
Sesampainya di butik, Michael bertanya-tanya kepada seorang pengawai toko.
"Mba apa lihat seorang cewek yang berpenampilan tidak ada cantik-cantiknya, dia tadi datang kesini bersama pria bertubuh tinggi, berkumis dan tampan, tapi tetap lebih tampanan saya," tanya Michael tanpa memandang si Mba tersebut.
Mba itu tercengang hingga mengangga lalu ditunjuk lah sebuah ruangan di sudut toko, "W-wanita itu sedang ada di ruang ganti pakaian," balas Mba pegawai toko sambil memandangi wajah Michael.
"Terima kasih," balas Michael lalu menuju tempat yang telah di tunjukkan oleh si pegawai toko tersebut.
Sesampainya di depan ruang ganti, Michael pun duduk dengan gaya nya yang cool habis membuat siapapun yang melihatnya langsung terpana.
Tak berapa lama kemudian, Jelita pun menunjukkan wujudnya. Dia keluar dengan malu-malu dan menghampiri Pria yang tengah menunggunya dengan sabar.
"Kak Jason, aku sudah pakai dress ini ... Sepertinya tidak cocok untukku, tidak usah dibeli ya. Dress ini membuatku tidak nyaman," ucap Jelita sambil terus menarik-narik dress bagian bawahnya.
Michael menoleh ke arah sumber suara dan dia seketika terdiam, menatap Jelita yang sedang sibuk merapihkan dress dan tengah berdiri dihadapannya.
Michael seketika berdiri, lalu mendekati Jelita, matanya menelisik setiap penampilannya dari ujung ke ujung dan memutari tubuh Jelita.
"Jelita ...."
"Heum?"
Michael menggigit bibir bagian bawahnya yang bergetar hebat, membuat Jelita menatap heran. "Kau kenapa melihatku seperti itu, dan mana Kak Jason, aku ingin bertanya kepadanya," tanya Jelita sibuk menengok ke kanan dan kiri.
Michael terkekeh, membuat Jelita memandangi kembali penampilannya. "Kenapa? ... Aneh ya?"
"Hmpt ... Kau pakai baju terbalik dasar bodoh!"
"Bah!"
Seketika itu pula mulut Jelita mengangga lebar. Lalu, dengan secepat kilat dia melarikan diri seperti anak bebek, sambil terus menutupi wajahnya yang memerah karena malu.
Michael pun akhirnya tertawa terbahak-bahak, menertawakan Jelita. Di ikuti suara tawa dari para pegawai toko, serta para pengunjung lainnya yang berada di dalam sana.
"Ah malu sekali, pantas saja dress ini terasa tidak nyaman. Ternyata terbalik," ucap Jelita lalu segera kembali ke ruang ganti pakaian untuk memperbaiki penampilannya.
Di dalam ruang ganti Jelita masih mendengar suara Michael yang menggema menertawakan dirinya. "Dia senang sekali, sampai menertawaiku seperti itu ... Hiks!"
***
Tak berapa lama kemudian, Jason datang kembali ke butik. Sambil menenteng paperbag berisi kacamata milik Jelita, dia menghampiri Michael yang sedang tertawa.
"Mike ... Kau menertawakan apa?" tanya nya bingung. "Mana Jelita, apa dia sudah keluar?" tanyanya kembali.
__ADS_1
Michael menghapus cairan bening pada ujung ekor matanya, dia menggeleng kepala dan tertawa tiada henti hingga kesulitan berbicara karena perutnya yang terasa sakit.
"Dia ... Haha ... D-dia ... Haha ... " Michael melanjutkan kembali tertawanya dan Jason hanya menautkan kedua alis.
Bersamaan hal itu, Jelita menyembulkan kepalanya diantara kain pembatas saat mendengar suara Jason.
"Pst ... Kak Jason," Jelita memanggil.
Jason mengulum senyum. "Mengapa kamu masih disana, apa sudah dipakai dressnya?" tanya Jason lalu Jelita mengangguk. "Sudah."
"Jika sudah mengapa masih di sana, cepat keluarlah biarkan aku dan Mike melihatnya," perintah Jason.
Jelita menyibak kain penutup lalu mulai menampakkan dirinya. Dia melangkah ragu saat Michael berdiri disana dan masih asik menertawakannya.
"Apa ini cocok untukku?" tanya Jelita kepada dua pria tampan dihadapannya.
"Cocok! Dress itu sangat cocok untukmu, Bagaimana menurutmu Mike?" balas Jason lalu bertanya dan memandang Michael yang berdiri disampingnya.
Michael tersenyum. "Benar dia terlihat sedikit berbeda."
"Begitukah? Terima kasih," balas Jelita.
Jelita tersenyum memandang kedua lelaki di depannya. Dia sedikit terharu ketika mendapat perlakuan manis dari kedua orang besar dihadapannya yang masih sudi untuk membantunya.
"Perasaan apa ini, apa ini bahagia?"
"Sudah jangan menangis, kau ini cengeng sekali. Cepat tukar pakaianmu kembali, aku ingin pulang!" ucap Michael.
Jelita mengangguk dan kembali bertukar pakaian, sedangkan Jason menghampiri meja kasir dan membayar tagihan untuk semua pakaian tersebut.
…………………………………………………………………………………
Mansion Chandra Putra.
Tepatnya di kamar Tuan Besar, pasangan suami istri itu tengah beradu. Menampilkan sebuah penyatuan indah pada bagian tengah mereka diatas peraduan.
Nafas mereka saling menggebu dengan kedua netra yang telah berkabut, menutupi sebagian akal sehat mereka hingga hilangnya kewarasan.
Raga kekar polos itu terus mengungkung raga sang istri, sambil terus menghimpit bagian tengahnya. Membawa sang istri untuk selalu mengikuti permainannya.
Sementara itu sang istri tengah membusung tinggi ketika mendapat getaran pada bagian bawah sana. Setelah pemanasan yang cukup panjang, membuat intinya mulai basah.
Sang suami lalu mengeluarkan pusaka dari balik celananya, yang telah menegang sedari tadi.
__ADS_1
Dibuangnya celana itu ke sembarang arah hingga menampakan sebuah senjata laras panjang nan besar dan kuat. Sebuah pusaka yang mampu meluluh lantahkan kewarasan sang istri.
Begitu kencang dan berurat.
Lalu senjata pusaka itu mencari celah pada inti sang istri, kemudian menghujam kuat tanpa ragu dan menerobos masuk tanpa permisi.
Membuat sang istri memekik nikmat saat senjata laras panjang itu memenuhi seluruh intinya.
Senjata perkasa sang suami yang sedang menegang itu tiada henti menghujam inti sang istri, hingga tercipta suara decakan merdu memenuhi seluruh kamar mereka.
Hentakan mantap nan cepat dari sang suami, membuat istrinya selalu mengerang. Mereka saling memejamkan mata dan meraung menikmati permainan.
Sesekali sang suami mencumbu dan merampas bibir ranum milik sang istri dan menyesapnya hingga kedalam. Sedangkan tangannya terus aktif memeras kedua bukit kembar, berbentuk bulat, begitu kenyal dan menggairahkan.
Indra pengecapnya senantiasa silih berganti memberikan kenikmatan pada bagian atas, menerabas habis apa saja yang berada di hadapannya.
Sementara itu di bagian bawah, pinggul sang suami terus menghentak kuat dengan tempo yang selaras tanpa melepaskan pertautannya diatas sana.
Tidak peduli dengan peluh yang sudah mengucur deras dan tenaga yang hampir habis terkuras. Raga perkasa itu terus memompa dengan pasti, mencari titik denyut pada inti sang istri untuk membawa nya terbang bersama ke langit tertinggi.
Hingga akhirnya gelombang itupun mulai datang, sebuah gelombang dahsyat sebelum pelepasan. Membuat sang suami terus menghujam senjatanya lebih mendalam tanpa henti, dan melakukan gerakan maju mundur dengan cepat.
Lalu gelombang itu semakin lama semakin kuat, membuat urat nadi disekujur tubuh mereka menegang hebat. Mereka mengerang tak karuan saat gelombang pelepasan itu mulai berpusat pada inti mereka.
Gelombang nikmat itu semakin lama semakin memuncak, membuat keduanya semakin memekik nikmat.
"Arrgh!"
Mereka merasakan pelepasan bersama, diiringi dengan membuncahnya lahar hangat dari senjata laras panjang dari sang perkasa yang tenggelam begitu dalam.
Sebuah pelepasan yang membuat sekujur tubuh mereka bergetar hebat, di sertai dengan urat nadi mereka yang mulai melemas.
Dada mereka seakan naik turun mengatur nafas dan saling bertukar peluh.
Dengan bagian tengah yang masih menyatu, Tuan Nael menatapi wajah sensual istrinya begitu lekat.
"Thank's ... thank you so much! I love you ..." ucap Tuan Nael lalu mengecup lembut kening istrinya.
.
.
Bersambung.
__ADS_1