Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 24. Pernyataan Nyonya Besar.


__ADS_3

Mansion Wijaksana.


Floren bersama kedua orang tuanya menapaki lantai marmer mansion mewah miliknya, mereka masuk ke dalam rumah besar itu lalu menghempaskan diri mereka ke atas sofa empuk dan nyaman.


Lamaran Michael untuk Floren ditolak secara langsung oleh Nyonya Caca, membuat keluarga Floren pun menjadi kesal.


"Si Nyonya sok pintar itu, menggagalkan rencana kita," ucap Nyonya Berta sambil mengipasi dirinya.


"Hm ... Benar sayang, aku juga tidak menyangka dia bisa mengatakan hal yang tidak bisa kita bantah dengan mudah. Tapi tidak apa sayang, yang penting mereka sudah mau menjodohkan putranya dengan Floren," balas Tuan Wijaksana.


Nyonya Berta berdecak kesal. "Nyonya itu keras kepala sekali. Sudah jelas Michael mau melamar Floren tapi dia dengan seenaknya melarang hubungan itu. Dengan alasan anaknya masih belum cukup umur, mereka berdua itu sudah besar. Apa salahnya menikahkan mereka diusianya itu, atau setidaknya mereka bisa bertunangan terlebih dahulu. Ya kan ...."


Tuan Wijaksana mengangguk. "Tapi sayang, ucapan Nyonya cantik itu memang benar, mereka berdua masih sangat muda. Kita harus bersabar, sampai keduanya cukup usia. "


Floren menggeleng. "Tidak Papi, aku merasa bukan itu saja alasannya. Mamy Mike sepertinya tidak menyukai ku makanya dia menolak lamaran Mike tadi. Apalagi saat Nyonya besar itu melihatku, dia seperti menaruh curiga bahwa aku yang menjebaknya. Apa kalian tidak mendengar perkataannya tadi?"


Ucapan Floren membuat Nyonya Berta kembali dongkol. "Benar sayang, si Nyonya itu selalu mencurigai kita kalau Michael dijebak. Nyonya sok cantik itu ternyata tidak mudah di bohongi, bahkan dia juga berkali-kali menggagalkan rencana kita dan berusaha melindungi putranya itu. Segala berkata tidak ingin ikut campur urusan pribadi anaknya, tapi dia sendiri malah ikut campur sekarang."


"Benar, jika bukan karena Maminya Mike tadi, mungkin aku sudah bisa menguasai Mike sepenuhnya. Ini semua salah Mami nya Mike, jika dia tidak ikut campur aku dan Mike pasti sudah bertunangan!" Floren mengepal erat tangannya diatas meja lalu mereka mengingat kembali perkataan Nyonya Caca.


"Michael ku baru genap berusia 19 tahun, ucapannya tadi kurasa tidak penuh dengan keseriusan. Lagipula Nyonya Berta, aku juga tidak ingin terburu-buru menikahkan anakku. Selain mereka belum cukup usia, Michaelku juga harus menyelesaikan pendidikan dan tanggung jawabnya sebagai seorang anak terlebih dahulu."


"Aku tidak tahu sejak kapan putraku mencintai putrimu Nyonya Berta, namun yang pasti aku ingin melihat hubungan keduanya berjalan dengan perlahan. Maksimal ku ijinkan mereka berpacaran terlebih dahulu untuk mengenal satu sama lain. Aku juga ingin mengenal Floren dan keluargamu lebih dekat lagi."


" Aku hanya bisa menjodohkan mereka untuk saat ini, karena aku ingin melihat hubungan mereka bisa berjalan dengan baik atau tidak. Jika hubungan keduanya baik, maka aku berjanji kepadamu Nyonya Berta. Aku akan melanjutkan hubungan mereka ke jenjang pertunangan dan juga pernikahan. Tapi jika hubungan mereka tidak baik, maka aku sendiri yang akan membatalkannya."


"Lagipula Nyonya Berta, untuk menjadi menantu keluarga Chandra Putra tidaklah mudah. Menantu ku haruslah orang yang memenuhi beberapa kriteria, sebagai standar dimana dirinya layak atau tidak menjadi bagian dari keluarga besar kami. Untuk itu kusarankan agar Floren terlebih dahulu belajar beradaptasi dengan keluarga kami."


Mereka bertiga terdiam saat mengingat ucapan Nyonya Caca. Mereka saling mengumpat karena kesal, namun demi tercapainya sebuah tujuan mereka harus menghadapi tantangan tersebut.


"Kau tidak usah khawatir sayang. Selama masa pendekatanmu dengan keluarga itu, yang kau lakukan sekarang adalah memikirkan bagaimana caranya mengambil hati keluarga Michael terutama Maminya itu. Mamy yakin kau pasti bisa menjadi menantu mereka sayang, karena menurut Mamy hanya kau lah yang layak menjadi menantu keluarga besar itu." ucap Nyonya Berta meyakinkan Floren.


Tuan Wijaksana mengangguk. "Mami mu benar sayang, buat lah Nyonya besar yang susah dikendalikan itu agar menyukaimu terlebih dahulu. Jika dia senang terhadapmu, maka kau pun bisa mendapatkan Michael dengan sendirinya."


Floren tersenyum. "Kalian benar, kelemahan Mike adalah keluarganya terutama Maminya itu. Mike pasti akan menyetujui setiap permintaan Maminya walau permintaannya itu disukai olehnya atau tidak."

__ADS_1


……………………………………………………………………………


Keesokan harinya.


.


Mansion Chandra Putra.


Kejadian kemarin malam, membuat Nyonya Caca tidak bisa tidur. Perkataan putranya itu selalu berputar memenuhi isi kepalanya.


"Percayalah, yang ku lakukan adalah demi keluarga kita."


"Floren ... Aku melamarmu."


"Janjiku sudah dipenuhi, sekarang tepatilah janjimu."


"Gadis itu tidak ada hubungannya dengan mu. Biarkan dia bekerja dengan tenang."


Dia menarik nafas dalam-dalam dan merenungi setiap perkataan yang terucap dari Michael kemarin.


"Janji dipenuhi?"


"Siapa gadis itu ... Kenapa Michael marah saat Floren membahas gadis itu, bekerja dengan tenang. Apa yang terjadi sebenarnya?"


"Untunglah aku bertindak cepat menggagalkan lamaran yang diajukan Miki, apa jadinya jika anakku dikendalikan oleh keluarga itu. Tapi apa tujuan mereka menggunakan Miki ku? Apa Floren serius mencintai Miki?"


Nyonya Caca selalu bergumam hingga membuat suaminya terbangun dari tidurnya. Dia menatap istrinya yang sedang memikirkan sesuatu.


"Morning sayang, kau sedang merenungi apa?" sapa Tuan Nael lalu duduk bersandar di kepala ranjang sambil meregangkan ototnya.


Nyonya Caca menghela nafas. "Tidak ada sayang, aku hanya memikirkan kejadian kemarin. Aku merasa kejadian semalam itu sedikit mencurigakan."


"Apa maksudmu sayang?" tanya Tuan lalu bergeser mendekati istrinya.


Nyonya itu menjawab. "Iya maksudku, kejadian itu seperti sudah di rencanakan oleh mereka. Undangan makan malam yang tiba-tiba, lamaran dan lain sebagainya. Menurutku itu aneh sayang, keluarga itu sangat terburu-buru menikahkan putrinya. Aku tidak mengerti ...." Nyonya Caca melamun sambil menopang dagunya.

__ADS_1


Tuan Nael menatap istrinya yang melamun, kemudian tersenyum nakal. "Kau begitu mempesona sayang, daripada melamunkan hal yang tidak penting lebih baik kita mandi bersama." Tuan Nael lalu membopong istrinya ke dalam kamar mandi dan tidak memperdulikan ocehan dari sang istri yang menolaknya.


Kamar mandi itu dibiarkan terbuka sehingga terdengarlah suara gemericik air dari shower kamar mandi dan juga suara-suara aneh lainnya yang memenuhi seluruh kamar besar mereka.


***


Di Kamar Michael.


Saat orang tuanya tengah enak-enak memadu kasih, lain halnya dengan Michael putranya yang masih memikirkan kejadian semalam.


Michael membersihkan tubuhnya, dibawah guyuran air shower dia mengepal kedua tangannya dengan kuat. Matanya memerah karena kesal mengingat pernyataan lamarannya kepada Floren kemarin malam.


"Floren ... Aku melamarmu, jadilah tunanganku."


Michael menghentak keras kepalan tangannya itu ke arah dinding kamar mandi di hadapannya.


"Bug!"


Nafasnya menggebu, mengingat perlakuan keluarga Floren kepada dirinya. Namun emosinya semakin memudar ketika dia mengingat pertolongan dari Mamynya.


"Untung saja Mamy dengan cepat menentangnya, jika tidak mungkin aku dan dia sudah terikat hubungan. Thank's Mom, setidaknya aku bisa bernafas lega sekarang."


Michael menarik nafas dalam, lalu memejamkan kedua mata dan menegadah wajahnya ke atas. Dia membiarkan wajah tampannya itu terguyur pancaran air shower sejenak.


"Jelita."


Michael membuka matanya dengan kasar saat nama itu terlintas dalam benaknya, lalu mengingat kembali perkataan Floren.


"Aku tidak akan membiarkan dia, si Jelita jelek itu bekerja dengan tenang ... Tidak akan!"


"Flo, mengapa kau masih saja mengincarnya ..."


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2