajahnya yang sekarang," ucap Michael lalu melihat berkas Jelita yang lainnya.
"Itu karena beban hidup dan kemiskinan, membuat dia menyingkirkan segala bentuk kebutuhan pribadinya." balas Nyonya Caca hingga membuat Michael yang mendengarnya bingung.
"Maksudnya?" tanya Michael dengan polos.
Nyonya Caca menutup berkas Jelita, lalu menghela nafas sambil memandang wajah anaknya yang tampan. "Sejak kapan kamu peduli dengan anak asuh Mamy? Sebelumnya tidak pernah seperti ini, selalu cuek dan tidak suka dengan kegiatan yang Mamy lakukan. Kau selalu berkata jika menolong orang lain adalah perbuatan yang sia-sia dan tidak mau menengok sedikit pun kemari."
Michael meneguk ludahnya kasar dan bingung harus menjawab apa.
"Iya Mike baru menyadari jika menolong orang yang membutuhkan itu adalah suatu perbuatan mulia dan Mamy ku ternyata sangat baik dan berhati malaikat," balas Michael dengan cepat.
"Cih sudah sebesar ini baru menyadari jika Mamy mu ini baik hati, Hah! Tapi baguslah jika kamu menyadari jika membantu sesama itu adalah hal yang baik dan bermanfaat," ucap Nyonya Caca.
Michael mengulum senyum lalu berdiri dan membiarkan Mamy melanjutkan pekerjaannya. "Mamy, Mike baru ingat ada tugas tambahan. Jadi Mike harus ke kamar dulu," balas Michael lalu segera keluar dari ruang kerja Nyonya Caca.
Sedangkan Nyonya Caca hanya mengulum senyum, setidaknya anaknya itu sekarang punya rasa simpati terhadap seseorang.
.
__ADS_1
.
Bersambung.