Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 60. Mengambil foto.


__ADS_3

Beberapa saat kemudian.


Sebuah langkah kaki sayup sayup terdengar dari kejauhan. Langkah kaki itu kian lama kian nyata menusuk indera pendengaran Michael, sehingga menambah rasa gugup dan juga penasaran pada dirinya.


Michael seketika berbalik dan terpaku, saat menatap seorang gadis dengan memakai sebuah gaun berwarna merah tengah melangkahkan kaki menuju ke arahnya sambil melemparkan senyuman indah.


Senyuman yang begitu manis terlukis di bibir indah Jelita, bibir yang begitu menggoda dan menggiurkan untuk dijelajahi. Ingin sekali dia merampas bibir ranum itu, bukan hanya untuk sekedar ingin mengetahui bagaimana rasanya. Tapi juga untuk menghilangkan rasa penasaran yang selalu berputar di dalam pikirannya.


Michael sesekali menggigit dan menjilat bibirnya sendiri hingga basah, saat melihat benda kenyal yang begitu segar. Seperti buah Cerry, begitu ranum dan manis jika disesap.


Indera penglihatannya begitu dimanjakan dengan penampilan sempurna dari gadis yang dulu pernah dia hina, seorang gadis yang dulu sama sekali tidak dia pandang.


Tapi kali ini sungguh berbeda, kedua netra nya itu tidak pernah berhenti memandang. Hanya berpusat pada diri seorang gadis, dengan hati yang terus saja memujinya.


Dia terlihat begitu cantik dan sempurna.


Riasan wajah tipis yang sederhana, menambah kecantikan yang sudah ada diwajah itu sebelumnya. Hingga kedua manik mata Michael senantiasa bergerak sendiri mengikuti naluri, memandangi gadis cantik yang sedang berjalan dengan anggunnya.


Terkadang Michael menatapi bagian atas ujung kepala, terkadang dia juga bergiliran menatapi bagian bawah hingga ke ujung kaki.


Michael mendadak berkeringat saat matanya tidak sengaja menangkap salah satu kaki jenjang Jelita, bagian pahanya yang begitu mulus sesekali terlihat menyembul pada sela belahan gaun bagian bawah yang memanjang hingga sejengkal diatas lutut.


Begitu panas dan menggoda.


Dirinya dibuat panas dingin dan sesekali dia menelan ludahnya kasar, saat menatap lekukan tubuh milik sang gadis yang mengikuti alur dari gaun dengan warna merah kesukaannya.


Ditambah hembusan angin malam, menerpa lembut rambut Jelita yang terurai, hingga sesaat menampakkan sebuah bagian lehernya yang cukup menggiurkan untuk di sesap dan di gigit.


Hingga tidak terasa kini peluh di dahi telah mengucur membasahi seluruh wajah tampannya. Padahal tidak ada aktivitas berat kala itu, dia hanya menatap dan terus menatap hingga kini wanita itu berdiri tepat dihadapannya.


Michael segera meraup kasar peluh itu dengan tangan dan menepisnya ke bawah. Dia sedikit melonggarkan kerah pada kaos yang ia kenakan.


Entah mengapa lehernya itu terasa begitu sesak dan saliva nya terus saja tercekat, saat melihat kedua gundukkan kembar dibalik gaun merah itu. Yang pernah dia sentuh dengan kedua tangannya tanpa sengaja. Tidak memakai penyangga.


Kini pikiran Michael pun melayang kemana-mana.


Sungguh Michael benar-benar tidak menyangka, dia kembali terpanah untuk yang kesekian kalinya, saat melihat penampilan yang berbeda dari wanita dihadapannya itu. Wanita yang entah kapan lagi bisa dia jumpai setelah perpisahan ini.

__ADS_1


"Michael ...." Suara lembut Jelita terdengar dan Michael akhir tersadar dari lamunannya.


Michael menggeleng samar. "Eh kau sudah disini rupanya."


"Iya ... Aku sudah berdiri disini dari tadi, ayo lah Michael cepat selesaikan tugas anehmu itu sekarang juga. Aku tidak ingin lama-lama memakai baju ini. Sungguh tidak nyaman sekali, ditambah banyak belahan disana sini dan juga sedikit terbuka. Ah aku malu sekali." Jelita menutupi bagian dadanya dengan kedua tangan.


Michael tersenyum. "Baik, sekarang kau tunggu disini. Aku mau ambil kamera."


Michael kemudian bergegas meraih kamera nya, dan mulai mensetting benda canggih tersebut. Tidak lupa dia mengatur berbagai posisi serta beberapa hal lain, agar semua terlihat serasi dan sesuai dengan keinginannya.


Pria itu mulai membidik dan mengambil gambar contoh sana sini, ini dan juga itu, layaknya fotografer profesional. Dan setelah dirasa dirinya cukup puas mengatur berbagai macam hal, Michael kemudian meminta Jelita untuk memperagakan sebuah pose.


"Jelita ... Sekarang duduk di kursi itu dan berikan aku pose terbaikmu!" titah Michael dengan kamera yang terus dia genggam.


Tidak adanya pengalaman sebagai model dan permintaan aneh yang bisa di bilang dadakan, membuat gadis itu menjadi kikuk. Dia merasa bingung sekali dengan apa yang di perintahkan oleh Michael.


Jelita hanya duduk tanpa tahu harus bagaimana, berbuat apa dan juga bergaya seperti apa.


"Pose terbaik itu seperti apa?" tanya Jelita sambil menyengir seperti kuda.


Michael menurunkan kamera dan membiarkannya menggantung di lehernya sejenak. Dia kemudian menghampiri Jelita dan membantu mengatur pose yang indah.


"Kaki yang mana, kiri atau kanan?" tanya Jelita.


"Bagian kaki yang terlihat oleh belahan gaun itu," balas Michael sambil tersenyum merasa suka sekali membodohi gadis itu.


"Baiklah," balas Jelita, dia kemudian ragu-ragu menampakkan bagian kaki indahnya dan hanya sedikit dia memamerkannya karena malu.


Michael yang gemas akhirnya membantu dengan tangannya sendiri.


"Kau mau apa?" tanya Jelita saat melihat Michael berjongkok dan ingin menarik kakinya.


"Cih! Ya sudah pasti membantumu lah," balas Michael ketus. Padahal dalam hatinya berkata, kapan lagi coba.


Diapun tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas.


Michael kemudian menarik kaki Jelita perlahan dan begitu lembut penuh penghayatan, sesekali dia memandangi dan menikmati menyentuh kulit mulus itu. Tak memikirkan Jelita yang sudah jedag jedug tidak karuan.

__ADS_1


"Michael jika sudah cepatlah ambil gambarnya," ucap Jelita merasa canggung saat melihat Michael tidak bergerak memandangi kakinya.


"Kau ini bawel sekali," balas Michael.


Dia kemudian berdiri dan membenarkan posisi duduk Jelita.


"Duduk yang tegak, busungkan dada mu dan dongakkan kepala mu sedikit ke atas. Aku ingin memotret model wanita bukannya burung unta," ucap Michael memberi arahan.


"B-baiklah," patuh Jelita lalu memeragakan sebuah pose yang dipinta oleh Michael.


"Dongak sedikit."


Michael menahan ujung dagu Jelita dan membuat wajah itu sedikit mendongak ke atas. Lalu perlahan Michael menarik ujung dagu itu dan mengarahkan wajah Jelita untuk menatap wajahnya yang tampan.


"Tatap wajahku," ucap Michael sambil tersenyum dan seketika itu pipi Jelita memerah, menambah kesan cantik alami pada gadis itu.


"Bagus sekarang tersenyumlah," ucap Michael sambil terus memandangi wajah Jelita tanpa henti.


Jelita pun tersenyum, sumpah demi apapun dia rasanya ingin terjun ke dalam kolam renang di belakangnya itu. Merasa gugup sekali di tatap oleh Michael yang begitu tampan.


"Sempurna!" ucap Michael dengan kata yang sedikit dia tekan.


Michael kemudian melangkah mundur dan mulai membidik sasaran dengan gayanya yang keren.


"Pertahankan posisi mu seperti itu!" pekik Michael sambil menunjukkan ibu jarinya.


"Oke ... 1 ... 2 ... 3!"


"Cekrek!"


Terdengar suara pengambilan foto itu dari kamera, diiringi cahaya lampu flash yang begitu terangnya. Michael kemudian menurunkan kamera dari wajahnya untuk memastikan sesuatu.


Dia tersenyum begitu puas saat melihat hasil foto bidikkannya. Michael memandangi begitu lekat layar pada kamera itu, pada sesosok gadis bergaun merah di dalamnya.


"Cantik ... Cantik sekali," gumam Michael.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2