Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 84. Lamaran pernikahan.


__ADS_3

Opa Wijaya mengajak Wiliam dan Jelita untuk masuk ke dalam, agar acara makan malam bersama bisa dimulai. Seluruh kepala direksi beserta jajarannya yang turut diundang pun mulai memasuki ruangan dan duduk sesuai pada tempatnya masing-masing.


Mereka memasuki sebuah aula lumayan besar, yang berada di puncak perusahaan tersebut dan memang sengaja dirancang khusus untuk beragam acara.


Opa Wijaya mengajak Wiliam dan Jelita beserta Pak Boby untuk duduk bersama disatu meja berbentuk lingkaran yang berisi empat orang.


Pak Boby menarik kursi. "Silahkan duduk Tuan," ucapnya mempersilahkan sang bos untuk duduk.


"Terima kasih Boby," balas Opa Wijaya lalu duduk manis.


Sedangkam Wiliam dengan kesadaran diri yang tinggi menarik kursi untuk seseorang. "Duduklah," titahnya kepada Jelita.


"Terima kasih," balas Jelita, dia duduk kemudian diikuti oleh Wiliam.


Jelita dan Wiliam menjadi pusat perhatian, bagaimana tidak, karena mereka adalah bintangnya disini.


Opa Wijaya sudah senyam senyum sendiri, memandangi kedua anak muda dihadapannya sambil memikirkan keduanya sedang bersatu dalam janji suci di atas altar pernikahan.


Seketika dia berkaca-kaca, mengingat serpihan kenangan tentang anak dan juga menantunya ketika bersatu menjadi satu keluarga. Saling bahagia dan saling mencintai satu sama lain, Opa Wijaya berharap, semoga Wiliam dapat menemukan pasangan hidup yang setia dan mencintai cucunya itu dengan setulus hati.


"Boby ... Cubit lenganmu, apa ini semua hanya mimpi?" tanya Opa berbisik di telinga asisten serba mau nya itu.


"Baik Tuan," balas Pak Boby dengan patuh.


"Opa ... Ini bukan mimpi," serobot Wiliam sebelum Pak Boby mencubit lengannya sendiri.


Opa Wijaya menggeleng. "Mana mungkin aku percaya begitu saja, kalau aku belum melihat Boby kesakitan," ucapnya tanpa pikir-pikir.


Wiliam mendekati Opanya dan menyeka air mata sang Kakek. "Apa ini cukup membuktikan kalau semua ini bukanlah mimpi," ucapnya sambil terus menyeka air mata Opanya yang menangis.


Opa Wijaya menatap Wiliam dan dia memeluk cucunya dan menangis di dalam dekapan sang cucu. "Sekarang aku percaya, jika aku sedang tidak bermimpi," ucapnya terisak penuh haru.


Seluruh tamu yang berada disana pun ikut menitikkan air mata, melihat pemandangan mengharu biru di hadapan mereka. Tak sedikit dari mereka yang menangis termasuk Jelita.


Gadis itu tertegun saat melihat sisi lain dari pria di sampingnya, dia tidak menyangka jika Wiliam memiliki hati yang lembut dibalik sosoknya yang terlihat seram dan sangar.


Suasana haru telah berakhir, kini mereka melanjutkannya dengan ritual makan malam. Para cheft mulai menyuguhkan beberapa hidangan pembuka dengan keahlian mereka yang luar biasa.


Jelita memberanikan diri mengkritik Wiliam saat pria tampan itu mulai menarik sebatang candu. "Wiliam, tolong jangan merokokk disini. Selain tidak sehat, aku juga benci bau asapnya."


Wiliam berhenti menarik batang candunya. "Baiklah, kau benar." Lalu menaruhnya kembali ke dalam saku.


Sontak saja Opa Wijaya terkagum-kagum dibuatnya, saat melihat cucunya itu patuh pada perintah gadis kecil tanpa ada perlawanan yang berarti sama sekali.


Padahal seumur hidupnya, Opa selalu berjuang habis-habisan melarang Wiliam untuk menjauhkan diri dari candu memabukkan tersebut, namun nyatanya Wiliam sama sekali tidak mendengar perintahnya atau tidak patuh sama sekali. Bahkan sang Kakek sudah capek akan peringatannya sendiri.


"Lihat dia Boby, gadis itu menakjubkan. Dia membuat Wiliam patuh akan permintaannya, semoga dia juga bisa menjauhkan Wiliam dari hal buruk lainnya," bisik Opa Wijaya.


"Benar Tuan, semoga Nona Jelita mampu," balas Pak Boby mengangguk dan berbisik juga.

__ADS_1


Wiliam tersenyum, walau tidak terdengar tapi pria itu tahu kemana arah percakapan Opa Wijaya dan juga Pak Boby.


Tak berapa lama kemudian, makanan pembuka telah tertata rapi di atas meja, mereka mulai mempersilahkan tamu untuk menikmati hidangan yang telah tersaji.


Setelah berdoa merekapun mulai menikmati hidangan.


"Mari semuanya makan," seru Opa Wijaya membuka terlebih dahulu perjamuan itu.


"Jelita ... Silahkan nikmati makanan dari kami," ucap Opa Wijaya, Jelita pun mengangguk. "Baik Tuan."


"Hem ini enak," gumam Jelita saat mencicipi hidangan pembuka. "Sayangnya hanya sedikit," gumamnya lagi saat makanan itu sudah habis dipiringnya.


Wiliam tersenyum, diam-diam pria itu memperhatikan Jelita juga. "Wanita memang tidak bisa membohongi perasaannya tentang makanan," pikirnya.


Dia memberikan makanannya itu kepada Jelita yang sedang menggigit garpu. "Makanlah," ucapnya merasa tidak tega melihat ekpresi Jelita yang begitu memelas seperti menginginkan makanan itu lagi.


"Benarkah ini untukku," balas Jelita malu-malu. Matanya berbinar saat melihat makanan enak telah berada dihadapannya.


"Benar," balas Wiliam, dia menggeleng samar saat melihat ekspresi wajah Jelita yang begitu menggemaskan. Heh!


Pria itu mulai menggoda Jelita dengan caranya yang usil. "Tunggu, jangan dimakan," cegahnya saat Jelita hendak memasukan makanan tersebut ke dalam mulut.


"Kenapa?" tanya Jelita, dia meletakkan kembali sendok berisi makanan itu diatas piring.


Wiliam mendekat dan dia mengambil sendok berisi makanan itu lalu mengulurkannya kepada Jelita. "Sekarang kau boleh makan," ucapnya seperti ingin menyuapi Jelita.


"Ayo makanlah, terimalah!" begitu seru mereka bersamaan dan saling bersautan disana-sini.


Jelita pun tertunduk malu dan perlahan menatap Wiliam yang sedang tersenyum kepadanya.


"Makanlah," ucap Wiliam begitu lembut.


"B-baiklah," patuh Jelita. Gadis itu perlahan mulai membuka mulutnya dan mengijinkan Wiliam untuk menyuapi dirinya.


Wiliam pun menahan dagu Jelita dengan tangan kiri kemudian memasukkan sesuap makanan lezat pada mulut mungil wanita dihadapannya itu, sambil terus tersenyum menatap Jelita yang sudah memerah karena malu.


Jelita menyantapnya dan Wiliam begitu senang akan hal itu.


Kelakuan manis keduanya membuat seluruh manusia di dalam ruangan itu bersuka cita dan mereka bersorak-sorai sambil bertepuk tangan tanda bahagia.


Terlebih Opa Wijaya, dia seperti mendapat serangan kebahagiaan secara bertubi-tubi, hingga tidak dapat mengontrol emosinya sendiri.


Opa Wijaya menatap yakin sepasang anak muda dihadapannya itu. "Aku ingin mereka segera menikah," ucapnya tanpa disaring terlebih dahulu, membuat Jelita tersedak makanannya sendiri.


"Uhuk! Uhuk!" Jelita batuk sambil terus memukul dadanya, dia begitu syok saat mendengar pernyataan Opa Wijaya yang dinilai begitu mengejutkan baginya.


Dengan segera Wiliam menyodorkan air minum untuk Jelita dan menepuk-nepuk punduk gadis itu. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya sedikit cemas.


"Uhuk! ... Aku baik-baik saja," balas Jelita, dia menyambar gelas dari tangan Wiliam dan segera menenggak air minum. Tidak lupa menarik nafas dalam-dalam agar rasa batuknya berkurang.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa," balas Jelita.


"Syukurlah." Wiliam memberikan sapu tangannya kepada Jelita untuk menghapus sisa air minum dan air mata yang keluar tanpa sengaja saat tersedak tadi.


"Terima kasih," ucap Jelita.


"Maaf, jika Opa mengejutkan kamu sayang. Tapi Opa benar-benar bahagia hari ini, saat melihat cucu kesayangan Opa satu-satunya datang bersama seorang gadis. Dan kalian berdua bersama-sama seperti ini melakukan hal manis di depan Opa, sampai tanpa sadar Opa mengatakan hal tersebut begitu saja. Mohon maafkan Opa," ucap Opa Wijaya merasa tidak enak hati.


Jelita menggeleng. "Tidak apa Tuan, kau tidak salah. Saya yang kurang hati-hati saat menelan makanan enak tadi."


Opa Wijaya menghela nafas. "Jangan panggil aku Tuan, panggil saja aku Opa seperti Wiliam memanggilku," balas Opa Wijaya.


"Baik Opa," balas Jelita.


"Jelita ... Apa boleh Opa meminta sesuatu kepadamu?" tanya Opa Wijaya.


"Silahkan, apa yang Opa ingin pinta dari ku, katakan saja," balas Jelita.


"Opa ingin kau menerima lamaran pernikahan Opa untuk cucuku Wiliam. Maaf jika mendadak, tapi Opa ingin kalian segera menikah disisa hidup Opa yang singkat ini," pinta Opa Wijaya, dia terlihat begitu sedih.


Jelita berdebar tidak karuan, tanpa terasa tubuhnya ikut gemetar. Dia menoleh ke arah Wiliam dan berganti menatap Opa Wijaya.


"A-aku ... M-maaf Opa, tapi ___"


Kebimbangan Jelita terukir jelas diwajahnya dan itu tertangkap langsung oleh Wiliam. Pria itu meraih tangan Jelita yang sedang terkepal kuat dan menggenggamnya dengan erat.


"Maaf Opa, Jelitaku masih sangat muda. Dia juga masih berstatus pelajar, aku rasa dia masih belum siap untuk hal itu," serobot Wiliam, dia menatap Jelita yang juga menatapnya.


"Opa ... Aku pernah meminta pernikahan ini sebelumnya, tapi aku menyadari saat dia menolakku. Itu karena dia masih belum siap untuk menikah, dia bilang padaku tidak akan menikah sebelum dirinya sukses meraih cita-cita. Jadi maaf Opa, kurasa aku akan menunggunya sampai dia sukses nanti," ucap Wiliam menimpali.


Opa Wijaya terlihat lesu, tapi tidak menyurutkan rasa kebahagiaannya.


"Maaf Jelita, Opa terlalu terburu-buru meminta padamu, sampai tidak memikirkan pendidikanmu yang sangat berharga. Karena Opa sangat takut, diusia Opa yang sudah tua ini, tidak akan bisa melihat cucu Opa di saat hari bahagianya nanti," ucap Opa Wijaya.


"Tidak apa Opa, jangan meminta maaf kepadaku. Aku mengerti keinginanmu, tapi sesuai dengan yang dijelaskan oleh Wiliam tadi, kalau aku masih belum memikirkan kesana dan belum siap menghadapi sebuah pernikahan," balas Jelita.


Opa Wijaya mengangguk. "Baiklah, asalkan Wiliam tidak keberatan menunggumu sampai kau siap. Maka Opa tidak akan memaksa kalian untuk menikah, tapi yang terpenting kalian harus berjanji akan selalu bersama sampai hari itu tiba dan kau Jelita, sering-seringlah berkunjung kemari bersama Wiliam."


"Baik Opa," balas Wiliam dan Jelita bersamaan.


Jelita tertunduk dan terdiam, dia tidak menyangka jika Wiliam mengajaknya untuk tujuan seperti ini.


"Itu kah alasannya dia selalu mengajakku untuk menikah, karena Opa ingin melihat cucunya bisa menikah dan bisa melihatnya memiliki keluarga yang bahagia di sisa masa hidupnya. Oh Tuhan apa yang harus aku lakukan, mana tega aku melihat orang tua sedih, tapi aku juga tidak bisa melupakan keluarga ibu asuh begitu saja," gumam Jelita dalam hati.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2