Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 113. Ucapan selamat.


__ADS_3

Acara sudah dimulai, kedua keluarga telah berkumpul begitu pula dengan Michael dan Clara yang sedang duduk bersama disatu meja.


Tuan Nael melamar Clara secara langsung di depan umum dan Tuan Perkasa menerima lamaran tersebut tanpa basa basi.


Seluruh tamu pun ikut bersuka cita dan memberi tepuk tangan yang meriah, tertanda persetujuan dari mereka semua atas penyatuan dua keluarga besar tersebut.


Acara dilanjutkan dengan penyematan cincin pertunangan, semua hadirin pun turut berdebar. Karena memang sudah sejak dari tadi, mereka menunggu acara yang penting seperti ini.


Menyaksikan dua insan berlainan jenis mengikat hubungan menjadi satu.


Nyonya Caca memberikan cincin yang akan dikenakan pada jari manis Clara kepada Michael.


"Ayo Miki pakaikan di jari manis Clara," ucap Nyonya Caca.


Michael terdiam cukup lama dan memandangi cincin pertunangannya tersebut. Dia menatap ke sekeliling ruangan dan menemukan Jelita yang sedang tertunduk, seperti tidak mau menyaksikan acara tukar cincinnya dengan Clara.


"Seberat inikah melepasmu Jelita, dan seberat itukah kau melihat aku bersama dengan wanita lain?" gumam Michael dalam hati.


"Miki ayolah pakaikan segera," pinta Nyonya Caca ketika melihat putranya diam saja.


Michael mengangguk. "Baik Mom," balasnya lalu menyematkan cincin di jari manis Clara dan diikuti riuh tepuk tangan para tamu.


Begitu pula dengan Nyonya Stefani, dia memberikan cincin kepada Clara untuk disematkan di jari manis Michael.


"Ayo sayang, pakaian cincinnya di jari Michael ya," pinta Nyonya Stefani.


Clara mengangguk. "Baik Ma," jawabnya sambil menatap Michael yang masih sibuk mencari seseorang dikejauhan.


"Michael ..." panggil Clara.


Michael menoleh. "Iya, pakaikan saja," balasnya.


Clara menyematkan cincin tersebut, dengan harapan Michael bisa menjadi miliknya.


Setelah acara penyematan cincin, pada keduanya tidak lupa Tuan Nael mengumumkan satu hal penting kepada semua tamu yang hadir disana, jika Michael akan meneruskan perusahaan Chandra Putra dimasa yang akan datang.


Suara tepuk tangan kembali menggema dan dilanjutkan dengan acara makan malam bersama. Semua orang bersuka cita menyantap makanan tersebut, tapi tidak bagi Michael.


Dia hanya menatap kosong ke sembarang arah, seperti ada yang hilang darinya. Pria itu juga hanya bisa menghela nafas panjang sambil terus mengaduk-ngaduk makanan diatas piring tanpa memakannya sama sekali.


Sesekali melirik ke arah Jelita dan mengikuti kemana gadis itu pergi melangkah dengan ekor matanya.


...***...


Tidak ada bedanya dengan Michael, Jelita pun tidak bersemangat sekali. Dia hanya duduk melamun, tanpa melakukan apapun. Padahal makanan enak tersaji dimana-mana, lagu gembira terdengar begitu ria.


Namun dirinya seperti hampa karena kehilangan satu nyawa.

__ADS_1


Wiliam menatap Jelita yang tertunduk. "Apa kau sedih?" tanyanya.


"Sedikit," balas Jelita dan mengangguk.


"Bagaimana kalau kita sudahi saja, dan makan makanan yang ada di luar. Lagi pula aku juga sudah bosan di sini, semua orang hanya membahas kekayaan dan kekayaan," saran Wiliam.


Jelita mengangguk setuju. "Iya, ayo kita pergi saja dari sini, aku lebih suka makan jajanan di pinggir jalan," jawabnya.


"Baiklah kalau begitu, kita pergi sekarang. Tapi sebelum pergi, kita harus mengucapkan selamat dulu kepada mereka," ucap Wiliam.


"Baiklah," balas Jelita dan mengangguk.


Wiliam kembali menggandeng tangan Jelita dan membawanya untuk mengucapkan selamat kepada dua keluarga yang sedang berbahagia itu terlebih dahulu, sebelum mereka pergi meninggalkan tempat tersebut.


Michael tersenyum ketika melihat Jelita berjalan menghampiri dirinya, ada kebahagiaan tersendiri melihat cintanya baik-baik saja dan yang lebih membuatnya senang adalah Jelita semakin lama semakin cantik bersahaja.


Gadis belia itu tidak lagi memakai kacamatanya, melainkan memakai softlens berwarna coklat yang lembut, berbulu mata lentik dengan rambut hitam panjang sedada dan sedikit bergelombang lagi mengkilap.


Riasan natural pada wajahnya, menambah kecantikan alami pada Jelita dan juga menambah kesan bahwa cintanya itu sudah beranjak dewasa dan bisa merawat diri.


Michael berdiri dari duduknya sambil terus menatap Jelita yang berjalan mendekat ke arahnya. "Jelita," ucapnya pelan.


Clara menoleh dan penasaran dengan apa yang sedang dilihat oleh Michael. Seketika itu pula dia terkejut kepada dua orang yang sedang berjalan mendekat ke arah mereka.


"I-itu Wiliam, lalu siapa wanita disampingnya, apa dia Jelita? Tapi bagaimana dia bisa berubah secantik itu dan aku juga sepertinya pernah lihat. Tapi dimana ya," gumam Clara dan bertanya pada diri sendiri.


"Itu Jelita anakku," seru Nyonya Caca, lalu bangkit dari tempat duduknya dan menyambut mantan anak asuhnya tersebut.


"Ibu," sapa Jelita.


Nyonya Caca berbinar menatap Jelita, tidak disangka anak gadis yang dia bawa waktu itu, bisa berubah begitu berbeda dalam sekejap mata. "Kau terlihat cantik sayang," ucap Nyonya Caca dan memeluk Jelita.


Jelita tersenyum. "Terima kasih Ibu," balasnya lalu mengurai pelukannya itu.


Dia menatap dua keluarga dihadapannya. "Selamat atas pertunangan anak-anak kalian Tuan, Nyonya," ucapnya, lalu menghampiri Michael dan juga Clara.


"Selamat atas pertunangan kalian berdua, semoga kalian selalu bahagia hingga hari pernikahan tiba nanti," ucap Jelita berbesar hati dan mendoakan kebahagiaan untuk keduanya.


Wiliam pun mengucapkan selamat kepada Tuan Nael dan juga Tuan Perkasa, lalu mengucapkan selamat kepada Michael dan juga Clara setelah Jelita selesai mengucapkan kata-kata selamat.


Clara tersenyum. "Terima kasih Kak Wiliam," balasnya dan menatapi Wiliam dengan lekat.


Karena sungguh tidak disangka, kalau pria dihadapannya itu begitu tampan dan berwibawa jika sedang berpakaian rapi.


Sedangkan Michael tidak melepaskan pandangannya sama sekali kepada wanita yang sedang berdiri dihadapannya. Dia berangan, andaikan saja gadis itu yang sedang bertunangan dengan dirinya.


"Sudah pasti akan akan bahagia sekali," gumam Michael.

__ADS_1


"Bagaimana aku bisa bahagia jika bukan bersamamu," ucap Michael tanpa sadar. Membuat semua orang pun menoleh ke arahnya.


"Miki," ucap Nyonya Caca menyadarkan Michael.


Michael tersadar. "Ah maaf, maksud ku terima kasih karena kau sudah datang ke acara kami. Dan aku sangat bahagia bisa melihatmu disini dalam keadaan sehat," ralat Michael.


"Apa kalian sudah makan?" tanya Nyonya Caca.


"Tidak perlu Nyonya besar, kami harus segera pergi dari sini. Karena ada keperluan lain yang harus kami kerjakan," balas Wiliam.


"Keperluan apa?" tanya Michael penasaran, karena tidak ingin Wiliam membawa Jelita begitu cepat dari pandangannya.


Wiliam merangkul Jelita. "Karena kami juga sedang sibuk menyiapkan beberapa keperluan untuk pernikahan kami pada awal tahun nanti," jawabnya.


Mereka semua pun terkejut, terlebih lagi bagi Michael sendiri. Dia menatap Jelita yang sedang menatap Wiliam dan tidak menyangka jika gadis itu akan benar-benar pergi darinya.


Sedangkan Clara juga terkejut, mengetahui kebenaran jika pria yang dia kagumi sewaktu kecil akan segera menikah dalam waktu dekat ini.


"Oh begitu, Ibu hanya bisa mendoakan kalian agar selalu bahagia dan dilancarkan hingga hari pernikahan kalian tiba nanti," ucap Nyonya Caca.


"Terima kasih Nyonya Besar," balas Wiliam.


Nyonya Caca menatap Jelita kembali. "Jelita ... Ingatlah selalu pesan Ibu padamu waktu dirumah sakit dan Ibu juga titip salam untuk ibu Maria."


"Baik Ibu," balas Jelita.


"Dan satu lagi terima kasih karena sudah datang dan mengucapkan selamat kepada Michael dan Clara secara langsung," tutur Nyonya Caca.


"Sama-sama Ibu ... Kami pergi dulu," balas Jelita.


"Hati-hati," balas Nyonya Caca lalu memeluk Jelita sebelum berpisah.


Semua pun tersenyum dan Wiliam segera meraih tangan Jelita untuk ikut dengannya. "Ayo kita pergi dari sini."


Jelita mengangguk. "iya."


Wiliam dan Jelita pergi meninggalkan tempat tersebut dan sekali lagi, gadis itu menyempatkan diri menatap Michael untuk yang terakhir kalinya.


Mereka berdua menatap dari kejauhan sebelum akhirnya menghilang dari pandangan mata memandang.


Michael dan Jelita terpejam. "Aku hanya bisa mendoakan agar kau selalu bahagia bersama dengan pasangan barumu itu," ucap keduanya bersamaan dalam hati.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2