Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 40. Mencoba pakaian.


__ADS_3

Mansion Chandra Putra.


Tuan besar alias Tuan Nael, suami dari Nyonya Caca melangkah masuk ke dalam rumahnya. Pekerjaan yang menumpuk, membuat dia harus bekerja lembur di hari minggu.


Wajahnya terlihat lelah, rambutnya pun berantakan. Namun percayalah bapak-bapak satu ini tetap mempesona dimata istrinya.


Sang istri yang mengetahui sang suami telah pulang dengan segera menyambutnya. Dilayanilah suaminya itu dengan penuh cinta dan kasih sayang. Melakukan kecupan lembut sepulang bekerja sebagai pelepas penat.


"Sayang ... Syukurlah kamu sudah pulang," ucap Nyonya Caca lalu mengambil alih tas kerja milik suaminya.


"Iya sayang, Ada rapat penting tadi dan rapat itu tidak bisa di wakilkan oleh asistenku," balas Tuan Nael.


"Rapat apa sayang, apa ada masalah. Pasti begitu penting ya, sampai harus kau yang menanganinya," tanya Nyonya Caca.


Tuan Nael menghembus nafasnya kasar, "Benar sayang, ada laporan penting yang harus segera dibahas dalam rapat tadi. Maaf ya sayang, aku jadi tidak bisa menemanimu di hari minggu." Tuan Nael melonggarkan dasinya lalu duduk di sofa tengah.


"Oh, tidak apa sayang ... Apa kamu sudah makan siang?" tanya Nyonya Caca sambil menuangkan air minum untuk suaminya.


Tuan Nael menengak air dalam gelas hingga tandas dan menjawab. "Sudah tadi di kantor," lalu melihat sekeliling rumah dan bertanya, "Oiya kenapa sepi sekali, mana Mike?"


Nyonya Caca mengulum senyum. "Dia sedang jalan-jalan di Mall sama Jason dan Jelita," balas istrinya itu.


Tuan Nael seketika menaikkan satu alisnya. "What! ... Sejak kapan anak itu mau jalan-jalan dengan orang lain?" tanyanya sambil menggeleng samar.


"I don't know hubby ... Tapi semenjak dia mengenal Jelita ada sedikit perubahan di dalam dirinya," balas Nyonya Caca.


"Perubahan apa sayang?" tanya Tuan Nael penasaran.


"Apa kamu tahu sayang, tadi dia tertawa begitu lepas saat di dapur tadi, dia tertawa saat mengkritik penampilan gadis itu. Aku juga sampai terkejut melihatnya, biasanya Miki ku selalu bersikap dingin dan cuek dengan penampilan siapapun apalagi wanita. Bahkan sama Sansan adiknya sendiri dia tidak terlalu peduli," balas Nyonya Caca.


"Hem ... Begitu ya," balas Tuan Nael.


"Iya sayang. Apa mungkin Miki ...." Nyonya Caca terdiam.


"Apa?" tanya Tuan Nael melihat istrinya yang terdiam.


"Ah tidak mungkin ... Lupakan saja, apa kamu ingin sesuatu?" tanya Nyonya Caca mengalihkan perhatian.


Tuan Nael tersenyum smirk, sambil menatap istrinya dengan serius. "Kamu menanyakan aku ingin sesuatu?" tanya Tuan Nael dan Nyonya Caca mengangguk.


"Ya sudah ayo kita ke kamar, yang aku inginkan ada di dalam sana," balas Tuan Nael lalu membopong istrinya masuk ke kamar.


"Loh .. loh .. kok jadi begini," ucap Nyonya Caca lalu segera mengalungkan erat tangannya pada leher sang suami takut terjatuh.


"Mumpung sepi tidak ada Mike," balas Tuan Nael lalu mengerjakan sesuatu hal, yang penting bersama istrinya di dalam kamar.


…………………………………………………………………………


Di Mall.


"Terima kasih Kak Jason atas traktirannya," ucap Jelita berterima kasih kepada Jason.


"Hem, sama-sama," balas Jason.

__ADS_1


Setelah selesai menghabiskan makan siang, mereka melanjutkan kembali urusan masing-masing.


"Mike ... Aku dan Jelita pergi ke optik, dan kau segeralah ke toko buku. Jika sudah selesai hubungi aku untuk ketemuan, Oke!" titah Jason lalu Michael mengangguk paham. "Iye."


***


Setelah sampai di optik, Jelita mulai melakukan pemeriksaan mata.


"Mata kiri minus 3 dan yang kanan minum 2,5." ucap Dokter spesialis mata yang membuka optik di tempat itu.


Jelita lalu digiring oleh Jason untuk memilih frame yang sesuai dengan keinginannya.


"Pilihlah Jelita, kau ingin warna apa dan ingin model seperti apa," ucap Jason meminta Jelita untuk memilih frame kacamata yang tertata rapi pada etalase.


Jelitapun memilih, sedikit pusing karena semua bentuk dan warna sangat bagus. Namun dirinya terpaku saat menatap satu frame yang menurut dirinya cocok.


"Yang ini saja Mba," ucap Jelita sambil menunjuk sebuah frame kacamata berwarna peach dengan gagang tipis dan lentur.


"Wah pilihan nya bagus sekali, ini memang sedang ngetrend dan kekinian untuk kalangan anak muda jaman sekarang," balas Mba itu mengambilkan contoh framenya.


"Hem ... harganya berapa ya?" tanya Jelita seperti berbisik.


"Harganya hanya dua juta lima ratus ribu rupiah saja Mba, dan kalau pakai anti radiasi tambah lima puluh ribu rupiah,"


"Apa!" pekik Jelita hingga semua orang di dalam ruangan itu serentak melihat Jelita termasuk Jason.


"Ada apa?" tanya Jason dan Jelita menggeleng. " Tidak ada."


Jelita meneguk ludah dan menatapi dompetnya yang kritis, dia menghela nafas panjang, "Mba cariin yang murah saja," ucap Jelita.


"Baiklah, mohon tunggu sebentar," balas karyawati optik tersebut sambil mesam mesem melihat Jason.


Jason tersenyum saat melihat Jelita menggigit kepalan tangannya. "Tenang, kau tidak perlu menggantinya. Semua anak asuh Ibu tidak akan dibebankan biaya apapun dan selama itu adalah keperluan untuk belajar, maka Ibu akan selalu memenuhi tanggung jawabnya."


"Benar kah, jadi ini juga di tanggung oleh Ibu dan aku benar-benar tidak harus menggantinya?" tanya Jelita dan Jason segera menjawab. "Iya, itu benar."


Jelita lalu menghela nafas panjang karena merasa lega akan penjelasan dari Jason.


"Ayo ikut denganku, kau harus membeli beberapa pakaian," ajak Jason mengingat permintaan dari Nyonya Caca.


"Baik, tapi kacamatanya belum jadi." Jelita enggan berdiri dari tempat duduknya.


"Satu jam lagi baru bisa diambil, daripada menunggu disini lebih baik waktunya kita pakai untuk mencari pakaian," balas Jason.


"Baiklah." Patuh Jelita lalu mengekor dibelakang Jason dan mencari toko baju yang sesuai untuk Jelita.


***


Jason dan Jelita berjalan menyusuri setiap toko di dalam Mall itu, mata Jelita tak henti-henti takjub dengan segala yang ada disana.


Hingga berhentilah mereka pada sebuah toko butik yang memamerkan beberapa pakaian bagus namun bergaya sederhana.


"Apa tokonya disini?" tanya Jelita.

__ADS_1


"Benar, sekarang masuklah dan pilih beberapa pakaian yang kamu mau. Biar aku tunggu disini," ucap Jason lalu duduk di bangku khusus pengunjung yang ingin menunggu dalam butik tersebut.


"Baik Kak," balas Jelita. Lalu dia berjalan sendiri memilih beberapa potong pakaian.


***


Dua puluh lima menit telah berlalu, Jason memutuskan untuk melihat ke dalam memastikan agar Jelita tidak mengalami kesulitan.


Pandangannya terus beredar mencari-cari seseorang dan tepat disudut butik, Jason melihat Jelita tengah kebingungan mencocokkan beberapa pakaian dengan badannya di depan cermin besar.


"Dicoba pakai saja dulu, dengan begitu kau bisa tahu baju itu cocok atau tidak untukmu," ucap Jason mendekati Jelita.


Jelita langsung menoleh. "Ah kau benar Kakak, ya sudah tolong tunggu disini sebentar ya. Tolong nanti Kakak yang menilai, baju ini pantas atau tidak untukku. Aku sama sekali tidak pandai dalam memilih baju."


"Oke," balas Jason sambil menunjukkan jarinya berbentuk O dan menunggu di depan ruang ganti pakaian.


Tak berapa lama kemudian Jelita keluar dari ruangan itu dan menunjukkannya kepada Jason.


"Apa ini bagus?" tanya Jelita sedikit malu.


Jason menggeleng, merasa pakaian itu tidak cocok dengan Jelita.


"Ganti!" titah Jason dan Jelita kembali ke dalam.


"Kalau yang ini?" tanya Jelita kembali setelah lima menit dirinya berganti baju.


"Bagus, simpan yang itu dan coba lagi yang lainnya. Aku ingin lihat," perintah Jason dan Jelita kembali menurut. "Baiklah."


Jelita kembali menunjukkan yang lain, "Kalau yang ini?" tanya nya lagi, sambil menunjukkan pakaian bergaya casual.


"Hem ... keren," balas Jason.


"Benarkah," ucap Jelita kegirangan.


"Jelita, cari beberapa dress disana dan coba cocokkan mana yang pas untukmu," ucap Jason menawarkan sesuatu.


Jelita pun menoleh ke arah yang ditujukan oleh Jason. "Dress itu? Ah tidak, seperti nya dress itu terlalu bagus untukku. Aku rasa tidak akan cocok," balas Jelita sambil menggeleng cepat.


Namun Jason segera mendorong Jelita untuk mengambilnya. "Ambil dan coba saja dulu, jika kau tidak mau mencobanya. Maka semua baju yang telah kau pilih ini, tidak akan aku bayarkan!" ancam Jason.


"Baik ... baik jangan dorong aku," balas Jelita.


Jason mengulum senyum dan bersamaan dengan itu ponselnya bergetar, dia mendapat sebuah panggilan masuk dari seorang karyawan Optik.


"Oke, saya kesana," ucap Jason lalu mematikan panggilan tersebut.


Jason kemudian menghubungi Michael untuk datang ke butik dan mengantikan dirinya menemani Jelita.


"Aku berada di lantai 3, dalam butik pakaian milik teman Ibu," balas Jason dan Michael menjawab, "Baiklah."


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2