Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 13. Terjatuh


__ADS_3

Tak lama kemudian Jelita berhasil menyelesaikan tugasnya merapihkan kelas yang semula berantakan dengan tepat waktu. Dadanya naik turun mengatur nafas sambil mengusap peluh yang keluar dari seluruh wajahnya dengan lengan baju.


Jelita meregangkan tubuh karena merasa pegal lalu menghela nafas panjang. "Huft ... entah apa yang terjadi dengan syaraf orang-orang kaya itu, satu persatu dari mereka senang sekali menyiksaku hingga seperti ini! Mereka benar-benar tega dan sungguh keterlaluan," ucap Jelita lalu keluar dari kelas tersebut untuk mengerjakan tugas yang lain.


***


Sementara itu Michael dan Floren sedang berbincang di luar kelas, mereka masih membicarakan sesuatu.


"Ibunya?" tanya Michael.


Floren mengangguk. "Iya, karena Ibunya yang sakit lah alasan mengapa si Jelek itu masih sanggup bertahan dari perlakuan kita selama ini," balas Floren.


Michael terdiam sejenak, lalu bertanya kembali. "Siapa yang telah memberitahukan mu tentang Ibunya?"


"Dari petugas kebun kampus kita ini, namanya Pak Budi. Dia pernah datang menemuiku dan memohon belas kasihan agar kita tidak membuatnya berhenti bekerja di sini, karena si Jelek itu sedang membutuhkan uang yang banyak untuk berobat Ibunya," balas Floren


Michael terdiam dan bergumam dalam hati, "Jadi karena Ibunya yang sedang sakit dia mampu bertahan hingga sejauh ini. Hem ... Apakah Pak Budi yang dimaksud Floren adalah petugas kebun yang pernah berbincang dengan ku tempo lalu saat aku mencari kartu mahasiswa yang hilang di kampus?"


"Apa lagi yang Petugas kebun itu beritahu?" tanya Michael kembali.


"Pak Tua itu juga meminta kepada kita untuk berhenti mengganggu si Jelek itu lagi, karena kasian dengan Ibunya. Karena jika dia sampai mengetahui anaknya mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan mungkin sakitnya akan bertambah parah. Heh! dasar orang miskin beraninya pak tua itu ikut campur masalah kita," balas Floren berdecak kesal.


Michael terdiam kembali, entah apa yang sedang dipikirkan olehnya hingga dirinya melamun tak membalas perkataan Floren.


Floren menjentikkan jari ke wajah Michael agar lamunannya itu berhenti dan berkata, "Mike, bagaimana kalau kita mengusir Jelita dengan sebuah ancaman?"


Michael mengeryitkan dahi lalu bertanya, "Ancaman? ... Apa yang ingin kau lakukan, apa kau ingin melibatkan Ibunya yang sedang sakit juga? aku tidak ingin melakukan hal rendah seperti itu."


Floren menarik senyum, lalu membalas perkataan Michael dan memberikan sebuah ide. "Tenang Mike, kita tidak akan melukai atau menyiksa Ibunya. Itu hanya sebuah alasan untuk mengusir dia dari sini dan yang kita lakukan cukup memberitahu Jelita kalau dia masih tidak menyerah juga maka kita akan menganggu Ibunya. Bagaimana Mike, apa kamu setuju dengan ide ku?"


Floren menunggu jawaban dari Michael, namun Michael tidak menjawab, dia lebih memilih pergi dari menuju kelas.


"Mike!" panggil Floren.


"Terserah kau saja!" balas Michael mengangkat satu lengan tanpa menoleh.


Floren mengulum senyum, "Lihatlah Mike, bagaimana caranya aku membereskan wanita jelek itu dan kau ... kau harus setuju menjadi milikku." Floren berjalan menuju kelas dimana sebentar lagi mata kuliah mereka akan segera dimulai.


***


Di halaman kampus.

__ADS_1


Jelita sedang beristirahat sejenak dari aktivitasnya sambil duduk dibawah pohon yang rindang dan berteduh dari panasnya terik matahari yang mulai meninggi. Sesekali dirinya menghirup udara segar lalu menatap halaman luas dihadapannya.


"Semoga hari ini tidak pulang malam lagi, tidak enak juga merepotkan Bi Sumi setiap hari mengurus ibu," Jelita bergumam sendiri dan melamunkan nasibnya.


"Tidak apa Nak, Bapak dan Bibi tidak keberatan membantu menjaga Ibumu," ucap Pak Budi dengan tiba-tiba lalu duduk di samping Jelita.


Jelita terpaku, lalu menunduk dan membalas perkataan Pak Budi. "Tidak Pak Budi, Jelita merasa tidak enak sama Bi Sumi. Gara-gara Bibi menjaga Ibu setiap hari, Mba Ayu jadi memarahi Bibi."


Pak Budi terdiam karena ucapan Jelita, akhir-akhir ini Ayu putrinya sering marah-marah kepada mereka berdua karena Jelita selalu menitipkan Ibunya dan kesal dengan Jelita yang selalu terlambat pulang sehingga Pak Budi dan istrinya membantu Jelita mengurus Ibunya.


Pak Budi mengusak kepala Jelita yang sedang murung, "Sudah jangan dipikirkan, Ayu tidak mengerti dengan keadaan kamu yang sedang kesusahan. Bapak akan berusaha memberi pengertian kepada Mbak Ayu ya, kamu jangan sedih."


Jelita tersenyum, "Terima kasih Pak Budi."


Pak Budi berdiri dan menepis celana bagian belakangnya yang kotor sehabis duduk dibawah tadi. Lalu beliau berkata kepada Jelita,"Ya sudah Bapak lanjut kerja lagi ya, masih ada pekerjaan di taman belakang."


Jelita mengangguk kemudian menatap Pak Budi yang sedang berjalan dan berlalu menjauh dari pandangannya.


"Sampai kapan ya Tuhan." Jelita bangun dari tempat duduknya, lalu melanjutkan kembali pekerjaannya membersihkan toilet sebelum dia pulang ke rumah untuk menegok sang Ibu.


***


Saat dosen mereka sedang meninggalkan kelas karena suatu alasan, para pelajar tersebut mendiskusikan sesuatu.


"Gila! si Jelek itu sudah dikerjain setiap hari masih sanggup saja bekerja disini. Kalau begini terus kapan aku bisa menjadi pacar Michael," ucap Sandra menggigit jari.


Mendengar kepanikan semua siswi dalam kelas membuat Michael menjauhi mereka, dia memilih keluar kelas.


"Mike kau mau kemana?" tanya Floren dan mengejar Michael yang pergi.


"Toilet ..." jawab Michael dengan gaya santai.


"Apa kau tidak ingin mendengar rencana ku menyingkirkan si Jelek itu?" tanya Floren memdekati Michael.


Michael menggeleng. "Terserah kalian saja."


"Baiklah, aku akan menggunakan caraku," balas Floren tersenyum.


Pria tampan itu berhenti dan berbalik dan menatap Floren dengan tajam, "Terserah bagaimana pun caramu menyingkirkan wanita itu, tapi jangan melukai siapapun yang tidak bersalah," balas Michael lalu berbalik badan dan berjalan kembali menuju toilet.


Floren mendengus kesal, dan tidak mengerti dengan sikap dingin Michael terhadap dirinya.

__ADS_1


"Dasar laki-laki sok jual mahal, jika bukan karena Mamy dan Papi ku yang meminta aku untuk mendekatimu, aku juga tidak akan sudi berhubungan denganmu! ... Tapi Michael melihatmu yang begitu tampan dan juga kaya raya sepertinya aku mulai jatuh cinta dengan mu." Floren tersenyum lalu kembali ke dalam kelas.


***


Sementara itu Jelita membersihkan toilet pria yang sedang kosong dengan gerak cepat karena dirinya begitu risih jika harus membersihkan toilet pria.


"Cepat ... cepat ... harus cepat sebelum ada yang datang."


Jelita sedikit membungkukkan badannya dan merendahkan pegangannya untuk meraih bagian bawah kolong toilet yang kotor. Tangannya menggerakan pel bertongkat itu dengan cepat dan tanpa di sengaja ujung gagang pel tersebut mendarat ke seseorang tepat dibelakang Jelita yang baru saja masuk.


"Srep!"


Michael menahan ujung tongkat pel tersebut yang mengarah ke bagian vitalnya menggunakan satu tangan dengan cepat. Jika saja Michael tidak bergerak cepat, mungkin bisa amsiong dia punya burung.


Tak mengetahui jika ada seseorang yang masuk ke dalam toilet membuat Jelita kebingungan dengan gagang pel yang sulit untuk digerakkan, diapun menarik berkali-kali gagang pel tersebut karena tertahan sesuatu.


"Kenapa susah sekali, seperti ada orang yang menarik ujung gagangnya," oceh Jelita lalu menengok ke belakang.


Dirinya tersentak kaget saat melihat Michael yang telah berdiri dihadapannya. Jelita pun segera menunduk dan meminta maaf.


"M-maaf Tuan ...."


Michael berdecak kesal lalu mendorong Jelita yang menghalangi jalannya, hingga tak sengaja kaki Jelita menyenggol sebuah pembersih lantai dan juga ember yang berisi air hingga tumpah ke segala arah.


Michael yang melihat Jelita telah menyingkir berjalan tanpa melihat sekeliling, dia melangkahkan kaki dan terpeleset akibat menginjak pembersih lantai dan air yang berceceran.


Michael pun terpeleset dan terjungkal ke depan lalu menimpah tubuh Jelita yang berada tepat di hadapannya. Jelita hanya terpaku tidak bisa menghindar karena kejadian tersebut begitu cepat dan akibatnya tabrakan itu pun terjadi.


"Gubrak!"


Mereka terjatuh ke lantai bersama-sama membuat Jelita meringis kesakitan karena tertindih badan Michael yang cukup berat.


Namun bukan itu saja masalahnya, Jelita terkejut dan mendadak pucat saat melihat beberapa mahasiswa senior yang telah berdiri dan menatap dirinya dengan penuh tanda tanya.


"Sedang apa mereka berdua?"


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2