
Keesokan harinya.
Jelita menunggu jemputan yang telah dijanjikan oleh nyonya Caca sebelumnya dan selama menunggu jemputan itu datang, dia menyempatkan diri untuk berpamitan kepada semua orang termasuk keluarga Pak Budi.
"Pak Budi ... Bi Sumi ... Terima kasih, karena sudah mau membantu Jelita menjaga dan merawat Ibu. Terima kasih juga karena kalian selalu ada disaat Jelita butuh bantuan."
"Maaf, karena Jelita selama ini cuma bisa merepotkan Bapak dan juga Bibi. Jelita juga tidak bisa membalas kebaikan kalian dengan sesuatu, hanya bisa mengucapkan terima kasih dan permohonan maaf," ucap Jelita.
"Tidak apa Nak, jangan sungkan. Bapak selama ini membantu kamu dengan ikhlas. Tidak mau apa-apa sebagai imbalan karena Bapak sudah menganggap kamu dan ibumu sebagai keluarga sendiri. Jadi jangan berkata seperti itu apalagi meminta maaf kepada keluarga Bapak," balas Pak Budi.
Bi Sumi menangkup satu sisi wajah Jelita. "Benar Jelita, tidak usah terlalu dipikirkan, lagipula kalian berpisah dengan kami hanya sementara waktu sampai rumah ini selesai di perbaiki. Ya kan," ucap Bi Sumi menimpali.
Jelita menangguk. "Iya hanya sementara, sampai rumah ini selesai di perbaiki, maka Jelita akan kembali tinggal disini."
"Nggak usah balik juga nggak apa-apa!" ucap Mba Ayu setengah mengeraskan suaranya dengan tiba-tiba, hingga semua pandangan pun serempak tertuju kepadanya.
"Ayu!" pekik Pak Budi dan Bi Sumi bersamaan dan menatap anaknya tidak suka.
Ayu berjalan menghampiri semua orang. "Iya, lebih baik dia tidak usah kembali, karena kalo dia kembali cuma bisa nyusahin orang saja. Jika dia kembali, sudah pasti akan menitipkan kembali Ibunya kepada kita, sementara dia enak-enakan di luar sana!" ucap Ayu menatap Ayah dan Ibunya sambil menunjuk Jelita.
"Ayu jaga bicaramu!" pekik Bi Sumi dengan kedua mata yang membola sempurna.
"Ayu ... jangan bicara seperti itu Nak, Jelita sudah seperti adikmu sendiri. Kenapa kamu tidak suka sama keluarga Jelita, memang apa salah dia sama kamu," ucap Pak Budi menenangkan istrinya yang mulai marah.
"Ayu tidak suka, karena Bapak dan Ibu hanya peduli sama Jelita, nggak peduli sama Ayu. Ayu minta uang untuk beli ini dan itu saja tidak boleh. Ayu juga butuh pergi main sama teman-teman Pak, pengen bisa seperti teman-teman Ayu. Mereka semua bisa beli barang yang mereka suka, ini malah Jelita yang bukan anak Bapak, dikasih terus kalau minta sesuatu."
"Ayu ... Bapak kasih sesuatu sama Jelita karena ada alasannya, lagi pula Jelita tidak pernah meminta apapun kepada Bapak dan Ibu. Kalau pun ada, dia hanya meminjam dan selalu mengembalikannya!" balas Pak Budi berusaha menjelaskan kepada putrinya.
"Omong kosong, Ayu tidak percaya!" ucap Ayu tak terima dengan penjelasan orang tuanya, dia lalu masuk ke dalam rumah sambil menutup pintu dengan keras.
Jelita tertunduk menyadari jika dirinya memang sering merepotkan keluarga itu, namun dia tidak pernah sekalipun menyalahkan Ayu yang sering memarahi dirinya. Karena Jelita berpikir memang Ayu berkata benar.
"Jelita ... Maafkan Mbak Ayu, Bibi juga tidak mengerti mengapa dia tidak menyukaimu. Bibi harap kamu tidak marah ya sayang," ucap Bi Sumi sambil merangkapkan kedua tangannya.
Jelita dengan segera menggeleng dan meraih tangan Bi Sumi agar tidak melakukan hal seperti itu kepada dirinya.
__ADS_1
"Jangan meminta maaf Bibi, Mba Ayu tidak salah. Jelita yang salah, karena selalu merepotkan keluarga Bibi," balas Jelita.
Pak Budi menarik nafas dalam-dalam, merasa kesal dengan putrinya. "Ayu itu sifatnya terlalu kekanak-kanakkan, dipikirannya hanya ada bermain dan bermain dengan teman-temannya, jalan-jalan terus. Tidak pernah berpikir sekalipun untuk mencari pekerjaan setelah lulus sekolah, setidaknya untuk dirinya sendiri dia hanya bisa meminta," ucap Pak Budi.
***
Tak berapa lama kemudian, dua orang pria telah sampai di depan gang rumah Jelita. Kedua orang itu berjalan masuk ke dalam gang sambil tersenyum ramah dan bersikap hangat kepada semua orang yang mereka lalui.
Gaya seorang pria berpakain sangat rapi dan juga berwibawa, membuat ibu-ibu yang masih sibuk dengan pekerjaan rumah mereka, mendadak keluar rumah. Menyempatkan diri hanya untuk sekedar melihat Pria muda tampan yang baru saja lewat di kawasan mereka.
"Siapa itu!" ucap seorang ibu-ibu berbaju daster dengan masih memegang centong nasi di tangannya, sambil menghentakkan wajah berkali-kali ke arah teman sebayanya.
"Tidak tahu," balas tetangga sebelah rumahnya yang berpakaian sama sambil menggeleng dan mengangkat bahu, terlihat juga tangan si ibu itu yang masih penuh dengan busa sabun cuci piring.
***
Seorang pria dengan perawakan tinggi tegap, berahang tegas dan sedikit berkumis serta berjanggut tipis mengulurkan tangannya ke arah Jelita.
"Permisi ... Selamat pagi, kamu pasti Jelita ya?" tanya Pria berusia kira-kira 28 tahun, bernama Jason sambil mengulurkan tangan kanannya.
"Perkenalkan nama saya Jason seorang arsitek dan ini Pak Selamet yang akan merenovasi rumah kamu sesuai perintah dari Nyonya Caca," ucap Jason menjelaskan.
"Saya Pak Selamet" ucap Pria paruh baya berbadan tinggi sedikit tambun mengenalkan diri.
Jelita mengangguk pelan dan mengulum senyum, "Saya Jelita."
"Jelita ... Sebelum kita berangkat, apa boleh kami melihat sebentar ke dalam rumahmu, hanya untuk melihat kondisi asli rumah ini?" tanya Jason penuh dengan sopan santun.
"Silahkan," balas Jelita lalu membiarkan kedua pria itu masuk ke dalam rumah.
Mereka berdua menatapi sekeliling, bagaimana kondisi rumah jelita sambil mendiskusikan sesuatu. Kadang menunjuk dan terkadang mencatat. Mereka berdua terlihat serius membahas rumah Jelita yang akan direnovasi.
…………………………………………………………………………
Di Kampus.
__ADS_1
Michael menatap keluar jendela, semenjak pagi saat dirinya menginjakkan kaki ke dalam lingkungan kampus, dia merasa seperti kehilangan sesuatu hingga hatinya terasa hampa.
"Biasanya dia jam segini sedang menyapu halaman," gumam Michael lalu menghela nafas panjang.
Obrolan mengenai Jelita yang telah berhenti bekerja juga merebak kemana-mana dan menjadi berbincangan siswi di dalam kelasnya Michael.
"Si Jelek itu akhirnya menyerah juga," ucap Sandra memulai perbincangan.
"Iya ... Orang yang membuat dia berhenti bekerja itu sungguh hebat," balas Mika.
"Benar, harusnya Mike berterima kasih kepada orang yang berhasil membuat si Jelek itu pergi, setidaknya jadiin dia pacar kalau perempuan," ucap Nadia tertawa sinis sambil melirik Floren.
Mereka bertiga tertawa, menyindir Floren yang tidak berhasil mengusir Jelita tapi selalu memaksa Michael untuk menjadikannya seorang pacar.
Floren memutar bola mata dan menghembuskan nafasnya kasar, dia berusaha tidak mengubris perkataan siswi tersebut, tapi bukan Floren namanya jika wanita cantik itu mengalah begitu saja.
Floren tersenyum sinis dan menatapi siswi itu satu-persatu. Dia pun memancing emosi siswi itu dengan cara yang lain.
"Kenapa ... Apa kalian semua iri denganku karena aku sudah mendapat restu dari Mamynya Mike? Ingat ya kalian semua, mau si Jelek itu ada atau tidak, Mike tetaplah punyaku. Buktinya sekarang aku dan dia sudah dijodohkan oleh keluarganya," ucap Floren.
"Heh sombong, padahal Mike sendiri tidak menyukaimu, masih saja tidak tahu malu!" balas Sandra.
Floren berdecak kesal. "Kalian yang tidak tahu malu, dia sudah menjadi jodohku tapi masih saja ingin mengejarnya!"
"Apa salahnya, dia masih bisa memilih wanita yang layak!" ucap Mika menjadi sengit.
"Hanya aku yang layak!" bentak Floren.
Mereka pun bertengkar kembali, saling beradu mulut dan argumen. Sedangkan Michael memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. Setiap kali dirinya mendengar pertengkaran para siswi di dalam kelas, rasanya seperti memiliki istri banyak yang tidak bisa akur.
"Sungguh menyebalkan!" umpat Michael dalam hati.
.
.
__ADS_1
Bersambung.