
Supermarket.
Kali ini Wiliam menunjukkan perhatiannya, dengan mendorong troli dan mengikuti kemana langkah kaki Jelita mengambil barang. Dengan sabar dia mendorong keranjang besi beroda itu sambil menatapi Jelita dari belakang.
Mereka berhenti di rak produk berisi macam-macam susu UHT dan Jelita teringat akan pesan Bi Nina kalau stok susu cair di rumah sedang habis.
Gadis itu memasukan beberapa kotak susu ke dalam troli belanja dan dia menatap Wiliam yang sedang asik mengunyah permen karet.
Jelita juga diberitahu oleh Bi Nina jika Wiliam suka sekali minum susu cair setiap hari sebagai minuman pelengkap sarapan paginya.
Mengingat dirinya belum mengetahui kebiasaan Wiliam, maka dari itu Jelita menanyakan langsung kepada Wiliam. Jika pria itu menyukai susu yang mana untuk sarapan paginya.
"Wiliam," panggil Jelita.
"Hem, apa sayang?" sahut Wiliam.
"Sekarang katakan padaku, kau suka susu coklat atau susu putih, yang merk ini atau yang satu lagi?" tanya Jelita sambil memegang susu kotak 1 liter berlainan jenis pada masing-masing tangannya.
Wiliam mengunyah permen karet nya perlahan dan menatapi wanitanya yang sedang sibuk memilah-milah susu dalam kemasan.
Hal itu pun membuat naluri kedewasaan Wiliam bangkit dari tidurnya, ketika menanggapi pertanyaan Jelita yang selalu saja berhasil memancing otak mesumnya muncul, untuk menggoda wanita itu kembali.
"Heh! Susu yang aku suka, bukanlah yang ada di kedua tanganmu itu," balas Wiliam lengkap dengan gelengan kepalanya.
"Oh tidak suka ya. Kalau yang ini?" tanya Jelita menunjukkan merk susu yang lainnya.
Wiliam menggeleng kembali dengan senyuman devilnya. " Tidak ... Susu yang aku suka, beda dari yang lain. Tidak ada di dalam kotak, tidak bermerk, tidak bersari buah atau rasa lainnya."
"Beda dari yang lain? Oh apa maksudmu susu plain ini?" tanya Jelita bingung.
Wiliam menggeleng dan itu memperparah kebingungan gadis lugu dihadapannya.
"Jadi kau tidak suka susu atau bagaimana?" tanya Jelita kembali.
Wiliam tersenyum. "Hem, aku suka susu. Tapi lebih tepatnya susu kembar yang menggantung bebas dan bisa keluar langsung dari sumbernya," balasnya mulai melenceng.
Susu gantung?
Sementara itu Jelita yang otaknya sedikit lama mencerna perkataan Wiliam, mulai sedikit terbuka. Saat merasa ada yang aneh dengan gelagat pada wajah pria tampan dihadapannya itu.
Seperti mulai mencium hal-hal berbau mesum pada otak si Wiliam, ketika pria itu menaikkan kedua alisnya berkali-kali. Sambil menatap kedua gundukan kembar di depan mata dan menunjuk dengan bibirnya yang sedikit ia kerucutkan.
Dan ternyata benar saja, tatapan mata Wiliam yang mengarah pada dadanya, membuat Jelita tahu susu mana yang dimaksud oleh pria mesum dihadapannya itu.
Jelita melipat kedua tangannya di depan dada dan mencebik.
"Oh ... Jadi kau suka susu yang menggantung bebas dan berasal langsung dari sumbernya ya. Hem ... Baiklah, kalau begitu kita akan beli sapinya saja sekalian. Dengan begitu kau bisa menyusu langsung dari sumbernya!"
Huh!
Jelita membuang mukanya dan cembetut, lalu menaruh susu dengan merk apapun tanpa bertanya lagi.
__ADS_1
Ia mengambil alih pegangan troli besi dari Wiliam, lalu meninggalkan seorang pria tampan yang sedang asik terkekeh karena senang.
"Dia itu selalu saja menggodaku, dasar pria mesum. Huh!" umpat Jelita dalam hati.
"Dia selalu saja membuatku tertawa," gumam Wiliam.
"Hei Jelita, aku hanya bercanda. Kau janganlah marah." Wiliam mempercepat langkah kakinya mengejar dan merayu Jelita yang sedang mengambek.
...----------------...
Mansion Chandra Putra.
Nyonya Caca mendapat telepon dari nyonya Stefani, kabarnya kedua ibu-ibu itu sedang membicarakan tentang pernikahan putra putri mereka.
"Dari yang ku lihat selama ini, hubungan Clara dan Michael mulai dekat. Nyonya Stefani, bagaimana kalau kita menikahkan mereka dua tahun lagi?" tanya Nyonya Caca berbicara lewat telepon rumahnya.
"Benar, aku dengar juga mereka sudah mau jalan bersama dan mengobrol. Kalau urusan kapan menikah, aku ikut keluarga mu saja nyonya. Tapi alangkah baiknya kita membicarakan dulu hal ini kepada mereka berdua, karena aku takut mereka masih belum siap menghadapi biduk rumah tangga," balas Nyonya Syefani.
"Baiklah, kalau begitu kita akan bahas lagi hal ini di lain waktu. Setelah mendapat jawaban dari putra putri kita," ucap Nyonya Caca.
"Baiklah Nyonya, kalau begitu selamat malam."
"Selamat malam," sahut Nyonya Caca lalu menutup teleponnya.
"Telepon dari siapa Mom?" tanya Michael, lalu duduk di sebelah ibunya.
"Ah Miki sayang, itu telepon dari nyonya Stefani. Miki ada yang ingin Mamy tanyakan padamu," ucap Nyonya Caca.
"Miki, kau sudah berusia 20 tahun lebih. Mamy ingin kau segera menikah," ucap Nyonya Caca.
"Mom, bukan kah kau ingin aku menikah jika sudah lulus kuliah?" balas Michael.
"Tadi inginnya begitu, tapi semenjak kejadian Jelita diambil oleh Wiliam, Mamy jadi khawatir takut Clara diambil juga oleh pria lain secara tiba-tiba," balas Nyonya Caca.
Michael terdiam sejenak dan kembali mengingat, ketika Wiliam yang seenak jidat merebut Jelita dari kehidupannya.
"Mom, aku dan Clara sudah bertunangan. Kapanpun kau ingin menikahkanku dengannya, maka aku akan siap," balas Michael.
Nyonya Caca tersenyum dan meraih wajah putranya. "Benarkah?" tanyanya meyakinkan.
Michael meraih tangan Nyonya Caca dari wajahnya, lalu berganti menggenggam dan mencium tangan ibunya.
"Benar ... Aku serius dengan ucapanku," balas Michael.
"Terima kasih Miki, Mamy berharap kau mendapatkan kebahagiaan dari Clara," doa Nyonya Caca.
Michael tersenyum. "Kebahagiaan terbesarku adalah ketika melihat kau bahagia," balasnya lalu pergi menuju kamarnya kembali.
Nyonya Caca tertunduk dan merasa jika Michael hanya sedang berusaha membuatnya bahagia saja, tanpa memikirkan perasaannya sendiri yang masih terluka.
Bagaimana dengan hati putranya, dia hanya berharap waktu akan mengobati luka di hati Michael, dengan kehadiran Clara di dalam hidupnya.
__ADS_1
...----------------...
Mansion Wiliam.
Sama halnya dengan nyonya Caca yang sedang memikirkan perasaan putranya, Ibu Maria juga sedang memikirkan hati putrinya.
Dia memperhatikan Jelita dan Wiliam yang sedang duduk nonton TV berdua, sambil berebut makan popcorn pas beli di supermarket tadi.
Ibu Maria tersenyum melihat kedekatan keduanya, namun ada satu hal yang masih saja mengganjal dalam hatinya sendiri.
Apakah putrinya itu menerima pernikahan ini dengan tulus dari hati sendiri, atau menerima semua pernikahan ini hanya karena ingin menyenangkan hati ibunya saja.
Mengingat Michael adalah cinta pertama putrinya itu dan Ibu Maria yakin, bahwa hati Jelita belum bisa melupakan Michael sepenuhnya dan masih mencintai lelaki itu.
Ibu Maria menghela nafas dan memasang wajah lesunya, karena takut sekali jika Jelita nanti akan mengecewakan keluarga besar Wijaya. Seperti ia pernah mengecewakan keluarga besar Chandra Putra.
Wiliam si insting tajam menangkap kemurungan Ibu Maria, dia membalik badan dan memanggil calon mertuanya.
"Ibu Maria, sepertinya kau sedang tidak bersemangat, bagaimana jika kau duduk bersama kami menonton film bersama," saran Wiliam.
Ibu Maria menurut dan ia duduk di tengah mereka berdua. Sesekali melirik ke arah Jelota dan berganti melirik Wiliam dengan ujung ekor matanya.
Sekali lagi Ibu Maria menarik nafasnya, karena ingin bertanya kepada mereka berdua. Namun rasanya sulit sekali untuk diucapkan, melebihi kesulitan bicara saat sakit terdahulu.
"Ibu, kenapa kau menghela nafas saja?" tanya Jelita.
Ibu Maria menggeleng. "Tidak ada, hanya Ibu akan kehilanganmu sebentar lagi."
Jelita menghentikan makan popcornnya dan menghadap sang Ibu. "Ibu kau bicara apa, mana mungkin aku meninggalkanmu sendiri, karena aku akan selalu bersamamu."
"Jelita, saat seorang wanita sudah menikah nanti, maka dia akan menjadi hak penuh suaminya. Dan kau harus mengikuti suamimu kemana pun dia pergi," balas Ibu Maria.
Jelita menggeleng. "Aku tidak akan pergi kemana-mana, iya kan Wiliam." Jelita mengangguk kepada Wiliam.
Pria itu lalu tersenyum. "Yang dikatakan oleh Ibumu benar adanya Jelita, jika kau sudah menikah denganku nanti, maka kau harus ikut kemana pun aku pergi atau tinggal. Tapi apa yang dikatakan oleh Jelita juga benar adanya Bu Maria, jika kami sudah menikah nanti, maka kami tidak akan meninggalkanmu."
"Ibu janganlah menangis, aku ambilkan tisu untukmu dulu." Jelita pergi ke kamarnya untuk mengambil tisue.
Sedangkan Ibu Maria dan Wiliam berbincang sejenak.
"Wiliam ada yang ingin Ibu bicarakan, Ibu tahu kalau Jelita belum sepenuhnya melupakan cinta pertamanya. Tapi apa kah kau tidak keberatan akan hal itu, karena Ibu takut dia akan mengecewakanmu nanti," ujar Bu Maria.
"Ibu, aku sudah pernah bilang sebelumnya. Kalau aku akan tetap menunggu Jelita sampai benar-benar menerima ku sepenuhnya. Jadi kau tidak perlu khawatir, aku akan berusaha membuatnya mencintaiku," balas Wiliam.
Ibu Maria melupakan perasaan bahagianya dan tidak disangka, jawaban dari Wiliam bisa membuat hatinya menjadi tenang.
.
.
Bersambung.
__ADS_1