Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 121. Mengunjungi makam.


__ADS_3

Setelah melakukan pengukuran untuk pembuatan gaun dan juga jas pengantin pada keduanya, Wiliam dan Jelita kembali melanjutkan perjalanan mereka.


"Ada satu tempat lagi yang ingin ku tunjukkan padamu," ucap Wiliam.


"Kita mau kemana?" tanya Jelita merasa penasaran. Karena semua tempat penting untuk pesta mereka nanti sudah selesai dikunjungi.


"Aku ingin kau bertemu dengan kedua orang tuaku," balas Wiliam.


"Orang tuamu, itu berarti kau ingin mengunjungi makam mereka?" tanya Jelita lagi.


Wiliam mengangguk dan tersenyum tipis. "Hem," balasnya singkat.


"Baiklah, aku akan temani."


"Terima kasih," balas Wiliam.


Jelita memandangi wajah Wiliam yang sedang fokus menyetir jalan, ingin sekali rasanya mengetahui bagaimana pria itu bisa sampai kehilangan kedua orang tua.


"Wiliam, maaf jika aku bertanya hal sensitif kepadamu. Kalau boleh tahu, apa kau ingin ceritakan sedikit tentang kedua orang tuamu padaku?" tanya Jelita memberanikan diri.


Wiliam menoleh ke arah Jelita dan hanya terdiam saja lalu fokus kembali melihat jalan dihadapannya.


"Tapi jika kau keberatan atau sedih, tidak apa-apa kok. Tidak usah diceritakan, aku tidak akan memaksa mu untuk menceritakannya. Kita jalan saja," balas cepat Jelita tidak ingin melanjutkan perbincangan tersebut takut Wiliam berubah sedih.


Namun pria itu malah tersenyum dan menggeleng samar. "Hah ... Apa kau takut aku akan memarahimu atau kau berpikir aku akan berubah sedih jika menceritakan kisah masa laluku padamu?"


Jelita menelan ludahnya dan mengangguk. "Ya bisa dibilang begitu, aku hanya tidak ingin memaksa seseorang menceritakan masa lalu yang bisa dibilang sedih atau sensitif saja," balasnya.


Wiliam menghela nafas lalu mulai bercerita sedikit mengenai ayah dan ibunya, demi menjawab rasa penasaran Jelita.

__ADS_1


"Ayahku adalah anak lelaki satu-satunya keluarga Wijaya, dia berusia sama dengan tuan besar jika masih hidup sekarang. Ayahku juga kesayangan Opa, menurut cerita Opa sendiri, kalau ayahku pemuda yang cerdas dan seharusnya dialah penerus perusahaan Wijaya Group sekarang ini jika beliau masih hidup."


"Ibu ku sendiri adalah seorang wanita biasa, dia adalah karyawan di perusahaan Wijaksana. Suatu hari ayahku berkunjung ke perusahaan itu untuk mengikuti rapat membahas tentang kedua perusahaan dan mereka bertemu saat berlangsungnya rapat tersebut."


"Aku tidak tahu kisah percintaan mereka, namun yang aku tahu selama mereka masih hidup. Ayah dan ibuku tidak pernah bertengkar, selalu mengucapkan kata cinta saat bersama bahkan saat sedang tugas di luar kota."


"Ayah ku sangat romantis, dia pernah mengirimkan buket bunga mawar merah sebesar ibuku pada hari ulang tahun pernikahan mereka."


"Namun aku tidak menyangka jika itu adalah hari terakhir aku melihat kebersamaan mereka. Ayah dan ibuku telah tiada akibat kecelakaan saat perjalanan menuju restoran untuk makan malam. Dan hanya aku yang selamat dari kecelakaan maut tersebut, karena aku berlindung di dalam dekapan ibuku."


"Sejak saat itu aku terus berduka karena kehilangan sosok orang tua, terlebih bagi Opa sendiri. Dia mulai sibuk mengurus perusahaan Wijaya group kembali, karena tidak ingin perusahaannya jatuh ke tangan orang lain dan berharap jika aku sudah besar nanti, aku yang akan melanjutkan perusahaannya."


"Akan tetapi karena terlalu sibuk mengurus perusahaan, Opa sampai tidak ingat jika ia punya cucu yatim piatu yang harus di urus juga. Sejak saat itu juga aku menjadi anak broken home."


"Beruntung aku punya Bi Nina yang selalu mengurusku saat masih kecil, jika aku marah kepada Opa atau rindu pada orang tua, maka dia yang selalu mengatakan kalau Opa menyayangiku dan kedua orang tua ku sudah pergi ke surga. Saat aku mengerti kedua orang tuaku tidak akan pernah kembali, aku selalu berdoa agar mereka selalu tenang disana dan Bi Nina yang mengajari ku hal itu."


"Namun kasus kecelakaan yang menimpah ayahmu karena diriku saat itu, mengakibatkan aku masuk penjara. Aku kembali terpuruk, dimana tidak ada orang yang menyayangiku lagi. Aku sendirian di jeruji besi yang dingin, aku juga marah karena Opa tidak ada disisi ku saat sulit seperti itu, maka dari itu aku suka membangkang padanya sebagai bentuk protesku padanya."


"Opa kembali sedih karena kejadian tersebut, tapi yag membuatnya sedih adalah setelah keluar dari penjara aku malah mengabaikan permintaannya untuk meneruskan perusahaan Wijaya group, menggantikan dirinya karena usia yang sudah tidak muda lagi."


"Aku malah asik dalam duniaku sendiri, karena bukan tanpa alasan. Aku memang sedang mencari kebenaran tentang keluargaku yang tiba-tiba hancur begitu saja. Untung aku punya Riko yang menemaniku dimasa-masa sulit setelah keluar dari penjara dan menemaniku mencari jawaban atas semua pertanyaanku."


"Setelah aku dewasa, aku mencari kebenaran tentang keluargaku yang telah hancur karena akibat tangan tidak bertanggung jawab dan aku akan menuntut balas akan hal itu."


"Tida ada kabar dariku membuat Opa frustasi dan akhirnya menyetujui om tiriku yang memang sudah lama ingin memegang kendali penuh atas perusahaan Wijaya Group sebagai penerusnya."


"Aku menyadari bahwa penghancur keluargaku ternyata orang terdekatku sendiri, menyadari akan hal itu aku berusaha mengambil merebut kembali apa yang menjadi hak ku dari tangan om ku yang jahat."


"Bukan hanya itu saja setelah bertemu denganmu, saat aku mengetahui kau adalah keluarga yang pernah aku rugikan. Aku bertekad akan mencarimu dan memiliki mu seituhnya sebagai pendampingku. Dengan begitu aku bisa menebus kesalahanku terdahulu."

__ADS_1


"Karena aku sadar jika setelah menikah nanti. Aku juga harus bisa menghidupi keluarga ku sendiri dan akhirnya aku memutuskan untuk meneruskan perusahaan Wijaya Group walau mendapat penolakan dari berbagai pihak."


Wiliam terdiam dan tidak melanjutkan cerita sedih masa lalunya, ketika mendengar suara isakan tangis wanita begitu santer di telinganya.


Wiliam pun menoleh dan menaikkan satu alis. "Hei, aku yang punya masa lalu sedih, tetapi mengapa kau yang menangis?" tanyanya heran sedikit mengejek.


Jelita menghapus air matanya. "Aku tidak tahu jika kau punya kehidupan yang sulit. Sudah jangan teruskan lagi, aku tidak sanggup mendengarnya."


"Tidak juga, bukan hanya aku saja yang punya masa lalu yang sedih. Kau juga punya cerita sedih bukan? Dan bukan hanya kita saja, tapi setiap manusia di muka bumi ini punya masa lalu yanh sedih. Tapi tidak banyak dari mereka yang beruntung mengubah nasib menjadi lebih baik," balas Wiliam dengan nasihat bijaknya.


Jelita mengangguk. "Kau benar, banyak sekali. Bahkan ada yang masih terpuruk sampai sekarang."


"Jelita, aku berharap kita bisa menjadi keluarga bahagia yang saling mencintai dan menyayangi, hidup bersama dalam usia pernikahan hingga tutup usia nanti. Aku ingin kau selalu setia kepadaku, dan aku juga akan selalu setia padamu," tutur Wiliam.


Jelita menatap Wiliam. "Aku selalu ingin punya keluarga bahagia, jika kau bisa membahagiakan keluargaku. Maka aku juga akan selalu membahagiakanmu," balas Jelita.


Mereka saling memeluk sejenak.


Wiliam mengurai pelukannya. "Hem, sudah ayo cepat turun. Kita sudah sampai," ucapnya tahu-tahu sudah berada di tenpat parkir di pemakaman umum saja.


"Iya," balas Jelita lalu turun dari mobil.


Mereka berdua berjalan bersama menuju tempat peristirahatan terakhir kedua orang tua Wiliam, untuk meminta restu dan tidak lupa mendoakan beliau yang telah lama tiada agar selalu tenang di alam keabadian sana.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2