
Mika dan Sandra menghampiri Michael lalu menceritakan kejadian dimana mereka berhasil mengerjai Jelita saat berada di toilet.
Sandra lalu bertanya kepada Michael, "Bagaimana Michael apa kamu senang dengan perbuatan kami, melihat si jelek itu susah dan kesal seperti itu?"
Michael mengangguk, "Ya lumayan."
Sandra lalu meminta Mika untuk menunjukkan video yang telah dia rekam sebelumnya secara diam-diam kepada Michael.
"Lihatlah rekaman video ini Michael," ucap Mika lalu Michael melihatnya.
"Kalian semua juga kemari dan lihatlah," ucap Sandra mengajak satu kelas melihat rekaman video tersebut dan mereka menyaksikan bersama.
"Mereka sungguh tidak bermoral, apa begitu hasil didikkan orang tua mereka. Lihat tisue gulungan ini sampai habis tidak bersisa, mereka membuangnya menjadi sia-sia begitu saja. Dan apa salah ember dan juga peralatan disini, semuanya di acak-acak. Ah mereka itu, aku benar-benar tak habis pikir."
"Mereka keterlaluan sekali, ini semua pasti karena si Michael itu."
Video tersebut mengundang berbagai reaksi dari pelajar yang menyaksikannya.
"Beraninya mengerutu seperti itu tentang kita."
"Benar, bahkan dia membawa-bawa orang tua kita yang tidak bisa mendidik dan tidak bermoral."
"Cewek ini harus diberi pelajaran supaya dia mengerti posisinya dan tidak kurang ajar kepada kita lagi!"
"Benar!" seru mereka semua.
Sandra kemudian menambahkan, "Benar, dia harus di beri pelajaran yang lebih dari pada itu. Bagaimana kakau kita bersatu menyingkirkan wanita jelek itu atau membuatnya tidak nyaman bekerja disini."
"Aku setuju, bagaimana denganmu Michael? apa kau setuju dengan itu semua. Kau lihat video tadi kan, bagaimana dia begitu berani menggerutu dan menjelek-jelekkan nama mu Michael," ucap Mika kepada Michael
Michael mengangguk tertanda setuju, "Ya aku setuju dengan rencana kalian, buat lah dia tidak nyaman bekerja dan buat dia mengerti akan posisinya disini."
Semua senang dengan jawaban Michael, lalu mereka bersama-sama membuat rencana untuk mengerjai Jelita.
Mika dan Sandra kemudian bertanya kepada Michael, "Michael apa kamu senang dengan perbuatan kami saat mengerjai Jelita di toilet tadi?"
Michael menatap mereka berdua dan mengerti kalau kedua wanita tersebut menginginkan sesuatu darinya. "Ya lumayan, sebutkan saja kalian ingin apa."
__ADS_1
Mika dan Sandra saling memandang, mereka tersenyum dan berkata, "Bolehkah kami menjadi teman dekatmu dan bisakah kamu tidak menerima permintaan Floren untuk menjadikanmu sebagai pacarnya."
Michael tersenyum tipis lalu melirik Floren yang terlihat tidak suka, "Baik, tapi sebelumnya kalian tanyakan dulu kepada Floren. Apakah dia setuju dengan permintaan kalian."
Mika dan Sandra mendekati Floren dan mulai bertanya, "Bagaimana Floren, kami juga bisa menyingkirkan si jelek itu dengan mudah. Lebih baik tarik kembali permintaanmu kepada Michael."
"Prak!"
Floren berdiri sambil mengebrak meja. Dia menatap gusar kedua wanita dihadapannya itu lalu berkata, "Mike, perjanjian kita adalah yang pertama, kau tidak boleh mengingkari kesepakatan kita. Mereka boleh saja berteman dengan mu, tapi aku tidak akan menyetujui permintaan mereka."
Michael menggeleng dan mengangkat bahu, "Apa kau tidak ingat Flo, perjanjian kita akan berlaku saat kau telah berhasil menyingkirkan wanita itu. Jadi siapapun yang berhasil menyingkirkan wanita itu atau membuatnya menderita terlebih dahulu, dia bisa meminta apa saja kepadaku. Termasuk menggagalkan kesepakatan kita."
Floren mendengus kesal, "Huh! baik Mike, terserah dirimu. Tapi ingatlah ini kalian semua, jika kalian berani mengambil Mike dari ku, maka terimalah akibatnya."
Mika dan Sandra saling memandang lalu terkekeh tertanda keberanian mereka, "Dasar wanita egois, kau pikir kami akan takut dengan ancamanmu? Kau dan kami setara disini, keluarga kami juga tidak kalah pamor dari keluargamu. Tidak ada yang salah dari permintaan kami, jadi biarkan lah Michael yang membuat keputusan."
"Kalian ini! --- " teriak Floren ingin menghajar Mika dan Sandra namun aksinya ditahan oleh Clara.
"Cukup Flo, mereka benar. Biarkan Michael yang menentukannya," ucap Clara.
Michael menghela nafas, lalu menatap kerumunan siswi yang sedang bersitegang tersebut, "Ya sudah kalian kerjai saja si jelek itu. Siapa yang berhasil membuat dia marah dan kesal, maka kalian semua bisa menjadi teman dekat ku."
"Lalu bagaimana dengan kesepakatan kita Michael, apa itu masih berlaku?" tanya Floren.
"Berlaku, tapi bukan hanya untuk mu saja Floren, perjanjian tersebut berlaku untuk siapa saja yang berhasil menyingkirkan dia. Tapi sebelum itu aku ingin kalian mengerjai dia, sampai dia sendiri yang menginginkan keluar dari tempat ini," balas Michael lalu menatap keluar jendela.
"Kita setuju saja, tidak gampang bisa menjadi teman dekat Michael apalagi menjadi teman wanitanya. Buat keinginan dia terpenuhi, dengan begitu kau bisa menjadi temannya terlebih dahulu. Setelah nenjadi teman dekatnya, mungkin Michael bisa jatuh cinta dengan mu, kau kan begitu cantik dan sempurna. Tidak ada laki-laki yang bisa menolakmu," bisik Clara kepada Floren.
Floren akhirnya setuju, "Baiklah aku setuju." Hal itu pun langsung disambut kegembiraan oleh semua siswi yang berada di dalam kelas.
Michael tersenyum, lalu berucap dalam hati. "Kalian semua hanyalah penjilat, tidak ada yang tulus berteman denganku atau tulus menjadi pacarku. Kalian mendekatiku hanya karena suatu tujuan, yaitu ingin menambah kekayaan dan juga kekuasaan untuk perusahaan ayah kalian saja."
Michael menghela nafas lalu berjalan keluar kelas untuk mencari udara segar.
……………………………………………………………………………
Di Rumah Jelita.
__ADS_1
Seperti biasa saat jam istirahat kerja, Jelita pulang ke rumah untuk mengecek keadaan Ibu dan juga melihat pakaian yang telah dia cuci tadi pagi.
"Bagus, tinggal bagian ketiak nya saja yang masih basah dan jika mataharinya terik terus seperti ini, pasti saat pulang kerja nanti bajunya sudah kering semua."
Jelita membalik semua pakaian yang berada di jemuran, berharap semua pakaian tersebut bisa kering tepat waktu dan setelah selesai dia pun kembali ke kampus untuk bekerja.
…………………………………………………………………………
Di Kampus.
Jelita telah sampai di kampus, dengan nafas yang masih terengah-engah dirinya dibuat terkejut oleh pemandangan yang tidak mengenakan dihadapannya.
Dia tercengang saat melihat halaman gedung yang sudah dia bersihkan kembali kotor oleh sampah dan daun kering yang telah berserakan dimana-mana.
Dirinya tidak mengerti mengapa semua itu bisa terjadi. "Bagaimana bisa seperti ini?" guman Jelita lalu memunguti sampah tersebut.
Jelita melihat kesekeliling, dirinya dibuat gemas saat melihat kertas sampah bertuliskan hinaan untuk dirinya bertebaran dimana-mana.
"Pergi dari sini Jelek!"
"Cewek miskin, buruk rupa!"
"Wanita hina sungguh rendahan!"
Begitu lah umpatan dan juga hinaan kepada dirinya. Jelita lalu mengambil semua kertas tersebut satu persatu dan membuangnya ke tempat sampah.
"Kalau bukan karena mengobati Ibu yang sakit, aku juga tidak ingin berada disini. Kalian pikir dengan cara ini maka aku akan menyerah dan takut. Kalian salah, aku tidak akan menyerah begitu saja."
Jelita menatap ke sekeliling dimana para pelajar itu telah menertawakan dan juga tersenyum sinis kepadanya. Matanya lalu tertuju kepada satu orang, dia menatap tajam Pria tersebut yang sedang tersenyum kepadanya.
Jelita tersenyum kepada Michael. "Kau begitu ingin mengusirku dari sini, coba saja kalau bisa!" gumam Jelita lalu kembali bekerja membersihkan semua sampah tersebut.
.
.
Bersambung.
__ADS_1