Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 107. Bicara tentang si ular python.


__ADS_3

Mansion Chandra Putra.


Michael terduduk lemah disisi ranjang, sambil memandangi sebuah kotak besar berisi semua pemberian yang telah dikembalikan oleh Jelita pada beberapa bulan yang lalu.


Dia memejamkan matanya dan menengadah keatas, merasa berat sekali untuk melupakan segala kejadian indah dan manis ketika bersama dengan Jelita.


Michael menghela nafas panjang kemudian menunduk, menatapi satu persatu barang pemberiannya itu. "Aku merindukanmu Jelita, apa kau merindukan ku juga," gumannya lalu memeluk salah satu foto terindah dalam hidupnya.


Foto Jelita yang memakai gaun merah, ketika masih menjadi anak asuh nyonya Caca. "Bagaimana aku bisa melupakanmu, kau cinta pertamaku Jelita. Apa yang harus aku lakukan, aku tidak bisa mendekatimu lagi dan tidak mungkin bisa memilikimu juga."


Michael terisak, sungguh lebay memang, karena seorang pria menangis begitu sesaknya. Namun mau bagaimana lagi, karena Michael tidak dapat membohongi perasaannya sendiri, kalau dia masih begitu mencintai Jelita.


"Selamanya aku akan tetap mencintaimu jelita, walau kini kita telah berpisah karena keadaan. Namun satu hal yang pasti hatiku akan selalu tetap bersamamu."


Michael mencium foto Jelita lalu menaruh kembali ke dalam kotak berisi semua kenangan dan menguncinya rapat-rapat.


Kini dia beralih memandang sebuah undangan pertunangannya dengan Clara, yang baru saja selesai dicetak. Dimana acara tersebut akan diadakan awal bulan depan, tepatnya seminggu lagi dari sekarang.


Michael menghela nafas, terasa berat sekali menerima gadis lain didalam hidupnya. Akan tetapi dia juga harus memenuhi janjinya kepada semua orang dan menerima Clara sebagai pendampingnya di masa mendatang.


"Baiklah aku akan mulai mencobanya, membuka hatiku untukmu," gumam Michael menatap foto Clara pada kartu undangan mereka.


...----------------...


Sepulang dari bekerja, Wiliam dan Jelita langsung menuju ke kediaman opa Wijaya. Pria itu sudah tidak sabar, ingin segera memberi kabar bahagia untuk kakek kesayangannya.


Di sepanjang perjalanan, Wiliam selalu tersenyum dan kadang menyengir sendiri. Entah apa yang sedang pria itu pikirkan, tapi ada satu hal yang membuat Jelita penasaran. Ketika celoteh Wiliam berhasil mengusik gendang telinganya.


Saat dia mendengar Wiliam selalu saja menyebut ular pythonnya itu, yang akan segera mendapatkan sarang ternyaman disebuah lembah hitam.


Gadis lugu itu pun merasa bingung, karena selama dia tinggal bersama dengan Wiliam, tidak pernah sekalipun ia menemukan ular python yang dimaksud oleh Wiliam atau hewan peliharaan lainnya di dalam mansion.


Jelita yang penasaran lalu bertanya dengan polosnya. "Wiliam ... Sejak kapan kau punya ular pyhton? lembah hitam apa yang kau maksud, apa itu rumah ular pyhtonmu?"


Wiliam tersedak ludahnya sendiri ketika Jelita tiba-tiba menanyakan hal itu kepadanya. Dia pun menoleh cepat sambil terkekeh geli.


"Kau begitu menggemaskan Jelita. Apa kau tahu, ular mana yang aku maksud?" tanya Wiliam.

__ADS_1


Jelita menggeleng. "Tidak, memangnya ular pyhton mana yang kau maksud. Bagiku ular ya ular, tapi aku benar-benar belum pernah melihat ular pythonmu."


Wiliam terkekeh lagi. "Hehe ... Kau belum pernah melihatnya ya, ah sayang sekali padahal ular itu selalu berada didekatku dan sudah ada sejak aku lahir ke dunia ini."


"Didekatmu mana, tidak ada tuh dan kau bilang sudah ada sejak lahir, masa sih? Aku belum pernah melihatnya dan tidak pernah mendengar tentang ular pythonmu itu sebelumnya," balas Jelita.


Keluguan Jelita menambah kelucuan bagi Wiliam sendiri, membuat pria itu semakin gemas saja akan pertanyaan Jelita yang masih belum paham tentang apa yang dia maksud sebenarnya.


Namun bukannya menghentikan perbincangan tidak berarti tersebut, Wiliam malah memperpanjang percakapannya.


"Ya bagaimana kau bisa melihatnya, karena aku selalu mengurungnya di suatu tempat," balas Wiliam.


"Disuatu tempat, apa yang kau maksud tempatnya itu adalah lembah hitam? Dan mengapa kau selalu mengurungnya, apakah ularmu itu buas dan pernah melukai seseorang. Oiya kau bilangkan ular pyhtonmu itu sudah ada sejak kau lahir, berarti sudah sebesar apa ularmu itu sekarang?" tanya Jelita bertubi-tubi.


Sontak saja hal tersebut membuat ular pyhton milik Wiliam mendesis seketika dan mendesak ingin keluar dari tempatnya. Untuk menjawab semua pertanyaan akan rasa penasaran gadis yang telah berhasil membuatnya terbangun dari tidurnya yang lelap.


Namun Wiliam dengan segera meredam kesombongan ular pythonnya itu, dengan sedikit menekan hasrat agar si ular menjadi tenang kembali.


"Ularku tidak buas Jelita, hanya disaat-saat tertentu saja dia sulit untuk dijinakkan. Kalau mengenai ukurannya, jangan ditanya lagi. Dia bukan hanya besar, tetapi juga sangat panjang," balas Wiliam.


Jelita membulatkan bibirnya. "Ooh begitu, ya namanya juga ular pyhton pastilah panjang dan juga besar jika sudah dewasa."


Jelita memutar otaknya dan seketika dia bergidik ngeri. "Membesar berkali-kali lipat? Ular python macam apa itu Wiliam? Kenapa bisa sampai mengerikan seperti itu?" tanyanya terheran-heran.


Wiliam menggelengkan kepala dan terkekeh begitu geli. Apalagi ketika membayangkan bagaimana ekspresi Jelita saat wanita itu benar-benar melihat ular python jadi-jadiannya.


"Kau tertawa geli seperti itu, kau sedang memikirkan apa. Memang apanya yang lucu?" tanya Jelita lagi.


"Ah Jelita ... Kau benar-benar membuatku tertawa, memang tidak lucu. Aku hanya membayangkan wajahmu saja jika nanti berhadapan dengan ular pythonku itu. Kau pasti akan takut dan terkejut," balas Wiliam dan melirik Jelita yang masih tidak tahu apa arti dari perkataannya.


"Tentu saja aku takut jika melihat ular pyhtonmu itu Wiliam. Dan apa kau tahu, dengan cacing kecil saja aku begitu merinding karena bentuknya yang mengelikan, apalagi harus bertemu dengan ularmu itu yang besarnya bisa berkali-kali lipat. Mungkin aku bisa pingsan ditempat," balas Jelita sambil bergidik kembali.


Hiii.


Jawaban dari Jelita membuat Wiliam semakin tergelak. "Oh Tuhan dia bisa membuatku mati tertawa," gumannya sambil menepuk jidat dan terjingkrak.


"Kau kenapa Wiliam, apa yang lucu dari semua itu?" tanya Jelita heran melihat Wiliam begitu senang sekali.

__ADS_1


Wiliam memggeleng. "Sudah lah sayang, jangan dibahas lagi. Jika sudah tiba waktunya nanti, aku pasti akan memperlihatkan ular pyhton ku kepadamu," ucapnya.


"Tidak perlu, aku tidak ingin bertemu. Takut ularmu itu membelitku dan kau pasti akan tertawa senang melihat hal itu," cebik Jelita.


"Mana mungkin dia membelitmu Jelita, ularku bisa membuatmu terbang ke surga," balas Wiliam menggoda kembali.


"Ke surga? Maksud mu apa Wiliam, aku benar-benar tidak mengerti, apa ularmu juga punya sayap juga untuk terbang? Atau dia sudah pasti akan membunuhku dan membuatku masuk surga. Ah sudah lah, ularmu membuatku jadi pusing kepala," ucap Jelita.


Wiliam tersenyum dan menggeleng. "Ya Jelita, lebih baik kita tidak usah membahas ular itu lagi."


"Iya kau benar, ular anehmu itu lebih baik tidur saja dan kalau bisa jangan bangun lagi," balas Jelita kesal.


"Kau salah besar Jelita, karena dia pasti terbangun jika tersentuh oleh tanganmu," balas Wiliam melirik Jelita kembali.


"Tersentuh dengan tanganku? Wiliam aku benar-benar bingung sekali," balas Jelita sambil memijat pelipisnya.


"Kau sepertinya penasaran sekali, apa perlu aku perlihatkan kepadamu ular ku itu? Kebetulan dia sedang bangun," ucap Wiliam mulai membuka resleting celananya.


"Perlihatkan saja, jika ketemu aku akan mengetok kepalanya," balas Jelita seraya mencari-cari sesuatu di dalam tasnya sebagai senjata.


Wiliam mengurungkan niatnya, karena melihat Jelita sedang memegang sebuah botol minum berukuran besar dan kuat.


"Jelita, sepertinya tidak jadi." ucap Wiliam karena takut ular nya benar-benar di getok pakai botol.


"Kenapa?" balas Jelita.


"Karena kita sudah sampai dirumah Opa," balas Wiliam lalu segera menutup resletingnya yang terbuka selagi Jelita lengah.


"Oh begitu, jadi ini rumah Opa?" tanya Jelita.


"Yap begitulah, ayo kita turun," balas Wiliam.


"Ya, tapi kau jangan dekat-dekat aku ya. Aku takut ularmu itu tiba-tiba menyerangku," ucap Jelita siaga.


Wiliam terkekeh. "Dia tidak akan sembarangan menyerangmu, jika sedang berada di tempat terbuka seperti ini," balasnya dan itu membuat Jelita bingung kembali. "Hah?"


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2