
Sesampainya di perusahaan pusat Wijaya Group, Tuan Wijaksana langsung memasuki gedung kokoh nan menjulang tinggi ke atas dihadapannya itu.
Dia segera menaiki lift kemudian menekan angka untuk menuju tempat kerja milik sang ayah dilantai teratas gedung tersebut dan setelah sampai ditempat tujuan, Tuan Wijaksana meminta ijin untuk masuk ke dalam ruang kerja ayah tirinya.
Di dalam ruangan itu, Tuan Wijaksana mengedarkan pandangannya ke segala arah untuk mencari seseorang.
"Sedang mencari siapa dan mau apa kau datang kesini, apa ada urusan penting?" tanya Opa Wijaya lalu memutar balik kursinya.
"Papa, dimana William?" tanya Tuan Wijaksana to the point.
"Dia sudah pergi," balas Opa Wijaya.
Tuan Wijaksana menghela nafas kemudian duduk dihadapan Ayah tirinya untuk mendiskusikan sesuatu.
"Papa, ku dengar jika William mau meneruskan perusahaan ini dan kau malah menyetujuinya. Kenapa Papa tidak menanyakan terlebih dahulu kepadaku?" Tuan Wijaksana mulai kesal.
Opa Wijaya berdecih. "Heh! Kau ini siapa, berani meragukan keputusanku," balasnya ketus.
Tuan Wijaksana mengebrak meja dengan kencang dan berdiri segera, dia menatap pria tua dihadapannya itu dengan wajah tidak suka.
Sementara itu, Opa Wijaya menatap anak tirinya tidak kalah serius. Tertanda dirinya tidak takut dengan gertakan apapun dari Tuan Wijaksana.
Opa Wijaya menghela nafas dan menurunkan wajahnya, berhenti menatap anak tirinya yanh sedang kesal.
"Duduklah!" titah Opa Wijaya kepada Tuan Wijaksana.
Pria paruh baya itu pun menurut, walau dirinya sedikit emosi dengan orang tua dihadapannya.
"Wijaksana, aku memberikan keputusan untuk memberikan perusahaan ini kepada William cucuku, karena menurutku dia memang pantas mendapatkannya," ucap Opa Wijaya.
Tuan Wijaksana menautkan kedua alis merasa heran dengan keputusan sang ayah, yang dinilai secara tiba-tiba. "Tapi mengapa kau tidak menanyakan dahulu kepadaku Papa, bukankah kau sudah setuju dengan permintaanku untuk meneruskan perusahaan keluarga kita ini."
"Tadinya aku setuju, karena William tidak ingin meneruskan perusahaan ini. Tapi karena dia merubah keputusannya, maka aku juga harus merubah keputusanku," balas Opa Wijaya menanggapi santai penolakan anak tirinya.
"Tapi Papa, bagaimana bisa dia menjalankan perusahaan besar ini diusianya yang masih sangat muda. Dia juga tidak punya pengalaman menjalankan bisnis dan tidak mempunyai wibawa sebagai seorang pemimpin," ucap Tuan Wijaksana.
__ADS_1
"Kau tidak perlu mencemaskan hal itu Wijaksana, karena selama aku masih hidup, perusahaan ini sepenuhnya masih menjadi tanggung jawabku. WIlliam akan berada dibawah pengawasanku, dia akan ku jadikan seorang pengusaha sukses dan aku yakin dia bisa memimpin perusahaan ini dengan baik," balas Opa Wijaya.
Tuan Wijaksana berdengus kesal, tapi dia masih berusaha meyakinkan ayah tirinya. Jika William tidak pantas menjalankan perusahaan Wijaya Group.
"Oke lah Papa William bisa menjalankan bisnis perusahaan ini, tapi Papa... Apa dia pantas menjadi seorang pemimpin? Dia punya catatan buruk di kepolisian dan juga penampilannya yang begitu sesuka hati, belum lagi dengan kebiasaannya yang suka memainkan wanita diluaran sana. Jika dia menjadi pemimpin perusahaan ini, maka secara langsung itu bisa menjatuhkan harkat dan martabat perusahaan ini Papa. Coba lah pertimbangkan hal itu sekali lagi. Pah," ucap Tuan Wijaksana menjelaskan kembali.
"Aku tidak peduli dengan itu Wijaksana, yang pasti aku akan mendukung William hingga anak itu sukses. Karena itu sudah menjadi tanggung jawabku untuk mendukung setiap keputusannya, dia juga berhak mendapatkan apa yang sudah menjadi hak nya sebagai cucu dari keluarga besar Wijaya," balas Opa Wijaya.
Dia menarik nafas dalam-dalam dan melanjutkan kembali perkataannya.
"Dan mengenai catatan buruk dirinya di kepolisian maupun di masyarakat umum, menurutku itu hanyalah asumsi orang-orang iseng saja. Karena yang sebenarnya ialah, cucu ku itu adalah pemuda yang baik. Entah siluman licik jenis apa yang telah membuatnya menjadi seperti itu, hingga dia jatuh terjerumus ke dalam lembah sesat dan terpuruk dalam kesendiriannya menuju kehancuran," ucap Opa Wijaya sambil menatap sinis anak tirinya.
Tuan Wijaksana pun mendelik dan memalingkan wajahnya, lalu dia mengalihkan pembicaraan. "Papa, terserah kau mau bilang apa, yang jelas apapun alasannya. William tidak pantas memimpin perusahaan ini."
Opa Wijaya berdecih, kemudian berdiri dan berjalan menuju foto keluarga besar pada dinding ruang kerjanya. Dia memandangi sejenak anak kandungnya dan menghela nafas.
"Jika putraku masih hidup, sudah pasti dialah yang sedang memimpin di perusahaan ini. Karena sejatinya dialah putra kandung ku yang tertua dan satu-satunya. Kemudian semenjak dia tiada karena kecelakaan, maka Williamlah yang seharusnya memegang tanggung jawab ini karena dia berhak mendapatkan itu semua."
Opa Wijaya memutar tubuh dan menghadap putra tirinya. "Dan bukanlah orang lain," ucapnya melanjutkan.
"Kau terlalu berambisi Wijaksana dan aku tahu apa maksudmu menginginkan perusahaan ini. Itu adalah karena kau ingin mengalahkan perusahaan Chandra Putra. Ketahuilah ini Wijaksana, aku dan Heru ayahnya Nael adalah kawan baik. Di tambah ayah dari menantunya itu, Djuanda, semasa hidupnya dulu, dia juga telah banyak membantu perusahaan kita ini."
"Maka dari itu Wijaksana, aku tidak akan membiarkan kedua perusahaan besar ini saling bermusuhan atau saling menghancurkan, hanya karena menuruti ambisimu seorang, yang ingin menjadi orang nomor 1 di negeri ini dan mendapatkan gelar paling terhormat," ucap Opa Wijaya sambil menunjuk-nunjuk dada Tuan Wijaksana yang terdiam.
"Aku sudah berbaik hati dengan memberikan hak untukmu sesuai janjiku kepada ibumu. Jadi Wijaksana, urusi saja perusahaan yang telah kuberikan kepadamu," ucap Opa Wijaya menimpali, kemudian duduk dikursinya semula.
"Tapi Papa ___" Tuan Wijaksana terdiam, ketika Opa Wijaya menunjukkan tanda berhenti.
"Sudah cukup, kembalilah ke perusahaanmu sekarang juga karena aku masih banyak pekerjaan," ucap Opa Wijaya kemudian meminta asisten pribadinya untuk mengantar Tuan Wijaksana keluar dari ruang kerjanya.
Sementara itu Tuan Wijaksana menghentak jasnya kemudian berbalik dan menepis tangan asisten pribadi Opa Wijaya.
"Aku bisa keluar sendiri," jawabnya angkuh lalu menatap sejenak ayah tirinya itu sebelum dirinya melangkahkan kaki keluar pintu. Kemudian dia segera menghilang dari pandangan Opa Wijaya sambil berdecak kesal.
...----------------...
__ADS_1
Mansion Chandra Putra.
Keesokan harinya, Michael sedang mondar mandir di depan rumah tepatnya pintu gerbang utama Mansion itu. Dia mengintip seorang gadis yang sedang menunggu kendaraan umum dari kejauhan.
"Anterin ... Jangan ... Anterin ... Jangan ...."
Begitulah kira-kira perdebatan yang terjadi di dalam dirinya, mengingat bahwa dia sedang bermusuhan dengan Jelita.
Alih-alih ingin menunjukkan harga diri sebagai pria sejati dengan embel-embel telah berjanji kepada diri sendiri, untuk cool dan jutek kepada gadis yang telah menolak cintanya.
Untuk tidak peduli pada gadis itu lagi, sumpah serapah dan lain sebagainya. Namun nyatanya pria ini harus menjilat ludahnya sendiri ketika gadis manis nan cantik itu sedang menunggu sebuah kendaraan umum.
"Cih! Bagaimana bisa aku membiarkan dia naik angkot sendirian dalam kondisi mempesona seperti itu," ucap nya lalu berjalan secepat mungkin untuk mencegah Jelita naik kendaraan umum sebelum dirinya terlambat.
Akan tetapi sebelum dirinya berhasil menghampiri Jelita, Michael dibuat cemas saat sebuah mobil mewah berwarna hitam mengkilap, melaju begitu cepat dan berhenti tepat di depan gadis itu.
Dengan segera Michael berlari, karena merasa ada yang tidak beres saat melihat seseorang memaksa Jelita untuk masuk ke dalam mobil.
"Jelita!" pekik Michael, saat orang tersebut berhasil membawa Jelita masuk ke dalam mobil.
Kendaraan itu kemudian melaju begitu kencang dan melewati Michael begitu saja.
"Siall!! Aku terlambat!"
Tanpa banyak pikir Michael berbalik menuju mobilnya dan meminta sang supir untuk segera mengikuti kemana mobil yang sedang membawa Jelita itu pergi.
Pikirannya yang cemas dan juga pandangannya yang selalu mengikuti arah laju mobil dihadapannya itu, membuat dia lupa menghubungi seseorang atau keluarganya sendiri.
"Siapa orang itu, dan mengapa dia membawa paksa Jelita?"Michael pun bertanya-tanya dan kesal sambil menyalahkan diri sendiri.
"Ck! Ini semua salahku, harusnya aku tidak terlalu lama mengambil keputusan. Oh Jelita, semoga saja tidak terjadi hal buruk kepadamu," gumam Michael.
.
.
__ADS_1
Bersambung.