Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 123. Liburan berdua.


__ADS_3

Mansion Wijaksana.


Floren kembali mengurung dirinya di dalam kamar, sambil melempar benda apapun yang ada di sekitarnya.


Mendengar keributan di dalam kamar putrinya, Nyonya Berta bergegas menghampiri dan dia terkejut ketika melihat kondisi kamar Floren yang sudah berantakan seperti kapal pecah.


"Sayang, kenapa kamu berbuat begini lagi? Apa yang terjadi ceritakan pada Mami," ujar Nyonya Berta lalu memeluk Floren yang sedang meringkuk.


"Mami, mereka semua menghinaku. Menghina keluarga kita, mereka semua sudah tidak memandangku lagi," lirih Floren.


Nyonya Berta meradang. "Kurang ajar! Mereka sungguh berani sekali, menghina keluarga kita."


"Tapi apa yang mereka semua katakan itu semua benar. Kita bukan lah siapa-siapa kalau bukan latar belakang dari keluarga besar Opa Wijaya," balas Floren lesu.


Nyonya Berta menghela nafas. "Sayang dengar kata Mami ini anakku. Walau kita tidak ada hubungan darah dengan kakek tirimu itu, tapi Papi sangat berusaha keras dalam membangun perusahaan kita agar menjadi besar. Jadi jangan berpikir seperti itu lagi ya sayang."


"Yang dikatakan Mami mu benar, aku membuat perusahaan keluarga kita menjadi besar dengan kerja kerasa dan keringatku sendiri. Opa Wijaya hanya memberi, tapi aku yang menjalankannya. Jadi Floren anakku, lebih baik jangan berpikir kalau keluarga tidak ada sumbangsih sama sekali," serobot Tuan Wijaksana yang baru saja tiba.


Nyonya Berta dan Floren menoleh serempak.


"Dengar itu sayang, dengar kata Papi mu itu. Dia membangun dan mengembangkan perusahaan keluarga kita hingga besar seperti sekarang ini. Jadi Floren sayang, jangan pernah berpikir kita dari keluarga rendah ya sayang," ucap Nyonya Berta menyemangati.


Floren mengangguk. "Kau benar Mamy, mereka semua tidak pantas menghina keluarga kita."


"Ya jangan bersedih lagi, kau juga harus maju. Nanti malam akan ada tamu yang datang kesini," ucap Tuan Wijaksana.


"Siapa Pi?" tanya Floren penasaran.


"Pendamping masa depanmu," balas Tuan Wijaksana apa adanya.


"Aku tidak ingin pria lain," tolak Floren mentah-mentah.


"Pokoknya Papi tidak mau tahu, kau harus menerima pria itu!" tegas Tuan Wijaksana kemudian keluar dari kamar Floren tanpa mau memdengar bantahan apapun lagi.


Sementara itu Floren hanya bisa terdiam dan menatap ibunya. "Apa itu benar Mi?" tanyanya sedih.


Nyonya Berta menunduk. "Iya sayang, tapi coba jalani saja dulu hubunganmu dengan pria itu ya. Dia tidak kalah tampan dari Michael koq," balasnya.


Floren bangun dari duduknya tanpa banyak kata dan meminta Mamynya itu keluar dari kamar. Sedangkan Nyonya Berta yang mengerti pun segera keluar dari kamar Floren dan membiarkan sejenak anaknya untuk menenangkan diri.


...----------------...


Mansion Wiliam.


Pria tampan bertato rada sangar itu sedang asik memandangi Jelita yang sedang sibuk memilih dan memilah sebuah tempat destinasi wisata untuk berlibur dalam rangka hari libur akhir tahun.


Sekaligus jadwal mereka untuk melakukan sesi foto prewedding bersama bertema alam.

__ADS_1


Wiliam menyesap kopi ekspresso pahit kesukaannya, sesekali mengucapkan kata. "Terserah kau saja."


Jika perempuan yang selalu bilang terserah, kali ini Wiliam lah yang bilang terserah. Hingga gadis dihadapannya itu dibuat bingung, dalam memilih tempat wisata untuk berlibur.


"Semuanya bagus Wil, menurut mu tempat wisata mana yang paling bagus dari semua ini?" tanya Jelita.


Wiliam menaikkan bahu. "Tidak tahu, terserah kau saja," balasnya enteng tanpa beban.


Jelita mengerjapkan kelopak matanya berkali-kali. "Baiklah kalau begitu, kita kesini saja deh," ucapnya sambil menunjuk sebuah tempat yang sudah tidak asing lagi.


Wiliam memanjangkan lehernya untuk melihat tempat mana yang akan dipilih oleh calon istrinya itu dan tersenyum.


"Hem, boleh. Bagus juga," balasnya lalu menghubungi seseorang.


"Pesankan aku tiket pesawat untuk besok pagi," titah Wiliam.


"Mau kemana bos?" tanya Riko lewat ponselnya.


"Aku dan Jelita ada jadwal untuk sesi foto prewed, sekaligus liburan ke Bali bersama calon istriku yang cantik ini," balas Wiliam lengkap dengan kedipan salah satu mata genitnya ke arah Jelita.


"Liburan? Curang banget kau Wil. Aku bekerja keras disini dan kau malah ingin liburan," protes Riko.


"Aku ingin berdua saja dengan calon istriku," balas Wiliam sambil menatap Jelita yang tiba-tiba bingung, karena sebelum memilih tempat mereka berdua sepakat mengajak keluarga yang lain.


Riko menghela nafasnya. "Ya sudah selamat bersenang-senang, jangan lupa kalian belum menikah. Jadi jangan berbuat macam-macam."


"Cih! Kerja saja sana, jangan urusi urusanku," balas Wiliam lalu mematikan ponselnya sebelum Riko sempat membalas.


Wiliam tersenyum. "Siapa bilang?" balasnya ngeselin.


"Kita kan sudah sepakat sebelumnya, akan mengajak semua orang. Jika pergi berdua saja denganmu maka aku memilih tidak jadi liburan saja." Jelita mencebik.


Wiliam terkekeh. "Jangan marah, aku hanya membohongi Riko saja. Kita akan pergi bersama dengan semua orang disini," balas Wiliam sebelum wanitanya mengambek.


"Begitu donk," balas Jelita, merasa lega. Karena dia tidak ingin jika Wiliam sampai melakukan hal macam-macam padanya selama liburan.


...----------------...


Keesokan harinya.


Wiliam dan Jelita telah sampai di tempat tujuan, mereka menginap beberapa hari di salah satu resort mewah dekat bibir pantai di daerah Tabanan, Bali.


Soori Bali.


Sebuah resort mewah berbintang 5, dengan menyuguhkan pemandangan pantai yang indah di depan resort tersebut.


"Kau membohongiku!" cebik Jelita ketika mengetahui jika hanya dirinya dengan Wiliam saja yang pergi liburan.

__ADS_1


Gadis itu panik bukan kepalang, bagaimana tidak. Liburan tersebut nyatanya tidak sesuai dengan kesepakatan mereka sebelumnya.


Wiliam tersenyum dan melingkarkan kedua lengannya pada pinggang ramping Jelita. "Mana mungkin aku berbohong padamu sayang, aku telah mengajak mereka semua untuk ikut liburan."


"Tapi mereka sendiri yang tidak mau ikut, karena tidak ingin menganggu liburan kita berdua katanya. Lagipula ini adalah acara kita bukan," balas Wiliam mencari alasan semampunya.


Padahal memang pria itu tidak ingin ada orang lain yang mengganggu liburannya bersama dengan Jelita.


"Menyingkirlah Wil, jangan macam-macam. Disini hanya ada kita berdua, awas saja jika kau melakukan hal menjijikkan kepadaku di tempat ini!" ancam Jelita.


Gadis itu kembali panik dan menelan ludahnya susah payah, ketika mengetahui jika Wiliam hanya memesan satu kamar dengan satu kasur besar hanya untuk dua orang.


Yang artinya mereka akan tidur bersama saat menghabiskan istirahat malam nanti.


"Astaga!"



Wiliam menarik dagu Jelita agar tidak berlama-lama menatap kasur besar tersebut.


"Tenang, aku tidak akan berbuat macam-macam denganmu," balas Wiliam lalu mengurai pelukannya.


"Janji kau tidak akan menyentuhku saat tidur nanti kan?" tanya Jelita masih ragu.


"Aku berjanji tidak akan menyentuhmu saat tidur," balas Wiliam.


Tapi tidak tahu juga kalau sudah pulas mah. Pikir Wiliam. Bisa saja dia tiba-tiba memeluk Jelita karena mengira bantal gulingnya.


"Baiklah kalau begitu, aku pegang janjimu." Jelita memasukkan semua barangnya ke dalam lemari yang ada di dalam kamar hotel tersebut.


Gadis itu lalu masuk ke kamar mandi untuk bertukar pakaian, karena setelah ini Wiliam akan mengajaknya jalan ke pantai yang hanya selangkah dari resort mereka berada.


Sebelum akhirnya melakukan sesi foto yang akan dilaksanakan sore hingga malam nanti.


...***...


Tak berselang lama kemudian, Jelita telah bertukar pakaian. Dia memakai baju pantai berwarna kuning cerah dengan motif bunga dan topi jerami sebagai pelengkapnya.



Sedangkan Wiliam masih duduk santai di sudut ruangan sambil menatap Jelita yang baru saja keluar berganti pakaian.



"Apa lihat-lihat hem?"


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2