Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 100. Bertaruh nyawa.


__ADS_3

Mansion Chandra Putra.


Di meja makan keluarga Michael sedang berkumpul untuk sarapan pagi bersama. Nyonya Caca dan juga Tuan Nael begitu senang karena putranya ikut sarapan bersama dengan mereka.


"Sayang, apa sebaiknya kita beritahu Miki sekarang, tentang wanita pilihan kita?" tanya Nyonya Caca berbisik di telinga sang suami.


Tuan Nael menatap Michael yang sedang senyum-senyum sendiri. "Dia sepertinya sedang senang, coba saja bicarakan kepadanya langsung. Dan kita lihat reaksinya seperti apa," balasnya berbisik juga.


Nyonya Caca tersenyum dan mengangguk lalu menatap putranya Michael.


"Miki sayang, ada yang ingin Mamy dan Daddy katakan padamu," ucap Nyonya Caca.


"Iya Mom, silahkan katakan saja." balas Michael sambil gregetan menunggu pesan balasan dari Jelita. "Dia kemana sih, bukannya tadi mau lanjut WA lagi," gerutunya kesal.


"Miki ... Emm ... Sayang, beberapa bulan yang lalu, Mamy sama Daddy mu makan malam bersama dengan keluarga nyonya Stefani dan keluarga mereka sangat terpandang dan juga baik hati," ucap Nyonya Caca gugup sekali.


"Iya Mommy terus kenapa?" tanya Michael cuek dan masih melihat ponselnya.


"Begini Miki, nyonya Stefani punya seorang putri. Putrinya itu begitu cantik dan Mamy terkejut saat mengetahui jika ternyata dia itu adalah teman sekelasmu," balas Nyonya Caca.


Michael meletakkan ponselnya sejenak, masih setia menunggu balasan dari Jelita. "Oiya? Terus Mom siapa nama dia?" tanyanya.


"Namanya Clara, dia teman sekelasmu dan Momy sama Daddy begitu senang saat pertama kali melihatnya walau hanya dari selembar foto," balas Nyonya Caca


"Ooh Clara, ya dia memang cantik," balas Michael sembari menyuap sarapannya.


Nyonya Caca menatap Tuan Nael dan tersenyum, lalu menatap kembali putranya. "Miki sayang ... Momy dan Daddy sudah memutuskan akan menjadikan Clara sebagai menantu keluarga Chandra Putra dan rencananya bulan depan kalian akan bertunangan."


Michael menjatuhkan sendoknya saat mendengar perkataan Mamynya sendiri. Dia menautkan kedua alis dan menatap tidak suka.


Pria itu menggeleng. "Tidak Mom, aku tidak menginginkan wanita lain. Aku tidak mencintai wanita itu, aku tidak setuju dengan keputusanmu itu Mom!" tegas Michael.


Nyonya Caca berdebar takut ketika melihat reaksi Michael yang berubah marah. "Sayang, dia begitu baik, cantik dan juga keluarga terpandang. Mamy berharap kamu akan menerimanya Nak."


Michael menghentikan sarapannya dan berdiri. "Tidak Mom, Mike tidak mau wanita lain selain Jelita!" bentak Michael kemudian undur diri.


"Berhenti Michael!" bentak Tuan Nael dan Michael pun berhenti.


"Tidak bisakah kau hormat kepada kedua orang tuamu. Apakah aku mengajarkan dirimu untuk tidak patuh atau membentak orang yang lebih tua darimu!" bentak Tuan Nael dia begitu gusar ketika melihat istrinya sakit hati dan menangis.


Michael berbalik. "Daddy ... Aku sudah bilang pada kalian kalau aku tidak suka dijodohkan dengan wanita lain, karena aku hanya mencintai Jelita seorang," jawabnya tegas.

__ADS_1


Tuan Nael naik pitam mendengar Michael yang masih bersikukuh mempertahankan wanita yang sudah menjadi menjadi milik keluarga lain.


"Buka matamu Mike, dia sudah dilamar oleh keluarga Wijaya dan mereka sudah pasti akan menikah saat wanita itu lulus kuliah. Dan kau masih menginginkan dia? Apa kau tahu dia sudah tinggal seatap dengan tunangannya sendiri. Sadarlah akan hal itu Mike, kita juga tidak tahu wanita itu masih suci atau tidak saat berada ditangan pria yang bernama Wiliam," balas Tuan Nael.


Michael bergeming, dia tetap percaya kepada cintanya. "Jelitaku tidak akan pernah berkhianat padaku dan aku percaya kepadanya."


Ayah dan anak itu saling menatap tajam dan bersikukuh dengan pendiriannya masing-masing. Tinggallah Nyonya Caca yang bersedih melihat keduanya bersitegang, hingga keadaan menjadi tidak harmonis seperti ini.


"Miki sayang, lupakan lah Jelita, lepaskan gadis itu. Kau juga harus membuka lembaran baru dan menatap masa depanmu agar lebih cerah. Apa yang dibilang sama Daddymu itu benar sayang, Jelita sudah milik keluarga lain. Mereka sudah bertunangan dan kau jangan menjadi pengganggu hubungan tersebut," tutur Nyonya Caca.


Michael seketika sedih saat mendengar ucapan dari Nyonya Caca, dia begitu hancur. "Mom, aku bukanlah penganggu hubungan mereka. Tapi Wiliamlah yang mengganggu hubungan ku dengan Jelita. Dia yang telah merampas Jelita dari ku, padahal Jelita sendiri tidak ingin bersamanya."


"Mom, jangan pernah jodohkan aku dengan wanita lain. Aku hanya menginginkan Jelita," balas Michael lalu berbalik badan bermaksud ingin kembali ke dalam kamarnya.


Nyonya Caca begitu sedih, dia terus mengikuti kemana Michael melangkah. "Sayang dengarkan lah perkataan Mamy, kami semua sayang kepadamu. Menurutlah sayang, maka kau akan bahagia. Momy yakin seiring berjalannya waktu, Clara dapat menyembuhkan lukamu."


Michael mengepal erat tangannya dan berbalik saat mereka telah berada diujung atas tangga sana. "Tidak Mom, aku tidak ingin bersama dengan wanita lain selain Jelita!" bentak Michael sambil menepis tangan Nyonya Caca dari lengannya.


Kelakuan kasar dari Michael, membuat Nyonya Caca menjadi hilang keseimbangan. Hingga ia pun akhirnya jatuh dari atas tangga dan terus berguling hingga ke lantai bawah.


Semua terbelalak dan suasana mendadak hening, ketika harus menyaksikan kejadian menyeramkan tepat dihadapan mata kepala mereka sendiri.


"Mommy!" pekik Michael.


"Nyonya Besar!" teriak Bi Sari beserta para Maid disana.


Mereka semua segera berlarian menghampiri Nyonya Caca yang sudah tergeletak tidak berdaya di sisi tangga. Semua pun panik karena darah segar mengalir deras dari kepala Nyonya Caca.


"Cepat ambilkan mobil!" pekik Tuan Nael sambil menggotong tubuh istrinya yang sudah terbujur lemas. "Sayang bertahanlah," gumamnya dalam hati.


"Momy!" pekik Michael, dia merasa bersalah sekali karena telah membentak Ibunya sendiri.


Tuan Nael menepis lengan Michael. "Jangan kau sentuh istriku!" bentaknya. Lalu meminta supir segera membawa dirinya dan juga sang istri menuju rumah sakit terdekat.


"Jalan!" titahnya sambil meninggalkan Michael yang menangis seraya menyesali perbuatannya.


Semua orang bersedih dan menyesali tindakan buruk Michael, karena ulah dan keras kepala putera dari keluarga terhormat Chandra Putra itu, menyebabkan Nyonya besar keluarga mereka sekarang harus bertaruh nyawa dengan waktu.


"Mommy ... Maafkanlah aku," lirih Michael, kemudian memanggil supir pribadinya untuk menyusul sang Mamy menuju rumah sakit.


...----------------...

__ADS_1


Mansion Wiliam.


Suasana ramai terjadi di ruang makan mansion Wiliam, mereka semua terus meledek Jelita yang tertangkap mata memiliki tanda kemerahan di lehernya.


Gadis itu pun hanya tertunduk malu dan mengerutu, sambil terus menyalahkan pria di depannya yang hanya terkekeh seperti tidak merasa bersalah sedikitpun.


"Ini semua karena pria itu, dia telah membuatku malu sampai seperti ini," umpatnya kesal.


Opa Wijaya tertawa terbahak-bahak, begitu senang dengan kejadian romatis di depan matanya sendiri, karena Wiliam terus saja menggoda Jelita.


"Dia membuatku gemas Opa, sampai aku harus menggigitnya berulang kali," ucap Wiliam tanpa dosa seraya meremas tangan Jelita.


"Kau nakal sekali Wiliam, jangan pernah kau ulangi kejadian memalukan itu. Dia belum sah menjadi istrimu dan kau harus menahan untuk tidak menyentuhnya," titah Opa Wijaya.


Wiliam mengangguk. "Baik Opa aku tidak akan mengulanginya lagi. Maaf ya ibu Maria, aku tidak bisa mengontrol rasa gemasku pada Jelita."


"Tidak apa Wiliam, tapi ingatlah batasanmu. Jika terulang lagi maka Ibu tidak akan memaafkanmu." tegas Ibu Maria.


"Nyonya Maria, maaf akan tingkah laku Wiliam kepada putrimu Jelita. Tapi percayalah aku sendiri serius dan telah menyetujui hubungan mereka berdua. Maaf juga sebelumnya aku tidak meminta ijin kepadamu terlebih dahulu saat melamar putrimu waktu itu. Dan sekarang mumpung kita berhadapan bersama, apakah Nyonya menyetujui hubungan mereka? Apa Nyonya mengijinkan Jelita menjadi menantu keluarga besar Wijaya?" tanya Opa Wijaya penuh dengan keseriusan.


Ibu Maria tersenyum dan begitu senang dengan tawaran Opa Wijaya, apalagi melihat Wiliam begitu tulus menunggu Jelita.


"Tuan besar, aku memang kecewa dengan pertunangan putriku yang tiba-tiba tanpa sepengetahuan diriku. Tapi setelah melihat kedekatan mereka, aku meyakinkan diri, jika putriku akan bahagia bersama dengan Wiliam. Maka dari itu Tuan Besar, aku menyetujui hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius," balas Ibu Maria.


Semua pun bersuka cita mendengar hal tersebut, tapi tidak dengan Jelita. Dia begitu kesal mendengar pengakuan dari ibunya sendiri dan hal itu tertangkap mata oleh Wiliam.


Wiliam dengan segera menenangkan Jelita yang sebentar lagi akan meledak, dengan membawanya pergi masuk ke dalam kamar.


"Ibu ... Opa, kami pergi dahulu," ijin Wiliam lalu menarik tangan Jelita untuk ikut dengannya.


"Silahkan Wiliam dan ingat jangan kasar-kasar sama cucu mantu Opa ya," balas Opa lalu di iringi suara tawa suka cita semua orang yang berada disana.


"Baik Opa, tenang saja aku tidak akan kasar-kasar padanya," balas Wiliam sambil terus tersenyum menatap Jelita.


.


.


Bersambung.


...----------------...

__ADS_1


Hai readers setia, akhirnya nyampe juga di episode 100. Mohon dukungannya ya.. Beri like, komen atau hadiahnya untuk terus menyemangati author receh ini.


Terima kasih karena sudah menyempatkan diri untuk mampir dan membaca karya kedua saya ini. 🤗🤗


__ADS_2