Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 93. Jatuh hati.


__ADS_3

Mansion Wiliam.


Malam ini Jelita telah berada di tempat asing, walau tinggal bersama ibunya, namun dia tidak bisa tidur seranjang dengan sang ibu. Karena Wiliam memberi kamar khusus untuk dirinya sendiri, tepatnya di sebelah kamar pria berotot itu.


Entah untuk apa Wiliam melakukan hal tersebut, tapi setidaknya Jelita masih bersyukur, karena sang Ibu telah dirawat dan dilayani dengan baik oleh para pelayan disini maupun oleh Wiliam sendiri.


Jelita meringkuk di dalam kamar barunya, sambil memikirkan kejadian yang terjadi hari ini. Rasa sedih yang masih mendominasi di dalam hati, membuat dirinya sulit untuk berhenti menangis.


Hingga tidak menyadari jika seseorang telah masuk ke dalam kamarnya.


"Makanlah," pinta Wiliam, tahu-tahu sudah duduk disamping Jelita saja, membuat gadis ini langsung terperanjat kaget.


"K-kau ... S-sejak kapan?" tanya Jelita dan Wiliam hanya tersenyum tipis.


"Kenapa kau senyum-senyum saja? Keluar dari sini sekarang juga!" titahnya sambil beringsut menjauh hingga ke tepi ranjang, dengan terus memeluk erat bantal seperti orang tengah waspada.


Merasa bingung dengan kehadiran Wiliam yang muncul secara tiba-tiba, Jelita pun celingak-celinguk melihat sekeliling kamar. "Lewat mana dia?" tanya nya pada diri sendiri, saat melihat pintu kamar telah terkunci dengan rapat.


Wiliam terkekeh, sangat mengerti kebingungan Jelita. "Aku lewat sana," jawabnya seraya menunjuk sebuah pintu kaca telah sedikit bergeser ke samping.


Jelita membulatkan bibirnya dan memicingkan mata. "Ooh ... Nanti akan ku kunci juga pintu kaca itu," gumamnya dalam hati. Takut pria tampan dihadapannya itu muncul lagi secara tiba-tiba, pada tengah malam saat dirinya sedang terlelap tidur.


"Tidak perlu takut, aku tidak akan datang ke sini jika tidak ada urusan denganmu," ucap Wiliam seperti mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh Jelita.


"Mau apa kau ke sini?" tanya wanita itu ketus.


"Makanlah," pinta Wiliam sekali lagi.


"Taruh saja di sana," balas Jelita menunjuk meja nakas, karena merasa sedang tidak berselera makan.


"Kau belum makan dari tadi, bahkan ini sudah hampir tengah malam," ucap Wiliam.


"Nanti aku makan," balas Jelita.


Wiliam menghela nafas dan melihat makanan diatas meja nakas yang sudah dibawakan oleh Bi Nina beberapa jam yang lalu. Namun makanan tersebut masih belum disentuh oleh Jelita sampai sekarang.


"Kau belum makan dari tadi, makanan yang tadi sudah dingin. Aku bawakan yang baru, sekarang cepatlah makan, biar aku yang menyuapimu," ucap Wiliam, dia mulai menyodorkan sendok berisi makanan ke mulut Jelita.


"Tidak mau," tolak Jelita mentah-mentah.

__ADS_1


"Kau sulit sekali untuk patuh, apa ingin dipaksa dulu baru mau menurut," balas Wiliam.


Seketika Jelita terdiam dan menunduk, dia mengingat sewaktu dirinya sedang sakit. Saat Michael juga menyuapinya secara paksa.


"Michael ..." lirih Jelita.


"Pergilah, jangan ganggu aku. Aku ingin tidur saja," pinta Jelita.


Wiliam menolak. "Aku tidak akan pergi sebelum melihatmu makan malam," ucapnya. "Buka mulutmu, atau kita akan terus berdua di dalam kamar ini sampai besok pagi," ucapnya lagi.


Jelita mendengus kesal, mau tidak mau akhirnya dia pun makan juga, agar pria itu lekas pergi dari hadapannya.


"Sudah cukup," tolak Jelita, dengan memalingkan wajah dan mendorong sendok agar menjauh darinya.


Wiliam mengangguk samar dan menaruh piring di atas nakas. Walau hanya dua suap nasi, setidaknya itu membuat hatinya merasa lega.


Lalu pria tampan itu segera menyodorkan air minum, sambil menatap Jelita yang masih saja tidak sudi memandang wajahnya.


"Terima kasih ..." ucap Jelita, lalu menenggak air minum dan memberikannya kembali kepada Wiliam.


Jelita menarik selimut dan menunjuk pintu kamar, bermaksud agar Wiliam keluar dari tempatnya berada. "Aku sudah makan, sekarang pergilah kau dari sini."


Wiliam menarik nafasnya lagi, begitu panjang sekali, merasa benar-benar harus mengalah demi mendapatkan hati gadis incarannya. Sepanjang sejarah dalam hidupnya, baru kali ini dia harus tunduk pada perintah gadis kecil.


"Dengarlah ini Jelita, kau jangan khawatir. Untuk masa depanmu, aku berjanji akan bertanggung jawab atas semua yang terjadi pada dirimu. Aku berjanji akan menanggung semua biaya hidupmu dan juga pengobatan ibu Maria."


"Aku akan menyekolahkanmu kembali sampai ke perguruan tinggi dan setelah kau lulus, kau bisa bekerja di perusahaan Wijaya Group sesuai jabatan yang kau mau," tutur Wiliam menjelaskan.


"Lalu?" tanya Jelita.


"Jika kau merasa sudah siap, maka aku akan menikahimu," balas Wiliam.


"Bagaimana kalau aku tidak ingin menikah denganmu?" tanya Jelita lagi.


"Aku akan menunggu sampai kau mau," balas Wiliam.


"Mengapa ... Mengapa kau ingin menikah denganku? Banyak wanita di dunia ini yang lebih cantik, bahkan lebih patuh daripada aku. Yang lebih seksi atau yang sesuai dengan keinginanmu," ucap Jelita penuh tanda tanya.


Wiliam menghela nafas, kemudian menggeser duduknya agar lebih mendekat ke arah Jelita. Dia menarik dagu Jelita agar mau menatap wajahnya.

__ADS_1


"Aku tidak tahu mengapa aku ingin menikahimu, mungkin karena kau tidak cukup menyukaiku. Jadi mendapatkan hatimu merupakan kepuasan bagiku," balas Wiliam.


"Jadi, setelah kau mendapatkan aku, kau akan merasa puas begitu? Lalu, apa setelah itu kau akan membuangku dan mencari wanita lain untuk kau incar kembali?" Jelita merasa kesal sekali, tidak habis pikir ternyata ada pria seperti itu di muka bumi ini.


Wiliam tersenyum. "Apa kau marah?" ucapnya merasa gemas.


"Untuk apa aku marah kepadamu, lagi pula kau bukan siapa-siapaku. Kau ingin apa pun terserah, mencari wanita atau bermain dengannya juga terserah. Asal yang terpenting bagiku, kau tidak boleh menyentuhku!"


Wiliam terkekeh. "Baiklah, Aku anggap kau sedang cemburu."


Jelita mencebik. "Apa cemburu! Otakku masih waras, untuk apa aku cemburu kepada pria sepertimu! Sekarang pergilah dari sini, sebelum aku melemparmu dengan sesuatu," ancamnya seraya mencari-cari sesuatu untuk dilempar.


Heh!


"Jelita ... Aku sudah pernah bilang sebelumnya kepadamu, kalau aku ingin menebus semua kesalahanku kepada keluargamu, karena kecelakaan belasan tahun lalu yang menimpah ayahmu. Setiap hari aku tidak bisa hidup tenang, bahkan aku selalu bermimpi buruk di setiap tidurku."


"Oleh karena itu aku telah memutuskan, setelah aku keluar dari penjara. Aku akan mencari keluarga yang pernah aku sakiti dan berusaha untuk bertanggung jawab sepenuhnya. Lalu ... Pencarianku akhirnya berakhir, karena aku telah menemukanmu, aku begitu bersyukur dan berharap agar bisa hidup dengan tenang kembali."


"Akan tetapi seiring berjalannya waktu, aku merasa ingin lebih dari itu. Maksudku ... Aku bukan hanya ingin menebus semua kesalahan yang telah ku perbuat kepadamu saja, tetapi aku juga ingin mempersuntingmu," jujur Wiliam.


"Kenapa kau ingin mempersuntingku?" tanya Jelita.


Wiliam tersenyum, dia menatap Jelita dan sedikit mendekatkan diri. "Karena aku ... Aku telah jatuh hati padamu," jawab jujur Wiliam.


Jelita terpaku dan mengerjapkan matanya berkali-kali, saat mendengar pengakuan Wiliam. Entah telinganya itu sedang bermasalah atau tidak, atau memang dia sedang kelelahan hingga berhalusinasi.


Akan tetapi dia melihat kedua netra Wiliam begitu menyiratkan sebuah pengakuan yang jujur.


"Apa jatuh hati?" gumam Jelita.


"Dengar ini Jelita, terserah kau mau percaya atau tidak kepadaku. Selama kau belum siap untuk menikah denganku, maka aku berjanji tidak akan menyentuhmu, walau itu sehelai rambut pun," ucap Wiliam penuh yakin.


"Benarkah?" tanya Jelita masih ragu.


"Benar ... Aku berjanji, asal kau patuh kepadaku. Maka aku akan selalu menepati janjiku," balas Wiliam meyakinkan.


"B-baiklah," ucap Jelita merasa lega mendengarnya.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2