Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 16. Rasa Iba dan prihatin


__ADS_3

Di Kantor.


Setelah mendapat penjelasan dari Michael dan juga Jelita akhirnya pihak kampus menutup kasus tersebut. Mereka juga meminta semua murid untuk menghapus video dan juga foto-foto yang telah tersebar agar tidak melebar luas ke luar lingkungan kampus dan mengskors anak murid yang terjerat dalam penyebaran video dan kekerasan selama satu minggu.


Pihak kampus juga meminta kepada penyebar video tersebut untuk mengklarifikasi kepada semua orang tentang kesalah pahaman yang terjadi demi membersihkan nama baik dan juga meminta maaf kepada Michael dan Jelita.


"Maafkan kami, Michael ... Jelita, kami telah bersalah. Kami juga minta maaf kepada Pak Dekan dan Bu Rosi karena telah membuat gaduh seisi kampus. Kami bersedia menerima hukuman apapun," ucap salah satu Mahasiswa senior yang telah merekam Video tersebut.


Mereka mendekati Jelita kemudian menyampaikan sesuatu. "Iya, tolong maafkan kami. Kami benar-benar tidak tahu jika kamu adalah putrinya Bu Maria."


Jelita mengangguk dan berusaha tersenyum. "Iya, aku sudah memaafkan kalian."


Mereka pun merasa senang, lalu berkata. "Kau memang baik hati seperti ibumu ... Oiya bagaimana keadaan beliau, sudah lebih dari enam bulan semenjak bu Maria jatuh sakit kami tidak pernah bertemu dengannya lagi. Ternyata bu Maria telah berhenti bekerja disini dan kau yang menggantikan tugas ibumu, kau begitu luar biasa. Maaf sekali lagi karena kami tidak mengenalimu dan kami dengan bodohnya malah merundungmu selama ini, Jelita."


Jelita menunduk dan menjawab, "Ibu kondisinya masih sama, dia masih belum membaik ... Tidak apa, terima kasih."


Mahasiswa senior itu pun ikut prihatin, kemudian berkata. "Maaf jika membuatmu sedih, tapi apakah sakit ibumu begitu parah?"


Jelita terdiam, lalu mulai menitikkan air mata dan berkata. "Ibu terkena stroke berat dan sampai sekarang aku masih belum mampu membawa ibu ke rumah sakit, uang pinjaman untuk biaya berobat ibu dari kampus ini juga belum sanggup aku lunasi." Jelita lalu menangis.


Bu Riana dan para dosen lain pun ikut merasa terharu, mereka kemudian berusaha menenangkan Jelita. Mereka merasa harus membantu Jelita mengingat kebaikan ibunya kepada semua orang selama beliau bekerja disini.


"Kami akan membantu pengobatan ibu mu Nak, jangan menangis, kami akan menggalang dana secepatnya untuk meringankan biaya pengobatan bu Maria," ucap Bu Riana menghapus air mata Jelita.


Mereka yang berada di ruangan tersebut mengangguk setuju dan mulai mengerakkan penggalangan dana melalui para Mahasiswa senior tadi.


"Benar Jelita, anggap saja ini sebagai penebus kesalahan kami. Kami akan menggalang dana di lingkungan kampus ini dan memberitahu jika kamu adalah putrinya Bu Maria, jadi tidak ada yang boleh merundung kamu lagi."


Jelita menghapus air matanya, "Terima kasih banyak semuanya. Kalau begitu saja mohon pamit untuk kembali bekerja."


"Baik Jelita, jangan cemaskan semuanya. Bekerjalah yang rajin dan semangat, kau juga harus banyak tersenyum." Bu Riana membelai wajah Jelita dan tersenyum.

__ADS_1


Jelita mengangguk kemudian melangkah keluar ruangan dan kembali bekerja. Michael yang sejak tadi mendengar percakapan tersebut menjadi ikut iba. Ada terselip perasaan bersalah di dalam lubuk hatinya.


"Betapa jahatnya diriku, sampai ingin mengusir dia yang sedang berjuang mengumpulkan uang untuk mengobati Ibunya. Aku benar-benar bukan manusia yang berhati, tapi siapa ibu Maria? Mengapa mereka semua mengenal beliau dan begitu menghormatinya?"


Michael pun berencana mencari tahu tentang ibunya Jelita. "Baiklah akan ku tanya Bu Riana setelah kelas berakhir," ucap Michael lalu berjalan keluar dari ruangan tersebut.


***


Ketika berjalan menuju kelas, Michael melihat Jelita yang sedang berbincang dengan Pak Budi. Dia pun berhenti lalu mendengarkan pembicaraan mereka dari kejauhan.


"Jelita ini kacamata kamu yang tadi jatuh di depan sana. Agak retak kaca nya dan ada yang patah juga gagangnya. Tapi Bapak sudah coba perbaiki walau tidak sempurna tapi coba lah kamu pakai, masih bisa di gunakan tidak?" tanya Pak Budi sambil menyerahkan kacamata Jelita yang sudah diperbaiki.


Jelita menyambut kacamatanya itu lalu mencoba memakainya. Jelita tersenyum sambil memakai kacamata buruknya dan mengarahkan pandangan ke segala arah agar memastikan jika kacamata nya itu masih bisa membuat pandangannya terlihat jelas atau tidak.


"Masih bisa dipakai Pak ... masih kelihatan jelas, terima kasih ya."


Jelita berterima kasih kepada Pak Budi lalu meminta ijin untuk kembali bekerja. "Pak Budi, Jelita kembali kerja dulu ya. Masih banyak yang belum selesai."


Jelita kemudian menunduk dan menatap pakaiannya sobek, "Tidak apa, hanya bagian bahu saja yang sobek parah."


"Bukannya Bu Riana tadi kasih pinjam jas nya untuk kamu pakai?" tanya Pak Budi.


"Sudah Jelita kembalikan Pak, Blazer Bu Riana terlalu bagus dan kelihatannya sangat mahal. Lagipula kalau dipakai kerja nanti bisa kotor, takut rusak juga."


Pak Budi mangut-mangut, "Eh iya juga ya."


"Iya Pak, ya sudah Jelita kerja dulu ya. Biar tidak telat lagi pulangnya, kasian Ibu sendirian," ucap Jelita.


"Ya Jelita," balas Pak Budi.


***

__ADS_1


Di Kelas Michael.


Sesampainya di kelas, Michael lalu di kerumuni oleh teman satu kelasnya.


"Mike. Kami semua disini sangat mencemaskanmu, beruntunglah video dan foto itu hanya kesalah pahamanan saja. Para senior itu juga sudah mengakui perbuatan salah mereka, kami tahu kalau kau tidak mungkin melakukan hal rendah seperti itu dan mana mungkin juga kau mau melakukan hal tersebut dengan wanita hina seperti dia," ucap Floren.


"Benar Michael, kau kan sangat membenci si Jelek itu jadi mana mungkin kau mau berbuat hal kotor aeperti itu. Kami sudah menduganya kalau video itu adalah perbuatan orang iseng," ucap Sandra.


Floren lalu meraih tangan Michael, namun Michael dengan segera menjauhinya dan berkata, "Bisakah aku duduk terlebih dahulu? setelah aku duduk kalian bisa mewawancaraiku lagi."


Michael menatap Floren yang tersenyum pahit kepadanya lalu menerobos kerumunan tersebut dan kemudian duduk di kursinya. Teman sekelas Michael pun kemudian mendekati Michael di tempat duduknya lalu mulai menanyakan kembali rasa penasaran mereka.


Pria tampan ini hanya cuek mendengarkan semua ocehan semua teman satu kelasnya itu, namun dirinya dibuat terusik saat salah satu teman sekelasnya berkata, "Aku yakin si Jelek itu yang menjebak Michael kemudian menyuruh senior itu untuk merekamnya. Iya kan, jika tidak mana mungkin bisa kebetulan seperti itu."


Mereka menyetujui perkataan salah satu siswi tersebut dan itu membuat Michael merasa kesal.


"Bug!"


"Derr."


Michael memukul dinding di sampingnya dengan keras dan mengakibatkan kaca jendela kelas seketika bergetar hebat.


Michael lalu menatap kerumunan orang-orang tersebut dan berdiri. "Kalian tidak punya telinga! apa pengeras suara itu rusak atau kuping kalian yang bermasalah. Aku sudah menjelaskan dengan rinci bagaimana kejadian itu bisa terjadi dan itu semua adalah kesalahanku yang telah mendorong Jelita. Dan para senior itu juga telah mengakui kesalahannya, lalu mengapa kalian seakan-akan tidak mempercayaiku. Bahkan kalian berani melakukan kekerasan yang tidak pernah ku sukai kepada orang yang tidak bersalah!"


Michael kemudian pergi dari kelasnya, dan sebelum dia pergi, Michael berkata sesuatu yang membuat semua orang kesal. "Cukup dengan semua ini, mulai sekarang berhenti mengerjai gadis itu lagi. Aku tidak ingin kalian semua mendekatiku dan jangan pernah berharap untuk menjadi kekasihku juga. Aku sudah sangat muak dengan sikap kalian yang selalu berpura-pura baik dan sok peduli dihadapanku!"


Michael kemudian keluar dari kelasnya dan meninggalkan teman sekelasnya yang masih berdiri mematung.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2