Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 120. Mengunjungi beberapa tempat


__ADS_3

Perusahaan Wijaksana.


Tuan Wijaksana sedang mengundang seorang pengusaha muda yang akan disandingkan untuk putrinya nanti. Dia adalah Mark, pria berusia sama dengan Wiliam.


Walau dirinya tidak setampan dan sekaya Michael. Namun dari penampilan Mark dan juga usianya yang masih muda, Tuan Wijaksana yakin jika Floren akan menyukai pria pilihannya itu.


"Putrimu boleh juga Tuan Wijaksana, kebetulan aku juga sedang mencari wanita untuk menjadi pendampingku," ucap Mark dengan seringainya.


"Bagus, kalau kau suka. Dengan begitu aku bisa menikahkan kalian secepatnya," balas Tuan Wijaksana.


"Baiklah, dan kau jangan lupa memberikanku 10 persen saham perusahaanmu, saat kami menikah nanti," balas Mark seraya mengipasi dirinya dengan surat perjanjian kontrak.


"Iya tenang saja, yang penting kau bisa memuaskan dahaga putriku akan sentuhan lelaki," ucap Tuan Wijaksana, lalu mengajak Mark untuk bersulang. Demi sebuah kesepakatan menguntungkan bagi kedua belah pihak.


Keuntungan bagi Tuan Wijaksana adalah dia bisa terbebas dari rongrongan putrinya, sedangkan Mark mendapat keuntungan dengan pembagian hasil perusahaan Wijaksana yang cukup besar untuk perusahaannya.


Tak berselang lama kemudian, Mark meninggalkan perusahaan Wijaksana. Dengan harapan bisa menguasai perusahaan besar Wijaksana sepenuhnya, jika sudah menikah dengan Floren nanti.


...***...


Setelah pertemuannya dengan Mark, Tuan Wijaksana kembali mengurusi pekerjaannya. Dia menelepon asisten pribadi perusahaan, mengenai perkembangan bisnis dalam rencana pembuatan hotel dan juga restoran mewah di daerah penggunungan.


Tuan Wijaksana sangat senang, mengetahui jika pembangunan hotel dan restoran mewah tersebut berjalan lancar tanpa gangguan.


...----------------...


Di sisi lain Wiliam mendapat kabar dari Riko, jika Tuan Wijaksana sudah mulai menjalankan pembangunan di daerah pegunungan tersebut.


Wiliam tersenyum dan memastikan akan membuat om tiri jahatnya hancur jika sudah tiba waktunya.


Pria itu meminta Riko agar tetap diam, dengan terus bergerak maju menjalankan rencana sebelumnya dan meminta sang asisten mengabari perkembangan pembangunan tersebut, selama ia dan Jelita mengurus acara penting mereka.


...***...


Sementara itu Jelita dan Wiliam tengah disibukkan dalam urusan mengurus persiapan pernikahan mereka, yang akan berlangsung kurang lebih dua bulan lagi.


Keduanya sedang mengunjungi salah satu hotel berbintang lima milik perusahaan Wijaya Group sendiri. Sebuah hotel yang bukan hanya ternama saja, namun juga berkelas dari segi pelayanan maupun fasilitasnya.


Wiliam telah memesan hotel tersebut sebelumnya, dan hari ini ia menyempatkan diri mengajak Jelita mengunjungi hotel tersebut bersama. Demi ingin mendengar sendiri, pendapat langsung dari calon istrinya.


"Wiliam, jadi ini adalah hotel yang dikelola oleh perusahaan Wijaya Group?" tanya Jelita seraya mengedarkan pandangannya ke sekitar gedung hotel.


"Benar sekali. Bagaimana menurutmu?" tanya Wiliam.


Pria itu belum memberitahu Jelita, jika hotel tersebut nantinya akan menjadi tempat dimana pesta pernikahan mereka digelar.


Jelita berbinar karena takjub. "Bagus sekali, aku sampai tidak bisa berkata-kata lagi."


Wiliam tersenyum dan menggandeng tangan Jelita. "Sekarang kita kesana," ucapnya sambil mengajak Jelita ke sebuah ballroom dalam hotel tersebut.


Setibanya di dalam ruangan tersebut, Jelita kembali memandangi sekitar. Ruangan yang sangat besar sekali, namun ada satu hal yang membuatnya bertanya.

__ADS_1


"Wiliam, ruangan apa ini dan apa fungsinya?" tanya Jelita.


Wiliam tersenyum kemudian berjalan perlahan mendekati Jelita, ia melingkarkan kedua lengannya dari belakang, sedikit membungkuk dan memangku kepalanya di bahu Jelita, agar bisa bersejajar dengan wajah wanitanya.


"Menurutmu ini ruangan apa?" tanya Wiliam sambil mengeratkan pelukannya.


"Hm, mungkin untuk menggelar acara penting," balas Jelita dengan pemikirannya sendiri.


"Kau benar, fungsi ruangan ini adalah untuk menggelar sebuah acara penting, seperti pesta pernikahan atau pesta besar lainnya," balas Wiliam lalu mendaratkan sebuah kecupan kecil pada ceruk leher wanitanya.


Jelita menoleh dan menatap Wiliam. "Pesta pernikahan ..." ucapnya, lalu terdiam seperti mengerti untuk dipakai apa ruangan itu nanti.


Wiliam mengangguk kemudian menarik diri, ia berganti memutar tubuh Jelita agar berhadapan dengannya.


Pria itu tersenyum lembut dan menyisipkan kedua tangannya pada tengkuk Jelita. "Jelita ... Kau benar, tempat ini untuk mengelar sebuah pesta pernikahan dan tempat ini juga yang akan menjadi saksi digelarnya pesta pernikahan kita," balas Wiliam.


Jelita membulatkan matanya. "B-benarkah," balasnya sedikit gugup, apalagi Wiliam semakin mendekatkan wajahnya.


"Benar," balas Wliam, dengan mendaratkan sebuah ciuman hangat nan mesra di bibir wanitanya.


Jelita pun membeku, ketika Wiliam mencium bibirnya tanpa aba-aba.


Kondisi tidak tahu tempat seperti ini membuat jantungnya berdebar kuat, tapi apalah daya pria tampan itu sudah mengunci semua pergerakannya.


Jelita hanya bisa memejamkan kedua mata, mencoba untuk tidak memperdulikan keadaan sekitar yang mendadak heboh karena aksi tidak tahu malu dari Wiliam.


Semua pelayan disana pun tersedak nafasnya sendiri, ketika melihat kejadian mesra di depan mata kepala dengan jelas. Beruntung, mereka semua langsung mengerti dan bergegas meninggalkan ruangan tersebut tanpa banyak kata-kata.


Kembali lagi kepada dua orang yang tengah berciuman, kali ini Jelita mencoba membalas ciuman Wiliam dengan membuka sedikit mulutnya. Memberi akses pria itu untuk menjelajahi bibirnya lebih dalam.


Wiliam pun tersenyum dan hatinya senang, ketika mengetahui Jelita mau membalas ciumannya.


Pria itu semakin menarik wanitanya agar lebih mendekat dan menyesapkan ciumannya lebih kedalam lagi.


Wiliam melepaskan sejenak pertautannya dan menatap wajah Jelita yang sudah memerah, dia tersenyum dan berkata bahwa hati nya sangat bahagia hari ini.


"Kau membalas ciumanku," ucap Wiliam dengan nafasnya yang kian memburu.


Jelita tersenyum dan menggangguk sambil terus menatap Wiliam. "Aku milikmu, bagaimana bisa aku menolaknya."


Wiliam memasang wajah bahagianya, dengan semangat ia kembali menempelkan bibirnya dan mulai melumatt bibir Jelita, menjelajahi setiap rongga mulut bahkan membelit lidahnya.


Ini kali pertamanya wanita itu membalas serangan mengerikan dari Wiliam, namun Jelita berusaha mengimbangi ciuman bibir dan juga permainan lidah pria itu yang semakin liar saja.


Sesekali ia tersedak oleh ulah Wiliam, karena pria itu terlalu bersemangat memainkan lidahnya sendiri hingga menyentuh pangkal tenggorokan paling dalam.


"Uhuk! Uhuk!"


Wiliam melepas pertautannya sejenak dan menunduk sambil melihat wajah Jelita. "Maaf, aku tidak sengaja. Apa kau tidak apa-apa?" balasnya dan bertanya, sedikit cemas karena wajah Jelita sudah pucat.


Membiarkan wanitanya untuk menghirup oksigen sejenak.

__ADS_1


Jelita menatap Wiliam dan dia tertawa kecil. "Tidak apa, hanya aku belum terbiasa dengan gaya berciumanmu," balasnya malu-malu.


Wiliam menghela nafas dan menarik senyum. "Maaf, aku terlalu bersemangat karena aku sedang bahagia sekali."


"Tidak apa, aku mengerti. Tapi lain kali, tolong lembut sedikit," balas Jelita lengkap dengan senyum indah di bibirnya.


"Oh begitu, baiklah. Bagaimana kalau kita coba sekali lagi," ucap Wiliam genit.


"Terserah kau saja," balas Jelita.


Kali ini Wiliam meraih kedua tangan Jelita, lalu menaikkannya agar melingkar manja pada leher nya yang kekar.


Perlahan tapi pasti Wiliam kembali menautkan bibirnya, mengecup lembut bibir ranum Jelita. Melumaat dan menyesapnya hingga ke dalam, menikmati setiap pertautan yang terjadi disetiap aksi gilanya.


Decapan demi decapan dari pertautan mereka mulai menggema, memenuhi seisi ruang kosong di dalam sana bagai irama cinta. Pertanda keduanya begitu menikmati dan juga menghayati setiap kecupan yang mereka ciptakan.


Setelah sekian lama berciuman, akhirnya Wiliam mau melepas pertautannya. Ketika menyadari ada sesuatu yang menggelitik dari balik celananya.


Diapun segera menghentikan pertautan itu sebelum ular pythonnya mulai liar tidak terkendali.


Kini Wiliam bergantian memeluk Jelita lalu merangkulnya dan mengajak gadis itu keluar dari gedung mewah tersebut. Dengan raut kebahagiaan terukir jelas pada masing-masing wajah mereka.


Keduanya kembali melanjutkan perjalanan, mengunjungi beberapa tempat lain untuk keperluan pesta pernikahan mereka nanti.


...***...


Bukan hanya melihat hotel yang akan digunakan untuk pesta pernikahan mereka saja, namun Wiliam dan juga Jelita mengunjungi salah satu bridal terbaik di Ibu kota.


Mereka memesan beberapa gaun beserta jas baru, seperti gaun pemberkatan, gaun prewedding, gaun wedding beserta gaun malam untuk dikenakan pada sebelum sampai saat acara nanti.


"Aku ingin kalian semua membuat gaun dan jas yang baru dan harus paling bagus untuk calon istriku!" titah Wiliam pada sang pemilik bridal tersebut.


Pemilik bridal pun mengangguk mengerti, karena memang sudah tugasnya membahagiakan para calon pengantin baru untuk sebuah momen penting.


"Baik Nona dan Tuan Wiliam, kalau begitu silahkan ikut kami ke ruang pengukuran," balas si pemilik bridal, kemudian menggiring pasangan itu menuju kamar khusus untuk fitting baju pengantin.


"Mari silahkan masuk, kita akan melakukan pengukuran untuk wanitanya terlebih dahulu," ucap si pemilik bridal sambil membukakan pintu.


"Iya," balas Jelita lalu mereka masuk ke dalam diiringi beberpaa karyawan wanita bridal tersebut.


Sementara itu Wiliam menunggu dan duduk diatas sofa yang berada di dalam ruangan itu dengan sabar, menanti wanitanya mengukur beberapa baju untuk hari bahagia mereka.


Pria itu sudah tidak sabar, ingin sekali melihat Jelota mengenakan gaun pengantin dari tangan-tangan terbaik.


"Dia pasti terlihat sangat cantik," gumamnya dalam hati sambil tersenyum membayangkan momen indah pernikahannya nanti bersama dengan wanita yang ia cintai.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2