
Jason berjalan mendekati Michael. "Apa kau baik-baik saja?" tanya Jason saat melihat kondisi Michael yang cukup menyedihkan.
"Kau lihat itu tadi ... Dia lebih memilih pria jahat itu daripada aku. Kau benar Jason, pria itu pandai sekali merayu wanita, dan si Jelita itu, dia begitu lugu dan tidak tahu apa-apa. Tidak tahu jika orang disebelahnya adalah orang yang berbahaya."
Michael menghela nafasnya dan kembali melanjutkan perkataan. "Jelita ... Dia tidak tahu jika semua orang mencemaskan dirinya dan dia malah asyik bergandengan dengan pria yang tidak dikenal."
"Mike ... Ku rasa kau harus mempercayai Jelita kali ini, karena aku yakin dia melakukan hal tersebut bukanlah tanpa alasan," ucap Jason memberi pengertian.
Michael mengangguk dan berusaha menerima kenyataan itu. "Kau benar, aku yakin pria berandal itu telah membuat Jelitaku tidak berdaya. Jika tidak, mana mungkin dia mau ikut dengan orang jahat seperti dia."
"Bersabarlah Mike, lebih baik kita makan dulu. Kau belum makan dari tadi bukan, dan ini sudah waktunya makan malam. Setelah itu kita akan kembali lagi ke sini untuk menjemput Jelita," ucap Jason memberi saran.
Michael menolak. "Bagaimana aku bisa makan dengan tenang Jason, saat aku tidak tahu dia sedang apa di sana. Apa dia merasa senang atau malah sebaliknya saat bersama dengan pria itu. Aku harus menyusul mereka, aku ingin memastikan bahwa Pria itu benar-benar tidak menindas Jelita."
Michael bermaksud menyusul Jelita namun Jason segera menghentikannya.
"Jangan Mike, tempat ini bukanlah daerah kekuasaanmu. Kita tidak boleh berbuat sembarangan di tempat ini, lebih baik kita keluar sekarang dan menunggu mereka selesai makan malam."
Jason merangkul Michael agar pergi dari perusahaan Wijaya Group dan menyakinkan pria itu, bahwa Jelita akan baik-baik saja.
"Percayalah Jelita tidak akan mengalami hal buruk dan dia akan baik-baik saja, di sini tempat orang-orang terhormat. Mereka tidak akan menindas seorang gadis di tempat ini," ucap Jason.
Michael mengangguk, merasa benar juga dengan perkataan Jason. "Kau Benar," balasnya.
Dengan berat hati Michael melangkahkan kaki keluar dari perusahaan itu, meninggalkan Jelita sendirian bersama dengan seorang pria asing. Dan menunggu gadis itu menyelesaikan urusannya dengan sabar, sambil terus berharap agar tidak terjadi hal buruk kepadanya.
Kemudian dia akan membawa pergi Jelita sesegera mungkin dan menjauhkannya sejauh mungkin dari pria yang bernama Wiliam.
...***...
Sementara itu Wiliam bersama Jelita sedang berada di dalam lift, tidak banyak interaksi di antara kedua orang tersebut. Namun Wiliam senantiasa memperhatikan Jelita yang sedang murung.
"Kenapa tidak bersemangat seperti itu, apa kau kecewa dengan keputusanmu sendiri, yang lebih memilihku daripada dirinya?" tanya Wiliam.
Jelita menggeleng. "Bukan seperti itu, aku hanya tidak menyangka kalau Michael bisa sampai menemukanku disini dan ku lihat sepertinya dia langsung mencariku sepulang kuliah," balasnya.
"Benar ... Sepertinya dia sangat mengkhawatirkanmu, apakah dia mencintaimu?" tanya Wiliam.
Jelita terdiam, bagaimana bisa dia menceritakan hal tersebut kepada pria yang baru saja dikenalnya selama beberapa hari.
__ADS_1
"Kami hanya berteman," balas Jelita.
"Teman ... Apa kau yakin?" tanya Wiliam kembali.
"Hem," balas Jelita singkat.
"Tapi yang ku lihat hubunganmu dengannya lebih dari sekedar teman," ucap Wiliam, dia menatap Jelita yang menunduk.
"Aku dan dia hanya berteman dan hubungan kami tidak bisa lebih dari itu. Karena dia anak ibu asuhku dan juga statusku yang berbeda jauh dengannya," balas Jelita.
"Jika dia bukan anak dari ibu asuhmu, apa kau akan menjalani hubungan dengannya lebih dari sekedar berteman?" tanya Wiliam.
"Wiliam ... Ketahuilah ini, aku adalah seorang anak asuh dan selama aku menjadi anak asuh, aku harus tunduk pada peraturan yang ada. Jadi walau Michael anak dari ibu asuh atau tidak, aku tetap tidak boleh menjalin hubungan khusus dengan dia atau pria manapun juga," balas Jelita.
"Kau terikat sebuah peraturan? Lalu foto mesra kalian yang tersebar luas, apa kau bisa menjelaskan itu?" tanya Wiliam.
Jelita terdiam dan dia menghela nafasnya. "Maaf, aku tidak bisa menjawabnya."
Wiliam mengangguk. "Baiklah aku tidak akan bertanya lagi. Jelita ... Bagaimana jika kau hapus gelar anak asuhmu itu dan menikahlah denganku, aku berjanji akan menghidupimu dan juga ibumu. Aku memang tidak sekaya keluarga Chandra Putra, tapi aku bisa menjamin pendidikanmu sampai ke jenjang perguruan tinggi."
Jelita menatap Wiliam. "Maaf aku tidak bisa, karena walau bagaimana pun juga aku tetap telah berhutang budi kepada keluarga ibu asuh lebih dulu. Dan aku telah berjanji kepadanya akan memenuhi semua janji dan juga kewajibanku sebagai seorang anak asuh."
"Wiliam ...."
"Apa?" balas Wiliam.
"Apa setelah ini, maukah kau berjanji kepadaku?" tanya Jelita.
"Berjanji untuk apa?" tanya Wiliam.
"Berjanjilah padaku, untuk tidak mendekatiku lagi, atau menjauhlah dariku," balas Jelita.
Wiliam tersenyum tipis dan dia tidak menjawab.
"Wil ..." ucap Jelita.
"Ting!" pintu Lift terbuka.
Wiliam tersenyum. "Maaf aku belum bisa menjawab pertanyaanmu itu, karena kita harus menemui Opa terlebih dahulu. Sepertinya dia sudah menunggu kita di depan sana," ucapnya sambil menunjuk ke depan sana.
__ADS_1
Jelita pun menoleh dan dia terkejut dengan sambutan yang begitu indah, semua orang telah berbaris rapi hanya untuk menyambut kedatangan Wiliam dan juga Jelita.
Wiliam sekali lagi mengulurkan tangannya, dan menunggu dengan sabar sampai Jelita menyambut uluran tangannya itu.
"Sambutlah tanganku Jelita," pinta Wiliam secara halus dan mengangguk samar agar Jelita mau menurutinya.
Jelita tersenyum dan menyambut uluran tangan Wiliam, dan kini mereka saling bergandengan tangan kembali. Sambil terus melangkahkan kaki secara bersamaan, menuju sang Kakek yang telah setia menunggunya datang sejak dari tadi.
Suara tepuk tangan dan ucapan selamat saling bersautan, mengiringi disetiap langkah kaki mereka berdua. Begitu pula dengan ucapan berisi pujian tentang penampilan dan juga keserasian Wiliam dengan Jelita.
Menambah kesan restu untuk keduanya.
Jelita tersenyum dan menundukkan kepalanya di depan semua staft kantor, para direksi dan juga karyawan lainnya, sambil terus memeluk erat lengan Wiliam karena ia terus saja merasa gemetar. "Ramai sekali," gumamnya.
"Jangan takut, tenangkanlah dirimu," ucap Wiliam berbisik di telinga Jelita dan Jelita hanya bisa mengangguk saja, sambil terus menelan ludahnya yang tercekat.
Wiliam dan Jelita akhirnya berhenti dihadapan seorang pria tua yang sedang berdiri dengan didampingi sang asisten pribadinya. Dia lah sang Kakeknya Wiliam, Opa Wijaya.
Opa Wijaya tersenyum begitu bahagia dan langsung menyambut Wiliam dan Jelita dengan sebuah pelukan.
"Selamat datang cucuku Wiliam," sambut sang Opa.
"Selamat datang Tuan Muda," sambut Pak Boby.
"Terima kasih," balas Wiliam.
Opa Wijaya tertawa sambil menepuk-nepuk pundak cucu kesayangannya, tertanda dirinya begitu bahagia dengan kehadiran sang cucu. Dia kemudian melemparkan pandangannya kepada seorang gadis disebelah Wiliam.
Opa Wijaya mendekati Jelita dan dia menatapinya dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Pria tua itu tersenyum lebar lalu menatap Wiliam. "Apa dia?" tanyanya dan Wiliam mengangguk.
"Haha ... Kalau begitu selamat datang cucu menantuku," sambut Opa dengan suara lantangnya.
"C-cucu apa ... C-cucu menantu?" gumam Jelita, dia mengerjapkan kelopak matanya sambil terus menganga, begitu syok saat mendengar pernyataan mengejutkan dari Kakeknya Wiliam.
.
.
Bersambung.
__ADS_1