
Keesokan harinya.
Mentari belum muncul namun Jelita telah bangun dan sedang sibuk mengerjakan pekerjaan tambahan yang dia dapatkan dari tetangga rumahnya.
Seorang Ibu yang baru saja melahirkan meminta tenaga Jelita untuk mengerjakan pekerjaan cuci gosok pakaian yang telah dicarikan oleh Pak Budi sebelumnya.
Jelita mengambil baju kotor tersebut pada saat pulang kerja, lalu mengerjakannya pada pagi hari. Tidak ada mesin cuci atau alat bantu yang canggih untuk dia melakukan itu semua.
Mesin sederhana terbuat dari kayu warna coklat tua sedikit kehitaman pada bagian ujungnya karena jamur. Papan gilas berbentuk persegi panjang dengan banyak gerigi diatasnya itu membantu Jelita untuk membuat pakaian menjadi bersih dari noda dan kotoran.
"Gusrak! gusrak! gusrak!"
Suara khas dari papan kayu itu berulang kali tercipta, disetiap hentakan tangan Jelita saat menggilas pakaian kotor. Suara di pagi buta itu setia mengiringi pagi Jelita yang dingin, sesekali dia menjedanya dengan mengucurkan sedikit air dan secolek sabun lalu menyikatnya hingga bersih.
"Hem ... wangi lemon!" gumam Jelita.
Setelah selesai mencuci baju dan membilas dengan air bersih, Jelita merendam pakaian tersebut dengan pewangi pakaian yang dibelinya di warung seharga seribu rupiah.
Selama pakaian itu direndam dengan pewangi, Jelita mulai memasak nasi beserta sayur bening untuk sarapan pagi dan tidak lupa memasak bubur untuk Ibu.
Dapur sederhana nya telah penuh dengan asap oleh kayu bakar di dalam tungku. Sambil terus memasak, matanya selalu waspada memantau api agar tetap menyala.
"Fuuh! ... fuuh ...."
Sesekali Jelita meniup kayu bakar dihadapannya yang mulai padam menggunakan sebuah corong ramping dari bambu sepanjang setengah meter. Terkadang debu hitam atau pletikan api bekas bakaran itu melayang dan tanpa ragu menempel di wajah bahkan di seluruh tubuh Jelita.
"Huft! ... akhirnya semua sudah selesai. Waktunya mengurus Ibu dan juga mandi," ucap Jelita sambil mengusap peluh pada wajahnya yang sedikit hitam karena debu.
"Pagi Ibu, sudah bangun ya ... Jelita bantu bersihkan badan Ibu dulu ya, setelah itu sarapan dan minum obat," seru Jelita bersemangat.
"Heem ...."
Ibu mengedipkan mata perlahan dan berusaha tersenyum kepada Jelita. Walau dia tahu itu sangatlah sulit untuk dilakukan karena kondisinya, namun Ibu memaksa menarik ujung bibirnya yang kaku.
"Senyuman Ibu sangat indah," ucap Jelita dengan tangan yang terus membasuh wajah dan tubuh Ibu.
"Ikh ada kotoran dimata Ibu! pasti Ibu semalam tidurnya pulas sekali ya." Jelita tertawa lalu membuang kotoran itu agar pandangan Ibu menjadi jernih.
"Terima kasih Nak ...."
Walau tidak bisa berbicara, namun itulah yang selalu Ibu sebutkan di dalam hati jika Jelita sedang mengurus dirinya.
__ADS_1
***
Jelita telah selesai mengurus Ibu dan juga dirinya, sebelum pergi bekerja dia memeras baju yang telah direndam pewangi sebelumnya.
"Kebus! kebus!"
Pakaian basah itu dia peras lalu dikibas-kibaskan dengan keras agar air dalam baju berkurang, kemudian dengan cepat Jelita menjemur semua pakaian itu diatas tali jemuran yang membentang panjang dibelakang rumahnya.
Pakaian itu berjejer rapi dibawah atap plastik bening yang membentang luas sepanjang tali jemuran. Hal itu bertujuan agar pakaian bersih tersebut tidak kehujanan namun terik matahari masih bisa menembus dan membuat pakaian basah menjadi cepat kering.
Jelita menarik nafas dalam. "Sudah selesai semua, sekarang aku mau berangkat kerja." Jelita membereskan semua peralatan cuci baju kemudian berpamitan kepada Ibu dan Bi sumi untuk pergi kerja.
……………………………………………………………………………
Di Kampus.
Jelita telah hadir tepat waktu dan tidak lupa dirinya mengucapkan salam kepada mereka yang bekerja disana.
"Selamat pagi Pak ... Bu!" sapa Jelita.
"Pagi Jelita," jawab mereka bersamaan.
"Mobil limited edition ini ku dapatkan sewaktu aku berulang tahun yang ke 18, sebelumnya Daddyku membelikan sebuah Villa mewah pada ulang tahun ku yang 17," ucap seorang siswa semester pertama bernama Marco.
"Wau ... orang tua ku memberi hadiah jam tangan mewah berlapis emas 24 karat ini dan juga tiket berkeliling dunia pada ulang tahun ku yang ke 18," ucap seorang siswa bernama Salim tidak kalah pamer.
"Kalau begitu kita berteman saja karena kita ini sama-sama anak orang kaya."
Mereka bercengkrama dengan sangat akrab lalu bergabung dengan siswa lain yang sama tajir nya dengan mereka.
Jelita menggeleng melihat kelakuan para siswa dan siswi disana. "Heran punya kekayaan dari orang tua saja bangga. Cobalah cari uang sendiri, dengan begitu baru boleh bangga."
Jelita menggerutu karena dirinya tak habis pikir dengan para pelajar disana yang terus saja membicarakan kekayaan keluarga mereka masing-masing. Jelita sampai tidak menyadari kalau ada seseorang yang datang mendekat dan menepuk pundaknya.
"Pagi Jelita!" ucap seorang kepala dosen yang sering dipanggil Bu Riana.
Jelita tersentak kaget hingga tempat sampah dalam genggamannya terlepas begitu saja.
"P-pagi Bu!" Jelita lalu menepuk dada dan menghela nafas.
Dosen cantik itu tersenyum kepada Jelita lalu bertanya, "Maaf Jelita. Kamu sedang memikirkan apa dan kenapa sampai kaget begitu?"
__ADS_1
"Tidak apa-apa Bu," balas Jelita sambil mengutip sampah yang berserakan di lantai.
"Oiya Jelita, bagaimana dengan keadaan Ibu mu?" tanya Ibu Riana membantu Jelita.
"Ibu masih sama ...." Jelita menghentikan sejenak pekerjaannya lalu merenung mengingat Ibu.
Bu Riana prihatin dengan kondisi Ibunya Jelita mengingat beliau merupakan petugas kebersihan yang paling lama bekerja di kampus tersebut dan berhati baik.
"Semoga Ibumu cepat sembuh, Nak." Bu Riana menguatkan hati Jelita.
"Terima kasih Bu Riana," balas Jelita.
Bu Riana teringat kejadian kemarin, tentang hinaan kepada Jelita. Dia memegang pundak Jelita dan berkata, "Nak Jelita, maaf ya kemarin murid-murid itu telah mengatakan hal yang tidak pantas kepada kamu."
Jelita menggeleng. "Tidak apa Bu. Mereka semua benar, Jelita memang jelek dan miskin.
Bu Riana terenyuh hatinya melihat Jelita yang hanya pasrah menerima semua hinaan kepada dirinya, hingga Bu dosen cantik itu bertanya-tanya dalam hati.
"Terbuat dari apa kamu Jelita? umurmu masih sangat muda, tapi kamu bisa menghadapi semua masalah dengan dewasa."
Bu Riana menghela nafas. "Jangan sedih, Ibu akan menghukum para murid itu jika suatu hari melakukan hal yang tidak baik kepadamu ya."
Jelita menatap wajah Bu Riana yang tersenyum kepadanya lalu bertanya, "Bagaimana Ibu menghukum mereka?"
"Ibu akan mencubit pipi mereka sampai merah kalau perlu itu dilakukan di depan kamu. Makanya jangan ragu untuk melaporkan mereka oke," jawab Bu Riana sambil bertalak pinggang.
Jelita terkekeh dan itu membuat Bu Riana ikut tertawa. Namun percakapan itu tidak disukai oleh seorang murid yang baru saja datang.
"Oh jadi si jelek itu mulai meminta bantuan kepada kepala dosen untuk menentang murid disini. Baik kita lihat saja siapa yang akan menang," ucap Michael lalu masuk ke dalam kelas.
Jelita melihat Michael yang telah masuk ke dalam kelas lalu menghentikan obrolan mereka. "Bu Riana maaf, Jelita harus membuang semua sampah ini dan kembali bekerja."
Bu Riana mengangguk. "Baik, Ibu juga harus masuk kelas dan mengajar. Selamat bekerja Jelita."
"Terima kasih Bu." Jelita lalu pergi dan kembali mengerjakan tugasnya.
.
.
Bersambung.
__ADS_1