
Sepulang sekolah.
Seperti biasa Jelita menunggu kendaraan umum di depan sekolah, dia mengedarkan pandangan ke sekeliling, takut ada mobil yang mencurigakan.
"Bagus! Tidak ada mobil si jahat itu," gumam Jelita.
Gadis berseragam itu merasa yakin jika dirinya tidak di ikuti atau di awasi oleh Wiliam, karena dia tahu betul mobil si empunya dari segi bentuk, warna dan juga nomor polisi pada mobil pria pemaksa tersebut.
Beberapa saat kemudian, penantian Jelita akhirnya berakhir saat kendaraan umum jurusan ke arah pulang telah menampakkan wujudnya.
Segera gadis itu masuk dan duduk manis di dalam angkot bagian belakang. Karena di kursi depan sudah ada penumpang, sembari menengok ke kanan dan ke kiri. "Bagus tidak ada yang mengikuti," gumamnya sambil menghela menafas lega.
Di tengah perjalanan, angkot itu berhenti untuk mengangkut penumpang lain. Dua orang wanita paruh baya dan juga seorang pria, menambah rasa aman dan kelegaan hati Jelita saat melihat ada penumpang lain berjenis sama dengannya di dalam angkot.
"Maaf Dek, geser sedikit duduknya," pinta seorang pria bertubuh tegap yang baru saja masuk ke dalam mobil.
Tak menaruh curiga, gadis manis itu langsung menggeser duduknya sedikit ke dalam, karena sadar diri dengan usianya yang masih muda.
Lalu bersamaan setelah itu, pria tersebut menutup pintu angkot secara tiba-tiba dan arah perjalanan seketika berubah.
Merasa aneh dengan kejadian tersebut, Jelita mulai bersuara sambil terus melemparkan pandangannya ke luar jendela.
"Loh! Pak ada apa ini sebenarnya, ini bukan jalan yang benar, kenapa arahnya berubah?" Jelita bertanya dari kursi belakang.
Dia menjadi bingung saat semua penumpang hanya terdiam, sama sekali tidak ada yang memprotes ketika jalan telah berubah arah.
Gadis itu juga terheran-heran melihat semua orang berubah menatap dan tersenyum kepada dirinya.
Jelita pun panik. "Ada apa ini?" tanyanya dalam hati.
Kepanikkannya bertambah ketika seorang pria bertubuh tegap dihadapannya itu merogoh benda pipih dari saku dan menelepon seseorang.
"Bos, kami telah berhasil membawa Nona," ucapnya kemudian tersenyum ke arah Jelita.
"Bagus! Cepat antar dia kesini, ke rumahku!" titah Wiliam melalui ponselnya.
Deg.
"Oh tidak itu suara Wiliam!" batin Jelita.
Dia pun mulai bergetar ketakutan. "Jangan bawa aku Paman ... Bibi tolong aku," Jelita menggoyangkan tubuh wanita paruh baya di sebelahnya.
"Maaf Nona, kami hanya menjalankan perintah saja," jawab Bibi itu yang ternyata adalah salah satu Maid atau pekerja di mansionnya Wiliam.
Jelita terperangah. "J-jadi ... K-kalian," ucapnya terbata ketika mengetahui kebenaran di depan mata, bahwa dirinya telah tertipu.
"Benar Nona, sekarang menurutlah. Tuan hanya ingin bertemu dengan anda," balas Bibi itu.
"Tidak! Turunkan aku sekarang juga!" titah Jelita memberanikan diri.
"Tidak bisa Nona, kami harus membawa anda ke hadapan Tuan," balas Bibi sambil terus menenangkan Jelita yang meronta-ronta.
"Jangan Bibi, apa Bibi tidak kasihan padaku? Apa Bibi tidak punya anak gadis dirumah? Bagaimana jika anak Bibi mengalami nasib yang sama seperti ku ini, diculik dan dibawa secara paksa?" Jelita menangis dan memohon agar Bibi disebelahnya merasa iba.
__ADS_1
"Saya mengerti Nona, tapi mengertilah bahwa kami juga hanya menjalankan sebuah perintah dari majikan. Jika tidak menurut, maka kami akan dipecat dan nasib anak kami juga akan di pertaruhkan," balas Bibi itu, menjelaskan ketidak berdayaannya sendiri.
"Bibi ..." ucap Jelita lirih.
Sadar aksi pemberontakkannya tidak membuahkan hasil, menangis dan menjerit dirasa percuma. Menghubungi seseorang pun tidak bisa karena diawasi begitu ketat.
Jelita akhirnya memilih diam, menuruti kemana laju kendaraan itu membawa dirinya pergi, menuju ke kediaman Wiliam.
Dan yang bisa dia lakukan sekarang hanyalah mengumpulkan energi untuk membela diri sebisanya mungkin melawan Wiliam, jika suatu saat pria itu ingin melukai atau berlaku tidak sopan kepada dirinya.
...----------------...
Mansion Wiliam.
Setibanya mereka disana, para orang suruhan Wiliam langsung memaksa Jelita untuk keluar dari mobil.
"Tidak! Jangan bawa aku, jangan sentuh aku! Aku tidak sudi menemui pria jahat itu!" Jelita menolak untuk keluar.
"Nona tolong menurutlah ... Jika tidak, Tuan akan marah besar," ucap Bibi.
"Tidak Bibi, jangan bawa aku ke dalam rumah itu. Aku takut ..." Jelita mulai menangis, dia menggelengkan kepala nya dan beringsut duduk lebih dalam pada sudut belakang mobil.
Menepis bahkan menggigit tangan siapapun yang berani menyentuhnya.
...***...
Sementara itu, di sebuah kamar di lantai atas, Wiliam tengah berdiri sambil menghisap candu, melihat sendiri kejadian tersebut melalui dinding kaca tebal kamarnya.
"Cih merepotkan sekali!" gumam Wiliam sambil mematikan api pada candunya.
Karena sudah lebih dari 15 menit dia menunggu, namun gadis incarannya itu tidak kunjung keluar dari dalam mobil.
"B-baik Bos!" patuhnya.
Para pekerja Wiliam memohon kepada Jelita agar keluar dari mobil dan mau menemui sang majikan.
"Tolong mengertilah Nona, jika tidak Tuan Wiliam akan memecat kami semua."
"Benar Nona, kasihani lah kami, bukan hanya dipecat, bos juga akan membuat hidup kami tidak tenang," ucap pria berbadan tegap yang ternyata hanyalah seorang penjaga kebun.
"Tidak mau! Lagi pula itu sudah resiko kalian, kenapa harus aku yang menanggungnya," balas Jelita.
Melihat Jelita yang terus saja menolak untuk ikut, membuat Bibi mulai menitikkan air mata. Begitupun dengan yang lainnya, mereka terlihat putus asa menghadapi Nona muda satu ini.
Bibi sempat terisak hingga hati gadis itu pun tersentuh dan akhirnya luluh. Merasa tidak sanggup jika melihat seorang ibu menangis, karena akan selalu teringat akan ibunya di rumah.
Jelita menghela nafas, dan dengan berat hati dia akhirnya keluar dari mobil dan mau mengikuti Bibi untuk masuk ke dalam rumah. Menemui Wiliam yang sedari tadi menunggunya.
"Baiklah," ucap Jelita dengan wajah yang sudah lesu.
"Terima kasih Nona!" seru mereka bersuka cita.
"Lihat saja pria itu jika bertemu, akan ku hajar habis-habisan!" gumamnya begitu berani tapi kaki dan tangan terus saja gemetaran.
__ADS_1
...***...
Jelita menelan ludahnya kasar, ketika melihat isi di dalam Mansion Wiliam tidak kalah megahnya dengan Mansion Chandra Putra. Dia terus saja terperangah menatap indahnya bangunan kokoh tersebut.
"Siapa sebenarnya si Wiliam itu?" tanyanya dalam hati.
Kakinya terus saja melangkah mengikuti langkah kaki sang Bibi hingga tidak sadar jika dirinya telah menginjakkan kaki di lantai atas, dimana kamar Wiliam berada.
Jelita si gadis dengan sejuta keluguan itu, masih asyik melihat sekeliling hingga dia lupa akan ketakutannya sendiri.
Bibi membukakan pintu. "Silahkan masuk Nona," ucapnya.
Seperti terhipnotis gadis itu mengangguk dan masuk begitu saja. "Baik Bi," balasnya tanpa sadar jika dirinya sedang masuk ke dalam kandang singa jantan.
"Bruk!"
Suara pintu tertutup hingga membuyarkan lamunan Jelita. Dia menggeleng cepat dan seketika itu pula dia bergetar hebat saat melihat sesosok pria tidak asing lagi sedang duduk bersandar di atas kasur, dengan tubuh setengah badan bagian atas tanpa busana dan tersenyum menatap dirinya.
Glek
"W-wiliam ... M-mengapa k-kau ada disini?" ucap Jelita. Lidahnya terasa kelu hingga harus ditampar dulu baru bisa bersuara.
"Kenapa ... terkejut? Selamat datang di kamarku," balas Wiliam, dia merentangkan kedua tangan lebar-lebar dan menyandarkannya di atas tumpukan bantal pada kedua sisi.
"K-kamar ..." pandangan Jelita beredar ke sekeliling. Lalu, "Tidak!" pekiknya.
Jelita yang panik segera berbalik, lalu meraih gagang pintu kamar dan mengerak-gerakkannya agar terbuka, dia juga memukul-mukul pintu agar terdengar oleh Bibi pelayan yang sudah menguncinya dari luar kamar.
"Bibi buka pintunya!" pinta Jelita sambil terus menarik paksa pintu kamar yang telah terkunci dengan rapat.
Sedangkan Wiliam hanya menikmati pemandangan indah dihadapannya itu, dengan ditemani secangkir anggur. Dia menjilat bibirnya dan memikirkan hal lain, dimana jika ada seorang pria berduaan dengan seorang gadis cantik di dalam kamar, enaknya ngapain ya. Entahlah!
"Bibi!"
"Tolong aku!"
Jelita berhenti sejenak dan mengingat sesuatu.
"Handphone, ya aku harus menghubungi seseorang," gumam Jelita lalu mencari sesuatu dari dalam tas sekolahnya.
Masa bodo pada siapa saja yang akan dia hubungi, yang penting meminta tolong terlebih dahulu.
Namun belum berhasil dirinya menekan angka, handphone semata wayang dalam genggamannya itu telah lenyap begitu saja.
Karena telah berpindah tangan dengan cepat.
"Ingin menghubungi siapa cantik?" tanya Wiliam berbisik.
Jelita pun menoleh dan dia terbelalak, karena Wiliam telah berdiri tepat dibelakangnya. Tersenyum menatap dirinya yang gemetar ketakutan.
Oh Tidak!
.
__ADS_1
.
Bersambung.