Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 149. Perasaan tidak tega.


__ADS_3

Perusahaan Wijaya Group.


Aura mencekam terasa begitu kental di dalam ruangan Wiliam, pasalnya dia mendapat kabar jika putranya ingin di culik saat acara satu bulanan baby Michael.


Akan tetapi emosinya mereda saat mengetahui jika anak buahnya berhasil menggagalkan aksi buruk nyonya Berta dan pelaku kejahatan telah mendapatkan hukuman yang setimpal.


Belum lama emosinya mereda, Riko kembali membuat Wiliam merasa kesal. Karena sang asistennya itu terlambat kembali ke kantor untuk memberikan laporan kepada dirinya serta sulit sekali dihubungi, sehingga Wiliam terlambat pulang ke rumah.


Merasa gemas dengan sang asisten, Wiliam mematahkan habis semua pulpennya yang berada di dalam laci meja. Lalu menatap tajam Riko yang baru saja tiba di dalam ruangannya.


Wiliam berkacak pinggang. "Katakan padaku kau habis dari mana?" tanyanya kesal.


"Maaf Wil, kebetulan aku habis menolong seseorang saat jalan pulang tadi." Riko berkata apa adanya sembari menyerahkan berkas kepada Wiliam.


Wiliam mengambil kasar berkas dari tangan Riko. "Apa kau tahu, kejadian di rumahku tadi siang hem?" tanyanya.


Riko menggeleng. "Tidak tahu," jawabnya.


"Ada yang mencoba mencelakai putraku, beruntung aku masih menaruh petarung terlatih kita untuk berjaga di sekitar rumah. Jika tidak, mungkin aku tidak akan bisa melihat putraku lagi."


"Kau juga terlambat kembali ke kantor, aku jadi tidak bisa pulang cepat ke rumah untuk melihat kondisi keluargaku sekarang," balas Wiliam sembari membaca dan mengerjakan berkas untuk di kirim kepada Opa.


"Maaf Wil, tapi kondisinya tadi benar-benar genting. Aku melihat sekumpulan pria ingin melecehkan Floren, karena merasa kasihan aku membantunya sejenak," balas Riko.


Wiliam menatap tajam Riko. "Apa kau tahu siapa pelaku kejahatan yang ingin mencelakai putraku?" tanyanya kesal.


Riko menggeleng. "Aku tidak tahu," balasnya.


"Dia nyonya Berta, ibu dari putri yang kau selamatkan hari ini!" balasnya mengertak.


Riko sempat terkejut, namun itu tidak menyurutkan dirinya untuk membela diri.


"Wil, maaf tidak tahu akan hal itu dan maaf karena diriku kau juga terlambat pulang ke rumah. Tapi apa yang ku lakukan hari ini adalah mengikuti apa yang menurutku benar, yaitu menolong orang yang sedang kesusahan."


Wiliam tidak menghiraukan pembelaan tersebut, karena menurutnya perilaku Riko adalah salah dan dia tidak akan memaafkan kejadian hari ini begitu saja.


Setelah puas menceramahi Riko, Wiliam memberikan berkas itu kepada Riko dan memintanya agar mengantarkan langsung kepada Opa Wijaya.


"Antarkan ini segera ke rumah Opa dan pastikan kau antar berkas penting ini tepat pada waktunya. Aku juga berharap kau tidak pergi melenceng ke tempat lain, karena aku tidak ingin kejadian seperti tadi terjadi lagi!" tegas Wiliam.


Riko mengangguk patuh dan mengerti. "Baiklah," balasnya.


"Ya sudah cepat pergilah, aku harus pulang ke rumah sekarang," ucap Wiliam sembari merapihkan meja dan tas kerjanya.


Tak berapa lama kemudian, Floren baru saja sampai di perusahaan Wijaya Group. Gadis cantik itu nampak terengah-engah dan segera menghadap ke resepsionis kantor sebelum terlambat.


"Maaf Mba, apa Wiliam sudah pulang?" tanya Floren.


"Belum," balasnya.


"Bisa kah kau menolongku untuk bertemu dengan Wiliam sebentar saja," pinta Floren mengiba.

__ADS_1


"Baik, tunggu sebentar saya hubungi beliau dulu ya." Balas si resepsionis.


"Terima kasih," ucap Floren.


"Sama-sama."


Floren menunggu dengan sabar sambil memandangi sekeliling, tidak disangka dia menjadi tamu di perusahaan Wiliam ini.


Dia tersenyum kecut, tapi apalah daya kini ia telah kehilangan semuanya dan Floren harus berlapang dada karena yang terpenting sekarang adalah memikirkan kesehatan kedua orang tuanya yang berada di rumah sakit.


...***...


Tak berapa lama kemudian Wiliam mengijinkan Floren untuk bertemu dengannya sebelum ia pulang, pria tampan itu terlihat tidak perduli dengan penampilan Floren yang sudah lusuh dan kotor.


"Cepat katakan kau ingin apa, karena aku sedang terburu-buru pulang ke rumah. Aku harus melihat kondisi keluarga kecil ku yang tiba-tiba diserang oleh orang tidak bertanggung jawab," sindir Wiliam.


Floren menelan ludahnya susah payah, ingin meminta tolong pun rasanya begitu susah sekali. Apalagi dia mengetahui jika ibunya sendiri telah berlaku jahat kepada anaknya Wiliam.


"Maaf, tapi Wiliam. Kau saudara ku satu-satunya yang ku punya, aku hanya ingin kau membantuku sekali ini saja agar membebaskan Mami dari rumah sakit jiwa. Aku juga minta tolong padamu untuk membantu membiayai pengobatan papiku di rumah sakit," balasnya terisak.


Wiliam berdecih. "Keluargamu telah banyak menyusahkan semua orang, bahkan telah tega menyakiti keluargaku. Aku sudah berbaik hati membiarkan dia hidup cukup lama dan sudi membiayai pendidikanmu serta mencukupi semua kebutuhan kalian sehari-hari. Saat aku tahu hari ini keluargamu kembali berulah, rasanya aku tidak ingin membantu kalian lagi."


Wiliam menatap Floren. "Jadi Flo, maaf aku sudah tidak bisa membantumu lagi." Pria tegas itu segera keluar dari ruangannya dan tidak peduli dengan Floren yang menangis tersedu-sedu.


Dan hal tersebut tertangkap mata oleh Riko, ia menatap sikap dingin Wiliam dari kejauhan lalu berganti menatap Floren yang masih tersungkur dilantai sembari menangis terisak.


Entah mengapa dia merasa iba kepada gadis yang pernah jahat kepada semua orang sebelumnya, seperti ada yang salah dengan semua yang dia lihat sekarang ini.


Riko menghela nafas panjang dan tanpa terasa nalurinya menuntun ia agar terus mendekat ke arah Floren. Ada perasaan tidak tega melihat wanita menangis hingga begitu sesaknya.


Pria itu lalu berjongkok dan mengusap bahu Floren yang masih menangis. "Sudahlah jangan bersedih, bagaimana kalau aku yang menolongmu. Walau aku tidak bisa membantu banyak, setidaknya aku bisa mengantarmu ke rumah sakit."


Floren perlahan menghentikan tangisannya dan menatap Riko yang menatap dirinya juga. "Kau ingin membantuku?" tanyanya.


Riko mengangguk. "Benar, aku akan membantumu. Sekarang berdirilah, kita harus bergegas."


Floren mengangguk. "Terima kasih," ucapnya terharu.


Riko menyempatkan diri mengantar Floren ke rumah sakit jiwa, tempat dimana nyonya Berta dirawat. Serta mengantar gadis itu ke rumah sakit umum untuk melihat kondisi tuan Wijaksana yang tiba-tiba drop saat mengetahui istrinya telah berubah menjadi orang gila.


Sepanjang perjalanan Riko sedikit gelisah, karena dia harus mengantar sebuah berkas terlebih dahulu. Oleh karena itu dia meminta Floren agar menemaninya ke rumah Opa Wijaya.


"Flo, aku hari mengantar berkas terlebih dahulu, baru mengantarmu ke rumah sakit. Boleh kan?" tanyanya


Floren mengangguk. "Tidak apa, lagi pula rumah sakitnya tidak jauh dari rumah Opa," balasnya.


Riko tersenyum. "Aku berjanji akan mengantar berkas ini dengan cepat, setelah itu aku akan menemanimu di rumah sakit."


Floren tersenyum. "Baiklah," balasnya.


Dia tidak menyangka, jika dikehidupannya yang menyedihkan ini, ternyata masih ada pria yang masih sudi membantunya. Sehingga wanita itu kembali menangis dan hanya bisa berterima kasih kepada Riko.

__ADS_1


...----------------...


Mansion Wiliam.


Sesampainya di rumah, Wiliam bergegas menemui Jelita dan putranya. Pria itu segera memeluk istrinya yang sedang mengayun baby Michael, lalu meminta maaf berkali-kali.


"Sayang, maaf aku terlambat pulang dan karena itu kau dan bayi kita jadi sasaran orang jahat," ucapnya lalu mencium sang putra.


Jelita tersenyum. "Tidak apa sayang, semua sudah berakhir. Nyonya Berta juga sudah mendapatkan hukumannya."


Wiliam mengeratkan pelukannya. "Ini semua salahku, jika saja aku tidak menghancurkan perusahaan Wijaksana. Mungkin dia tidak akan melakukan hal nekad seperti ini pada putra kita."


"Sudahlah membahas masalah itu lagi dan kau jangan merasa bersalah seperti itu sayang. Seperti yang kau lihat sekarang ini, aku dan anakmu baik-baik saja kan? Sekarang lebih baik kau mandi, setelah itu makan ya."


Wiliam mengurai pelukannya, lalu menatap wajah sang istri yang tidak pernah berubah. "Aku ingin kau menyuapiku makan ya," pintanya.


Jelita berdecak. "Kau ini, kenapa semenjak kita punya anak kau malah berubah menjadi manja seperti ini," ucapnya tak habis pikir.


Wiliam tersenyum. "Apa salahnya manja sama istri sendiri hem? Kau selalu saja sibuk mengurus bayi dan waktumu untukku begitu sedikit sekali. Terkadang aku tidak kebagian waktu bersamamu saat malam, kau selalu saja pindah dan tidur di atas sofa."


"Sayang, itulah resikonya kalau pasangan suami istri jika sudah mempunyai bayi. Kau tidak akan bisa menghabiskan waktu berduaan denganku seperti dulu lagi," jawabnya.


Wiliam mencebik. "Ini semua salahmu sayang, sudah pernah ku katakan padamu sebelumnya untuk menyewa baby sitter saja, tapi kau malah menolak permintaanku terus dan sekarang kau lihatlah aku. Aku seperti pria kesepian dan tidak terurus," keluhnya sembari menunjukkan penampilannya yang sudah kucel.


Jelita tersenyum. "Aku tidak ingin baby sitter, karena aku bisa mengurus anakku sendiri dan menurutku kau semakin tampan saja," pujinya.


Wiliam tersenyum. "Benarkah?" tanyanya polos dan Jelita mengangguk. "Sudah pasti karena kau kan suamiku," balasnya menyenangkan hati Wiliam.


Mendengar pujian dari istrinya, Wiliam lantas menyambar pinggang Jelita lalu merangkulnya untuk mengikis jarak. Hot daddy itu melayangkan sebuah ciuman untuk sang istri dan tidak luoa neserta kegiatan embel-embel lainnya.


"Sayang, mumpung dia masih tidur. Bagaimana kalau kita bermain," bujuk maut Wiliam keluar lagi.


Jelita menggeleng. "Tidak mau tahan lah dua bulan lagi," balasnya sambil menahan Wiliam yang terus saja menyosor.


"Kau kejam sekali, aku sudah puasa selama ini dan sudah tidak tahan ingin sekali menggempurmu habis-habisan." rengek Wiliam.


Jelita memutar bola matanya lelah. "Kan bisa pakai tangan," balasnya.


Wiliam menggeleng. "Aku tidak mau pakai tangan."


"Lalu?" tanya Jelita.


Wiliam tersenyum. "Aku ingin pakai ini," balasnya seraya mengusap-usap bibir sensual Jelita dengan ibu jarinya.


.


.


Bersambung.


...----------------...

__ADS_1


Next \=> bab selanjutnya akan ada yang tebar undangan. Siapakah itu?


__ADS_2