
Pada malam harinya.
Nyonya Caca menghampiri Jelita yang sedang duduk di taman.
"Jelita ... Kau sedang apa?" tanya Nyonya Caca lalu duduk di samping Jelita.
Jelita menoleh kemudian menaruh pakan ikan disisi kolam. "Eh Ibu asuh, aku sedang menghabiskan malam sekalian memberi makan ikan. Ibu kenapa datang kesini dan kenapa Ibu belum istirahat, apa Ibu butuh sesuatu? Katakan saja padaku."
Nyonya Caca tersenyum dan menangkup sisi wajah Jelita. "Ada yang ingin ku bicarakan padamu," jawab Nyonya Caca.
"Silahkan Ibu, apa yang ingin Ibu bicarakan?" tanya Jelita.
Nyonya Caca menghela nafas dan bertanya "Jelita ... Apa kamu senang tinggal disini?"
"Aku senang, disini juga sangat nyaman. Para asisten rumah tangga dan juga para pekerja disini sangat baik, apalagi keluargamu sangat baik kepadaku. Bagaimana bisa aku tidak senang," jawab Jelita dia tersenyum begitu bahagia.
"Jelita ... Wajahmu sudah berubah cantik dan penampilan mu juga banyak berubah. Bagaimana jika suatu saat ada pria yang datang untuk mengajakmu berpacaran atau menggodamu?" tanya Nyonya Caca.
"Ibu, pertanyaan macam apa itu," Jelita menatap Nyonya Caca merasa bingung dengan pertanyaannya.
"Jawab saja Nak," balas Nyonya Caca.
"Ibu, aku adalah anak asuhmu. Aku tidak lupa dengan kewajiban dan juga peraturan sebagai seorang anak asuh. Aku juga ingat peraturan tidak boleh pacaran dan juga memikirkan seorang pria," balas Jelita.
"Lagi pula Ibu, aku telah berjanji pada diriku sendiri, di depan Ibu dan juga dirimu, sebelum aku menjadi orang sukses, aku tidak akan menerima ajakan menikah atau berpacaran dengan pria manapun," ucap Jelita menimpali.
Nyonya Caca tersenyum ada sedikit kelegaan dalam hatinya. Dia kemudian mengajukan pertanyaan kembali.
"Jelita ... Sedekat apa hubunganmu dengan Michael, putraku?" tanya Nyonya Caca.
"Hubungan ku dengan Michael baik, layaknya teman biasa," balas Jelita.
"Teman biasa? Apa kau yakin tidak ada hubungan lainnya, hubungan selain pertemanan?" tanya Nyonya Caca.
Jelita mengangguk. "Benar Ibu, aku dan Michael hanya berteman biasa, tidak lebih dari itu," jawab Jelita.
Nyonya Caca meraih kedua tangan Jelita. "Jelita ... Michael ku belum pernah punya teman wanita sebelumnya, ini kali pertamanya Ibu lihat dia begitu semangat dan ceria setelah berteman denganmu. Ibu juga melihat ada perubahan positif pada dirinya."
"Tapi Jelita, Ibu melihat hubungan kalian begitu dekat. Ibu takut jika suatu hari nanti akan ada anggota yayasan yang melihat kedekatan kalian dan itu akan memunculkan kesalahpahaman serta kegaduhan di dalam tubuh Yayasan," ujar Nyonya Caca.
__ADS_1
"Kegaduhan?" tanya Jelita merasa bingung.
"Iya kegaduhan ... kegaduhan yang dapat menghancurkan pondasi Yayasan, karena rasa cemburu dan juga iri hati di setiap anggotanya. Jika mereka sampai mengetahui kedekatan kalian, maka mereka akan berpikir jika aku terlalu mengistimewakan dirimu dan melupakan tentang peraturan yang telah dibuat sebelumnya," balas Nyonya Caca.
Jelita terdiam seperti menyimak dan memahami.
"Ketahuilah ini Jelita, walau Ibu adalah ketua Yayasan tertinggi, tapi Ibu juga harus tunduk pada peraturan yang ada. Peraturan yang dibentuk dengan komitmen tinggi para anggota intinya, dimana salah satu isinya adalah tidak boleh mengikat hubungan spesial antara anak asuh dengan anak sendiri. Dan peraturan itu berlaku untuk semua anggota inti yayasan," tutur Nyonya Caca menjelaskan.
"Jadi apa aku tidak boleh berteman dengan Michael?" tanya Jelita.
"Bukan tidak boleh sayang, kau hanya tidak boleh memiliki hubungan khusus dengannya. Ya semisal berpacaran atau hal lainnya, yang diluar dari batasanmu."
Jelita mengangguk mengerti. "Baik Ibu, aku mengerti. Aku kepada Michael memang tidak ada perasaan khusus atau hubungan spesial lainnya. Kami berdua hanya berteman biasa, kadang bertengkar dan kadang tertawa bersama. Tidak pernah terpikir juga olehku untuk mengambil dia darimu. Lagipula Ibu, aku merasa sangat tidak pantas jika menjadi bagian dalam keluargamu," balas Jelita.
Nyonya Caca merasa lega setelah menjelaskan apa yang harus dia katakan dan merasa lega dengan jawaban Jelita, namun entah mengapa hatinya merasa berat untuk menerimanya.
Padahal jauh didalam lubuk hati, dia sangat menginginkan menantu seperti Jelita.
Wanita seperti Jelita, yang sulit ditemui dijaman sekarang ini, yang cocok di jadikan sebagai seorang menantu.
Apalagi seorang menantu Chandra Putra yang harus bisa memikul tanggung jawab besar dan juga memiliki hati yang baik serta berakhlak mulia.
"Baik Ibu," patuh Jelita.
Nyonya Caca kemudian berdiri dan masuk ke dalam rumah utama. Masih terselip juga rasa bimbang dihatinya. Bagaimana jika Michael sampai benar-benar mencintai Jelita.
Apa yang harus dia lakukan, memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang ketua Yayasan atau memenuhi tanggung jawab sebagai seorang Ibu yaitu kebahagiaan putranya.
Sebelum dirinya masuk ke dalam, Nyonya Caca melihat Jelita sekali lagi dari kejauhan. Dia menghela nafas panjang dan berpikir, betapa jahat dirinya jika suatu hari nanti dia harus memisahkan keduanya.
Suatu pilihan yang begitu sulit, pada kondisi dimana jika itu sampai benar-benar terjadi, kepada mereka berdua ... yang sama-sama saling mencintai.
***
Di kamar Michael.
Michael terbaring dengan kedua lengan terlipat menopang kepalanya. Pria tampan itu menatap langit-langit kamar sambil tersenyum sendiri. Dirinya tidak bisa tidur, saat isi kepala nya masih dipenuhi dengan kejadian tadi sore di dapur.
Michael menarik lengannya dan menatap kedua telapak tangannya itu dengan jantung yang terus berdebar kuat. Dia tersipu malu ketika mengingat saat kedua tangannya itu mencengkram erat pengunungan himalaya milik Jelita.
__ADS_1
Pipinya seketika merona dan dia mengoceh hingga heboh sendiri di dalam kamar.
Lalu Michael mengepal dan membuka telapak tangannya berkali-kali seperti gerakan meremas sambil memejamkan kedua mata seperti memikirkan sesuatu.
"Ternyata ukuran punya dia itu sangat pas sekali di tanganku, tidak kebesaran dan juga tidak kekecilan!"
Michael tersenyum, sesekali diringi tawa kecil hingga terkekeh geli saat memikirkan rasanya. Dia lalu meraih bantal guling yang berada di samping dan memeluk erat hingga kempis tak berudara.
Pria itu bahkan meninjunya berkali-kali, seperti sedang bergulat dengan samsak tinju.
Entah apa salah si bantal guling itu, yang jelas Michael melakukan hal itu bukan karena sedang kesal atau marah.
Nafas Michael terdengar menggebu, dia lalu menarik nafas dalam-dalam, tak pernah dirinya merasakan hal ini sebelumnya.
Sebuah perasaan yang membuat dirinya selalu tidak berdaya jika berhadapan dengannya. Perasaan senang dan nyaman serta jantung yang berdebar tidak karuan.
Bahkan dirinya berubah konyol dan bertingkah aneh.
Michael berpikir, apa arti dari semua itu, yang dia rasakan jika berada di dekat Jelita, atau disaat dia sedang memikirkannya.
"Apa itu perasaan suka, apa aku suka dia?"
"Ah, apa itu mungkin?"
Michael memejamkan kedua mata dan bertanya kembali pada hatinya.
"Apa ... Apa aku telah jatuh cinta kepadanya, cinta kepada Jelita?"
Michael tersenyum dan membuka matanya perlahan. Hati Michael semakin berdebar hebat saat dia telah mendapat jawabannya.
"Iya! ... Aku cinta padanya ...."
"Aku mencintainya!"
"Aku mencintai Jelita!" seru Michael, dia begitu bahagia ketika mengetahui dirinya sedang jatuh cinta.
.
.
__ADS_1
Bersambung.