Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 138. Sebuah kabar bahagia.


__ADS_3

Dua bulan kemudian.


Perusahaan Wijaya Group.


Kejadian menggembirakan terjadi di dalam perusahaan tersebut, pasalnya Wiliam telah berhasil membuat perusahaan itu berada pada puncak kejayaan.


Oleh karena itu, perjamuan makan malam bersama dengan seluruh staft kantor digelar untuk merayakan keberhasilan Wiliam.


"Tidak sia-sia Opa menunjuk kamu sebagai pengganti Opa," puji Opa Wijaya didepan semua karyawan di dalam sana.


"Terima kasih, ini semua berkat dukunganmu dan juga kerja keras seluruh karyawan perusahaan kita," balas Wiliam merendahkan diri.


"Jangan merendah seperti itu cucuku, kau pantas mendapat semua penghargaan ini. Bahkan kau telah berhasil membawa perusahaan ini seimbang dengan perusahaan Chandra Putra," balas Opa tidak lupa dengan tepukan bahu untuk sang cucu.


"Terima kasih Opa, itu tidak seberapa sebanding kehebatanmu dulu memimpin perusahaan ini," balas Wiliam.


"Kau selalu bisa menyenangkan hatiku Wiliam. Opa bangga denganmu, ini kabar yang menggembirakan untuk Opa. Semoga ada kabar baik lainnya setelah kesuksesanmu ini," tutur Opa mengarah ke yang lain.


Wiliam menatap istrinya yang sedang duduk menyantap makanan bersama beberapa staft wanita dan tersenyum.


"Semoga saja ada kabar baik lainnya Opa," balas Wiliam sambil menyesap wine, lalu menghampiri Jelita dan duduk disebelahnya.


"Sayang, kenapa tidak dihabiskan makanannya. Apa tidak enak?" tanya Wiliam.


"Makanannya enak, tapi aku tidak tahu Wiliam. Entah mengapa akhir-akhir ini aku seperti kehilangan nafsu makan," balas Jelita.


"Apa kau sakit? Makan sedikit lagi ya, aku lihat kau selalu menolak makanan," balas Wiliam kemudian menyuapi Jelita.


Jelita menggeleng. "Tidak Wil, aku tidak mau makan lagi. Kalau dipaksa nanti muntah lagi seperti tadi," balasnya lalu menutup mulut seperti mual.


"Kau muntah, apa kau sakit? Setelah ini lebih baik kita ke rumah sakit saja ya, kau juga terlihat lemas," balas Wiliam.


Jelita tersenyum. "Tidak apa sayang, aku hanya kelelahan karena banyak tugas kuliah yang tertinggal dan juga harus melayanimu berkali-kali."


Wiliam mengerjapkan kelopak matanya merasa bersalah sekali, ternyata bermain terlalu berlebihan berefek tidak baik untuk istrinya.


"Maaf kalau begitu, ya sudah setelah ini kita pulang saja langsung. Tapi sebelum itu, aku ingin melihatmu makan dulu satu suap nasi ini," ucap dan pinta Wiliam kembali menyodorkannya.


Jelita mengangguk dan tersenyum tipis, dia menyantap suapan dari tangan Wiliam. Namun tidak berapa lama setelah itu, Jelita malah muntah di tempat.


"Huek!"


"Jelita!" Wiliam segera menepuk pundak istrinya dan melap sisa muntahan di sudut bibir.


Semua orang disana pun panik, melihat istri sang bos tiba-tiba mual dan juga muntah.


"Nyonya apa anda baik-baik saja," ucap Riko lalu meminta cleaning servis membersihkan sisa nasi di lantai.


"Aku tidak apa, hanya mual ... Hoek!" Jelita kembali menutup mulutnya dan segera berlari ke toilet karena merasa mual tidak tertahankan.


"Jelita!" panggil Wiliam lalu megejar sang istri ke toilet.


Kejadian tersebut membuat semua karyawan disana menduga-duga dan mengaitkannya dengan satu hal.


Apa dia hamil? Hem ... Bisa jadi.


...***...


Wiliam masih setia menunggu di depan toilet, selama istrinya masih berkeinginan untuk muntah.


"Sayang, apa perutmu masih tidak enak? Kita ke rumah sakit saja ya," saran Wiliam mulai cemas, ketika melihat wajah Jelita berubah menjadi pucat pasi.


Jelita mengangguk sambil memegangi perutnya. "Terserah kau saja, aku juga merasa pusing sekali," balasnya lalu berganti memijat pelipis.


"Baiklah kalau begitu, aku akan menyudahi acara makan malam ini terlebih dahulu dan meminta Opa dan Riko menyelesaikannya." Wiliam memapah Jelita yang semakin melemah.

__ADS_1


Jelita hanya mengangguk pelan dan berusaha tersenyum, padahal di dalam hati entah mengapa dia selalu mual jika melihat wajah suaminya sendiri.


Tak berselang lama kemudian, mereka kembali ke ruang acara dan meminta Riko dan Opa untuk melanjutkan acara tersebut.


"Opa, Riko. Aku ingin mengantar Jelita ke rumah sakit. Dia sepertinya sedang tidak enak badan," ucap Wiliam kepada Opa dan juga Riko.


"Baik sayang, kau tenang saja, disini biar kami yang urus. Kamu bawa saja cucu menantu Opa segera ke dokter ya," balas Opa.


"Terima kasih," balas Wiliam lalu menengok ke arah Riko. "Riko, aku titip Opa."


"Iya, tenang saja."


Mereka berdua pamit untuk pergi ke rumah sakit, namun baru saja beberapa langkah menuju pintu keluar. Jelita merasakan ada yang salah dengan dirinya.


Wanita itu merasa berkunang-kunang, dan penglihatannya mendadak buram. Langkahnya terhuyung karena merasa pusing dibagian kepala.


"Wil ..." lirih Jelita sebelum akhirnya ambruk tidak sadarkan diri.


"Jelita!" pekik Wiliam cemas, lalu bergegas menggotong raga istrinya menuju rumah sakit.


...----------------...


Rumah sakit.


Setibanya di rumah sakit Wiliam menunggu pemeriksaan dengan harap-harap cemas, sudah dua bulan terakhir ini Jelita menunjukkan sikap tidak biasanya.


Mulai dari tidak ingin melayani dia sepenuh hati, bahkan selalu menjauhi dirinya jika bertemu. Mual dan muntah serta kehilangan nafsu makan bahkan terlihat selalu lemah dan cepat lelah.


Ada kecurigaan di hati pria berwajah tampan satu ini dan ia menduga beberapa hal yang menurutnya tepat.


"Apa dia sudah bosan denganku karena terlalu sering bermain? Atau itu efek kebanyakan bermain hingga Jelitaku terkena kelelahan akut?" duganya dalam hati.


Wiliam seketika berubah menjadi polos seperti tepung terigu, kebanyakan bermain membuat ia ketakutan sendiri tentang istrinya.


...***...


Tak berselang lama kemudian setelah itu, Opa datang bersama dengan Ibu Maria dan juga Bi Nina serta Riko sang asisten setia yang turut ikut untuk memastikan semuanya aman.


Mereka segera menghampiri Wiliam disaat pria itu tiba-tiba kesetanan dan mengamuk.


"Mengapa istriku sampai sekarang belum sadarkan diri juga dan kurang ajar sekali tanganmu ini menyentuh tubuh istriku!" bentak Wiliam sambil mencekik sang Dokter hingga mengap-mengap seperti ikan kurang air.


"Sabar Tuan, tenangkan diri anda. Dokter hanya sedang memeriksa sebentar kondisi istri anda," ucap sang perawat berusaha menjelaskan.


Terlihat juga beberapa orang sedang menenangkan Wiliam yang tengah mengamuk, termasuk petugas keamanan rumah sakit.


"Jika terjadi sesuatu pada istriku, aku berjanji akan meledakkan rumah sakit ini!" ancamnya tidak main-main.


"Wiliam hentikan! Apa-apaan ini?" Opa Wijaya segera menghentikan Wiliam yang berlaku bar-bar.


"Opa, Jelita ku masih saja berbaring tidak sadarkan diri dan Dokter cabul ini tertangkap mata ingin menyentuh perut istriku tanpa ijin!" geram Wiliam, masih keukeuh mencekik dokter pria tidak berdosa yang memeriksa Jelita tadi.


"Sabar Wiliam, sabar Nak. Dokter pasti punya alasan untuk melakukan itu," ujar Ibu Maria menenangkan emosi Wiliam yang kalap.


"Uhuk! Uhuk!" Dokter yang tercekik akhirnya membuka suara, setelah lehernya terlepas dari cengkraman Wiliam.


"Dokter, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Opa menyingkirkan Wiliam sejenak.


"Maaf Tuan Besar, sepertinya Tuan muda ini salah paham dengan saya. Saya hanya ingin memeriksa kondisi istri Tuan ini," balas si Dokter menatap Wiliam gemetaran.


"Tapi apakah harus perutnya kau sentuh juga hah!" Wiliam kembali menjambak baju sang Dokter, merasa tidak senang jika ada pria lain yang melihat atau menyentuh perut istrinya.


"Wili ..." cegah Opa.


"Tenang Tuan, kami sudah meminta Dokter wanita yang memeriksa istri anda sekarang." Sang Dokter menyerah dengan mengangkat tangannya.

__ADS_1


"Terima kasih Dokter Bily, maaf jika putra saya membuatmu ketakutan." Opa Wijaya meminta maaf kepada seluruh staft rumah sakit karena ulah Wiliam yang telah berhasil membuat kegaduhan dan juga kepanikan seisi ruangan.


"Wiliam sekarang tenanglah, tidak akan ada hal buruk menimpah Jelita. Dia sudah di tangani oleh dokter terbaik.


Wiliam mengangguk lalu duduk di kursi, membiarkan Jelita diperiksa dengan ditemani oleh Ibu Maria dan juga Bi Nina.


...***...


Tak berselang lama kemudian, seorang dokter wanita yang memeriksa Jelita telah selesai dan suster memanggil suami dari sang pasien agar masuk ke dalam ruangan.


Mendengar namanya di panggil, Wiliam segera bangkit dari tempat duduknya dan memasuki ruangan dimana istrinya telah selesai diperiksa.


Semua orang didalam langsung menatap Wiliam dengan senyuman bahagia, sehingga pria itu pun kebingungan sendiri.


"Ibu, Bi Nina ada apa? Jelitaku belum sadar, tetapi kenapa kalian malah senyam-senyum seperti ini kepadaku," ucap Wiliam lalu bertanya kepada Dokter.


"Dok, ada apa dengan istriku, mengapa dia masih belum sadar juga dan dia sedang sakit apa?" tanyanya bertubi-tubi.


"Tenang Tuan, istri anda hanya kelelahan dan itu hal yang wajar jika seorang wanita sedang mengalami kehamilan di trimester pertama," jawab sang Dokter lengkap dengan senyumannya penuh arti.


"Kehamilan? Apa maksudmu istriku sedang mengandung bayi?" Wiliam bertanya seperti orang linglung.


Dokter mengangguk dan tersenyum. "Benar Tuan Wiliam. Istri anda sedang hamil 2 bulan, jadi saya ucapkan selamat, karena anda akan menjadi seorang ayah."


Wiliam membulatkan kedua matanya dan memandang semua orang dengan tatapan tidak percaya. "Benarkah?"


Ibu Maria mengangguk cepat dan meraih wajah Wiliam. "Benar sayang, selamat kau akan menjadi seorang ayah," ucapnya menjawab semua kebingungan Wiliam.


"Selamat Tuan, selamat!" seru Bi Nina tidak kalah mengungkapkan kebahagiaan.


Wiliam menarik senyum. "Terima kasih semuanya," kemudian bergegas menghampiri dan duduk di sisi Jelita yang masih terbaring lemah.


"Jadi inikah alasan mengapa dia selalu mual dan muntah? Bukan karena ia sedang masuk angin?" gumamnya lalu menatap baik-baik wajah istrinya dan mendaratkan sebuah kecupan lembut di dahi.


"Terima kasih sayang, terima kasih!" ucap syukur Wiliam kepada semua sambil menggenggam dan mencium punggung tangan Jelita. Dia begitu bahagia sekali mendengar kabar baik dari istrinya yang sedang mengandung bayi.


Pria itu kemudian memberitahu Opa sebuah kabar bahagia, jika dirinya berhasil memberikan keturunan untuk keluarga Wijaya dan itu membuat Opa menangis haru.


"Selamat cucuku, selamat!" seru Opa bahagia sekali.


Semua orang pun tidak luput memberi selamat kepada Wiliam, termasuk Riko sang asisten yang sering membuatnya jengkel.


...***...


Setelah memeriksakan kondisi kesehatan Jelita, Dokter dan perawat meninggalkan ruangan tersebut.


Sebelum Dokter itu pergi dia sempat berpesan kepada Wiliam jika Jelita harus banyak beristirahat.


"Tuan Wiliam, melihat kondisi istri anda yang masih lemah. Jadi saya sarankan istri anda agar dirawat inap beberapa hari di rumah sakit ini hingga ia pulih, karena Nyonya Jelita kekurangan cairan akibat seringnya muntah."


"Dia harus benar-benar bedrest selama beberapa hari, tidak boleh kelelahan dan juga banyak pikiran yang menganggu," saran Dokter.


"Baik Dokter, asalkan itu yang terbaik untuk istriku." Wiliam kembali patuh.


"Dan satu lagi, tahan sejenak untuk tidak berhubungan suami istri terlebih dahulu. Karena kandungannya masih sangat rentan dikehamilan muda ini," sambung sang Dokter.


Hal tersebut membuat Wiliam merasa keberatan, namun demi kesehatan sang istri dan juga calon bayi di dalam kandungannya itu, ia siap menahan hasrat yang selalu muncul jika bersama dengan Jelita.


"Baiklah Dokter, aku akan mendengar semua saranmu," jawabnya tidak patah semangat.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2