
Jelita tidak sengaja mendengar pembicaraan antar dua keluarga terhormat di dalam ruangan Nyonya Caca.
Hatinya begitu sakit ketika mengetahui sebuah kebenaran, dimana cintanya akan bertunangan dengan wanita lain dalam waktu dekat ini.
Dia juga melihat Michael dan Clara menyatukan kedua tangannya di depan keluarga mereka dan mendengar suara sorak sorai tertanda suka cita begitu menggema di dalam sana.
Jelita menelan ludahnya susah payah dan berusaha menerima semua kenyataan pahit itu. Dia terduduk lemas dan menangis, sambil menutupi wajahnya yang penuh berderai air mata.
"Kau masih disini ... Sudah jangan menangis lagi," ucap sesosok pria berdiri tepat dihadapannya.
Jelita menengadah ke atas dan mendapati Wiliam sedang berdiri sambil mengulurkan salah satu tangan dan mengajaknya untuk pergi.
"Wiliam ..." lirih Jelita.
"Ayo kita pulang," ajak Wiliam.
"Baiklah." Jelita mengangguk dan meraih tangan Wiliam lalu bangkit dari tempat duduknya dan kini mereka saling berhadapan dan menatap satu sama lain.
"Sudah ku bilang jangan menangis lagi." Wiliam menghapus air mata Jelita dengan ujung jarinya.
"Wiliam ... Apa kau bisa membantuku?" tanya Jelita lirih dengan tatapan sendunya.
"Hem, katakan saja. Kau ingin aku membantumu apa?" tanya Wiliam.
"Bantu aku ... Bantu aku melupakan Michael ... Bantulah aku agar bisa melupakan dia," balas Jelita dengan diiringi suara isak tangisnya yang meluap-luap.
Karena merasa berat sekali mengatakan hal itu kepada pria dihadapannya, hingga ia pun memalingkan wajahnya karena tidak sanggup lagi menatap Wiliam lebih lama.
Wiliam menarik dagu Jelita agar mau menatapnya kembali, kemudian menyisipkan kedua tangannya di tengkuk leher Jelita, agar gadis itu tidak berpaling lagi darinya.
Hingga kini kedua netra mereka saling bertemu dan bersitatap, memandang wajah satu sama lainnya dengan lekat.
"Sesuai keinginanmu, aku akan membantumu melupakan cinta pertamamu itu. Dan aku, tidak akan membiarkan kau terlalu lama larut dalam kesedihan," balas Wiliam dengan tatapan seriusnya.
"Terima kasih Wiliam," balas Jelita.
Wiliam tersenyum. "Hem ... Ayo kita pergi dari sini," ajaknya.
Jelita mengangguk dan tersenyum. "Baiklah," balasnya.
"Jelita ini hari minggu dan ini masih tengah hari, bagaimana kalau kita jalan-jalan menghabiskan waktu sampai malam. Katakan padaku, kau ingin kemana. Aku akan menemanimu kemana pun yang kau mau," ucap Wiliam berusaha membujuk seorang wanita yang sedang patah hati.
"Terserah kau saja," balas Jelita.
Wiliam menghela nafas, setelah mendapat jawaban dari Jelita. Karena kata terserah tidak pernah ada di dalam kamus pribadinya.
Kata legenda yang sederhana namun sulit untuk diartikan oleh seluruh kaum adam di muka bumi ini, ibarat sedang makan buah simalakama bagi seorang pria.
__ADS_1
Di turuti salah, tidak dituruti makin salah.
Akan tetapi demi menepati janjinya sebagai seorang pria jantan, agar wanitanya itu tidak bersedih lagi. Dia pun harus mau direpotkan dengan menerima kata merumitkan tersebut, dari seorang wanita.
"Baiklah, aku akan membawamu keliling kota. Bagaimana apa kau mau?" tanya Wiliam.
Jelita membalas dengan anggukan tertanda setuju. Mengijinkan pria itu membawanya pergi kemana pun juga, demi bisa menghilangkan rasa kesedihannya akan kehilangan.
Kini lengan Wiliam telah berganti menggenggam tangan Jelita dan segera membawa gadis itu pergi dari sana, ke tempat dimana mereka bisa menghabiskan waktu di akhir pekan bersama.
Semaksimal mungkin Wiliam berjanji, berusaha melepaskan cinta pertama calon istrinya dan berharap bisa menyembuhkan hati Jelita yang sedang terluka dengan cepat.
...----------------...
Pada malam harinya.
Di dalam kamar Jelita sedang memandangi ponsel baru miliknya, yang telah dibelikan oleh Wiliam untuk dirinya seorang. Karena ponsel sebelumnya telah ia kembalikan kepada Michael.
Bukan hanya itu saja, Wiliam juga membelikan semua kebutuhan pribadi untuk dirinya dan mengingat tingkah arogan pria itu saat membeli barang di toko di dalam supermall.
Hingga semua asisten dan pelayan toko dibuat kewalahan oleh tingkah lakunya.
"Pilih semua yang kau mau disini, kalau perlu borong semuanya," ucap Wiliam.
"Tapi Wiliam ... Untuk apa aku membeli semua barang-barang ini. Aku sudah punya semuanya. Lagi pula semua barang yang aku punya masih bagus dan barang-barang disini juga kelihatannya sangat mahal," balas Jelita.
"Ck! Kalau begitu buang semua barang murah yang kau pegang itu dan ganti dengan barang yang bagus dan berkualitas yang ada disini!" titah Wiliam.
"Ya sudah ... Kalau kau tidak mau, maka aku akan membakar toko ini!" ancam Wiliam, lalu meminta bawahannya membawa korek untuk menakuti.
Sontak saja aksi Wiliam mengundang beberapa reaksi dari para pengunjung Mall dan juga karyawan yang bekerja disana.
"Jangan Tuan ... Nona tolong turuti lah perintah kekasihmu itu Nona. Karena jika tidak, maka kekasihmu itu bisa membuat kami rugi besar."
Jelita menepuk jidatnya lalu memukul Wiliam sekuat tenaga dan menghela nafas karena pria itu hanya menanggapinya dengan berkacak pinggang tanda tidak peduli.
"Baiklah borong saja semuanya," balas Jelita dan Wiliam tersenyum. Kemudian membungkus semua barang yang ada di beberapa toko tersebut hingga ludes.
Paling tidak kesedihannya itu sedikit terobati dengan perlakuan mengejutkan dari sesosok pria sangar, yang tidak pernah dia duga sebelumnya.
Sungguh tidak di sangka jika Wiliam mampu membuat dirinya tertawa walau hanya sejenak. Saat pria itu memainkan sebuah permainan di dalam sebuah mall.
"Kau pria berbadan besar dan berwajah sangar, namun tidak bisa mengambilkan boneka imut dari mesin pencapit," ejek Jelita sambil melipat kedua tangan di depan dada.
Wiliam mengernyitkan dahi merasa tidak suka sekali diejek oleh wanita manis nan cantik karena dirinya gagal berkali-kali menggambil boneka disebuah mesin.
"Siall! Menyusahkan sekali, kalau begitu tonjok saja kacanya!" kesal Wiliam lalu benar-benar memecahkan kaca mesin pencapit itu dan meraup semua boneka yang berada di dalam untuk diberikan kepada Jelita.
__ADS_1
"Ambilah ini semua untukmu," ucap Wiliam tanpa dosa sama sekali.
Aksi Wiliam membuat pemilik tempat itu pun memarahi mereka berdua, namun dengan sombongnya Wiliam membayar cash untuk kerugian mesin yang disebabkan oleh dirinya.
"Lain kali jangan memasang mesin menyusahkan itu disini!" umpat Wiliam setelah membayarkan uangnya kepada si pemilik tempat
"Hei Tuan, lain kali jika tidak bisa main mesin ini, jangan memainkannya lagi!" balas si pemilik tempat dengan beraninya.
Wiliam berbalik, namun melihat Jelita yang terkekeh membuat pria itu mengurungkan niat untuk menghajar si pemilik tempat.
"Wiliam ... Sudahlah, ini sudah malam. Lebih baik kita pulang saja," ajak Jelita. Sebenarnya gadis itu hanya takut jika perjalanannya dilanjutkan, maka Wiliam bisa membuat hal merugikan dan menyusahkan lainnya.
"Kau benar, tempat ini tidak bagus. Lain kali kita main ke tempat yang menyenangkan seperti klub malam atau tempat wisata yang menegangkan," balas Wiliam.
"Ya," jawab Jelita lalu menarik Wiliam agar keluar dari supermall.
...***...
Tak berapa lama kemudian, terdengar suara pintu terketuk dan seketika itu pula ingatan Jelita bersama dengan Wiliam tadi hilang.
Jelita pun menengok dan dia tercengang saat seorang pria yang baru saja dia pikirkan telah berdiri di depan pintu. Sambil menyandarkan diri dengan satu tangan mengetuk pintu yang terbuka.
Wiliam tersenyum. "Apa aku boleh masuk?" tanyanya dengan sopan.
Sungguh hal yang mengejutkan bagi Jelita, karena ini kali pertamanya dia melihat Wiliam mengetuk pintu kamar, dengan tidak lupa meminta ijin terlebih dahulu kepada dirinya sebelum pria itu masuk ke dalam kamar.
"B-boleh ... Masuk saja," balas Jelita.
Pria tampan dan pemberani itu pun melangkah masuk, lalu duduk di bangku yang berada di kamar Jelita.
"Katakan Wiliam, apa yang membuatmu datang kesini?" tanya Jelita.
"Aku membawakan ini," balas Wiliam seraya menunjukkan sebuah box berisi sepasang cincin pertunangan mereka.
"Ini cincin kita, apa yang ingin kau lakukan dengan cincin itu?" tanya Jelita kembali.
"Aku ingin kau memakainya kembali," pinta Wiliam.
Jelita menatap cincin berlian nan berkilauan di depan matanya, sebuah cincin yang pernah dia pakai sekali, saat di acara pertunangan dadakannya dengan Wiliam.
Lalu dia melepaskan dan memberikannya kembali kepada Wiliam dihari itu juga, tanpa sepengetahuan orang lain termasuk Opa Wijaya.
Wiliam meraih tangan kanan Jelita dan memasukkan cincin tersebut pada jari manis tangan gadis itu sekali lagi.
"Mulai sekarang jangan kau lepaskan lagi cincin ini dari jarimu," ucap Wiliam sambil mengecup punggung tangan Jelita.
.
__ADS_1
.
Bersambung.