
Di Kampus.
Kondisi Jelita yang sedang sakit membuat Michael tidak fokus dalam belajar. Pikirannya selalu saja teringat pada Jelita di rumah.
"Ini sudah siang, apa dia sudah makan dan minum obat," gumam Michael dalam hati. Pria itu segera merogoh benda pipih di dalam saku celana jeansnya dan menghubungi seseorang.
"Halo, apa dia sudah makan dan minum obat?" tanya Michael kepada Suster Desi melalui ponsel.
"Sudah Tuan Michael," jawab Suster Desi.
"Bagus, sedang apa dia sekarang?" tanya Michael kembali.
"Sedang mengepel lantai," balas Suster Desi apa adanya.
"Apa!" pekik Michael.
Dia terbelalak dan memukul meja dengan kencang hingga mengagetkan seisi kelas, termasuk Bu Rosi. "Manget-manget," ucap Bu Rosi pelan.
Michael terlihat tidak senang dan menggerutu sendiri, ingin sekali rasanya dia segera pulang untuk mengikat Jelita agar tidak berkeliaran kemana-mana.
"Dia sedang sakit, mengapa malah mengerjakan pekerjaan rumah. Apa tidak ada yang melarangnya melakukan itu semua! Ada dimana dia, cepat berikan ponsel mu pada dia. Aku ingin bicara dengannya sekarang juga!" Michael memerintah dan berbicara layaknya seorang bos.
"B-baik saya cari dia dulu," balas Suster Desi, kemudian mencari Jelita untuk memberikan ponselnya dan selama menunggu, Michael meninggalkan kelas sejenak, menuju taman agar dirinya bisa leluasa berbicara dengan Jelita nantinya.
Sementara itu, Floren mengekor pada Michael secara diam-diam, dirinya penasaran dengan siapa Michael berbicara.
"Jangan-jangan dia mau bicara sama si gembel itu," gumam Floren, kemudian bersembunyi dibalik pohon besar dan menguping pembicaraan Michael.
Setibanya di taman Michael langsung mencecar berbagai pertanyaan dan juga memarahi Jelita.
"Hei, apa otakmu itu sudah kemasukan air! Sudah tahu sedang sakit, mengapa tidak istirahat saja dikasur!" ucap Michael pada Jelita melalui ponselnya.
"Aku sudah baikkan," jawab Jelita singkat, jelas dan padat.
Michael memijat pelipisnya. "Kau ini sama sekali tidak patuh, kau itu sedang demam. Jika memang sudah baikkan, setidaknya istirahatlah satu atau dua hari, bukannya mengerjakan pekerjaan rumah. Hei ingat ... itu bukanlah tugas mu. Pekerjaan rumah itu sudah menjadi pekerjaan Maid disana. Untuk apa kamu ikut repot-repot."
"Kau itu bawel sekali, aku tidak bisa tidur dan aku juga tidak terbiasa tidur siang!"
Michael berdengus kesal. "Oh jadi kau tidak bisa tidur ya ... Hem, baik lah, kalau begitu aku akan pulang sekarang juga dan langsung menidurimu biar kau tertidur pulas. Apa kamu mau begitu?"
Jelita menelan ludahnya kasar. "Kau gila, dasar pria menyebalkan!" bentak Jelita lalu memutuskan panggilan secara sepihak.
Tut tut
"Hei halo! Hei Jelita! Aku masih ingin bicara dengan mu! ... "
"Ck! Siaaal, beraninya dia memutuskan panggilan seperti itu. Awas saja dia, aku akan memaksanya untuk istirahat saat sudah di rumah nanti."
Michael pun cemberut, menekuk wajah tampannya berkali-kali lipat. Dia meninju udara disekitarnya, merasa tidak puas jika gadis itu belum mematuhi perintahnya.
__ADS_1
Akan tetapi, amarah Michael seketika mereda, kedua matanya menjadi sayu. Dia tersenyum dan memandangi sebuah wallpaper yang terpasang pada layar ponselnya itu.
Dia menghela nafas panjang. "Benar Jelita, aku memang sudah gila. Aku sudah tergila-gila padamu."
Michael tersenyum sambil terus memandangi foto dirinya dan juga Jelita pada layar ponsel miliknya itu. Lalu dia pergi dari taman dan menuju ke dalam kelas.
Sementara itu Floren terpaku dan tidak menyangka dengan apa yang sudah didengar oleh telinganya sendiri.
"Jadi, benar. Wanita itu, dia adalah Jelita." Floren mengusak rambut dan mencengkram erat batang kayu pohon dihadapannya.
Darahnya semakin mendidih, saat mengingat kejadian beberapa hari yang lalu, ketika dia mengunjungi rumah Michael.
"Jadi, wanita yang dicium itu adalah dia ... Aarkhh!" Floren menendang apa pun yang berada dihadapannya, dia merasa kesal jika mengingat kejadian tersebut.
Kedua matanya memerah sambil menahan amarah yang bergejolak di dalam hati.
"Heh, dasar cewek murahan!" Floren mengepal erat telapak tangannya. Dia juga merasa heran dan bingung sekali, memikirkan bagaimana caranya Jelita bisa ada di dalam Mansion Chandra Putra.
………………………………………………………………………………
Mansion Wijaksana.
Sepulang dari kuliah Floren segera mencari ibunya, dia melangkahkan kaki sangat cepat dengan nafasnya yang terus menggebu.
"Mami!" ucap Floren kemudian duduk di samping Nyonya Berta. Dia mencebik dan melipat kedua tangannya di depan dada.
Nyonya Berta yang sedang melakukan perawatan wajah pun, menunda sejenak aktivitasnya.
"Mami, satu-satu nya orang yang bisa menyakiti hatiku adalah Mike, dan orang yang selalu membuatku panas adalah Jelita," ucap Floren sambil melempar apapun ke sembarang arah.
Nyonya Berta mengerjap kelopak matanya berkali-kali, merasa bingung dengan ucapan putrinya. "Michael dan Jelita. Apa maksudnya?" gumam Nyonya Berta dalam hati.
"Sayang, kamu bicara apa sih? Coba kamu jelaskan semuanya perlahan-lahan dan lebih rinci lagi sama Mami. Mami sama sekali tidak mengerti," ucap Nyonya Berta sambil membenarkan posisi masker pada wajahnya.
Floren menghela nafas, lalu menjelaskan semua yang terjadi pada Ibunya. Tentang siapa wanita yang sedang berada di rumah Michael, dan juga tentang semua kebingungannya itu.
"Mami, aku tidak mengerti bagaimana bisa wanita itu tinggal disana, dirumahnya Mike! Dia juga tinggal bersama dengan keluarga besarnya Mike sudah cukup lama. Dan bukan hanya itu saja yang membuatku tidak mengerti," ucap Floren menjeda sejenak perkataannya.
"Apa itu Sayang?" tanya Nyonya Berta penasaran.
Floren mengeluarkan sebuah foto Jelita dari dalam tasnya dan memberikannya kepada Nyonya Berta.
"Foto siapa ini sayang, cantik sekali," tanya Nyonya Berta sambil memandangi foto Jelita.
"Wanita yang Mami lihat itu adalah wanita yang ku ceritakan pada Mami waktu dulu, dia yang mencuri Mike dari ku. Wanita yang sudah membuatku menangis dan telah mencuri posisiku di rumah itu," balas Floren.
"Iya tapi dia siapa?" tanya Nyonya Berta kembali.
"Dia adalah Jelita!" ucap Floren dengan gusarnya.
__ADS_1
"Apa!" pekik Nyonya Berta tidak percaya dengan ucapan Floren, dia menatapi lebih tajam wajah gadis dalam foto itu lalu menatap wajah Floren kembali.
Floren mengangguk. "Iya Mami, itu benar. Dia adalah Jelita, si cewel murahan, gembel dan si buruk rupa itu," balas Floren.
"Tapi bagaimana bisa di berubah cantik begini?" ucap Nyonya Berta tidak mengerti.
Floren menggeleng. "Itulah yang aku tidak mengerti Mam, bagaimana dia bisa berubah begitu berbeda dalam waktu singkat."
Nyonya Berta terdiam seperti memikirkan sesuatu, dia mulai mengerti dengan semua yang terjadi. "Mamy tahu, kenapa semua itu bisa terjadi."
"Apa yang Mamy tahu?" tanya Floren penasaran.
"Mami yakin Jelita itu adalah anak asuh pribadinya Nyonya Caca," balas Nyonya Berta.
"Anak asuh pribadi, apa maksudnya?" tanya Floren kembali.
"Iya sayang, anak asuh pribadi nyonya Caca sama dengan anak asuh lainnya dan yang membedakannya adalah, jika anak asuh yayasan dipegang oleh yayasan, dan jika anak asuh pribadi, maka dia sendiri yang langsung memegang tanggung jawab itu." jelas Nyonya Berta.
"Aku sama sekali tidak mengerti, yang ku tahu hanyalah satu hal, yaitu semua anak asuh mereka adalah sama. Sama-sama orang susah!" jawabnya ketus.
Nyonya Berta berdecak kesal. "Sudah lah jika kau tidak mengerti juga tidak apa, yang jelas ini bisa menjadi keuntungan buat kita."
"Keuntungan apa Mami?" tanya Floren mendekatkan diri.
Nyonya Berta tersenyum. "Sayang, yayasan besar itu punya peraturan aneh. Peraturannya itu adalah anak asuh tidak boleh berpacaran atau mengikat hubungan khusus dengan anak pendiri yayasan atau anak asuh lainnya."
"Jadi?" Floren menautkan kedua alisnya.
"Ya jadi kalau sampai Jelita benar adalah anak asuhnya Nyonya Caca dan jika dia benar sedang menjalani suatu hubungan spesial dengan Michael, maka mereka bisa saja terkena kasus dan itu akan membuat nama yayasan mereka tercemar."
Floren tersenyum dan mulai mengerti. "Jadi Mami, apa yang harus kita lakukan."
"Mamy punya rencana," balas Nyonya Berta.
"Rencana apa Mam?" tanya Floren.
"Carilah bukti sebanyak-banyaknya tentang hubungan cinta terlarang mereka. Setelah sebuah bukti terkumpul, Mami akan menyebarkan isu tersebut ke dalam yayasan."
"Jika isu itu berhasil tersebar, maka akan terjadi kegaduhan dimana-mana. Dan semua anggota yayasan akan menyalahkan Nyonya Caca atas semua kericuhan yang terjadi dalam tubuh yayasan."
"Heh, Nyonya Besar, kita lihat seberapa pintar dan juga seberapa besar kekuatanmu itu dalam menghadapi gelombang dahsyat yang akan menerjang keluarga dan juga yayasanmu itu. Kau pasti akan menangis dan merasa terpuruk, karena telah gagal menjalankan semua tanggung jawab dan juga kewajibanmu."
"Dan Floren sayang ... Jika kejadian itu benar-benar terjadi, maka masuklah kamu ke dalam keluarga itu dan berusahalah berakting sebagus mungkin untuk mengambil hati mereka. Karena Mamy yakin mereka akan menganggapmu sebagai penyelamat reputasi keluarga mereka," ucap Nyonya Berta panjang lebar.
Floren tersenyum smirk dan menatap wajah Nyonya Berta. "Baik lah Mami, aku mengerti."
.
.
__ADS_1
Bersambung.