
Setibanya di tempat tujuan, Wiliam memarkirkan mobilnya di depan gang. Lalu mereka berjalan bersama-sama memasuki gang kecil tempat Jelita tinggal dulu.
Banyaknya kenangan disana, membuat Jelita kembali rindu masa kecil. Ia tidak sabar ingin bertemu dengan para tetangga serta kerabat lamanya di lingkungan rumahnya terdahulu.
Jelita terpaku menatap salah satu bangunan kokoh disebelah rumah Pak Budi. Rumah itu ialah tempat tinggal Jelita di masa lalu, yang telah selesai di renovasi oleh nyonya Caca.
Bangunan tua yang dulunya nyaris roboh, kini telah berhasil disulap menjadi gedung kuat nan kokoh, berkat bantuan keluarga Chandra Putra.
Namun sayang karena kejadian tahun silam, membuat ia dan sang Ibu memutuskan untuk tidak tinggal dirumah pemberian nyonya Caca, karena merasa tidak pantas menempati rumah pemberian keluarga ibu asuhnya itu.
"Kenapa kau terdiam disini, apa ini rumah Pak Budi?" tanya Wiliam memperhatikan bangunan rumah minimalis dihadapannya.
Jelita menggeleng. "Bukan, ini rumahku yang dulu."
Wiliam menatap Jelita yang mendadak murung, mungkin karena kasus tahun silam membuat gadis itu tidak ingin menempati rumahnya sendiri.
"Maaf," ucap Wiliam.
Jelita menengadah. "Tidak apa, itu sudah berlalu. Ayo kita ke rumah Pak Budi saja."
Mereka meninggalkan rumah tersebut yang masih sepi tidak berpenghuni, sesekali Jelita menengok ke arah rumah itu, tapi apalah daya dia tidak berhak menempati rumahnya lagi.
Jelita menganggap rumah masa kecilnya itu telah roboh dan rumah yang tadi dilihat olehnya adalah rumah milik keluarga nyonya Caca.
...***...
Setibanya dirumah Pak Budi, mereka memberi salam kepada sang pemilik rumah. Alangkah terkejutnya Bi Siti ketika mengetahui jika Jelita lah yang datang mengunjungi kediamannya.
Kedatangan gadis itu mengejutkan semua orang disana, hingga membuat geger seisi kampung. Semua warga pun bergegas menghampiri rumah Pak Budi, hanya demi menjawab rasa penasaran mereka tentang kebenaran akan Jelita.
Bagaimana tidak, karena perubahan fisik dari Jelita, begitu sulit diterima oleh mata mereka yang pernah mengenal sosoknya.
Mereka mengagumi penampilan dan juga kecantikan Jelita sekarang ini, serta memuji sesosok pria calon pendamping Jelita yang sangat gagah dan tampan.
"Iya ini Jelita anak Ibu Maria, wah kamu cantik sekali nak," ucap salah satu tetangga sekitar.
"Ya sudah pasti cantik, lah Ibu Maria juga waktu mudanya cantik kok," balas mereka.
Mereka berbincang sejenak tak sedikit dari mereka juga membicarakan tentang Wiliam. Pemuda itu berhasil membuat semua mata ibu-ibu terbelalak, karena penampilannya yang rapi dan berwibawa.
Jelita terkekeh melihat Wiliam digelayuti ibu-ibu dan dicubit sana-sini, merasa gemas karena ketampananan.
"Dia tampan sekali, andai kita secantik dan masih muda seperti Jelita. Sudah pasti kita juga tidak mau kalah dengan Jelita," gelak tawa terdengar disana sini dan Wiliam hanya bisa tersenyum melihat Jelita bahagia.
Setelah cukup lama mereka berkumpul dan berbincang bersama tetangga di halaman rumah untuk bertemu kangen. Bi Siti menyudahi perbincangan tersebut.
"Sudah, biarkan Jelita masuk ke rumah dulu," ucap Bi Siti merasa tamu nya terlalu lama berdiri.
"Iya benar, kasian mereka pasti dari jauh dan butuh duduk," balas salah satu ibu disana.
Para warga pun bubar, kembali ke dalam rumah mereka masing-masing, sesekali menatap ke arah Jelita dan Wiliam.
...***...
Di dalam rumah Bi Siti, Jelita dan Wiliam duduk di bangku seadanya sambil memandangi kembali rumah tua itu.
"Jelita, Wiliam. Tunggu sebentar ya Bibi buatkan minum untuk kalian," ucap Bi Siti layaknya melayani tamu.
"Tidak usah repot-repot Bibi, kami main kesini tidak lama," balas Jelita merasa tidak enak.
__ADS_1
"Tidak apa, Bibi tidak merasa direpotkan." Bibi menuji dapur dan meninggalkan Jelita bersama Wiliam diruang tamu.
Jelita mengingat kenangan sewaktu kecil dirinya di dalam rumah Pak Budi, bermain bersama dengan Ayu yang sudah dia anggap sebagai kakak sendiri.
Tak berapa lama kemudian Bi Siti datang kembali membawakan dua gelas minuman dan meletakkan nya diatas meja. Lalu duduk di kursi dan mulai berbincang kembali.
"Bibi, kemana yang lain?" tanya Jelita merasa sepi.
"Pak Budi masih kerja dan Ayu masih belum pulang main sama temannya," balas Bi Siti.
Jelita membulatkan bibirnya. "Oh, apa Mba Ayu belum bekerja?"
"Belum, kemarin sempat melamar kerja. Cuma Ayu tidak mau karena lokasinya jauh dari rumah," balas Bi Siti.
"Oh begitu, Bibi aku minum ya," ucap Jelita.
"Silahkan diminum jangan sungkan," balas Bi Siti.
Melihat Jelita begitu asyik mengobrol, Wiliam pun bermaksud tidak ingin mengganggu keduanya.
Pria tampan itu merogoh sakunya dan mengeluarkan sebatang candu, kemudian meminta ijin kepada Bi Siti dan Jelita untuk keluar sejenak karena ingin merokok di luar ruangan.
"Sayang, aku keluar sebentar. Kalian mengobrollah dulu, nanti aku kembali lagi." ucap Wiliam.
"Baik lah, jangan jauh-jauh nanti kau tersesat," ledek Jelita.
"Tidak akan," balas Wiliam.
Pria itu mencari tempat ternyaman untuknya menghisap candu dan mendapati diujung sana ada tempat seperti gardu pos ronda.
Wiliam menghampiri tempat tersebut untuk menunaikan keinginannya sembari menatap sekeliling tempat kenangan masa kecil calon istrinya dulu.
Tak jauh dari tempat Wiliam berada, ternyata ada seorang gadis cantik yang baru saja keluar dari rumah seseorang.
Wanita itu terlihat ketawa ketiwi bersama teman sesama wanita, dan itu sukses membuat Wiliam menengok ke arahnya.
"Mereka berisik sekali," ucap Wiliam.
Salah satu teman wanita itu baru datang dan berteriak hingga mengejutkan Wiliam.
"Ayu!" sapa si teman Ayu.
"Iya Nis!" sahut Ayu.
Cewek-cewek itu semakin berisik ketika bergabung dan itu membuat Wiliam semakin terusik.
Pria itu beranjak dari tempat duduk, lalu pergi menjauh dari sekumpulan cewek-cewek yang sedang asik mengobrol. Bermaksud untuk berpindah tempat agar sedikit lebih tenang.
Namun pergerakan Wiliam ternyata tertangkap mata oleh Ayu.
"Siapa lelaki itu, apa kalian kenal dia?" tanya Ayu kepada teman-temannya sambil menujuk-nujuk ke arah Wiliam.
Semua matq gadis disana tertuju pada Wiliam dan mereka menggeleng. "Tidak tahu, tapi dia tampan sekali." balas mereka apa adanya.
"Benar, dia ganteng banget. Dia juga tipeku," ucap Ayu ketika pertama kali melihat Wiliam.
Matanya seakan berbinar melihat kharisma yang dikeluarkan oleh Wiliam.
"Kalau dilihat-lihat, kayaknya dia orang kaya."
__ADS_1
"Eh iya benar, sepertinya dia seorang bos muda," balas Ayu.
"Kita deketin yu. Ayu kamu duluan gih, kamu kan cantik. Kita yakin nggak ada pria yang bisa nolak kecantikan kamu," saran Nisa.
"Iya benar Ayu, cepetan gaet. Siapa tau kecantol pria kaya dan ganteng, kapan lagi iya nggak?"
Ayu tersipu malu, ada benar juga perkataan teman-temannya itu, secara dia adalah gadis paling tercantik di tempat tinggalnya. Sudah pasti tidak akan ada pria yang mampu menolak rayuannya.
"Oke, kalau gitu." jawab Ayu.
Dia berjalan mendekati Wiliam yang masih asik terbaring, menatapi pepohonan rindang dan menikmati udara sejuk sambil menghisap candu.
"Ehem!" suara deheman wanita membuat Wiliam menoleh.
"Hai, kalau boleh tahu. Kau sedang apa duduk sendirian disini," sapa Ayu dengan senyuman terbaiknya.
Wiliam tidak menjawab dan hanya memandangi wanita yang sedang berdiri dihadapannya itu dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Merasa diperhatikan begitu lekat oleh sesosok pria tampan dihadapannya itu, Ayu menjadi salah tingkah dan memerah karena malu. Dia tersenyum sambil menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga.
Ayu mulai memberanikan diri untuk duduk disebelah Wiliam.
"Apa aku boleh duduk disini?" tanya Ayu.
Wiliam lagi-lagi tidak menjawab, dia hanya memperhatikan tingkah Ayu yang tahu-tahu sudah duduk saja di sampingnya.
Sedangkan Ayu merasa jika pesona kecantikkan dirinya itu telah berhasil membuat pria disebelahnya tidak berhenti memandang ke arahnya.
.
.
Bersambung.
...----------------...
Wah kenapa ya babang Wiliam ngeliatin Ayu terus?
Merasa suka karena Ayu cantik.
Merasa jijik dengan tingkah laku wanita disampingnya.
Jawab sendiri.
__ADS_1
Jawabannya sudah pasti ada di bab selanjutnya.