Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 129. Merasa malu.


__ADS_3

Wiliam senantiasa memandangi Ayu, karena di dalam pikirannya adalah. Apakah wanita di dekatnya itu adalah Ayu gadis yang tadi dibicarakan oleh Jelita dengan Bi Siti.


"Namaku Ayu, nama kamu siapa?" Ayu Mengulurkan tangannya ke arah Wiliam.


Wiliam membuang mukanya. "Namaku Wiliam," balasnya tapi tidak menyambut uluran tangan Ayu.


Hingga Ayu harus menarik kembali uluran tangannya itu tanpa dapat merasakan sentuhan tangan dari Wiliam.


Dia berganti memegangi dadanya yang terus berdegub kencang dan Ayu bertambah gugup ketika mendengar suara Wiliam yang terdengar begitu berat namun sekssi.


"Dia tampan sekali, dia adalah tipeku. Dia terlihat seksii dan gagah sekali," gumam Ayu sambil terus menatap Wiliam dari jarak dekat.


"Wiliam, boleh aku panggil namamu Wil?" Ayu berusaha untuk akrab.


"Terserah kau saja," balas Wiliam tidak ambil pusing. Karena mau bagaimana pun juga gadis disebelahnya itu adalah temannya Jelita.


Ayu kegirangan, merasa jika pendekatannya dengan Wiliam sukses besar. Wanita itu memberi tanda kepada teman-temannya yang sedang mengintip dikejauhan.


"Sukses!" seringai Ayu dengan kode O lewat jarinya dan mereka para pengintip pun bersorak untuk kemenangan Ayu.


Ayu kembali menatap Wiliam. "Wil, sedang apa duduk sendirian disini? Bagaimana jika mampir ke rumahku dan kita bisa berbincang disana," ajaknya.


Wiliam menghela nafas dan tidak menjawab ajakan dari Ayu, pria itu hanya menatap batang candunya yang sebentar lagi akan habis.


Kecuekan Wiliam membuat Ayu semakin menggebu untuk mendekati pria disebelahnya. Merasa ada kepuasan hati, jika dirinya berhasil mendapatkan perhatian Wiliam.


Ayu mengibaskan rambutnya, dan menaruh kesamping agar leher jenjang indahnya dapat terlihat oleh Wiliam, lalu menunggu reaksi apa yang akan dikeluarkan oleh pria disebelahnya itu.


Karena menurut Ayu, lelaki paling tidak tahan dengan godaan wanita cantik. Namun sepertinya Ayu tidak mengetahui, jika Wiliam bukanlah tipe pria seperti yang ia maksud.


"Jika tidak ingin masuk angin, tutupi lehermu itu," ucap Wiliam sembari membuang puntung candunya yang habis.


Ayu terbelalak, tidak disangka ternyata aksinya tidak terpengaruh untuk Wiliam. Membuat Ayu semakin gemas saja dan semakin tertantang untuk terus mendekati Wiliam.


"Wil, kau mau kemana?" tanya Ayu melihat Wiliam ingin pergi.


"Menemui calon istriku," balas Wiliam apa adanya.


"Apa calon istri? Jadi kau sudah punya calon istri?" tanya Ayu tidak menyangka.


Wiliam mengangguk dan kembali berjalan, tapi dihentikan oleh Ayu.


"Tunggu Wil, siapa calon istrimu itu. Apa dia orang sini dan kau ingin pergi kemana?" tanya Ayu.


Wiliam menatap Ayu, lalu muncul ide usil untuk mengerjai wanita menyebalkan didekatnya.


"Calon istriku ada di dalam rumah itu dan aku ingin menemuinya sekarang," jawab Wiliam sembari menunjuk rumah Ayu.


Ayu tersenyum karena itu adalah rumahnya, di dalam pikiran wanita itu. Apakah calon istri yang dimaksud Wiliam adalah dirinya sendiri.


"Wil, apa kau yakin calon istrimu ada di rumah itu?" tanya Ayu.


Wiliam mengangguk. "Benar, aku yakin. Bagaimana aku bisa salah," jawabnya lengkap dengan seringai tipis.


"Wil, apa kau tahu itu rumah siapa?" tanya Ayu.


"Tidak tahu, yang aku tahu calon istriku ada di dalam rumah itu," balas Wiliam sambil terus berjalan mendekati rumah Bi Siti.


Ayu melonjak kegirangan, lalu mengejar Wiliam yang semakin mendekat ke arah rumahnya.


Hatinya semakin berdebar tidak karuan, ketika mengingat perkataan Wiliam yang mengatakan jika calon istrinya itu ada di dalam rumah yang dia tunjuk.

__ADS_1


"Siapa lagi wanita yang tinggal di sana kalau bukannya aku," gumam Ayu besar kepala.


Gadis itu tidak sabar ingin melihat ekpresi Wiliam saat mengetahui jika dirinya lah wanita yang dimaksud oleh Wiliam.


Sedangkan Wiliam hanya tersenyum tipis, dan tidak sabar ingin menunjukkan calon istrinya yang asli kepada Ayu agar dapat membungkam kepedean gadis itu.


...***...


Setibanya di depan rumah, Ayu dengan gesit menggandeng tangan Wiliam dan menahan pria itu sejenak karena ingin berbincang.


"Wil, beritahu aku bagaimana calon istrimu itu? " tanya Ayu berpikir jika Wiliam akan menyebutkan ciri-cirinya.


"Calon istriku sangat cantik, dia baik hati dan juga pintar," balas Wiliam.


Ayu semakin tersipu malu, karena diotaknya itu ada gambaran dirinya yang dimaksud oleh Wiliam.


"Wil ayo mari masuk. Akan aku kenalkan kau dengan Ibuku," ajak Ayu dengan semangat.


"Oh jadi ini rumahmu, itu berarti kau adalah?" tanya Wiliam berlagak polos, sambil menunjukkan ekspresi pura-pura terkejutnya.


Ayu mengangguk cepat. "Iya dan apa yang tadi kau ucapkan itu serius, bahwa calon istrimu ada di dalam rumah ini?" tanya Ayu.


Wiliam mengangguk dan Ayu kembali kegirangan. "Itu berarti calon istrimu adalah aku Wil," seru Ayu.


Wiliam tersenyum dan membiarkan gadis itu mendapat malu sendiri pada waktunya.


Cih!


Tanpa berpikir jernih Ayu beranggapan jika Wiliam sedang mengunjungi rumah calon istrinya. Padahal ucapan Wiliam adalah benar jika calon istrinya yang bernama Jelita sedang ada di dalam.


Gadis itu membukakan pintu dan mempersilahkan Wiliam masuk ke dalam sambil cengar cengir tidak karuan.


Sementara itu Bi Siti dan Jelita menoleh karena mendengar ada seseorang yang baru saja datang dan mereka serentak berdiri.


"Ayu!" sapa Jelita.


Ayu pun menoleh dan memandangi wanita cantik yang sedang tersenyum ke arahnya.


"Kau siapa?" tanya Ayu mendekati.


Bi Siti tersenyum dan menarik Ayu untuk duduk.


"Ayu, ini Jelita. Anaknya ibu Maria, tetangga kita dulu," jawab Bi Siti.


Ayu terbelalak dan dia langsung berdiri memandangi Jelita yang sudah berubah cantik melebihi dirinya.


"Apa! Jelita? Dia si gembel, si buruk rupa tidak tahu diri itu yang suka menyusahkan keluarga kita!" bentak Ayu dia gusar ketika mengetahui Jelita datang ke rumahnya.


"Mau apa dia kesini Ibu, apa dia mau menitipkan ibunya yang penyakitan itu lagi kepada kita?" tanya Ayu tanpa mau mendengar penjelasan dari Jelita.


Bi Siti menarik tangan Ayu. "Ayu jaga ucapan kamu, kamu benar-benar tidak sopan dengan tamu."


Ayu menepis tangan Ibunya. "Ibu! Dari dulu Ayu sudah pernah bilang, tidak akan pernah menyukai wanita ini. Dia pembawa sial!" bentak Ayu kesal.


"Ayu!" bentak Bi Siti.


"Bibi jangan marah seperti itu," cegah Jelita menahan Bi Siti yang ingin menampar wajah putrinya.


Ayu tersadar kalau dirumahnya sedang ada Wiliam, lantas gadis itu berubah menjadi manis dan langsung meminta Jelita untuk pergi dari rumahnya sebelum Wiliam melihat wajah Jelita yang cantik.


"Pergi dari sini, karena aku sedang kedatangan tamu!" bisik Ayu penuh penekanan sambil melirik ke arah Wiliam.

__ADS_1


"Ayu, apa yang sedang kamu bicarakan, kamu ingin mengusir Jelita dari sini! Kamu benar-benar keterlaluan, apa kamu tidak tahu siapa yang datang bersama dengan dia hah!" bentak Bi Siti karena merasa tidak enak dengan Wiliam dan Jelita akibat ulah Ayu.


"Peduli amat, dia datang bersama siapa aku tidak peduli. Paling juga om-om bodoh yang mau jadi penyumbang kecantikannya ini." balas Ayu.


Wiliam menghembus nafasnya kasar, merasa sudah cukup melihat dan mendengar Jelita dihina dihadapannya sendiri. Pria itu berjalan mendekat ke arah Jelita dan segera menggandeng tangan wanitanya.


Ayu pun spontan tersentak, ketika melihat Wiliam menggandeng tangan Jelita.


"Beraninya kau menghina calon istriku," ucap Wiliam seraya mengeluarkan aura menakutkan nan mematikan.


"D-dia ___" jawab Ayu terbata dengan mata membola sempurna.


"Benar, dia adalah calon istriku. Dan aku orang yang kau maksud om bodoh penyumbang kecantikannya," balas Wiliam dengan tatapan tajamnya.


Ayu dan Bi Siti panik, tetapi Jelita lebih panik lagi. Dia takut Wiliam akan melakukan hal menakutkan di luar nalarnya.


"Wil," ucap Jelita pelan. "Jangan marah, Ayu pasti sedang bercanda," ucapnya lagi berusaha menenangkan amarah Wiliam.


"Benar, Ayu! cepat minta maaf kepada Jelita!" titah Bi Siti.


Ayu mengepal erat tangannya dan mengatakan hal yang tidak pernah dia ucapkan selama hidupnya apalagi kepada Jelita.


"Maaf Jelita, aku tadi hanya asal bicara," ucap Ayu.


"Tidak apa, aku tahu kau tidak pernah ada maksud menghinaku," balas Jelita, dia kemudian menatap Wiliam yang masih menatap tajam Ayu.


"Wil, sudahlah. Lebih baik kita pulang saja," ajak Jelita.


Wiliam menatap Jelita. "Hem, kau benar. Aku tidak ingin kau berlama-lama berada disini."


Jelita mengangguk lalu bergegas membawa Wiliam dari sana sebelum melakukan hal yang mengerikan.


"Bibi, aku pamit. Titip salamku untuk Pak Budi jika dia sudah pulang nanti dan jangan lupa datanglah ke pesta pernikahan kami," ucap Jelita.


"Pasti Nak, maaf jika Bibi tidak menjamu kalian dengan baik," balas Bi Siti.


"Tidak apa Bibi, terima kasih karena masih mengingat dan menerimaku," ucap Jelita.


"Bibi selalu mengingatmu sayang, kau juga anak Bibi," balas Bi Siti seperti mau menangis.


"Bibi jangan menangis, aku tahu kau merindukanku dan juga Ibu. Maaf kalau aku pernah merepotkan kalian," balas Jelita.


Bi Siti memeluk Jelita dan melepas putri sahabatnya itu. "Hati-hati dijalan."


"Baik Bi terima kasih," sahut Jelita sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil.


Sementara itu Ayu masih terdiam dengan apa yang terjadi dengannya barusan. Dia begitu kesal dengan permainan nasib pada dirinya.


"Bagaimana bisa si jelek itu begitu mujur, mendapat pria kaya dan juga tampan. Sedangkan aku, padahal aku tidak kalah cantik dari dirinya yang sekarang."


Gadis itu merasa malu dan kesal dengan apa yang terjadi di dalam rumahnya tadi, bagaimana Jelita dicium mesra oleh Wiliam di depan matanya sendiri.


Demi membuktikan jika Jelitalah calon istri yang dimaksud oleh Wiliam.


"Jelita sialan! Karena kau, aku menanggung malu seperti ini!" umpat Ayu seraya menatap Jelita dan Wiliam dari kejauhan.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2