Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 46. Menggantikan ke salon


__ADS_3

Mansion Chandra Putra.


Hari minggu pagi dengan udara yang masih sejuk-sejuk hangat, di sebuah lapangan cukup luas di lingkungan Mansion Chandra Putra. Michael tengah bermain bola basket.


"Dug ... dug ... dug!"


Di drible nya benda bulat orange itu menggunakan tangan kanannya.


"Sret!"


Michael berlari dengan cepat sambil terus mendrible bola, lalu dia mengambil ancang-ancang untuk melompat tinggi dan mengarahkan si karet bundar itu dengan cermat.


Kemudian Michael melakukan shoot dengan gaya Lay Up nya yang keren.


"Duash!"


Bola itu pun berhasil masuk ke dalam Ring basket, membuat Michael langsung tersenyum. Begitu bangga pada dirinya sendiri, sambil terus mengatur nafas lelah selepas berolahraga.


Dia lalu melompat tinggi dan meninju udara di atas kepalanya sambil mengucapkan kata, "Yes!" dengan begitu semangat.


Kemudian Michael mengusap peluh pada wajahnya yang tampan, menggunakan handuk kecil yang telah disediakan sebelumnya. Dia lalu meneguk air minum dalam botol hingga tandas.


Membuat Jelita terperangah, matanya tak berkedip menatap kagum ketika melihat permainan Michael yang begitu keren. Diapun refleks bertepuk tangan.


"Prok prok prok!"


Michael menoleh, lalu melempar botol minum ke dalam tong sampah. Dia membusungkan dada, sambil berkacak pinggang dan mendongakkan wajahnya begitu tinggi.


"Bagaimana, aku hebat dan keren kan!" seru Michael sambil menepuk-nepuk dadanya yang bidang.


Jelita mengangguk cepat sambil menunjukkan kedua ibu jarinya kepada Michael.


"Kau hebat!" seru Jelita.


"Aku memang hebat," balas Michael dan menyugar rambut lepeknya ke belakang. Dia berhenti sejenak dan berjalan mendekati Jelita yang sedang menyiram tanaman.


Mereka pun duduk di tepi batu jalan pada sebuah taman dan berbincang sejenak.


"Oiya Michael, apa Floren jadi ke sini?" tanya Jelita.

__ADS_1


Michael menghela nafasnya kasar. "Tentu saja jadi, dia malah sudah menghubungi Mamy. Ck! Dia berbicara begitu lembut dengan Mamy di telepon, lalu seketika berubah membahas hal intim ketika berbicara denganku," Michael menghela nafas kembali.


"Serius?" tanya Jelita.


"Aku serius ... Dia begitu yakin akan menjadi menantu di keluarga ini," ucap Michael sambil menggeleng kepalanya.


"Iya, Floren kan cantik. Dia juga pintar dan sekaya keluargamu, sudah pasti dia akan diterima menjadi menantu keluarga ini. Ya kan," ucap Jelita membuat Michael menatapnya seketika.


Michael mengulum senyum. "Dia memang cantik dan sempurna, tapi aku tidak mencintainya," balas Michael.


Jelita terkekeh. "Kau pasti bohong, mana ada pria yang bisa menolak wanita secantik Floren."


"Ada ... Pria itu adalah aku. Ya ... Aku menolaknya," ucap Michael dengan segera.


Jelita terdiam sambil menatapi kedua bola mata Michael yang terlihat jujur.


"Lalu Michael, wanita seperti apa yang kamu sukai?" tanya Jelita.


Michael tersenyum dan menunduk seperti malu. "Tidak tahu ... Yang pasti, aku ingin wanita yang mencintaiku dengan tulus, tidak mencintaiku karena harta. Aku juga ingin wanita yang mandiri, bisa membuatku nyaman saat berada bersamanya. Ya seperti Mamy kalau bisa," balas Michael.


Jelita mendesah kecil. "Apa kamu tahu, wanita pilihanmu itu sungguh sulit sekali ditemukan, apalagi kau meminta wanita yang sama seperti Mamymu. Wah Michael, aku tidak yakin akan ada gadis seperti itu di dunia ini," balas Jelita.


"Ya sudah kalau tidak ada gadis seperti itu, maka kamu saja," balas Michael.


Jelita tahu jika Michael sedang bergurau, namun entah mengapa ucapan yang keluar dari mulut pria itu membuat jantungnya seketika berdebar kuat.


"A-apa?" Jelita pun terbata-bata dan menunjuk hidungnya. "A-aku? ... Michael kau bercandanya sungguh keterlaluan," ucap Jelita sambil terus mengusap dadanya yang sedang jedag-jedug.


"Kenapa? apa ucapanku salah, kita mana tahu hari esok seperti apa. Bisa saja kan? tiba-tiba kamu mendapat tongkat sihir lalu berubah menjadi cantik bagai peri dan aku seketika terpanah kepadamu," ucap Michael tertawa geli saat melihat Jelita salah tingkah.


"Kau ini, becanda mu sungguh tidak lucu tahu!" Jelita mencebik bibirnya, padahal dalam hati dia mengucapkan kata Amin.


"Ya maaf, lagipula aku merasa wajahmu yang seperti itu memang sulit untuk menjadi cantik jika dipikir-pikir," Michael terkekeh kembali membuat Jelita berdecak kesal, dia mengarahkan selang lalu menyemprot Michael dengan air.


"Rasakan ini!" Jelita menyiram Michael tanpa ampun.


"Hei berhenti! ... basah hei!" Michael lalu lari terbirit-birit meninggalkan Jelita yang masih merongos karena kesal.


"Kejam sekali dia berkata seperti itu! Heh, aku berharap suatu saat ucapannya itu benar-benar terjadi. Dan aku, huh! akan secara tegas menolaknya biar dia merana!"

__ADS_1


Jelita membereskan pekerjaannya lalu kembali ke kamar untuk sarapan dan menegok ibu.


***


Setelah sarapan dan bebenah diri, Jelita menemui Nyonya Caca di ruang kerja. Seperti biasa pada setiap minggu Jelita harus mengambil uang saku sekolah dan uang transport untuk seminggu ke depan.


"Jelita ... Sudah seminggu kamu sekolah di sana, apa ada keluhan?" tanya Nyonya Caca sambil menulis sesuatu.


"Tidak ada Ibu asuh, disana aku baik-baik saja. Jelita senang, semua orang disana sangat baik," balas Jelita.


"Syukurlah jika kamu senang belajar disana. Sekarang tanda tangan disini, dan ini uang saku sama transportmu," ucap Nyonya Caca sambil menyerahkan sebuah buku untuk di tandatangani dan sejumlah uang.


Jelita pun menerimanya. "Iya Ibu, terima kasih," lalu menandatangani buku tersebut dan memberikan kembali kepada Nyonya Caca.


"Jelita, ini hari minggu. Apa kamu tidak ada kegiatan?" tanya Nyonya Caca.


"Hm ... Tidak ada Ibu, semua PR sudah ku kerjakan. Paling aku membantu Bi Sari nanti, apa Ibu butuh sesuatu?" balas Jelita dan bertanya.


Nyonya Caca menghela nafas. "Begini Jelita, hari ini Ibu ada jadwal rutin ke salon untuk perawatan tubuh. Tapi sayangnya Ibu tidak bisa pergi ke sana karena ada tamu yang mau datang ke sini. Dia juga memaksa ingin bertemu dengan Ibu dan juga Michael," balas Nyonya Caca.


Jelita terdiam, Apa itu Floren pikirnya.


"Ibu sudah membayar biaya perawatan itu sebelumnya dan sayangnya jadwal itu tidak bisa di tunda begitu saja dan kalau pun dibatalkan uangnya juga tidak bisa dikembalikan. Jadi ---" Nyonya Caca terdiam dan menatap Jelita.


"Jadi apa Ibu?" tanya Jelita.


"Jadi Jelita kamu saja yang menggantikan Ibu pergi kesana ya," ucap Nyonya Caca.


Jelita pun terkejut. "A-apa? Jelita ... Hem kesalon?" tanya Jelita begitu kikuk dan Nyonya Caca segera menangguk pasti.


"Iya kamu saja yang gantikan Ibu ke sana ya," balas Nyonya Caca.


Jelita hanya menggaruk-garuk kepalanya, merasa aneh jika dirinya pergi ke salon. Sumpah demi apapun ini kali pertamanya dia harus ke tempat dimana orang-orang kaya itu menghabiskan begitu banyak uang hanya untuk perawatan tubuh dan wajah.


Namun melihat Nyonya Caca yang telah memintanya dengan tulus Jelitapun tidak bisa menolaknya.


"Baiklah Ibu kalau begitu," balas Jelita dan Nyonya Caca langsung melebarkan senyumannya. Dia lalu menelepon karyawan salon kecantikan itu untuk memberitahukan jika dirinya tidak bisa datang dan Jelita lah yang akan menggantikan dirinya melakukan perawatan disana.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2