
Michael segera menenggak air minum hingga tandas, lalu bangkit dari tempat duduknya dan bergegas berjalan menuju dapur untuk menjawab rasa penasaran yang mengganjal dalam hati.
"Apa itu benar dia?" gumam Michael.
Sesampainya pria itu di dapur, Michael menatap sekeliling untuk memastikan sesuatu. Namun dirinya tidak menemukan siapapun di dalam sana, membuat Michael cemberut seketika. Dia menekuk wajah tampannya berkali-kali lipat, karena merasa bodoh dengan kelakuannya sendiri.
Michael menarik nafas dalam-dalam dan memijat pelipisnya yang terasa berdenyut, lalu memarahi dirinya sendiri.
"Dasar Mike! Are you crazy? Mana mungkin cewek itu ada disini!" umpatnya kesal entah apa penyebabnya. Namun dia terus menggerutu seperti melakukan sesuatu hal yang bodoh.
"Kau memang bodoh Mike, mengapa aku harus pergi kesini? Hey kaki! harusnya kau membawaku langsung ke kamar, agar aku bisa tidur di kasurku yang empuk dan nyaman!" Michael mengusap wajahnya kasar lalu menunduk sambil menyalahkan kakinya sendiri.
Kaki jenjangnya itu hanya bisa pasrah menerima ocehan dari sang pemilik, padahal si empunya hati lah yang membuat si kaki harus berjalan kesana.
Michael kemudian menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat, melupakan segala sesuatu yang terjadi pada hari ini. Dan juga hal-hal di kampus yang selalu membuatnya pusing kepala.
***
Di taman.
Sesampainya di taman, Jelita bergegas memberi ibu minum, dia sedikit membungkukkan badan agar gelas dalam genggamannya itu dapat menjangkau mulut sang Ibu.
"Ibu minumlah," ucap Jelita lalu membantu ibu untuk minum dengan sabar.
Dirasa Ibunya sudah cukup minum, Jelita kembali menaruh gelas ke dalam dapur dan mencuci sebentar gelas tersebut hingga bersih.
Jelita kemudian menghampiri ibunya kembali. Dia meraih pegangan pada kursi roda dan berkata, "Ibu ... ayo kita kembali ke dalam kamar, sudah waktunya untuk Ibu istirahat. Setelah itu, Jelita akan menyuapi ibu makan malam dan minum obat."
Jelita kemudian mendorong kursi roda, membawa ibunya kembali ke dalam kamar.
Kamar itu terletak disudut belakang Mansion, berdekatan dengan dapur, hanya sebuah taman dengan kolam ikan koi lah sebagai pemisahnya.
***
Pada malam harinya, seperti biasa keluarga Chandra Putra berkumpul untuk makan malam. Di meja makan itu telah tersaji berbagai hidangan lezat penggugah selera.
Nyonya Caca mengisi piring suaminya dengan berbagai lauk, disendoknya lauk itu dengan penuh cinta dan kasih sayang.
__ADS_1
"Sudah cukup sayang, kau bisa membuat perut ku meledak," ucap Tuan Nael meminta istrinya berhenti saat lauk dipiringnya telah menggunung.
Nyonya Caca terkekeh, "Apa kau tidak ingat dirimu yang dulu, sewaktu kau masih muda. Kau bisa menghabiskan makanan lebih banyak daripada ini, hingga aku pun selalu tidak kebagian olehmu."
Tuan Nael mengulum senyum. "Kau benar, gara-gara kejadian itu, kau tidak ingin bicara denganku karena aku menghabiskan semua makanan di meja. Tapi itu juga semuanya salahmu, kau memasak makanan enak tapi hanya sedikit."
Mereka berdua tertawa kecil saat mengingat kejadian masa lalu, tapi tidak dengan Michael. Dia terlihat tidak bersemangat, Michael hanya memutar-mutar garpu di atas piring yang masih kosong sambil menopang dagu dengan satu tangan dan tatapan lurus ke satu arah.
Nyonya Caca berhenti sejenak lalu bertanya kepada Michael. "Miki, kenapa manyun saja?"
Michael menghela nafas, dia meletakkan sendok dan garpu di atas piring yang masih kosong. "Entah lah Mom, Mike sedang tidak nafsu makan."
"Apa kamu sakit? coba Mamy periksa," ucap Nyonya Caca lalu memegang dahi putranya. "Tidak panas, lalu kenapa kamu tidak mau makan Miki. Apa makanannya tidak enak, atau kamu sedang ada masalah di kampus? Ceritalah."
Michael menaikkan kedua bahunya dengan pelan. "Tidak tahu Mom, aku hanya sedang tidak ingin makan saja. Lebih baik Mike kembali ke kamar ya, Mike lelah sekali."
"Baiklah, nanti Mamy akan minta Bi Sari buatkan sup hangat untukmu," ucap Nyonya Caca lalu Michael menggangguk dan pergi meninggalkan meja makan.
Nyonya Caca segera memanggil Bi Sari dan memintanya melakukan sesuatu. "Bi Sari, nanti buatkan sup hangat untuk Miki dan antarkan ke kamarnya."
"Oiya Bi, bagaimana keadaan anak asuhku, apa Jelita dan Ibu Maria sudah makan?" tanya Nyonya Caca, menghentikan Bi Sari sebelum asisten rumah tangganya itu pergi ke dapur.
"Mereka berdua baik dan sudah makan juga Nyonya," balas Bi Sari penuh yakin.
"Bagus kalau begitu, ya sudah Bi, kau bisa pergi," titah Nyonya Caca.
"Baik Nyonya," patuh Bi Sari lalu menuju dapur, membuatkan sup hangat untuk Michael.
Sementara itu di ujung tangga sana, Michael berhenti melangkah naik ke atas, sesaat dirinya tidak sengaja mendengar samar perbincangan sang Mamy, dimana perbincangan itu menyebutkan nama yang sudah tidak asing lagi di telinganya.
"Jelita dan Ibu Maria?" gumam Michael.
Michael mengurungkan niatnya untuk ke kamar, dia memilih kembali ke ruang makan dimana Mamy dan Daddy nya masih menikmati makan malam untuk menanyakan satu hal.
Nyonya Caca pun menghentikan sejenak ritual makan malamnya, saat melihat putranya itu datang kembali ke meja makan.
"Miki, kenapa kamu kembali lagi? apa kamu menginginkan sesuatu, atau kamu ingin makan disini?" tanya Nyonya Caca.
__ADS_1
"Mommy, kenapa Mamy bertanya keadaan anak asuh dan juga bertanya Jelita dan ibunya sudah makan atau belum kepada Bi Sari?" tanya Michael to the point.
Nyonya Caca menatap putranya heran lalu tersenyum. "Miki, apa kamu sudah lupa? Jelita itu adalah anak asuh pribadi Mamy, sudah pastilah Mamy akan menanyakan keadaannya," balas Nyonya Caca.
Michael menggeleng, "Bukan itu maksudku Mamy. Aku tidak lupa, tapi mengapa Bi Sari bisa tahu keadaan mereka sekarang ini?" tanya Michael kembali.
"Ya karena mereka sedang tinggal disini untuk sementara waktu," balas Nyonya Caca dan Michael langsung terdiam. Dia mengingat kembali saat dirinya meminta minum.
"Ah jadi itu benar dia, tapi bagaimana bisa dia tinggal disini? gumam Michael berbicara sendiri, membuat Nyonya Caca bertanya lagi. "Kenapa Miki?"
"Ah tidak Mom ... Hmm, ada dimana mereka sekarang?" tanya Michael.
"Ada di kamar bekas Jason, kamar yang dulu pernah dia tempati saat menjadi anak asuh pribadinya Mamy," balas Nyonya Caca lalu menatap putranya yang terdiam seperti memikirkan sesuatu.
"Apa yang sedang kau pikirkan Miki?" tanya Nyonya Caca, kemudian menatap Michael dengan tajam. "Jangan-jangan ... Ah! apa kamu ingin mengerjainya lagi, hem? Mengakulah!"
Michael menggeleng cepat. "Tidak Mom, Mike tidak akan melakukan hal itu lagi. Percayalah," balas Michael meyakinkan Mamynya.
Nyonya Caca tak mengedarkan pandangannya dari Michael, dia masih menatap serius kepada putranya itu lalu berkata.
"Miki ... ingatlah ini sayang, Mamy tidak akan membiarkan kamu mengulangi kesalahan yang sama seperti dulu, saat dia masih bekerja di kampus. Dan jika itu sampai terjadi lagi, maka Mamy tidak akan segan-segan menghukummu lebih berat daripada sebelumnya. Apa kamu mengerti!" ancam Nyonya Caca kepada putranya.
Michael menelan ludahnya kasar dan mengangguk dengan cepat. "Mengerti Mom," jawab Michael patuh.
"Bagus, Miki lebih baik kamu jangan menganggu mereka, biarkan mereka beristirahat," pinta Nyonya Caca.
Michael mengangguk patuh. "Baiklah Mom, tapi apa boleh Mike melihatnya sebentar?" tanya Michael dan meminta ijin.
Nyonya Caca mengulum senyum. "Baiklah, hanya sebentar dan ingat jangan melakukan hal yang tidak baik pada anak asuh Mamy."
Michael tersenyum. "Tidak akan Mamy ... Terima kasih." Michael lalu berjalan menuju tempat dimana Jelita dan ibunya berada.
.
.
Bersambung.
__ADS_1