Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 34. Hak dan Kewajiban.


__ADS_3

"Jelita ... Ibu sudah menyerahkan semua berkas dirimu kepada sekolah yang baru. Jadi mulai senin, kamu sudah bisa belajar disana. Kau harus mempersiapkan diri dari sekarang dan berusaha mengejar beberapa mata pelajaran yang tertinggal selama beberapa bulan kemarin. Oke," ucap Nyonya Caca.


"Baik Ibu ..." balas Jelita patuh.


Nyonya Caca kemudian mengulum senyum dan menoleh ke Ibu Maria. "Nanti ada seorang Dokter yang datang kesini untuk memeriksa kesehatan ibumu. Ada suster juga yang nantinya akan membantu merawat ibumu selama kau belajar di sekolah ya."


Jelita menangguk patuh. "Terima kasih, Ibu asuh."


"Sekarang duduk lah, ada yang ingin Ibu bicarakan," ucap Nyonya Caca mengajak Jelita duduk di sisi ranjang dimana Ibunya tengah bersandar.


Nyonya Caca menyerahkan sebuah buku panduan kepada Jelita lalu menjelaskan isi buku tersebut.


"Jelita, Ibu akan menerangkan sesuatu di depanmu dan juga ibumu. Walau kau adalah anak asuh pribadiku, namun bukan berarti kau bebas begitu saja. Kau juga harus mengikuti peraturan dan tata tertib seperti anak asuhku yang lainnya."


Jelita mengangguk. "Baik Bu."


"Bagus! ... Peraturan yang pertama adalah, kau tidak boleh melupakan kewajibanmu sebagai seorang anak asuh. Dimana kewajiban utamamu adalah belajar dengan giat dan sungguh-sungguh untuk meraih cita-cita."


"Peraturan yang kedua yaitu, selama menjadi anak asuhku kau tidak boleh berpacaran dengan siapapun dan tidak boleh berpikiran untuk mengejar lelaki manapun, karena yang boleh ada dipikiranmu hanyalah belajar dan belajar."


Jelita menangguk kembali.


"Yang ketiga, kau juga harus bertanggung jawab menjaga nama baik yayasan dimanapun kau berada. Tidak boleh berlaku buruk, harus mencerminkan sikap pelajar yang baik, menjaga sopan santun, patuh dengan orang tua dan menghormati sesama."


"Dan yang keempat adalah, jika suatu hari nanti kau telah berhasil dan sukses. Jangan lupakan yayasan ini dan akan lebih baik lagi jika kau dapat bersumbangsih di dalamnya. Menjadi bagian dari yayasan ini dengan mendaftarkan diri menjadi seorang donatur untuk membantu adik-adik asuh atau orang lain yang membutuhkan seperti dirimu."


"Nah Jelita, itu adalah sebagian point penting tentang peraturan dan kewajibanmu sebagai anak asuhku. Apa kau sudah mengerti?"


Jelita mengangguk. "Aku mengerti Ibu, aku berjanji akan mematuhi peraturan dan juga melaksanakan kewajibanku sebagai anak asuh.


Nyonya Caca tersenyum dan melanjutkan kembali perkataannya. "Terima kasih, kalau begitu Ibu akan memberitahukan apa saja hak yang akan di dapatkan oleh anak asuh pribadiku."


"Baik Ibu," balas Jelita.


"Oke ... Selain kewajiban, yayasan juga berkewajiban memberikan hak kepada setiap anak asuhnya. Yang pertama adalah, kau berhak mendapatkan pendidikan hingga ke jenjang perguruan tinggi. Jadi Jelita gunakan lah kesempatan ini dengan sebaik-baiknya."


"Baik Nyonya besar," balas Jelita.


"Panggil aku Ibu saja," balas Nyonya Caca dengan cepat.


Jelita mengangguk. "Maaf."


"Oke hak yang kedua adalah, membebaskan segala biaya-biaya yang berhubungan dengan administrasi sekolah, seperti uang pangkal, uang buku, SPP dan uang lainnya. Jadi jika ada yang meminta uang atau sumbangan apapun kepadamu, kau tidak perlu memberinya. Dan jika ada yang seperti itu maka jangan takut melaporkan langsung kepadaku."


"Baik Ibu," patuh Jelita.


"Yang ketiga, kau akan mendapat uang saku sekolah senilai 30 ribu rupiah setiap hari, jadi pergunakan uang saku mu dengan bijak."

__ADS_1


"Baik Ibu," patuh Jelita.


"Oke, selain uang saku, setiap anak asuh akan mendapat uang transport dan juga bonus prestasi jika hasil semasa belajarmu mendapat peringkat 5 besar."


Jelita mengangguk kembali.


"Satu lagi, karena kau adalah anak asuh pribadiku, maka kau ku ijinkan untuk tinggal disini, sebelumnya sudah mendapat persetujuan dari Tuan besar secara langsung. Kau juga boleh berkeliling di dalam mansionku ini, tapi dengan tidak melupakan batasanmu, seperti tidak boleh masuk ke dalam kamar-kamar pribadi keluarga Chandra Putra atau tempat yang bersifat pribadi tanpa seijin dariku atau si pemilik kamar langsung. Apa kau mengerti?"


Jelita mengangguk. "Baik Ibu, aku mengerti."


"Oiya, jika kau lapar, jangan malu. Kau bisa makan sepuasnya disini, kau bisa meminta bantuan kepada asisten rumah tangga ku disini. Oke."


Jelita mengangguk, merasa mengerti dan juga senang. Dia tersenyum menatap Ibu asuh dan juga ibu kandungnya. "Terima kasih. Aku akan mematuhi semuanya yang kau katakan kepadaku."


"Gadis pintar!" seru Nyonya Caca sambil mengusap kepala atas Jelita.


***


Tak berselang lama setelah menjelaskan panjang lebar kepada Jelita tentang hak dan kewajiban, seorang dokter dan suster datang menemui Nyonya Caca. Dia adalah Dokter Hasan dan suster Desi yang datang untuk memenuhi panggilan Nyonya Caca sebelumnya.


Dokter Hasan tanpa basa basi langsung mengecek kondisi Ibu Maria. Dia juga berbicara kepada seorang suster Desi yang dikirim untuk membantu Jelita dalam mengurus ibu Maria. Mengenai penanganan, pengobatan dan juga pengurusan untuk seorang pasien.


"Terima kasih Dokter Hasan atas waktumu," ucap Nyonya Caca lalu mengantar Dokter Hasan keluar kamar.


"Sama-sama Nyonya, aku sudah menjelaskan kepada suster Desi dan juga Jelita mengenai perawatan yang harus mereka lakukan setiap hari untuk Ibu Maria. Aku yakin mereka pasti bisa melakukannya dengan baik."


"Baiklah Nyonya, jika tidak ada keperluan lain, aku mohon pamit dan jika ada sesuatu hubungi aku kembali."


"Baiklah Dokter," balas Nyonya Caca.


Nyonya Caca kemudian menghampiri suster Desi dan juga Jelita.


"Sus, kau sudah tahu tugasmu bukan?" tanya Nyonya Caca.


"Sudah Nyonya," balas Suster Desi.


"Bagus, kau akan tinggal disini bersama Jelita, kamar mu letaknya di sebelah kamar ini. Jika Keluarga Jelita membutuhkan bantuan mu, maka kau harus segera membantunya."


"Baik Nyonya," balas Suster Desi, dia lalu menuju kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Jelita.


***


"Jelita, Ibu rasa sudah cukup bertemu denganmu hari ini. Jika kau butuh sesuatu jangan sungkan menemui Ibu. Ibu selalu ada diruang kerja," ucap Nyonya Caca lalu berjalan menuju pintu keluar.


"Baik Ibu, terima kasih," balas Jelita sambil mengantar Nyonya Caca.


"Sama-sama."

__ADS_1


Nyonya Caca keluar dari kamar tersebut, membiarkan Jelita dan ibunya untuk beristirahat.


……………………………………………………………………………


Sore harinya.


Jelita berkeliling bersama ibunya ke taman belakang mansion tersebut. Mereka menikmati udara sore hari sambil memandangi pemandangan taman yang indah.


Mereka duduk di tepi kolam ikan koi yang cukup besar, dimana mereka merasakan damai saat mendengar suara gemericik air dan juga gerakan ikan yang begitu selaras.


"Ibu ... Apa kau haus?" tanya Jelita saat melihat ibu meneguk ludah dan Ibu mengangguk pelan.


"Baiklah, aku akan mengambil air di dapur. Ibu tunggulah aku sebentar ya," ucap Jelita lalu menuju dapur untuk mengambil air minum.


***


Sementara itu Michael baru saja sampai di rumahnya. Langkah kakinya begitu cepat, dia tampak berantakan, namun tidak mengurangi ketampanannya sama sekali.


Dia melempar tas dan menjatuhkan dirinya di atas sofa. Dia memejamkan mata merasa stress dengan kelakuan para siswi di kelasnya.


"Merebutkan diriku setiap hari, apa mereka tidak ada pekerjaan lain?" Michael menghembus nafasnya kasar lalu bersandar pada sofa untuk melepas lelahnya.


"Bibi, tolong ambilkan aku air minum!" teriak Michael merasa ada orang di dapur.


Jelita yang saat itu tengah mengambil air pun celingak celinguk menatap sekeliling.


"Siapa itu, apa dia Tuan Michael?" tanya Jelita pada dirinya sendiri.


"Cih!" Michael berdecih merasa dicuekkan.


"Bibi kenapa kau tidak menjawabku. Cepatlah ambil kan air untukku. Atau siapa saja lah yang berada disana. Aku sedang malas tolong bawakan kesini!" teriak Michael kembali membuat Jelita serba salah.


"Dia begitu manja," ucap Jelita lalu mengambil air dari kulkas.


Jelita membawakan segelas air minum dan menghampiri Michael yang sedang duduk bersandar dengan kedua mata terpejam karena lelah.


"Ini Tuan air minum mu," ucap Jelita meletakkan gelas di atas meja lalu segera berbalik untuk bertemu dengan ibunya.


Michael bergeming sejenak saat Jelita berbicara, dia merasa pernah mendengar suara itu. Michael membuka matanya kasar dan melihat sekeliling.


"Suara itu, seperti suaranya Jelita!" seru Michael menatap seseorang yang baru saja masuk ke dalam dapur.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2