Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 50. Jelita Secantik kupu-kupu.


__ADS_3

Setelah menjalani perawatan selama tiga jam lebih, Jelita dan Pak Roy akhirnya pulang ke rumah.


Di sepanjang jalan Pak Roy selalu mencuri-curi pandang pada gadis muda disebelahnya. Dia begitu pangling dengan perubahan pada gadis, yang dia bawa sebelumnya.


Kulitnya terlihat bersih dan cerah berseri, tidak lagi terlihat bintik hitam diwajahnya. Bentuk bibir yang unik, ditambah warna pada bibir Jelita yang semula sedikit kehitaman dan pecah-pecah, kini mirip seperti buah cerry, begitu ranum dan manis jika disesap.


"Apa benar dia gadis yang aku bawa tadi? jangan-jangan aku salah bawa orang? Ah tidak! dia benar Jelita, bajunya sama," tanya Pak Roy terheran-heran pada diri sendiri.


Pak Roy lalu menelisik kembali penampilan Jelita, dia memandang rambut Jelita yang terurai, begitu halus, hitam dan berkilau. Beda sekali dengan sebelumnya, nampak kasar, kusam dan terlihat kusut. Terlebih lagi saat Jelita mengibaskannya, begitu harum dan wangi, aroma khas dari salon.


Pria paruh baya itu juga melihat jari jemari Jelita, terlihat kurus panjang dan lentik. Di tambah warna cat kuku yang selaras dengan warna kulit, menambah keindahan pada pergelangan tangan gadis itu.


Kini aroma tubuh yang keluar dari gadis muda itu mulai menusuk indera penciuman Pak Roy. Begitu harum, segar dan juga lembut membuat Pak Roy menghirupnya dengan serakah. Merasa sayang jika di lewatkan.


"Pak Roy ..." sapa Jelita saat melihat Pak Roy memejamkan mata ketika menyetir, membuat pria paruh baya ini membuka matanya dengan segera.


"E-eh! i-ya Non," balas Pak Roy terbata-bata.


"Bapak ngantuk?" tanya Jelita, si gadis polos.


"T-tidak Non, hanya ada debu sedikit nih," balas Pak Roy sambil mengucek matanya berkali-kali.


"Ooh, kirain ngantuk. Kalo ngantuk jangan di teruskan Pak, kita menepi saja dulu. Bahaya," ucap Jelita saat melihat kedua bola mata Pak Roy mulai memerah.


"Tidak Non, kita lanjutkan saja. Tanggung sebentar lagi juga sampai," balas Pak Roy dia dengan segera menginjak pedal gas lebih dalam, agar mobil yang dikendari nya itu melaju dengan cepat.


Jelita hanya bisa mengangguk samar dan berpikir yang lain. "Dia baik sekali demi bisa cepat sampai ke rumah, sampai mengabaikan rasa lelahnya."


………………………………………………………………………………


Mansion Chandra Putra.


"Floren sayang, hari sudah mulai sore, lebih baik kamu pulanglah. Kita bisa berbincang di lain hari," ucap Nyonya Caca.


Floren mengangguk dan tersenyum. "Kau benar Tante, aku harus pulang. Jika terlalu lama maka Mamy akan memarahiku."


Nyonya Caca membalas senyuman dan membelai rambut Floren. "Dia tidak akan marah, titip salam untuk Mamymu."


"Baik Tante."


Nyonya Caca kemudian mengantar Floren hingga ke depan pintu utama dan menunggunya hingga gadis itu masuk ke dalam mobil.


"Tante, aku pulang. Titip salam untuk Mike, ya. Bilang kepadanya jika aku ada salah, aku minta maaf. Dia boleh memarahiku tapi jangan mengacuhkanku." Floren mulai terisak.

__ADS_1


"Jangan menangis, nanti Tante akan sampaikan pada Michael," balas Nyonya Caca.


"Terima kasih Tante, lain kali aku akan main kesini lagi," ucap Floren sambil melambaikan tangan kanannya.


"Sama-sama sayang, kamu boleh datang kapanpun yang kamu mau, rumah Tante selalu terbuka untukmu," balas Nyonya Caca sambil melambai dan memberikan ciuman jarak jauh sebagai penutup.


***


Setelah mobil itu tertutup rapat, kini gadis itu mulai menunjukkan wajah aslinya, dia merasa lega saat dirinya tidak menemui masalah.


"Tidak ku sangka semudah ini, dan Mamy nya Mike sepertinya percaya dengan perkataanku tadi dan aku yakin dia pasti akan terpengaruh. Dengan begitu dia pasti akan meminta Mike untuk melanjutkan hubungan ini, karena dia pasti merasa aku lah satu-satunya wanita yang paling baik untuk Mike."


Floren terkekeh, lalu pandangan terhenti ketika melihat Michael yang sedang bermain basket di lapangan. Dia pun meminta supir pribadinya untuk segera berhenti.


"Pak stop! tolong menepi sebentar," pinta Floren saat mobil nya baru saja ingin keluar dari pintu gerbang utama mansion tersebut.


"Baik Non," patuh Pak supir pribadinya Floren.


Kini mobil Floren tengah terparkir pada sudut jalan sambil memandangi Michael yang sedang bermain basket di halaman depan.


Dia terkesima dengan postur tubuh dan juga permainan Michael yang begitu hebat. Pandangannya seakan tidak ingin lepas melihat setiap pergerakan Michael.


"Dia begitu tampan," gumam Floren sambil menggigit bibir bagian bawahnya.


Sementara itu Pak Bokir sedikit bingung. "Nih mobil sebenarnya mau keluar apa enggak sih?" tanyanya dalam hati. Diapun ragu menekan tombol pintu gerbang otomatis, padahal hanya tinggal sejarak kuku jarinya.


***


Pandangan Floren seketika berubah ke arah mobil Nyonya Caca yang baru saja memasuki halaman mansion dan melewati dirinya. Dia bertanya-tanya dalam hati siapa wanita yang berada di dalam mobil tersebut.


Floren memutar tubuhnya ke belakang dan memandangi lebih teliti dari jaraknya yang cukup jauh. Karena rasa penasarannya yang tinggi, dia menunggu dengan sabar dan menantikan wanita itu keluar dari mobil.


***


Sementara itu Michael melihat mobil Mamynya memasuki halaman rumah, dia menghentikan sejenak permainan bola dan berjalan menghampiri mobil yang baru saja berhenti tepat di depan pintu pagar kecil, tempat dimana Jelita tinggal sekarang.


Dia terus berjalan dan memandangi seorang wanita yang baru saja turun dari mobil dan Michael langsung mengenalinya dari pakaian yang dikenakan oleh wanita tersebut.


"Hem itu pasti dia, si Jelita. Untunglah si Flo sudah pulang, jadi mereka tidak bertemu." gumam Michael.


Michael tersenyum dan tak sabar ingin menceritakan semua tentang hari ini, tentang seorang wanita yang bernama Floren.


"Harusnya aku ikut pergi bersamanya, agar tidak bertemu dengan si nenek lampir itu. Aku harus memarahinya karena tidak memberitahuku kemana dia pergi dan tidak mengajakku jalan-jalan," oceh Michael dengan langkah kaki yang terus berjalan.

__ADS_1


***


Kini, Michael telah berada tepat dibelakang Jelita yang ingin masuk ke dalam, dia terkekeh lalu muncul ide usil ingin mengejutkan Jelita dari belakang.


"Hihi ... Aku mau lihat ekspresi nya bagaimana pas dikagetin, wajahnya itu pasti lucu sekali," celoteh Michael sambil cekikikan menahan tawa.


Michael berjalan berjinjit agar langkah kakinya tidak terdengar, lalu ketika dirinya hanya berjarak setengah meter, Michael menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, dia lalu menoel bahu Jelita agar gadis itu menoleh ke belakang. Dan setelah Jelita berbalik dengan suara keras dia akan mengejutkan Jelita, layaknya permainan cilukba.


Jelita yang kala itu merasakan ada sesuatu pada bahunya, segera menoleh kebelakang. Dan bersamaan dengan itu, Michael mulai mengejutkan Jelita.


"Ci .. luk .. ba!" teriak Michael sambil membuka kedua telapak tangannya.


"Hua!" pekik Jelita dan dia refleks memejamkan kedua matanya. Jelita meremas dadanya karena rasa kaget yang di alami.


Begitu pula Michael dia lantas berubah ekspresi dari tertawa menjadi terdiam. Dia tak percaya dengan apa yang dilihat oleh mata kepalanya sendiri.


Michael mengikuti nalurinya untuk lebih dekat kepada wanita yang berada di hadapannya. Dia menatap wajah Jelita begitu lekat hingga bola matanya bergetar tidak percaya.


Apa mungkin dia, tapi bagaimana bisa.


***


"Hei ..." ucap Michael saat Jelita masih menutup kedua matanya.


Jelita perlahan membuka mata, saat mendengar suara yang tidak asing baginya. Dia yang masih terkejut memundurkan langkahnya beberapa kali, dan tanpa sengaja dirinya ingin terjatuh saat menginjak batu cukup besar di sampingnya.


Namun dengan sigap kedua tangan Michael menahan tubuh Jelita agar tidak terjatuh dan sedikit menariknya, membuat Jelita tak sengaja jatuh ke dalam pelukkan Michael.


Michael menggenggam pergelangan tangan Jelita dengan satu tangan menahan pinggang rampingnya. Kini mereka berdekatan hingga nyaris bersentuhan.


Jelita memandang perlahan ke atas untuk menatap wajah pria di hadapannya itu. Begitu pula dengan Michael dia menundukkan kepalanya agar bisa melihat gadis dalam dekapannya. Dirinya ingin memastikan sesuatu apakah benar wanita itu adalah Jelita.


Dan kini kedua netra mereka pun saling bertemu. Mereka saling memandang satu sama lain dari jarak yang begitu dekat sekali.


Michael tersenyum begitu lembut saat memandang wajah Jelita, dia tidak berkedip cukup lama hanya demi menjawab rasa penasarannya.


"Benar, dia adalah Jelita ... Tapi bagaimana bisa, dia terlihat begitu berbeda."


"Dia ... dia begitu cantik ...."


"Secantik kupu-kupu."


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2