
"Jason, berapa lama lagi rumah Jelita bisa di tempati?" tanya Nyonya Caca.
"Akhir bulan depan, mereka sudah bisa tempati rumah itu Bu," jawab Jason.
"Apa bisa di percepat?"
" .... " Jason terdiam, tidak biasanya dia melihat Ibu asuhnya itu merasa cemas.
"Jason, aku ingin awal atau pertengahan bulan depan, rumah itu sudah selesai," ucap Nyonya Caca.
"Baik Bu. Aku akan meminta Pak Selamet untuk mempercepat pembangunannya," balas Jason.
"Terima kasih sayang," ucap Nyonya Caca, dia kemudian menghela nafas dan terdiam seperti memikirkan sesuatu.
"Ibu ... Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" tanya Jason kemudian duduk mendekat Nyonya Caca.
Nyonya Caca menatap wajah Jason, anak asuh kebanggangannya itu. "Jason, ketakutan Ibu akhirnya terjadi."
"Apa yang sedang Ibu takuti?" tanya Jason.
"Tentang Miki ... Dia mulai menaruh hati pada Jelita, Miki ku telah jatuh cinta. Jason apa yang harus Ibu lakukan?" balas Nyonya Caca, dia memijat pelipisnya karena merasa pusing.
"Apa Ibu sudah menjelaskan tentang peraturan setiap anggota Yayasan kepada Mike?" tanya Jason.
Nyonya Caca menggeleng. "Belum Jason, Ibu belum menjelaskan kepadanya. Ibu tidak sanggup, bagaimana jika dia menolak untuk menerima kenyataan itu dan hatinya yang lembut menjadi terluka," balas Nyonya Caca.
Jason mengerti akan kekhawatiran Ibu asuhnya. Dia mengusap bahu Nyonya Caca dan berusaha menjelaskan dengan tenang.
"Ibu ... Kau harus segera menjelaskan kepadanya, jika tidak, maka Mike akan menaruh hati semakin dalam kepada Jelita dan itu akan lebih menyulitkan mu untuk memisahkan Mike dari Jelita. Ibu ... Kau juga harus tegas dan menerima apa pun hasilnya," tutur Jason menjelaskan.
Nyonya Caca mengangguk dan mengerti. "Kau benar Jason, aku harus menjelaskan kepada Miki agar dia mengerti. Aku juga harus menguatkan diri dan menerima apapun hasilnya."
"Bagus Ibu, aku akan menemanimu saat menjelaskan kepada Mike nanti, agar dia bisa mengerti," ucap Jason.
"Terima kasih Jason," balas Nyonya Caca.
"Sama-sama. Ibu, aku harus kembali bekerja. Sore nanti, aku akan kembali lagi ke sini." Jason kemudian berdiri dan keluar dari ruangan Nyonya Caca.
"Baiklah Jason, hati-hati." Nyonya Caca kemudian mengantar Jason sampai ke depan rumah.
***
__ADS_1
Nyonya Caca kembali ke dalam ruang kerja dan menatap foto almarhum ayahnya.
"Papa ... Yayasan kokoh yang telah berdiri sejak lama, cita-cita luhur keluarga kita. Apa yang telah dibangun dengan kerja keras dari semua orang dan berbagai pihak, bagaimana mungkin aku dapat menghancurkannya begitu saja hanya karena perasaan pribadi semata."
"Bagaimana nasib anak asuh ku dan juga semua orang-orang membutuhkan yang berada didalamnya, jika yayasan ini runtuh. Tapi bagaimana dengan Miki ku, apa dia akan mengerti, hatinya pasti akan terluka. Disaat dia telah menemukan cinta, aku malah menghancurkan hatinya."
Nyonya Caca menangis, Michael putranya bagaikan jantung hati dan Yayasan merupakan urat nadinya. Kedua hal itu sangat berarti bagi dirinya, sebuah identitas keluarga besar Djuanda dan juga Chandra Putra.
Dimana Michael sebagai penerus perusahaan Chandra Putra dan yayasan sebagai tonggak kebesarannya. Apa yang akan terjadi jika salah satunya mulai goyah, maka itu akan berimbas pada semuanya.
……………………………………………………………………………
Pada sore harinya.
Nyonya Caca, Jason dan juga Michael sedang berkumpul di dalam satu ruangan.
"Mamy, peraturan b*doh apa yang kamu maksud itu?" Michael mulai mengeraskan rahangnya.
Nyonya Caca mulai cemas saat melihat perubahan Michael. "Miki ... Peraturan itu memang sudah ada sejak lama, semenjak Yayasan ini berdiri dan peraturan tersebut tidak dapat di hapus dengan mudah."
"Benar yang dikatakan oleh Ibu Mike, peraturan setiap anggota yang tidak mengijinkan anak asuh mengikat hubungan dengan anak sendiri. Karena jika hal itu sampai terjadi, maka akan timbul kecemburuan sosial dimana-mana. Kecemburuan sesama anak asuh atau kecemburuan sesama para anggota yayasan dan jika kecemburuan itu sampai terjadi, maka akan timbul kegaduhan di dalam tubuh Yayasan itu sendiri."
"Mereka para anggota inti yang telah susah payah membangun dan juga membentuk yayasan ini akan pergi meninggalkan yayasan, karena muncul rasa kekecewaan hingga hilangnya rasa kepercayaan."
"Jadi ... Apa aku tidak bisa berhubungan dengan salah anak asuhmu Mamy?" tanya Michael seperti patah semangat.
Nyonya Caca mengangguk. "Benar Miki."
"Lalu bagaimana jika aku sudah terlanjur mencintai salah satu anak asuhmu?" Michael menatap wajah Ibunya.
Nyonya Caca tersentak haru dan menatap sendu wajah putranya yang berubah layu. Tapi dia harus berusaha tegas dalam mengambil keputusan.
"Maka Mamy harus memisahkan mu," tegas Nyonya Caca.
Seperti ada petir yang menyambar, begitu pula dengan hati Michael saat mendengar ucapan sang Mamy. Michael tersenyum getir berusaha menutupi hatinya yang hancur.
Michael meremas kuat kain celananya dan mengeratkan rahangnya lebih erat. Michael menatap kosong sembarang tempat lalu tertawa seperti hilang akal.
"Benar-benar tidak masuk akal sekali." Michael meracau.
Dia menutup mata dengan satu tangan lalu meraup kasar wajahnya yang terlihat memerah. Kemudian tanpa banyak kata Michael keluar dari ruangan itu dan membanting pintu dengan kuat hingga mengejutkan keduanya.
__ADS_1
"Brak!"
Nyonya Caca terdiam, hingga dirinya hilang keseimbangan lalu terjatuh dan bertumpu pada kedua kakinya yang terlipat. Dia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, air matanya itu mulai mengucur deras dengan hati yang terus bergejolak.
"Miki ... Maafkan Mamy," ucap nya lirih.
Jason yang kala itu tengah terduduk, segera bersimpuh ke bawah, menahan tubuh Ibu asuhnya agar tidak jatuh tersungkur ke lantai.
"Ibu, jangan menangis. Jika hati Ibu tidak kuat menghadapi ini semua, bagaimana Ibu bisa menguatkan hati Mike yang sedang terluka." Jason membantu Nyonya Caca untuk berdiri dan membawanya duduk diatas sofa.
Nyonya Caca terisak. "Jason, tolong jaga Miki ku, kejar dia."
Jason mengangguk patuh dan mengerti dengan keinginan Ibu asuhnya. "Baik Ibu, tenangkan dulu dirimu disini. Aku akan menyusul Mike dan bicara dengannya."
Jason meminta kepada Bi Sari untuk menjaga Nyonya Caca, lalu mengejar Michael yang menghilang entah kemana.
***
Sementara itu, Michael menemukan Jelita yang sedang menyiram tanaman di sebuah taman. Dia berjalan tergesa menghampiri Jelita dan memeluknya dari belakang tanpa ragu.
Jelita pun terkejut dan berusaha melepaskan pelukan Michael dengan segera.
"Michael apa-apaan ini, cepat lepaskan aku!" bentak Jelita, namun Michael tidak peduli, dia malah mempererat pelukannya itu.
"Tolong, sebentar saja, biarkan aku memelukmu," ucap Michael terdengar lirih.
"Michael ada apa ini?" tanya Jelita dia berusaha menoleh kebelakang, namun Michael membenamkan wajahnya pada ceruk leher Jelita.
"K-kau ingin apa?" Jelita terbata dan bergetar, tapi dia membiarkan hal tersebut saat mendengar suara isakan Michael yang terasa di telinganya.
Dia ... Dia menangis!
Jelita terdiam dan membiarkan Michael memeluknya dari belakang, entah mengapa hatinya ikut terluka saat mendengar tangisan pria dibelakangnya.
Hingga kedua tangannya itu tidak sanggup mengurai pelukan yang semakin terasa sesak didadanya.
Michael ada apa denganmu?
.
.
__ADS_1
Bersambung.