
Opa Wijaya begitu senang sekali, ketika melihat Wiliam dan Jelita datang berkunjung ke kediamanannya.
Pria tua kesepian itu pun, langsung menyambut kedua tamu istimewanya yang baru saja datang.
"Oh Wiliamku, cucu kurang ajar Opa akhirnya datang juga membawa cucu mantu Opa yang cantik ini. Silahkan masuk cucu-cucu Opa," sambut Opa Wijaya sambil mengandeng Jelita dan juga Wiliam untuk masuk bersama.
Jelita dan Wiliam tersenyum, kemudian berganti menuntun Opa Wijaya bersamaan. "Terima kasih Opa. Ayo kita masuk bersamaan," jawab mereka, kemudian duduk bersama di ruang keluarga.
Kedua manik mata Opa Wijaya seketika berlinang, saat menatap Wiliam dan juga Jelita yang terlihat semakin dekat saja.
"Opa sangat senang melihat kalian datang berkunjung, apalagi Wiliam datang bersama denganmu Jelita. Sekarang katakan pada Opa, ada keperluan apa kalian datang kesini?" tanya Opa Wijaya.
Wiliam tersenyum dan menatap Jelita yang juga menatap dirinya. Mereka kemudian bergantian menatap Opa Wijaya dan itu membuat Opa semakin bertambah rasa penasarannya.
"Ayolah Nak, jangan buat Opa penasaran seperti ini. Dan Jelita mengapa kau menunduk malu seperti itu?" tanya Opa Wijaya menempo wajah Jelita yang tertunduk.
"Opa ... Kami ada berita bahagia untukmu," balas Wiliam.
"Berita bahagia, apa itu Wiliam? Apa kontrakmu dengan klien tadi sukses besar?" tanya Opa menggebu.
Wiliam tersenyum lagi. "Bukan hanya kontrak dengan klien kita saja yang sukses Opa, tapi aku dan Jelita telah memutuskan akan menikah tahun depan."
Opa Wijaya mengangga seketika, mendengar pernyataan mengejutkan dari cucunya itu. Dia sampai tidak bisa berkata-kata karena saking gembiranya.
"B-benarkah itu, kalian akan menikah tahun depan dan tidak menunggu Jelita lulus kuliah terlebih dahulu?" tanya Opa Wijaya memastikan.
Wiliam dan Jelita mengangguk bersamaan dan menjawab pertanyaan Opa secara kompak. "Benar Opa," jawab mereka.
Opa Wijaya mulai menangis tersedu-sedu, tidak menyangka dengan apa yang telah didengar oleh indera pendengarannya sendiri saat mengetahui jika hari bahagia dalam hidupnya akan terjadi dalam waktu dekat ini.
"Kalian sedang tidak bohong sama Opa kan?" tanya Opa Wijaya masih tidak percaya.
"Opa, berita ini benar adanya. Kami akan segera menikah tahun depan dan rencananya pertengahan bulan januari kami akan melangsungkan pernikahan," balas Wiliam.
"Pertengahan bulan januari tahun depan? Itu berarti tinggal beberapa bulan lagi Wiliam. Kalau begitu kita harus menyiapkan segala sesuatunya mulai dari sekarang," ucap Opa Wijaya, dia begitu menggebu sekali saat mendengar berita dadakan tapi menggembirakan itu.
"Iya Opa, karena awal bulan januari, Jelitaku sudah berusia genap 20 tahun. Jadi aku rasa dia sudah cukup usia untuk menikah dan mengenai acara nanti, kami berdua yang akan mengurusnya," balas Wiliam, dia menatap Jelita yang masih terdiam lalu merangkulnya. "Bukan begitu Jelitaku."
__ADS_1
Jelita langsung mengangguk. "Yang dikatakan Wiliam benar Opa, jadi Opa tidak perlu cemas atau merepotkan diri. Biar kami berdua yang akan mengurus semuanya itu."
"Mana mungkin Opa diam saja Jelita, ini sudah memasuki akhir bulan september, kurang dari 4 bulan lagi menuju hari pernikahan kalian. Opa harus membantu, setidaknya membuat daftar tamu undangan. Dan mencarikan tanggal yang tepat untuk kalian dibulan tersebut, tempat dan lain sebagainya," tutur Opa Wijaya begitu semangat sekali.
Siapa yang menikah dia yang semangat, begitulah yang terjadi sekarang ini dan Wiliam begitu senang ketika melihat Opanya juga senang.
...***...
Setelah cukup lama mereka membicarakan mengenai rencana pernikahan dan juga mencari hari maupun tanggal baik, Wiliam dan Jelita akhirnya meminta ijin untuk pulang ke rumah.
Namun Opa Wijaya segera menahan mereka sebelum pergi meninggalkan rumahnya.
"Kalian berdua tunggulah disini sebentar, ada yang ingin Opa berikan kepada kau Jelita," ucap Opa lalu mengambil sesuatu di kamarnya.
"Baik Opa," jawab Jelita.
Selama menunggu kakeknya pergi mengambil sesuatu, Wiliam menggoda Jelita kembali. "Jelita ... Beritahu padaku, kau ingin bulan madu kemana?" tanya Wiliam sambil menaikkan kedua alisnya berkali-kali.
Jelita memukul lengan Wiliam. "Kau ini! Bulan ini saja belum berakhir, kau malah sudah menanyakan bulan madu yang masih jauh. Dasar menyebalkan," balasnya ketus.
Wiliam terkekeh. "Kenapa, apanya yang salah dengan itu? Aku hanya ingin tahu saja kau ingin melakukan itu dimana, karena saat kita melakukan itu nanti. Kau pasti akan menjerit saat melihat ularku," balas Wiliam.
Wiliam pun tertawa lepas, merasa senang sekali menggoda Jelita. "Ah kau ini, membuatku gemas saja. Sudahlah lebih baik aku tidak usah menjawab, biar kau semakin penasaran."
"Tidak kau jawab juga tidak apa, aku tidak tertarik dengan ularmu," cebik Jelita.
Wiliam menggeleng sambil terkekeh geli, ternyata calon istrinya itu benar-benar polos sekali dan hal tersebut sukses menambah ketidaksabaran Wiliam akan reaksi Jelita nantinya.
Tak berapa lama kemudian percakapan tiada arti tersebut terhenti, saat melihat Opa Wijaya datang kembali menghampiri mereka.
Kakek tua itu jalan tergopoh-gopoh sambil membawa sebuah kotak yang berisi gelang milik peninggalan keluarganya terdahulu.
"Jelita, ini untukmu terimalah," ucap Opa Wijaya seraya memberi sebuah kotak berharga nya itu.
"Apa ini Opa?" tanya Jelita.
"Ini harta karun keluarga Wijaya, dulu dipakai oleh istriku dan diteruskan kepada menantu ku yaitu ibunya Wiliam. Namun setelah menantuku tiada, harta ini kembali lagi kepadaku dan aku sangat bersyukur karena telah mendapatkan penerus peninggalan keluarga ini," balas Opa Wijaya kemudian memberikan nya kepada Wiliam untuk dipakaikan kepada Jelita.
__ADS_1
"Wiliam pakaikan gelang ini kepada calon istrimu," saran Opa Wijaya.
Wiliam mengangguk mengerti, kemudian memakaikan gelang tersebut di pergelangan tangan kiri Jelita.
Selama Wiliam memakaikan gelang pada pergelangan tangannya, Jelita menatap wajah Wiliam tanpa berkedip. Senyum lembut pria itu mampu membuat dirinya hanyut dalam lamunan.
"Eh kalau dilihat-lihat, dia tampan juga ya," gumam Jelita dalam hati.
Wiliam tersenyum lalu menatap Jelita yang sedang melamun melihat dirinya. "Aku memang tampan sejak dulu, tidak perlu menatapku sampai sebegitunya."
Jelita menggeleng cepat. "Aku tidak melamunkanmu, hanya tidak sengaja saja melihatmu," balasnya berbohong.
"Heh! Sudah tertangkap basah tidak mau mengaku. Oke sudah selesai, ternyata gelang ini sangat cocok ditanganmu," ucap Wiliam masih menggenggam tangan Jelita.
"Oh sudah ya," balasnya kikuk, lalu menatap gelang di tangannya. "Cantik sekali," ucapnya lagi.
"Benar, cantik sekali. Dia benar-benar cantik," ucap Wiliam tersenyum sambil terus menatap Jelita.
Opa Wijaya menatap Wiliam dan juga Jelita, dia begitu senang melihat keduanya begitu mesra.
"Jelita ... Jagalah baik-baik harta peninggalan keluarga Wijaya ini, setelah kalian punya menantu perempuan nanti, kau bisa meneruskan harta ini kepadanya," balas Opa Wijaya.
"Baik Opa, aku berjanji akan menjaga peninggalan keluargamu ini dengan baik," balas Jelita sambil terus memandangi gelang pemberian dari Opa.
"Menantu perempuan kita? Itu berarti kita harus punya anak secepatnya Jelita, kita harus memberikan Opa cicit yang banyak untuknya," celoteh Wiliam.
"Apa anak!" pekik Jelita.
Jelita pun terbelalak dan menelan ludahnya susah payah, saat mendengar celutukan Wiliam yang tidak disaring terlebih dahulu. Dia hanya bisa mencubit perut Wiliam dengan kepala tertunduk, menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah karena malu.
Sementara itu Opa Wijaya hanya tertawa melihat kekikukan Jelita, sambil memukul bahu Wiliam tanda setuju dengan apa yang dikatakan oleh cucunya sendiri.
Benar kata Wiliam, Jelita. Setelah kalian menikah nanti, berikan cicit yang banyak untuk Opa," timpal Opa.
.
.
__ADS_1
Bersambung.