Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 97. Memijat.


__ADS_3

Jelita bergegas masuk ke dalam kamar kembali, mengendap-endap seperti maling agar tidak berpapasan dengan Wiliam.


Gadis itu begitu senang saat dirinya berhasil masuk ke dalam kamar, tanpa harus mendapat ceramah atau apapun itu dari sang pria pemilik rumah.


Jelita terkekeh dan mengunci pintu kamar rapat-rapat, agar tidak ada yang bisa masuk ke dalam kamarnya termasuk babang Wiliam.


"Yes ... Aman!" ucapnya senang dan begitu yakin.


"Apanya yang aman. Hem," ucap maut babang Wiliam terdengar tiba-tiba, hingga mengejutkan Jelita yang baru saja berbalik badan.


Deg!


"D-dia, mau apa dia disini?" tanya Jelita dalam hati, lalu menempel erat di pintu layaknya seekor cicak.


Dirinya begitu syok, ketika melihat pria tampan di ujung sana. Tanpa sepengetahuannya lagi, sudah berbaring di atas kasur saja. Sambil menikmati pembaringan yang tidak hanya empuk, namun juga nyaman untuk ditiduri.


Sedangkan pria tidak tahu tempat itu, hanya tersenyum lebar dan menatap Jelita yang sedang terbelalak karena ulah dirinya.


"K-kau sedang apa di kamarku!" pekik Jelita terheran-heran. Selalu saja sukses membuat dirinya terkejut bukan main, hingga lemas seperti orang tanpa tulang.


"Seperti yang kau lihat, aku sedang berbaring," jawab Wiliam seenaknya.


"Aku tahu kau sedang berbaring, tetapi jangan di kamar ini. Berbaringlah di kamarmu," balas Jelita.


Wiliam berdecak sambil tersenyum tipis. "Ck! Ini adalah rumahku, apa salahnya aku tidur di dalam rumahku sendiri. Jika kau mau, kau bisa tidur disampingku," ucapnya suka-suka.


Jelita mencebik. "Tidak mau! Sekarang keluarlah dari kamar ini, karena aku mau mandi!" titahnya.


"Tidak mau ... Kalau kau mau mandi, ya mandi saja sana. Kau tidak perlu takut, aku tidak akan mengintipmu," balas Wiliam enteng.


"Ya sudah jika kau tidak mau keluar, biar aku saja yang keluar!" kesal Jelita. "Aku mau mandi dikamar ibu saja," gumamnya lalu berbalik meraih gagang pintu yang terkunci.


Gadis itu mendengus kesal dan menggerutu sendiri, karena dalam situasi menegangkan seperti ini. Tangannya malah sulit sekali untuk dikondisikan, selalu gagal membuka kunci karena terus saja bergetar.


Jelita menghela nafas. "Dia seperti hantu saja, selalu muncul secara tiba-tiba," gumamnya tidak habis pikir dengan kebiasaan Wiliam yang selalu muncul secara mendadak.


Melihat Jelita yang ingin kabur, Wiliam segera bangun dan duduk diatas pembaringan, sambil menyugar rambut gondrongnya yang sedikit berantakan.


Dia terus memperhatikan Jelita yang sedang sibuk membuka kunci pintu, lalu mencegah gadis itu sebelum berhasil keluar dari kamar.


"Jika selangkah lagi kau melangkahkan kakimu keluar dari kamar ini, maka akan ku pastikan. Malam ini juga, kau akan kehilangan sesuatu yang berharga," ancam Wiliam sambil tersenyum.


Jelita berhenti melangkah. "Dasar pria menyebalkan!" umpatnya kesal, lalu berbalik badan dan menatap tajam Wiliam. "Kau kan sudah berjanji tidak akan menyentuhku, jangan lupakan itu hah!" ucapnya menegaskan.


Wiliam berdecih. "Cih! Apa kau sudah lupa juga hem ... Aku tidak akan menyentuhmu jika kau patuh kepadaku, jadi sekarang patuhlah padaku. Karena jika tidak, maka jangan salahkan aku. Aku akan menyentuhmu malam ini."


Ck!


Jelita berdecak kesal, sumpah demi apapun rasanya ingin sekali meremas mulut pria berotot itu. Lalu memukulnya sekuat tenaga dan menyambak rambut gondrongnya hingga terlepas dari kepala.


Kemudian menginjak tubuh Wiliam yang tersungkur dan tertawa keras sambil berkacak pinggang. Memaki dan mencacinya hingga puas.

__ADS_1


Heh!


Tapi sayangnya gadis itu hanya berani di dalam hati saja, tidak sampai benar-benar berani melakukannya. Karena jika dia sampai berani melakukan hal tersebut, itu seperti mencari koreng sendiri untuknya. "Ingatlah karmamu," gumam Jelita.


"Sedang memakiku ya," duga Wiliam.


"Ah t-tidak," balas cepat Jelita, padahal sebenarnya dugaan Wiliam itu tepat sekali.


"Kalau begitu berhentilah berpikir untuk mencari cara menyakiti diriku," ucap Wiliam.


Jelita seperti mati kutu, dia tidak berkutik. Tidak disangka pria yang selalu suka mengancam dirinya itu, memiliki keahlian membaca pikirannya.


Akhirnya dia pun mengurungkan niat untuk keluar dari kamar. "Baik, kau mau apa?" tanyanya.


"Jangan kesal seperti itu padaku sayang, sekarang kemarilah. Sebelum kau mandi, pijat dulu seluruh badanku!" pinta Wiliam sambil memukul pelan bahunya.


"Tidak mau," tolak Jelita.


"Patuh atau aku akan menyentuhmu," ancam Wiliam lalu melepas pakaian yang menempel di tubuhnya. Dan kini dia telah bertelanjang dada.


Sikap tidak tahu malu Wiliam membuat Jelita menelan ludahnya susah payah, ketika melihat tubuh atletis Wiliam yang berotot terpampang begitu saja tanpa penghalang.


Hingga kedua tangannya pun refleks menutup mata dan memalingkan wajahnya segera, agar tidak ternoda oleh pemandangan di depan mata kepalanya sendiri.


"Cih! Seperti orang baru lihat saja," gumam Wiliam. Padahal ini kali kedua Jelita melihat tubuhnya.


"Seram sekali ... Harus pakai tenaga sekuat apa untuk aku memijat tubuh kekarnya itu, pasti lelah sekali," pikir Jelita.


"Jangan banyak berpikir, kemarilah!" titah Wiliam, lalu bertelungkup.


"Sssh ... Aaahh ..." kurang lebih begitulah suara lenguhan yang keluar dari mulut Wiliam. Sedikit berat namun panjang.


Padahal belum disentuh sama sekali dan itu membuat Jelita bergidik ngeri.


"Apa-apaan sih dia itu," gumam Jelita sambil memegangi dadanya yang terus saja berdegub kencang. Serasa mau lepas dari tempatnya.


Wiliam dengan santainya merentangkan kedua tangan diatas kasur, sambil tersenyum dan terpejam. Menunggu seorang gadis datang mendekat, untuk menyentuh lembut kulit punggungnya.


Dia juga membenamkan wajah tampannya di atas bantal kepala Jelita. Sesekali mengusak-usak kepala sambil menghirup aroma lembut, yang menyeruak ke dalam indera penciumannya.


"Hem ... Harum dan nyaman sekali, begini kah aroma tubuh seorang gadis," ucap Wiliam.


Sementara itu Jelita begitu panik, merasa terjebak disituasi yang cukup rumit. Gadis itu diliputi kecemasan, takut Wiliam melakukan hal yang menyeramkan di luar nalarnya.


"Cepatlah!" tegas Wiliam tidak ingin menunggu terlalu lama.


"B-baik tunggu sebentar. Aku ambilkan minyaknya dulu," balas Jelita.


Tak butuh waktu lama, gadis berparas cantik yang dulunya jelek itu pun datang kembali ke dalam kamar. Dengan membawa sebotol minyak zaitun untuk memijat tubuh pria bertato yang sedang bertelungkup diatas pembaringan.


Sekujur tubuh Jelita terlihat gemetaran, saat dia harus duduk disisi ranjang berdekatan dengan Wiliam. Hingga minyak yang sedang dia tuang ke dalam mangkuk, sedikit berceceran di atas lantai.

__ADS_1


Perlahan namun pasti, Jelita mulai membaluri tubuh Wiliam dengan sebercak minyak lalu memijat sebisa mungkin yang dia pelajari.


"Hem ... Ooh ... Yap enak sekali ..." lagi-lagi Wiliam mendesaah panjang dan meracau tidak jelas, membuat Jelita makin berkeringat dingin.


"Dia menyebalkan sekali," umpat kesal Jelita. Dengan sengaja dia memijat kuat punggung Wiliam dan si empunya badan malah bereaksi yang lain.


"Kuat sedikit, kemana tenagamu," racau Wiliam.


"Apa," sesal Jelita.


Sia-sia saja dia membuang tenaga ektranya untuk membuat pria itu agar meringis kesakitan. Tapi ternyata, aksinya itu tidak berarti sama sekali bagi Wiliam. Alhasil Jelita mengendurkan pijitannya.


Sedangkan Wiliam masih terpejam dan dia terus saja tersenyum sambil menikmati pijatan tidak ikhlas dari Jelita. "Lumayan," gumamnya.


...***...


Sepuluh menit kemudian.


"Kau banyak pelayan, tapi mengapa memintaku untuk memijatmu?" tanya Jelita yang sudah mulai kelelahan.


"Ini hukuman untukmu, karena telah bermesraan dengan pria lain di depanku," balas Wiliam masih dengan posisi nyamannya.


"Tapi, kau kan tahu kalau aku dan Michael ada rasa saling suka. Lagipula kau yang telah membuatku berpisah dengannya," balas Jelita.


"Hem jadi begitu, baik sekarang balas kan kemarahanmu itu padaku dan setelah itu lupakanlah dia," pinta Wiliam, dia berbalik badan agar bisa melihat Jelita dengan Jelas.


Wiliam menumpu kepala dengan kedua tangan yang terlipat dan menatap Jelita. "Jelita ... Berjanjilah kepadaku, jangan pernah kembali padanya. Jangan pernah berpikir untuk kabur dariku dan berikanlah aku kesempatan untuk menjalin hubungan denganmu."


Jelita menaruh mangkuk minyak dan mengedarkan pandangannya kesembarang arah. "Maaf Wiliam ... Tapi aku masih belum bisa memenuhi permintaanmu itu," balasnya.


Wiliam terdiam, mungkin membutuhkan waktu baginya untuk mendapatkan Jelita seutuhnya. "Baiklah, bagaimanapun juga aku akan tetap menunggumu," balasnya.


Jelita tersenyum tipis. "Mengapa kau bersikeras menahanku?" tanyanya.


"Karena aku menginginkanmu," balas Wiliam.


"Apa tidak ingin mencari yang lain?" tanya Jelita.


Wiliam menggeleng. "Tidak mau," jawabnya teguh.


"Terserah kau saja, aku mau mandi," balas Jelita lalu berdiri dan bergegas membereskan semua keperluan memijat yang dipakai olehnya tadi.


Meninggalkan Wiliam yang masih terbaring terlentang sambil menatap langit-langit kamarnya.


Jelita yang sedang tergesa ingin mandi, tidak menyadari jika ada ceceran minyak di atas lantai. Langkahnya yang terburu-buru pun, membuat dia terpeleset dan akhirnya terjatuh di atas tubuh Wiliam yang sedang berbaring di atas peraduan.


Keduanya sama-sama terkejut dan sama-sama menatap satu sama lain.


Wiliam tersenyum. "Hei, apa-apaan ini. Bukankah kau mau mandi, kenapa sekarang malah berada diatasku," ucapnya sambil menatap wajah Jelita yang memerah karena malu.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2