Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 135. Mandi Berdua.


__ADS_3

...WARNING!!!...


...BAB INI MENGANDUNG UNSUR 21+, JIKA KALIAN YANG MASIH BERUSIA DIBAWAH 21 TAHUN, DISARANKAN UNTUK SKIP BAB INI. DAN JIKA ADA BOCIL YANG KETAHUAN MEMBACA BAB INI, MAKA AUTHOR SUMPAHIN MATANYA BINTITAN....


...SEKIAN TERIMA KASIH, SELAMAT MEMBACA, SELAMAT KEPANASAN....


...SALAM NGANU DARI AUTHOR!!...


...----------------...


...----------------...


Pagi harinya.


Sinar mentari mulai merangkak tinggi, tetapi pasangan pengantin baru itu masih tertidur pulas diatas peraduannya. Mereka berselimutkan bedcover dan saling memeluk satu sama lain, dengan tubuh keduanya yang masih polos tanpa memakai busana.


Jelita menggeliat dan berganti posisi membelakangi Wiliam, sehingga pria itu langsung terbangun merasa ada sesuatu yang hilang dari pegangannya.


Wiliam membuka kedua mata dan tersenyum menatapi punggung Jelita yang penuh dengan jejak percintaan. Pria itu kembali mengingat aktifitas malam pertamanya bersama dengan Jelita yang cukup panjang dan melelahkan.


Dia mendekatkan diri dan melingkarkan erat tangannya pada pinggang sang istri, lalu membenamkan wajahnya pada ceruk leher istrinya yang masih tertidur pulas.


Wiliam menyingkirkan rambut yang menghalangi agar bisa melihat wajah istrinya dengan jelas saat tertidur dan Wiliam tersenyum hingga menampakkan deretan gigi putihnya yang rapih.


"Dia cantik sekali," pujinya lalu menyesap lembut telinga Jelita sebagai vitamin tambahan dipagi hari.


"Heumm," Jelita melenguhh merasakan geli pada bagian telinganya. Dia menggeliat dan menyingkirkan wajah Wiliam yang senang sekali menganggu tidurnya.


"Wil, geli." ucap Jelita dengan suara paraunya.


Wiliam merasa gemas dan terkekeh, semakin Jelita menggeliat semakin gencar dia mengusili istrinya. "Morning sayang," bisiknya lembut.


"Wil, aku masih ngantuk!" tepis Jelita menyingkirkan tangan Wiliam yang memuntirr pucuk kembarnya.


"Bangun sayang, mau lihat ular pythonku lagi tidak?" bisik Wiliam di belakang telinga Jelita membuat ia langsung membuka kedua matanya dan mengingat kejadian malam tadi.


Dimana Wiliam telah berhasil membobol pertahanannya, karena ulah si ular python yang telah membuat bagian intinya itu merasa sakit hingga sekarang.


"T-tidak, jangan Wil!" Jelita meronta ketika merasakan suatu benda keras menggesekk bagian bokoongnya.


Wiliam terkekeh dan segera menahan Jelita yang ingin kabur darinya. "Jangan lari sayang, maaf aku hanya bercanda," balasnya lalu memeluk Jelita seperti bantal guling.


Wanita itu berdebar kuat dan sedikit was-was, ia berharap Wiliam pagi ini tidak mengulangi hal serupa dengan kejadian tadi malam. Karena pagi ini entah mengapa sekujur tubuhnya serasa remuk dan merasakan pegal-pegal serta sakit, terutama pada bagian intinya itu.


"Kau menyebalkan sekali, aku hampir mati olehmu kemarin." Jelita mencebik, saat dirinya mengingat rasa sakit akibat penyatuan pada malam tadi.


"Omong kosong, aku malah mendengar kau mendesaah nikmat dan mengeluarkan suara-suara erotiss lainnya. Jelita sayang, coba keluarkan lagi suara menggodamu itu." Goda Wiliam.


Jelita terbelalak dan seketika dia mendelik, saat mendengar jawaban telak dari Wiliam. Wanita itu seperti kehilangan muka dan segera menutup wajahnya karena malu.


"Haha," gelak tawa Wiliam merebak saat melihat wajah istrinya yang memalu.


"Wil, kau nakal sekali!" cebik Jelita lalu berusaha bangun dari tempat tidurnya.


"Akh!" Jelita meringis kesakitan karena merasakan perih dan sakit pada intinya.


"Kau baik-baik saja sayang?" tanya Wiliam cemas.


Jelita mengangguk. "Tidak apa, aku baik. Hanya masih perih saja," jawabnya lalu melihat sebercak noda darah cukup banyak pada kain sprei.


Dia terdiam menatapi noda darah tersebut dan menyadari jika ia sudah bukan gadis lagi dan telah menjadi milik Wiliam seutuhnya.


"Maaf, aku terlalu bersemangat sampai hilang kendali saat melakukannya padamu," balas Wiliam terduduk lalu mengelus dan mengecup punggung Jelita.


"Tidak apa," balas Jelita dan mulai berdiri.


"Kau ingin kemana?" tanya Wiliam.


"Aku mau mandi," balas Jelita. Dia berusaha memaksakan diri melangkah sesekali meringis dan memegangi intinya yang sakit.


Wiliam merasa bersalah sekali melihat istrinya kesulitan berjalan, dengan sigap ia membopong raga Jelita dan membawanya ke kamar mandi.


"Wil, kau mau apa? Aku bisa sendiri," ucap Jelita.

__ADS_1


"Aku kasihan melihatmu, lagipula itu kesalahanku telah membuatmu kesakitan seperti ini. Jadi kita mandi berdua saja ya, aku akan membantumu membersihkan diri," balas Wiliam.


Jelita terdiam dan memandangi Wiliam, walau hatinya masih malu dan juga takut. Namun perhatian dari pria itu berhasil membuat dirinya kembali tenang.


...***...


Wiliam menurunkan Jelita dari gendongannya dengan hati-hati sekali, lalu mengisi air di dalam bathtub dan menyetel suhu air yang sesuai dengan suhu tubuh mereka sekarang ini.


Selama air terisi penuh, Wiliam menyerahkan sikat gigi kepada Jelita. "Ini untukmu, jika airnya sudah penuh, berendamlah di dalam sana."


Jelita menerima. "Terima kasih," balasnya.


Wiliam tersenyum dan menatap Jelita yang masih saja malu-malu berhadapan dengannya.


"Untuk apa ditutupi, aku sudah melihat semua bahkan telah mencicipinya," ucap Wiliam lalu mulai membersihkan diri.


Jelita tersipu malu, memang benar jika Wiliam sudah melihat seluruh bagian tubuhnya dan karena itu juga Wiliam jadi tidak bisa mengendalikan diri.


Jelita mengangkat kepalanya dan menatapi suaminya yang sedang menggosok gigi. Dia seketika terpana melihat sosok Wiliam yang begitu seksii.


"D-dia tampan sekali," gumam Jelita sembari menggosok giginya.


Wiliam menghentikan aktifitasnya. "Kenapa memandangiku seperti itu, apa baru sadar jika aku ini tampan hem?"


Jelita langsung gelagapan dan mengedarkan pandangannya ke arah lain. "Ah tidak, aku hanya sedang melamun saja," jawabnya mencari alasan.


Wiliam berdecih, kemudian tersenyum sambil terus mendekati istrinya dan memeluk dari belakang. "Sayang, aku ingin main sekali lagi. Boleh ya," bisiknya lembut di belakang telinga.


Jelita pun terbelalak, mengingat rasa sakit tadi malam, membuat ia sedikit ketakutan. "Tidak, jangan Wiliam. Kemarin kan sudah." lalu berusaha melepaskan pelukan Wiliam yang terus saja mengeratnya.


Wiliam tidak menghiraukan tolakan dari Jelita, dia terus memancing gairahh sang istri agar mau masuk ke dalam permainannya kembali.


"Aah, jangan Wil," lirih Jelita mulai terpancing saat Wiliam terus menciumi belakang telinganya.


Pria itu selalu memberikan sentuhan-sentuhan lembut di daerah sensitif, membuat Jelita kembali bergelinjang karena geli.


"Emmh ... Aaah ..." desaahan lembut mulai terdengar dan Wiliam semakin gencar memainkannya.


"Wil, jangan. Aah!" nafas Jelita mulai memburu saat Wiliam tidak henti-hentinya memainkan area sensitifnya, membuat Jelita kembali melemas.


Akan tetapi, sekuat hati ia menahan hasrat, seganas itu pula Wiliam terus memanasinya.


"Eugh!" Jelita kembali melenguhh, nampaknya usaha untuk bertahan mulai runtuh saat Wiliam menggesekkann ular pyhtonnya yang menegak dari belakang sana.


Wiliam kembali mendorong Jelita merapat ke dinding dan menekan lembut punggungnya agar sedikit membungkuk.


Pria itu ingin gaya yang lain dengan bermain dari belakang sana.


"Wil, jangan. "Jelita menggeleng, ketika pusaka kebanggaan Wiliam mulai mendorong masuk ke dalam inti miliknya.


Wiliam menahan pinggul Jelita agar tetap pada posisinya dan tidak melarikan diri, selama ia menekan ular pythonnya masuk ke dalam.


"Ah sempit sekali," gumam Wiliam, merasa sulit memasukkannya.


Selama proses itu berlangsung Jelita merasakan perih kembali di bagian intinya dan meminta Wiliam untuk berhenti memasukkannya.


"Akh! Wil, sakit!" jerit Jelita.


Wiliam tidak menghiraukan hal tersebut, dia malah semakin bersemangat melesakkan senjatanya dan dalam sekali hentakan, ular ganas miliknya itupun akhirnya tenggelam dengan sempurna.


"Aaakhh!!"


Jerita menjerit kembali, saat intinya merasakan penuh sesak didalam sana. Rasa sakitnya telah kembali lagi padanya dan mulai menangis terisak.


"Akh sakit sekali," ucapnya sambil terisak.


"Sorry Baby ..." lirih Wiliam sambil memeluk tubuh Jelita dari belakang dan mengecup lembut punggungnya. Dia menahan sejenak aktifitasnya, sampai Jelita benar-benar merasa nyaman.


Wiliam memberikan sentuhan kembali, selama ularnya masih tenggelam nyaman di dalam sana. Menikmati pijatan lembut yang begitu memanjakan.


Dia kembali memancing gairah istrinya yang sempat hilang akibat rasa sakit yang tadi ia ciptakan.


Wiliam mendesis dan menengadah ke atas, saat ular pythonnya mulai merangsek ingin bermain di dalam sana.

__ADS_1


Dia semakin gencar mencumbui istrinya dan saat desahaan itu terdengar, Wiliam mulai menyentak perlahan.


Jelita terpejam dan tubuhnya kembali melemas tidak berdaya, saat Wiliam mulai melakukan gerakan maju mundur dari belakang sana dan menghentak-hentaknya sesuai irama.


Sesekali tangannya menahan dan meremass kedua gundukan kembar Jelita yang ikut berguncang kesana kemari.


"Ahh ...." desaah Jelita.


Wiliam pun semakin mempercepat gerakan pinggulnya saat melihat Jelita mulai kembali memanas, mereka berdua kembali mengerang nikmat dan mendesaah bersamaan.


Suara hentakan dan juga erangann saling bersautan silih berganti, memenuhi seluruh ruangan kamar mandi.


"Hmm," cukup lama mereka melakukan posisi seperti itu, Wiliam berhenti sejenak karena melihat air pada bathtub telah penuh.


"Aahh ..." lirih Jelita saat Wiliam mencabut ular pythonnya dari dalam sana. Dia menyeringai dan segera membopong tubuh Jelita yang sudah lemas seperti jeli.


Wiliam merendam tubuh Jelita masuk ke dalam bathtub dan menyandarkan punggungnya agar tidak tenggelam.


Setelah Jelita mendapatkan posisi ternyaman, Pria itu kemudian masuk ke dalam dan kini mereka sama-sama berendam di dalam bak mandi berukuran besar yang berada di dalam kamar hotel tersebut.


Wiliam merangkak naik ke atas tubuh dan mulai merampas bibir istrinya, dia bermain-main diatas sana sambil kedua tangan menahan tubuh Jelita agar tidak tenggelam.


Jelita kembali mendesaah saat Wiliam mencumbuii bagian ceruk lehernya, dia juga tidak membiarkan kedua gundukan kembar istrinya menganggur terlalu lama.


Permainan liar Wiliam kembali membuat Jelita menganga dan bergelinjang kesana kemari tidak karuan.


"Oh Wil," lirih Jelita.


Wiliam kembali merampas bibir ranum istrinya dengan kedua tangan berusaha membuka kedua kaki Jelita agar memberi jarak untuk akses masuk sang ular.


Selama melakukan pertautan bibir, Wiliam kembali menekan pinggul dan melesakkan ularnya ke dalam.


Mereka sama-sama mengerang hebat saat penyatuan terjadi dibawah sana.


"Eerrrghhh!"


Wiliam mulai menghentakkan pinggulnya naik turun, maju dan juga mundur. Mencari sensasi berbeda bermain-main di dalam air.


Hentakan ganas dari Wiliam menciptakan riak serta gelombang air pada bathtub. Begitu pula tubuh Jelita, selalu bergerak mengikuti tempo yang ada.


Setelah sekian lama bermain di dalam air, akhirnya wanita itu kembali membusung dan menengadahkan wajahnya keatas. Saat merasakan gelombang nikmat sebentar lagi akan datang menghampirinya.


Seluruh urat nadi disekujur tubuhnya kembali menegang, Jelita terpejam serta mengerang hebat dengan mulut yang terus menganga lebar.


"Wil!" pekiknya.


Wiliam mengerti rekasi tubuh istrinya, dia segera mencari kedua tangan Jelita dan meremass kuat sebagai pegangannya.


"Tahan sayang, aku juga mau keluar. Ahh!" Wiliam mengerang hebat ketika gelombang kenikmatan kembali berada diatas puncak kepala.


Mereka saling bersautan memanggil nama dan saling mengungkapkan cinta satu sama lain.


"Wil, ahh aku... Aku.. ahh!" desahh Jelita.


"Arrghh!! .... Aahh!" mereka berdua melakukan pelepasan bersama, diiringi muntahan lahar hangat di dalam sana.


Keduanya melemas dan terbang melayang bersama saat pelepasan itu terjadi. Mereka saling tersenyum dan Wiliam mendaratkan kecupan cinta di kening istrinya sebelum menyudahi aksi panas nan liar yang cukup mendebarkan.


"Aku sangat mencintaimu sayang, benar-benar mencintaimu," ucap Wiliam menatap wajah sensual Jelita diiringin dengan nafasnya yang tersengal.


Pria gagah itu mengangkat tubuh istrinya yang sudah melemas tidak berdaya untuk keluar dari bathtub dan membantunya membersihkan diri.


.


.


Bersambung.


...----------------...


Haduh, maaf jika ada beberapa bab yang mengandung unsur memabukkan hingga membuat pembaca merasa kegerahan.


Terima kasih karena telah membaca novel receh ini, jangan lupa memberi sesuatu untuk penyemangat penulis yang sudah rela-rela menelan ludah saat menulis adegan panas ini.

__ADS_1


Salam sejahtera dari author agak somplak.


__ADS_2