
Rumah sakit.
Beberapa jam kemudian, setelah mendapatkan penanganan serius dari tim medis, Nyonya Caca mulai menunjukkan tanda-tanda kesadarannya.
Mulai dari menggerakkan ujung jari, hingga menyebut nama Michael walau hanya sesaat dan samar-samar.
Tuan Nael yang menyadari akan hal tersebut, dengan segera memanggil dokter untuk memeriksa kondisi istrinya kembali.
Dan tak butuh waktu lama, dokter dan perawat pun datang menghampiri. Untuk memeriksa kondisi kesehatan Nyonya Caca setelah penanganan serius sebelumnya.
"Dokter, bagaimana dengan kondisi istri saya?" tanya Tuan Nael saat melihat dokter telah selesai memeriksa kondisi istrinya.
"Tuan besar, istri anda sudah melewati masa kritisnya. Saya sarankan jangan membuat Nyonya besar terlalu banyak bergerak, karena bisa mempengaruhi pemulihan pada tulang iganya yang patah. Dan satu lagi Tuan besar, jangan membuat istri anda begitu banyak pikiran. Mengingat cidera di kepalanya yang cukup serius, karena itu bisa membuat beliau hilang kesadaran kembali," balas sang Dokter menjelaskan.
"Baiklah dokter, apa ada hal serius lainnya?" tanya Tuan Nael memastikan.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan Tuan besar. Hanya cidera di kepala dan tulang iganya saja yang perlu penanganan serius, selebihnya kondisi istri anda baik-baik saja," jawab Dokter, lalu meresepkan sejumlah obat untuk Nyonya Caca dan juga mencatat kondisi pasien dalam pengawasannya.
"Terima kasih Dok," balas Tuan Nael.
"Sama-sama, jika ada sesuatu jangan sungkan panggil saya kembali. Atau memanggil para perawat yang bertugas disini," ucap Dokter sebelum meninggalkan ruang rawat inap VVIP.
Mereka yang hadir disana pun merasa bersyukur, karena Nyonya Caca telah melewati masa kritisnya.
Begitu pula dengan Michael yang masih setia menunggu di depan ruangan itu, ketika mendengar kabar terbaru mengenai sang Mamy. Dia begitu terharu dan ingin sekali masuk ke dalam untuk menemui Nyonya Caca, mencium kaki dan tangannya.
Lalu meminta maaf dan menyesali perbuatannya, menerima hukuman apa saja yang diberikan kepadanya atau menerima permintaan apapun itu demi kebahagiaan sang Mamy.
Sementara itu Tuan Nael begitu setia menemani sang istri, menatap wajah pujaan hatinya yang begitu lemah dan tidak berdaya.
Perban putih melingkar di kepala dengan sedikit bercak noda darah di kening istrinya, sesekali Tuan Nael menghapus air mata yang masih mengalir di ujung ekor mata Nyonya Caca.
Sudah cukup lama dia menjaga dan menemani sang istri, walau banyak orang yang memintanya untuk beristirahat. Akan tetapi Tuan Nael menolak akan hal tersebut dan memilih menunggu istrinya dengan sabar, sampai istrinya itu benar-benar telah membuka mata.
Dia sampai tertidur disisi ranjang dengan tangan terus menggenggam tangan sang istri dan berharap agar cintanya itu cepat sembuh dan dapat kembali ke dalam pelukannya.
"Miki ..." ucap lirih Nyonya Caca terdengar sayup-sayup ditelinga Tuan Nael.
Menyadari akan hal tersebut, dengan segera Tuan Nael terbangun dan dia sangat terharu ketika melihat istrinya telah membuka mata.
"Sayang ... Kamu ingin sesuatu, katakanlah. Kau ingin apa?" tanyanya.
"Miki ... Jelita ..." jawab Nyonya Caca terdengar lemah.
Tuan Nael mengangguk mengerti dan bergegas memanggil putranya itu dan meminta seseorang menelepon Jelita untuk datang ke rumah sakit.
...----------------...
Setelah mendapat telepon dari Bi Sari, Jelita dan Wiliam bergegas menuju rumah sakit.
Selama di perjalanan, Jelita menangis dan begitu cemas ketika mengetahui jika Nyonya Caca terjatuh dari tangga, sampai tidak sadarkan diri dan yang membuatnya lebih terkejut adalah, itu semua karena ulah dari putranya sendiri yaitu Michael.
__ADS_1
"Michael ... Apa yang menyebabkan kau begitu berani melawan ibu asuh?" gumam Jelita sambil terus terisak.
"Apakah itu semuanya karena diriku, jika itu benar maka aku telah bersalah dan aku telah berdosa kepada ibu asuh," ucap Jelita.
"Tenanglah Jelita, kau akan mendapat jawabannya setelah kita sampai di rumah sakit," balas Wiliam sambil memegang kemudinya.
Jelita mengangguk dan berharap bisa cepat sampai agar bisa bertemu dengan Nyonya Caca dan mengetahui tentang apa yang sebenarnya terjadi.
...***...
Setibanya dirumah sakit, Jelita dan Wiliam bergegas mencari ruang VVIP dimana Nyonya Caca sedang dirawat. Dengan bantuan seorang petugas disana mereka pun berhasil menemukannya.
Setibanya diruangan itu, Jelita syok dan menangis ketika melihat kondisi memprihatinkan Nyonya Caca, yang sedang terbaring lemah tidak berdaya.
Langkahnya begitu berat, merasa bersalah sekali ketika mengetahui dari Bi Sari, jika kejadian yang menimpah Nyonya Caca itu ternyata ada sangkut paut dengan dirinya.
Jelita memantapkan langkah kaki dan perlahan berjalan masuk ke dalam ruangan, lalu duduk di tepi ranjang. Sedangkan Tuan Nael undur diri dari ruangan itu dan membiarkan istrinya bicara empat mata dengan Jelita.
"Ibu aku sudah datang," ucap Jelita sambil menggenggam erat tangan Nyonya Caca yang tersenyum kepadanya. "Semua karena salahku, maafkanlah aku Ibu," sesal Jelita.
"Jangan meminta maaf Jelita anakku ... Terima kasih karena sudah datang menjengukku. Ada yang ingin ibu bicarakan dan Ibu punya permintaan kepadamu," ucap Nyonya Caca.
"Apa itu Ibu, bilang saja padaku. Aku akan memenuhi semua permintaanmu," balas Jelita.
"Kau bilang ingin membalas budiku bukan, kau juga pernah bilang ingin berbakti kepadaku," ucap Nyonya Caca.
Jelita mengangguk. "Iya Ibu aku ingin sekali membalas budimu dan juga berbakti kepadamu, karena jasamu kepadaku terdahulu yang belum sempat aku balas."
"Iya Ibu, aku akan membalas budimu sekarang juga. Katakan saja kau ingin aku melakukan apa?" tanya Jelita.
"Ibu ingin kau jauhi Michael, lupakanlah dia dan jangan pernah berhubungan lagi dengannya," balas Nyonya Caca.
Jelita terdiam dan dia terpejam sambil terisak, begitu sakit rasanya mendengar permintaan dari Nyonya Caca. Memarahi takdir yang begitu kejam, mengapa cinta tidak memihak kepada Michael dan juga dirinya.
"Bagaimana Jelita apa kau mau memenuhi permintaan Ibu?" tanya Nyonya Caca ketika melihat Jelita hanya terdiam dan tidak menjawab.
Begitu berat rasanya bagi Jelita untuk melupakan Michael, akan tetapi akhirnya dia menyadari. Mungkin ini adalah saat yang tepat baginya untuk melepaskan Michael, untuk kebaikkan semua.
Bagi dirinya dan juga bagi Michael sendiri.
Jelita tersenyum sambil menatap wajah mantan Ibu asuhnya. "Ibu ... Selama aku menjadi anak asuh pribadimu, aku belum sempat sekalipun membahagiakanmu atau memenuhi semua impianmu untuk mendapatkan kembali anak asuh kebanggaan keluarga, yang dapat mengharumkan nama keluargamu seperti kak Jason."
"Aku hanya bisa membuatmu malu dan selalu membuat masalah dimana-mana. Bahkan aku membuat kau celaka seperti sekarang ini. Oh Ibu asuh, maafkan lah aku."
"Apa yang bisa ku perbuat sekarang, jika memang permintaanmu itu baik untuk semua, maka aku akan melakukannya. Demi kebaikan semua, aku akan memenuhi permintaanmu."
"Demi dirimu Ibu, aku akan melupakan Michael dan menjauhi dirinya," balas Jelita dengan semua ketegaran yang dia punya.
Nyonya Caca tersenyum kembali dengan tangisannya yang sedih, merasakan apa yang Jelita rasakan.
"Terima kasih karena sudah memenuhi permintaan Ibu, Jelita. Ibu juga ingin mengatakan sesuatu padamu, kalau Ibu sebenarnya sudah memaafkanmu sejak lama."
__ADS_1
"Maafkan Ibu juga karena telah meninggalkanmu dijalan, tidak mendengarkan permintaanmu bahkan menutup telinga saat kau ingin menjelaskan semuanya pada Ibu."
"Ibu sungguh menyesal telah memecatmu dan tidak melihat kebaikkan hatimu. Ibu tahu kau tidak ada maksud membuat keluarga Ibu malu dan Ibu tahu itu semua dari Wiliam. Pemuda pemberani itu telah datang dan menjelaskan semuanya kepada Ibu. Tentang dirimu, tentang ketidak berdayaan dirimu dan juga maksud dia selalu menahanmu agar tidak pergi darinya."
"Ibu tidak menyangka jika Wiliam adalah pemuda yang baik, dan saat itulah Ibu menyadari jika kau pantas bersanding dengannya."
"Jelita ... Kau sudah menjadi milik keluarga orang lain. Ibu hanya berharap jika suatu saat kau telah menikah nanti, kau bisa menjadi menantu yang baik dan patuh kepada keluargamu. Melayani suamimu dan juga menjalankan kewajibanmu sebagai seorang istri," balas Nyonya Caca dengan segala kesedihan dari isi hatinya.
"Ibu, aku siap meninggalkan Michael. Tapi aku ingin meminta satu hal padamu. Jangan kau putuskan hubungan kita, hubungan antara Ibu dan juga anak. Selamanya aku akan selalu menganggapmu sebagai Ibu asuhku dan ku mohon selamanya juga kau harus menganggap ku sebagai anak asuhmu," mohon Jelita.
"Baiklah Jelita, aku tidak akan memutuskan hubungan kita," balas Nyonya Caca.
Mereka berdua menangis dan memeluk satu sama lain, tidak menyangka sekali jika hubungan mereka berakhir hanya sebatas menjadi Ibu dengan anak. Tidak bisa menjalin hubungan sebagai menantu dengan mertua.
...***...
Tidak ada bedanya dengan Jelita, Nyonya Caca juga meminta kepada Michael untuk menjauh dan melepaskan Jelita.
"Baik Mommy aku siap melepaskan Jelita demi membahagiakanmu, demi membahagiakan keluarga kita. Maafkan aku telah jahat padamu bahkan tega membuatmu terluka seperti ini dan tidak berbakti kepadamu," ucap Michael.
"Miki, Mamy senang kamu telah menyadari kesalahanmu dan Mamy senang mendengar kau mau melepaskan Jelita. Mamy ingin kau juga mendapat pasangan yang terbaik untuk hidupmu, yang dapat membahagiakanmu kelak."
"Maaf jika Mamy membuatmu sedih karena telah mencampakkan Jelita, tapi percayalah Mamy tidak pernah melupakannya. Mulai sekarang hiduplah menatap masa depanmu yang baru, Mamy ingin kau menerima Clara, cobalah untuk menjalani hubungan barumu itu," pinta Nyonya Caca.
Michael mengangguk. "Baiklah Mamy, aku akan menurutimu," balas Michael walau hati kecilnya menolak untuk menerima wanita lain.
...***...
Tak berselang lama kemudian sebuah keluarga baru tiba dari rumah sakit, mereka begitu tergesa hingga putri dari keluarga mereka tidak sengaja menabrak sisi bahu Jelita.
"Maaf, apa kau baik-baik saja," ucap Clara.
Jelita menunduk. "Tidak apa-apa, aku baik," jawabnya.
"Clara ayo cepatlah!" pekik Nyonya Stefani memanggil putrinya yang tertinggal.
"Iya Ma, tunggu sebentar!" sahut Clara.
"Clara ... Apakah dia wanita yang dijodohkan untuk Michael," gumam Jelita.
"Ya sudah, aku harus pergi," ucap Clara seraya melambaikan tangan.
"Baik," balas Jelita.
Jelita tersenyum dan mengingat wanita itu, dia adalah sahabatnya Floren, teman sekelasnya Michael.
Dan dia adalah satu-satunya wanita baik yang tidak ikut membully dirinya saat bekerja di kampus Michael.
.
.
__ADS_1
Bersambung.